Awas! Kemajuan Teknologi Suburkan Seks Bebas
berita
Humaniora
Sumber Foto : twitter.com (gie/Wayutink.com) 14 October 2018 19:00
Dunia pendidikan kembali tercoreng dengan adanya kasus pergaulan bebas yang melibatkan siswa dan siswi SMP. Seperti kasus yang terjadi .baru-baru ini, dimana 12 siswi di satu SMP di Lampung, ditemukan hamil di luar nikah akibat dari seks bebas. Mirisnya, usia mereka masih terbilang sangat belia. Mereka yang hamil terdiri dari kelas VII, VIII, IX. Namun di balik seragam putih biru itu mereka tak lagi menyandang predikat sebagai anak-anak atau gadis remaja yang lugu.

Tak hanya itu, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung, Dwi Hafsah Handayani, ditemukan bahwa ada sekitar 100 kondom yang terjual selama satu bulan, di apotek yang lokasinya berdekatan dengan sekolah atau kampus, dan juga kos-kosan. Tidak menutup kemungkinan jumlah remaja yang melakukan seks bebas cukup banyak. Apakah sudah separah ini dekadensi moral anak bangsa?

Selang beberapa waktu setelah muncul kasus tersebut, Komisi Perlindungan Anak Daerah Kabupaten Bekasi kembali menemukan adanya tindak asusila yang dilakukan oleh siswa dan siswi SMP di Cikarang Selatan, melalui sebuah grup WhatsApp (WA). Grup yang berisikan 24 anggota itu kerap bertukar video porno dan melakukan ajakan untuk melakukan hubungan badan.

Dari grup WhatsApp yang bernama "All Stars" tersebut, ditemukan ada sekitar 42 video porno. Kemudian ditemukan juga percakapan pribadi yang mengajak untuk mencoba mempraktikkannya. Sungguh ironis, mereka yang seharusnya dapat menimba ilmu dengan baik, malah terjebak dalam pergaulan bebas. Tidakkah ini menggambarkan bagaimana rendahnya tarah pendidikan formal dan pendidikan keluarga di Indonesia?

Pergaulan bebas saat ini memang sangat riskan terjadi, khususnya terhadap anak-anak di bawah umur yang masih mudah terpengaruh atau selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Terlebih teknologi saat ini semakin canggih saja. Penyebaran konten yang berbau pornografi sangat mudah dilakukan. Apakah itu artinya kecanggihan teknologi telah memberikan dampak yang buruk dan mendegradasi moral anak?

Bukan hal yang aneh ketika melihat anak-anak kecil sudah memegang ponsel yang canggih. Bahkan pernah ada kasus dimana seorang balita terlihat sedang asik menonton video porno melalui smartphone atau ponsel pintar di tempat umum. Parahnya lagi, orang di sampingnya yang diduga merupakan orang tua dari anak itu tak ambil sikap dan membiarkan anaknya menonton. Mengapa hal itu bisa terjadi? Bagaimana bisa tak ada pengawasan dari orangtua terhadap anak-anaknya yang yang sudah menggunakan ponsel sendiri?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.

Temuan Perkumpulan Keluarga Berencana (PKBI) Lampung, yang disampaikan Direktur PKBI Lampung Dwi Hafsah Handayani awal Oktober lalu, tentang adanya kasus 12 siswi sebuah SMP di Lampung yang hamil secara bersamaan di luar nikah akibat seks bebas, sesungguhnya mengonfirmasi kerja-kerja dan kinerja buruk dari pemerintah pusat, pemda, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas yang terus saja ringkih dalam memperkuat agenda-agenda perlindungan anak selama ini. 

Konfirmasi serupa juga datang dari KPAD Kabupaten Bekasi baru-baru ini. Yakni keberadaan grup Whatsapp "All Stars", berisi siswa-siswi SMP di Cikarang Selatan, yang mengisi grup dengan film-film porno dan saling mengajak anggota lain untuk berhubungan badan. Juga adanya sekelompok remaja di Tambun Selatan Jabar yang melakoni mesum bersama-sama. 

Kasus-kasus seks bebas remaja dan banyaknya kehamilan tak dikehendaki di kalangan remaja pelbagai daerah selama ini, sesungguhnya kian meluas dan tambah memprihatinkan. Mengingat banyak dari kasus-kasus itu yang tidak muncul kepermukaan dan diberitakan. 

Sementara langkah-langkah dan program-program antisipatif serta deteksi dini dari pemerintah, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat, tetap saja ringkih, tak ada "greget"nya, sehingga tidak ada kemajuan berarti pada kerja-kerja dan kinerja perlindungan anak yang menjadi tanggungjawab semua pihak. 

Kian maraknya seks bebas kalangan remaja pada saat ini menjelaskan beberapa hal yang saling terkait. Pertama, minimnya informasi yang baik, benar, utuh dan berkelanjutan yang berbasis sains dan nilai-nilai luhur agama tentang kesehatan reproduksi yang masuk ke dalam sistim pemahaman para remaja. Hal ini pada gilirannya membuat banyak remaja yang sama sekali blank, tidak memiliki pondasi pemahaman di kepalanya tentang apa dan bagaimana perilaku seks yang luhur dan mulia. 

Terkait itu, sebenarnya sudah beberapa tahun belakangan ini lembaga kami, JARANAN, memiliki konsep dan bersafari menjalankan program "Pelatihan Jelang dan Pasca Akil Baligh" untuk para pelajar SMP dan SMA, juga untuk para orangtuanya, di pelbagai tempat. Karena keterbatasan anggaran, cakupan titik-titik sasaran yang kami sambungi lewat program ini masih terbatas dan belum meluas. 

Padahal jika ada dukungan dan kerjasama dari pemerintah dan pelbagai kalangan, kami yakin program kami itu bisa efektif mengantisipasi dan menghalangi munculnya tendensi ke arah perilaku seks bebas di kalangan remaja yang jadi sasaran program ini. 

Kedua, tingginya intensitas informasi menyesatkan seputar masalah seks dan seksualitas yang masuk ke dalam sistim pemahaman anak, yang berasal dari sumber-sumber salah dan menjerumuskan, akhirnya membentuk sikap dan perilaku seks bebas di kalangan remaja. Menurut data, cuma 35 persen remaja perempuan dan 15 persen remaja laki-laki yang tahu adanya resiko kehamilan jika dirinya berhubungan seksual meski satu kali saja.

Sementara sebagian besar remaja perempuan dan laki-laki lainnya justru tidak tahu, bahkan mungkin tidak mau tahu, bahwa dengan sekali berhubungan seksual bisa sebabkan kehamilan.

Ketiga, banyak orangtua yang belum tercerahkan tentang kemampuan dan cara kerja smartphone yang mereka fasilitasi pada anak-anaknya itu memiliki daya rusak teramat dasyat. Yakni dalam "menginstal" sebuah pemahaman-keliru tentang seks dan seksualitas pada diri anak. Dari pemahaman keliru itu kemudian bisa mengaktual jadi perilaku seks bebas pada anak, terlebih jika lingkungan pergaulan anak pun menunjang. 

Keempat, metode-metode tepat dan keterampilan mendidik dan mengasuh anak secara baik dan benar, yang mampu menjadikan anak tumbuh dengan perilaku luhur, masih belum dimiliki oleh banyak orangtua dan para pendidik. Dengan begitu, program-program pelatihan tentang metode dan keterampilan mendidik anak yang baik dan benar di seluruh daerah kepada orangtua, harus dilakukan secara berkelanjutan.

Dianggarkan secara memadai oleh pemerintah dan pemda. Disertai dengan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan atas dampak positif yang dikehendaki oleh pelaksanaan program itu. Dan dalam konteks itu JARANAN juga telah memiliki konsep dan modul pelatihan terkait itu. 

Kelima, lemahnya kerja-kerja dan kinerja Direktorat Pendidikan Keluarga Kemendikbud, serta Dinas Pendidikan dan PPAPP di banyak daerah dalam membuat dan menjalankan program-program membumi yang dibutuhkan dalam memperkuat agenda-agenda perlindungan anak. Sebab sejauh ini, belum terlihat jelas seperti apa dan bagaimana program Dirjen Pendidikan Keluarga Kemendikbud dalam menyinkronkan dan mensinergikan metode pendidikan anak di sekolah oleh guru dengan metode pendidikan dan pengasuhan anak di rumah oleh orangtua. 

Pertanyaannya, sejauh mana jangkauan dari program-programya itu, dan apa hasil evaluasinya sejak Direktorat itu dibentuk tahun 2015? Juga apa saja dan bagaimana program-program dari Dinas Pendidikan dan PPAPP di banyak daerah dalam mengisi dan memperkuat pemahaman anak secara berkelanjutan tentang masalah seks dan seksualitas yang luhur. Adakah hasil evaluasi dan perbaikan program selama ini? Lalu masihkah kita akan terus memelihara ketidaksigapan atas menggeliatnya dan meluasnya praktik seks bebas di kalangan remaja? (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Awas, kemajuan teknologi suburkan seks bebas. Begitu judul tulisan Galuh Ratnatika di laman Watyutink.com hari ini.  Sebuah judul yang secara jelas mengingatkan atau memberikan warning kepada kita agar kita hati-hati terhadap dampak kemajuan teknologi, karena  kemajuan teknologi telah memberikan kesempatan untuk timbuh suburnya budaya seks bebas di kalangan masyarakat kita. Sebuah dampak buruk yang tidak seharusnya terjadi, karena perilaku seks bebas akan menyebabkan lahirnya atau terreproduksinya persoalan-persoalan social lainnya. Sewajarnya kita waspada, apalagi dikatakan seks bebas kini tumbuh subur. Salah satu indikatornya adalah kasus pergaulan bebas yang melibatkan 12 siswa dan siswi SMP yang terjadi di satu SMP di Lampung, ditemukan hamil di luar nikah akibat dari seks bebas. Mirisnya, usia mereka masih terbilang sangat belia. Mereka yang hamil terdiri dari kelas VII, VIII, IX. Namun di balik seragam putih biru itu mereka tak lagi menyandang predikat sebagai anak-anak atau gadis remaja yang lugu. Bukan hanya itu, masih banyak kasus serupa yang melahirkan persoalan social di tengah masyarakat kita.

Nah, kasus-kasus ini, yang dahulu kita sebut sebagai bentuk kenakalan remaja, adalah kasus yang mencuat ke puncak gunung es yang cara penanganannya sering hanya mengatasi apa yang muncul di permukaan. Sehingga, cara-cara penanggulangannya pun terkesan bagai memadamkan kebakaran, yang dipadamkan adalah apinya, bukan memadamkan penyebabnya. Begitu pulalah halnya dengan kasus – kasus seks bebas yang kini terus tumbuh subur itu. Oleh sebab itu, selayaknya akar masalah seks bebas harusnya diidentifikasi dan diobati. Dengan cara ini, apabila akar persoalan yang dibasmi, maka insya Allah, persoalan seks bebas tidak akan membuat kita sangat galau, karena tidak ada kesempatan untuk memupuknya menjadi semakin subur.

Suburnya seks bebas, disebabkan oleh runtuhnya nilai-nilai moral yang selama ini menjadi penyangga. Moral atau akhlak mulia sudah tidak digunakan lagi sebagai penyangga kehidupan yang ditandai dengan hilangnya rasa malu pada setiap individu. Buktinya, kita banyak yang sudah tidak malu-malu lagi melakukan hal-hal yang disebut melanggar susila. Kita sudah tidak malu lagi disebut koruptor, bahkan masih bisa tertawa, walau disebut maling atau pencuri. Jadi, penyabab utama suburnya seks bebas selama ini adalah kemerosotan moral atau kehancuran akhlak. Kehancuran moral ini semakin parah lagi karena keimanan terhadap Allah semakin pudar. Padahal, Allah telah mengajarkan dan mengigatkan kita, akan kehancuran akibat dari lunturnya iman dan rusaknya moral atau akhlak tersebut. Sayangnya kita taat pada ketentuan Allah. Wajar saja, kalau segala bencana yang terjadi saat ini, dikatakan sebagai tragedy akhir zaman.

Maka, suburnya seks bebas, sesungguhnya bukan semata-mata karena majunya teknologi informasi dan komunikasi, seperti internet yang diikuti oleh lahirnya berbagai macam ragam gadgets itu. Memang benar bahwa masyarakat kita, termasuk remaja selama ini banyak dipengaruh oleh penggunaan internet dan perangkat komunikasi yang memudahkan mereka mengakses segala macam informasi yang baik dan buruk itu. Tetapi apabila masyarakat kita memiliki dan mau menggunakan filter untuk menyaring informasi yang kebanjiran itu, maka tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, karena kita sudah kehilangan filter, maka segalanya kini terjadi. Apabila kita masih memiliki moral dan akhlak mulia dan diperkuat oleh keimanan yang tinggi, apa pun pengaruh yang datang dari luar diri kita, akan bisa disaring dan dipertibangkan dengan akhlak dan iman.

Oleh sebab itu, untuk mengatasi seks bebas yang makin subur, tidak bisa dilakukan dengan memberantas atau menghentikan produk-produk teknologi semata. Teknologi adalah alat yang menjadi penyebab eksternal itu, tetapi mengatasi seks bebas, pendekatannya harus kembali kepada upaya pembangunan akhlak yang mulia. Membangun moral dan akhlak yang harus menusuk kalbu setiap individu. Cara yang paling mudah adalah dengan menjalankan perintah Allah, lakukan apa yang disebut amar makruf, nahi mungkar. Hidupkan kembali semangat pendidikan yang melibatkan semua elemen bangsa. Fungsikan kembali, trilogy pendidikan, dengan membagun harmonisasi antara keluarga, sekolah dan masyarakat. Insya Allah kita bisa. Asal kita mau. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Nyoman Sudarsa

Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

FOLLOW US

Kartu Nikah Tidak Diperlukan             Penggunaan Pembayaran Online Harus Memiliki Regulasi             Reformasi Struktural: Darimana Kita Memulai?             Kemenag Perlu Jelaskan Manfaat Kartu Nikah             Focus ke Penetrasi Ekspor Produk Bernilai Tambah Tinggi             Gerindra dan PDIP Diuntungkan pada Pemilu 2019             Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-1)              Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-2)             Masih Ada Waktu untuk Perbaharui Komitmen             Penguatan Upaya Pemberantasan Korupsi