Asian Games 2018: Pesta Olahraga Rasa (Pesta) Politik
berita
Humaniora
Sumber Foto : rilis.id (gie/watyutink.com) 13 July 2018 10:00
Aneh ya kalau dalam ajang kontestasi olahraga yang terlihat justru kontestan politik? Ini mungkin yang terjadi jelang Asian Games 2018 di Indonesia. Wajah mereka yang berpeci dan berdasi lebih sering kita lihat, ketimbang sosok atlet lokal berprestasi. Laporan kesiapan infrastruktur lebih dipublikasikan. Sementara kesiapan para bunga bangsa yang hendak berlaga di gelaran Pesta Olahraga Asia minim publikasi. Apakah demam pamer pembangunan infrastruktur menular ke persiapan Asian Games 2018?

Pada 1962 Indonesia untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah gelaran akbar Asian Games ke-4. Sejumlah infrastruktur dibangun guna mendukung kegiatan tersebut. Asian Games ke-4 menjadi salah satu langkah politik Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno memperkenalkan Indonesia kepada dunia internasional, serta membuat bangsa Indonesia dihargai oleh bangsa-bangsa lain.

Ada kalangan yang menilai, perhelatan Asian Games tersebut hanyalah proyek ambisius Bung Karno. Namun demikian segenap rakyat dan bangsa Indonesia mendukung digelarnya Asian Games di Jakarta. Pesta Olahraga Asia itu dibuka pada 24 Agustus 1962 oleh Bung Karno, dan ditutup oleh Sri Sultan HB IX selaku Perwakilan dari Asian Games Federation. Indonesia menepati urutan kedua (di bawah Jepang) dalam perolehan mendali Asian Games. Kesuksesan berlangsungnya Asian Games kala itu menghapus keraguan bangsa-bangsa lain di dunia terhadap Indonesia.

Asian Games digelar 18 April 2018, kurang lebih 9 bulan jelang Pemilu Nasional Serentak (pileg dan pilpres). Ada yang bilang “panggung Asian Games” milik para politisi, bukan para atlet. Bagaimana tidak wajah para politisi lebih sering menghiasi pemberitaan seputar Asian Games. Sedangkan persiapan atlet Indonesia rasanya jarang mendapat ruang di media. Sekalipun ada, wajah politisi tak lepas dari pemberitaan persiapan atlet tersebut.

Gelaran pesta olahraga sering dikaitkan dengan politik. Keberhasilan gelaran Asian Games 1962 sedikit banyak berdampak pada terbangunnya kepercayaan dunia terhadap Indonesia. Pringkat ke-2 dalam perolehan mendali membuat Indonesia diperhitungkan dalam kanca olahraga kawasan Asia. 

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menargetkan Indonesia masuk 10 besar perolahan mendali dalam perhelatan Asian Games 2018. Ketika kita menjadi tuan rumah Asian Games 1962 lalu, prestasi tinggi bisa diraih. Keseriusan pemerintah dalam mempersiapkan atlet kala itu tak diragukan. Sosok Bung Karno sebagai pemantik rasa nasionalisme menjadi semangat pendorong para atlet untuk meraih prestasi guna mengharumkan nama Indonesia. Bagaimana dengan kondisi hari ini? Realistiskah target 10 besar pada gelaran Asian Games 2018?

Lalu, apa konsekuensi yang diterima jika gelaran Asian Games 2018 sukses atau gagal dalam pelaksanaannya? Apakah sukses secara penyelenggaraan dan prestasi akan berdampak kepada segenap bangsa Indonesia (pemerintah, atlet, dan rakyat pada umumnya) atau hanya sekadar keberhasilan yang diklaim pemerintah saja?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Jurnalis Senior 

Saya kira persiapan atlet memang kurang pemberitaan. Bisa seperti itu antara lain karena dari awal belum jelas dalam Asian Games 2018 ini kita targetnya apa. Jadi kalau belom jelas akhirnya perhatian juga gak fokus ke sana. Memang secara tidak resmi kita menargetkan 16 emas minimal. Tapi target 16 emas itu memang masih meragukan. Meragukan bukan karena apa-apa, itu kan karena pengurus cabang-cabang olahraga ini kurang jelas. Mereka diminta, kamu mau targetnya berapa emas, yang mereka ajukan itu, sebagian memang tidak jelas. 

Ada yang bilang dua emas dan ada yang bilang tiga emas. Padahal tidak sebaik itu, secara realistis paling cuma dapet satu emas. Jadi kurang ada yang realistis. Akhirnya kalau dihimpun dari berbagai cabang, kelihatannya 16 emas. Itu pun kelihatannya juga meragukan. Akan tetapi bisa saja nanti yang diperoleh lebih dari 16. Ya faktanya memang, mungkin sebagian besar pengurus cabang kurang jelas dalam targeting policy-nya, dan di situlah kemudian menjadi sulit dalam menentukan target yang jelas.Kalau mau 16 emas itu kira-kira masuk 10 besar gak? Kita kan tuan rumah, idealnya kalau bisa kita masuk 5 besar. Kalau 10 besar sih, ya itu posisi yang memang umum bagi Indonesia. 

Karena targetnya memang belum jelas, makanya sekarang perhatian lebih kepada infrastruktur. Jadi katanya ada Tri Sukses penyelengaraan Asian Games 2018. Antara lain: pertama, sukses infrastruktur, kelihatannya tidak ada masalah dengan infrastruktur. Kedua, sukses ekonomi, meninggkatlah ekonomi karena penjualan marchandise Asian Games dan kedatangan turis-turis dari negara peserta. Dan yang ketiga, sukses prestasi, pelan-pelan perhatian akan ke sana. 

Kalau kita gagal, nanti akan ada anggapan ngapain bikin-bikin infrastruktur kalau prestasinya jeblog. Tapi kalau berhasil, waduh ternyata persiapan infrastruktur memang bagus, dan prestasinya juga bagus, tepuk tangan untuk pemerintah. Tentunya pujian keberhasilan itu pasti ke atlet juga. Tapi pada akhirnya pujian itu ke pemerintah, karena pemerintahlah yang berperan sangat aktif dan sangat dominan dalam persiapan Asian games. Memang sejak awal ini pemerintah sudah ikut campur secara aktif. Awalnya kan kalau saya tidak salah budget anggaran yang disiapkan pemerintah Rp8 triliun. Tapi terus terpotong 50 persen, karena banyak anggaran yang terpakai untuk infrastruktur. 

Nah dengan 4 triliun ini kurang lebih, bisa gak kita mencatatkan prestasi seperti yang ditargetkan. Karenakan anggaran itu juga terbuang bukan hanya untuk infrastruktur, tapi untuk masing-masing cabang olahraga. Yaitu untuk tryout ke luar negeri, sewa pelatih, membeli peralatan, dan sebagainya. Sampai sekarang untuk sebagian cabang sudah terrealisasi, ada yang lagi ke Amerika, ada yang ke Eropa, macam-macam lah. 

Selanjutnya kalau dikatakan kita bisa mengulang prestasi Asian Games 1962, saya kira mustahil untuk menempati peringkat dua dalam perolehan mendali. Pada 1962 kekuatan di Asia masih cukup berimbang. Waktu itu walaupun negara kita baru,olahraganya relatif bagus, apalagi tuan rumah. Jadi urutan kedua udah pantas lah waktu itu. Kalau sekarang mustahil, karena kekuatan sudah tidak merata buat kita. Kita sudah tertinggal jauh, sekarang yang dominan itu negara-negara di Asia belahan utara, ada China, Jepang dan Taiwan sudah lumayan. Terus yang di Asia bagian barat, ada Iran, Iraq dan negara-negara teluk Persia. Itu dua kutub yang sudah jauh meninggalkan kita.

Kita di Asean saja terancam terus, udah pringkat 4 atau 5. Jadi memang berat, kalau peringkat perolehan medali dalam Asian Games 2018, apalagi soal 2 besar, itu mustahil. Makanya kalau 5 besar itu alhamdulilah, kalau 10 besar tidak ada yang istimewa, sama dengan sebelum-sebelumnya. Asalkan jangan terlempar dari 20 besar. Kita pernah tuh terlempar dari 20 besar, urutan 20 sekian, kalau itu memalukan. Terlempar dari 10 besar untuk ukuran tuan rumah sekarang, juga memalukan. Jadi 10 besar masih bisa diterima dan realistis. Tapi alangkah baiknya kalau 5 besar, baru terasa sebagai tuan rumah. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Sepakbola/Jurnalis Senior

Pengelola negara di negeri ini memang belum secara tegas, rigid dan konsisten menempatkan olahraga sebagai bagian dari industri menyehatkan yang mempersatukan dan memajukan derap fisik, mental, cara berpikir sampai taraf kehidupan publik. Itu mempengaruhi perilaku luar dalam terhadap eksistensi Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Sayangnya, membangun dan merenovasi total infrastruktur di seputar Jakarta-Palembang sebagai konsekuensi logis bagi setiap tuan rumah multi-event internasional, tak dilengkapi program sosialisasi yang komprehensif guna menimbulkan demam di tengah publik lapis bawah, tengah maupun atas. 

Sebagai komparasi, negara lain yang jadi tuan rumah minimal dalam 2 tahun jelang gong event besar beberapa kali melibatkan media nasional dan internasional, buat lebih menggaungkan persiapan secara mendalam hingga jelang event dimulai. INASGOC sebagai badan, paling bertanggung jawab atas pelaksanaan Asian Games 2018 minim kreativitas dalam upaya mengajak ragam media nasional dan internasional buat menggaungkan event yang sesungguhnya bernilai sejarah tinggi bagi NKRI sejak kali pertama pada 1962 ini. Wakapolri sebagai Chief de Mission (CdM) dan tim kerjanya pun kurang lincah dalam upaya menggugah perhatian publik terkait lika-liku persiapan para atlet Indonesia menuju Asian Games 2018.

Harusnya, minimal sejak 6 bulan lalu, CdM ajak ragam media satroni cabor demi cabor agar arus informasi di media mainstream (TV, radio, portal, cetak) terus mengencang dan menimbulkan demam di tengah publik. Bagian media INASGOC mestinya punya skenario memunculkan atlet idola dari sejumlah cabor favorit, sebagai magnet persiapan kontingen Indonesia menuju Asian Games 2018. Itu tak dilakukan, tak heran jika mayoritas publik tak banyak tahu dan tak tergugah dengan momen bersejarah Indonesia kali ke-2 jadi tuan rumah Asian Games.

Situasi diperparah dengan lemahnya konsep branding INASGOC. Bagaimana awareness di tengah publik menguat dan jadi magnet, jika penerapan branding/promo Asian Games 2018 pun minim?Selain itu, pengelola media mainstream di negeri ini juga kurang gereget buat mengasah kreativitas konsep konten terkait momen Asian Games 2018. Mestinya, menurut saya tak harus bergantung kepada INASGOC plus berbagai kelemahannya. Mestinya, pengelola media mainstream di negeri punya clue dan effort sendiri buat mendekatkan momen sebersejarah Asian Games 2018 dengan readers-viewers-publik.

Lalu ada yang konyol juga berisiko, yaitu penetapan target Indonesia tembus deret 10 besar di klasemen akhir perolehan medali Asian Games 2018. Target yang dicetuskan Menpora Imam Nahrawi itu jelas asal ucap, sehingga berisiko menimbulkan cemooh karena bakal sulit dipenuhi. Mestinya Menpora bersama INASGOC susun dulu tim task force dengan menggandeng beberapa media mainstream pilihan buat meriset fakta dan data terkini terkait persiapan serta pencapaian atlet Indonesia. Lalu, dikomparasi dengan persiapan dan pencapaian atlet negara-negara yang masuk deret 10 besar di Asian Games 2014. Itu jadi dasar pencetusan target prestasi agar tak berkesan asal ucap dan konyol. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Guru Besar Antropologi UI, mantan Ketua Umum Partai Demokrat

Bagaimana mau menang dalam setiap kompetisi olahraga khususnya Asian Games 2018, kalau tidak ada upaya tanamkan semangat sportivitas, kejujuran dan keterbukaan dalam persaingan. Anak-anak muda dihalangi pamer keberhasilan binaraga dengan pakaian minim. Lapangan olahraga dan sports venues dikomersialkan. Jumat siang pulang dini harus antri. Kemacetan kurangi waktu olahraga.

Kalo sekarang masjid terbuka untuk kegiatan politik dan sosial, mengapa tidak digunakan juga untuk olahraga? Mens sana in corpore sano untuk menanamkan sportivitas dan mengejar prestasi olahraga dan aktualisasi pribadi generasi muda ke arah yang positif.

Sementara itu pada ajang Asian Games 2018, bisakah masuk empat atau lima besar? Saya belum merasakan adanya demam kompetisi olahraga dikalangan masyarakat. Mungkin karena yang muncul pertikaian memperebutkan peluang kekuasaan dan kekayaan semata. Ya artinya kita harus sadar bahwa selama ini masyarakat dan pemerintah sejak Orde Baru hingga kini melalaikan tanggung jawab membangun manusia seutuhnya. 

Diperlukan kesadaran dan tanggung jawab bersama untuk menyusun grand strategy pembangunan nasional secara menyeluruh dengan target tahunan dan lima tahunan sampai 25 tahunan. Tutup pertikaian yang mendahulukan kepentingan perorangan dan kelompok. Jangan ada yang klaim paling pandai atau paling banyak karena pembangunan manusia seutuhnya itu harus didukung semua pihak. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF