Apa Untungnya Jadi Tuan Rumah Asian Games?
berita
Humaniora

Sumber Foto: liputan6.com (gie/Watyutink.com)

01 March 2018 19:00
Kita tak pernah meminta Jakarta dan Palembang jadi tuan rumah Asian Games XVIII pada Agustus 2018. Kita mendapatkannya empat tahun lalu karena tuan rumah yang ditunjuk sebelumnya, Vietnam mengundurkan diri. Dewan Olimpiade Asia lalu meminta Indonesia menggantikannya. Dan kita setuju begitu saja.

Padahal sebagai tuan rumah pengganti, kita telah kehilangan waktu persiapan sedikitnya dua tahun. Setelah penunjukan resmi, persiapan malah diributkan rebutan peran sebagai penyelenggara antara Kementerian Pemuda dan Olahraga, Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Setelah itu ada pula kasus korupsi yang menyeret dua pejabat KOI dalam tahap sosialisasi Asian Games pada 2016 lalu. Itu semua membuat persiapan tersendat dan kita semakin kehilangan waktu yang berharga.

Pemerintah pun tampak setengah hati mendukung kesuksesan perhelatan olahraga terakbar di Asia ini. Perpres yang jadi payung hukum pencairan anggaran baru diteken April lalu. Dana yang cair pun hanya Rp4,5 triliun dan panitia penyelenggara mencari tambahan Rp1 triliun dengan setengah menodong BUMN dan perusahaan swasta.

Dengan segala keruwetan itu, dampaknya terasa kini. Pembangunan dan renovasi berbagai fasilitas utama dan penunjang jadi kedodoran. Beberapa gelanggang baru akan kelar pembangunannya sebulan sebelum pembukaan. Padahal semua arena kompetisi harusnya sudah rapi setahun sebelum penyelenggaraan. Di sini kita lalu bertanya, apa kita akan menjadi tuan rumah yang baik atau justru memalukan?

Lalu ada kenyataan lain yang perlu dipikirkan pemerintah terkait penyelenggaraan pesta olahraga akbar seperti Asian Games atau Olimpiade: jadi tuan rumah tidak mendatangkan untung. Penyelenggara Olimpiade di London, Inggris, tahun 2012 dan Rio de Janeiro, Brasil, 2016 mengakui keuntungan finansial yang mereka dapatkan tak sesuai harapan.

Laman Vox juga mencatat, sejak 1960 tidak ada Olimpiade yang berlangsung di bawah bujet yang dianggarkan semula. Hampir setengahnya malah menghabiskan bujet dua kali lipat. Dan kata Vox pula, hanya sedikit bukti yang menunjukkan jumlah wisatawan meningkat pasca-pesta olahraga.

Tambahan pula, di banyak negara, gelanggang dan arena besar dengan standar olimpiade tak banyak bermanfaat bagi masyarakat sekitar saat usai pertandingan. Seringnya tempat itu kosong melompong. Bila begitu adanya, apa untungnya jadi tuan rumah Asian Games?

Dulu, di masa Bung Karno, kita jadi penyelenggara Asian Games dan Ganefo untuk menunjukkan diri kita bangsa yang besar. Bangunan-bangunan baru seperti Istora Senayan, Hotel Indonesia, pelebaran jalan Thamrin, Sudirman dan jembatan Semanggi terasa manfaatnya hingga sekarang. Tidak ada pembangunan serupa kita rasakan. LRT, MRT malah makan korban pekerjanya dan belum usai bareng Asian Games.

Harapan kita tinggal pada atlet yang akan berlaga. Tapi apa iya kita bisa menaklukkan atlet China, Korea atau Jepang? Di Sea Games 2017 saja kita hanya mampu sampai peringkat lima.

Apa pendapat Anda? Watyutink? (ade)

 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Sepakbola/Jurnalis Senior

Dari sisi aura dan momen, ambil alih opsi tuan rumah Asian Games 2018 terbilang tepat. Sudah terlalu lama Indonesia jauh dari aura multievent selevel Asian Games sejak jadi tuan rumah gelaran 1962.

Momen ini juga bisa dimanfaatkan meredakan suhu panas 171 Pilkada serentak yang waktunya berdekatan dengan gaung Asian Games. Tapi, di balik itu, ada juga risiko gangguan jika efek buruk suhu panas perebutan suara 171 Pilkada serentak mengular dan tak bisa diredam cepat. 

Namun memang dari sederet event olaharaga bertaraf internasional, tak semua profitable. Olimpiade pun hanya meledak dari sisi revenue saat Peter Peter Ueberroth memulai gebrakan swastanisasi event olahraga lewat Olimpiade Los Angeles 1984. Maka tidak menguntungkan dari sisi finansial hampir pasti terjadi pada Asian Games 2018. Karena itu, pemerintah dan INASGOC (Komite Organisasi untuk Asian Games 2018 Indonesia) sebaiknya realistis saja. 

Asian Games 2018 lebih tepat diproyeksikan sebagai momen seru yang diupayakan bisa merekatkan kembali segenap anak bangsa yang belakangan kian tersekat-sekat. Juga sebagai momen menata kembali infrastruktur olahraga yang sejauh ini ada, tapi apa adanya karena lemah maintenance dan inovasi.

Jangan jadikan Asian Games 2018 sebagai momen buat gali keuntungan finansial karena hampir pasti bakal kecewa, bahkan memicu konflik baru. Di luar proyeksi finansial, tentu berderet dampak positif yang dapat diserap dari momen Asian Games 2018. Antara lain: 

-Kesempatan menggembirakan yang secara emosional dapat melibatkan segenap lapisan publik buat ikut mengalihkan panasnya suhu politik akibat 171 Pilkada serentak. 

-Deklarasi faktual buat tunjukkan kepada kawasan regional maupun global kalau NKRI masih eksis, bahkan dipercaya jadi tuan rumah multievent selevel Asian Games 2018. 

-Stimulan konstruktif buat memacu roda ekonomi di lapis akar rumput, pelaku bisnis sektor wisata, kuliner, perhotelan.

-Penegasan olahraga itu vital dan efektif dalam upaya menguatkan karakter bangsa karena dalam olahragalah terjaga nilai-nilai persahabatan, perjuangan yang sungguh di tengah rivalitas, disiplin, kejujuran, kerja sama, pola hidup sehat, kegembiraan dan semangat positif, bahkan kehormatan lewat pencapaian prestasi yang dikecap dari proses panjang dan intens. 

Event ini sekaligus desakan pada pemerintah agar konsisten dan ajek menempatkan olahraga sebagai bidang prioritas yang jadi bagian dari tagline Revolusi Mental. Dimulai dari preschool sampai college, BUMD sampai BUMN, kementerian hingga sektor swasta. 

Namun sayangnya, momen jadi tuan rumah tidak berjalan sinkron dengan pembangunan infrastruktur di luar venue cerminan sejak dulu pengelola negara bekerja dengan cara tiba waktu tiba akal. Tidak berdasarkan set plan komprehensif, mendalam, dan berjangka panjang seperti berlaku di negara-negara established. Di tengah kelemahan yang mentradisi itu, mari harapkan munculnya kesadaran dan tekad baru di tingkat elit, menengah sampai akar rumput. 

Bicara peluang, meski tampil di hadapan publik sendiri, bakal sangat sulit para pelatih dan atlet NKRI mampu penuhi target tembus 10 besar klasemen akhir perolehan medali Asian Games 2018. Jika tetap hasil akhir berupa perolehan medali itu yang dijadikan patokan, 99% pasti bakal meleset dan ujungnya saling menyalahkan. Dari mana dan apa dasar target itu ditetapkan? Di SEA Games Singapura 2017 saja yang levelnya di bawah Asian Games 2018, kontingen Indonesia terperosok ke urutan 5 klasemen akhir. Ini rapor terjeblok kontingen Indonesia sepanjang sejarah SEA Games.

Harusnya dibentuk tim kecil berkualitas dan berintegritas yang lebih dulu menyelusup ke negara lain buat intip langsung progres mereka, lalu bikin analisis dan statistik berkat komparasi faktual dengan progres atlet NKRI sesuai cabang olahraga.

Di Asia yang bakal diikuti juga Australia, olahraga NKRI lebih tergencet meski jadi tuan rumah Asian Games 2018. Ini cermin lemahnya Komisi X DPR RI, Kemenpora, dan pihak-pihak di sekitar pemegang kekuasaan tertinggi di negeri ini. Pada ngapain tim ahli yang sudah digaji tinggi setiap bulan? Lebih efektif jika diserahkan total ke profesional dan swastanisasikan ala Peter Ueberroth. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Jurnalis Senior 

Momentumnya bagus kita jadi tuan rumah Asian Games 2018. Walaupun waktu itu ada yang menyesalkan juga karena Vietnam nggak mau lalu kita menerima, muncul pertanyaan apakah kita siap (jadi tuan rumah). Tapi kalau menunggu siap atau nggak itu takkan selesai sampai kiamat. Kita sudah lama tak menyelenggarakan ajang seperti Asian Games. 

Pengalaman saya, kota manapun yang menyelenggarakan event olahraga besar seperti Olimpiade, Piala Dunia selalu begini, keteteran membangun dan merenovasi sarana dan prasarana olahraga. Selalu ada persiapan yang kirang sempurna. Pasti ada saja yang kurang di sana-sini. Mulai dari infrastruktur. Lalu juga pelayanan, terutama untuk media. Pasti ada saja masalah. Tapi biasanya, dekat waktu penyelenggaraan, semua sudah kelar. Dan kontingen olahraga biasanya maklum bila ada kekurangan di sana-sini. Jadi, kita jangan terpaku pada masalah-masalah yang menghambat.  

Event olahraga besar biasanya merugi. Kerugian itu bukan hanya saat penyelenggaraan, tapi juga fasilitas olahraganya tak dipakai lagi sesudahnya. Stadion-stadion itu mau diapakan? Itu yang dialami usai Olimpiade Beijing, Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan dan Piala Dunia 2014 Brasil. Menurut saya, kita sudah punya infrastruktur yang tinggal direnovasi saja seperti kompleks Senayan. Itulah hebatnya Bung Karno, dari dulu dia sudah memperhitungkan Senayan sangat ideal untuk jadi tempat kompetisi olahraga. Palembang juga sudah pengalaman jadi tuan rumah Sea Games.

Jadi, urusan merugi, kita harus terima dengan lapang dada. Ini jadi semacam show case bahwa bangsa Indonesia mampu menyelenggarakan pesta olahraga yang sangat besar.  

Terkait sinkronisasi infrastruktur olahraga kita memang gagal. Seharusnya di Jakarta saja cukup, nggak perlu di Palembang. Sekali lagi, itulah hebatnya Bung Karno. Ia sudah memproyeksikan puluhan tahun ke depan, kompleks olahraga Senayan bisa diselenggarakan untuk pertandingan multievent, seperti Sea Games, Asian Games, bahkan Olimpiade sekalipun. Itu tak terjadi karena dirusak Orde Baru. Gara-gara Orde Baru ada tempat main golf, ada Plaza Senayan, mall Senayan City dan gedung perkantoran. Macam-macam ada di situ. Visi Bung Karno dirusak hanya demi kepentingan bisnis semata. Saking lengkapnya visi beliau, Wisma Atlet juga sudah ada di kompleks Senayan. Tapi kita buat lagi di Kemayoran yang jauh dari mana-mana. 

Ini menumbuhkan rasa makin pesimis untu rebut gelar lima besar. Jadi kelihatannya pengurus cabor, KOI dan KONI cukup puas dengan 10 besar. Ya, sudah kalau begitu sanggupnya. Enam belas medali emas yang ditargetkan pun belum tentu tercapai.     

Bung Karno itu, jangan-jangan, satu dari sedikit pemimpin dunia yang sudah memikirkan kompleks olahraga. Sebab di tahun 1960-an belum ada kompleks olahraga. Baru belakangan. Sekarang negara berlomba-lomba buat kompleks olahraga.          

Selain sukses jadi tuan rumah Asian Games, sebetulnya yang penting juga prestasi. Harusnya sukses prestasi jadi prioritas. Berhubung prestasi olahraga kita ambruk sekurangnya sejak 1995 di tingkat regional ASEAN terutama, ketika kita tak lagi jadi juara umum ketika SEA Games tak diselenggarakan di negeri sendiri. Maka, buat saya sebetulnya prestasi atlet yang harus diprioritaskan, bukan fasilitas atau infrastruktur. 

Ada yang mengatakan Indonesia masuk 10 besar sudah cukup puas. Menurut saya, kita seharusnya patok target lima besar. Baru ada artinya. Kalau jadi juara umum memang nggak mungkin, lawan Jepang, Korea dan apalagi China.   

Sekarang target kita 16 medali emas, dengan angka itu kira-kira bisa masuk 10 besar. Tapi kita harus bisa di atas negara-negara Timur Tengah. Kita memang bisa dikatakan lemah di olahraga terukur. Tapi kita juga punya potensi di situ. Misalnya Maria Londa yang meraih emas di cabang lompat jauh di Asian Games 2014 Incheon.

Namun, upaya meraih lima besar makin susah karena banyak pengurus cabor-cabor (cabang olahraga) yang tak bisa menyuguhkan secara logis bakal merebut berapa medali emas. Itu bikin bingung pemerintah menentukan target medali. Ada proposal yang mereka ajukan, tapi nggak masuk akal. Ada yang sebut empat atau lima emas tanpa beri alasan jelas bagaimana caranya. (ade)    

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF