Apa Makna Suara Rindu dan Asyik di Pilkada Jawa Barat?
berita
Humaniora
Sumber Foto : kumparan.com 28 June 2018 19:00
Rakyat Jawa Barat telah bersuara. Di pilkada, Rabu (27/8/2018) kemarin, menurut berbagai hasil hitung cepat atau quick count pasangan cagub dan cawagub Ridwan Kamil dan UU Ruzhanul Ulum (Rindu) keluar sebagai pemenang. Data SMRC, Litbang Kompas, dan Indo Barometer menyebut paslon Rindu meraih suara 32 persen. Peringkat kedua diduduki paslon Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) yang mendapat suara di kisaran 28-29 persen. Tempat ketiga diisi paslon Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2DM) dengan suara antara 24-25 persen. Posisi buncit ditempati paslon Tb Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah): 12 persen. 

Pertanyaannya lalu, apa arti hasil suara pilkada di Jabar kemarin? 

Kemenangan pasangan Rindu sudah diramalkan. Berbagai hasil survei sebelum pilkada konsisten menyebut mereka unggul. Survei-survei juga menyebut paslon 2DM dapat dukungan cukup besar. Di sisi lain, Asyik dan Hasanah tertinggal menurut survei-survei. Kenyataannya, di hari pencoblosan paslon Asyik mampu menyodok ke urutan kedua. Sumber peningkatan dukungan pasangan yang diusung Gerindra, PKS, dan PAN ini datang dari wilayah Bogor, Depok, dan Bekasi yang terkategorikan ceruk "megapolitan". Namun, pasangan ini pun mampu meningkatkan suara di sejumlah wilayah lain di Jabar.    

Bila menilik representasi identitas dari masing-masing paslon, Ridwan Kamil merepresentasikan masyarakat urban dan akrab dengan teknologi. Ia paham betul memanfaatkan media sosial serta idiom-idiom yang akrab bagi golongan milenial. Sementara itu, meski Sudrajat mewakili identitas militer-nasionalis, pasangannya Ahmad Syaikhu dicirikan sebagai Islam puritan-perkotaan. 

Itu sebabnya, paslon Asyik banyak dapat suara di kantong-kantong PKS seperti Depok dan Bekasi. Lantas, apa dengan begitu hasil pilkada kali ini bisa disebut sebagai kemenangan kelompok Sunda-kota dan Sunda-Islam puritan atas Sunda-desa dan Sunda Islam tradisional? 

Entah. Yang jelas, masyarakat Jabar hari ini demikian majemuk. Tidak bisa dikotak-kotakkan secara simplisistis. Yang patut dicatat pula, KPU Jabar mencatat  ada sekitar 12 juta jiwa pemilih milenial di Jabar. Mereka masuk kategori pemilih rasional, memilih berdasar gagasan, rekam jejak dan prestasi sang calon. Tambahan juga pemilih milenial akrab dengan teknologi atawa gadget. Maka, paslon yang juga paling fasih menggunakan gadget mestilah diuntungkan. Untuk hal ini kita bisa sebut paslon Rindu sebagai kampiun-nya.

Sebagaimana di daerah lain, di Jabar pun kekuatan figur paslon lebih menentukan ketimbang mesin partai yang pengusung. Meski di pileg 2014 lalu PDIP menang suara di Jabar, pemilih PDIP lebih banyak memilih paslon Rindu ketimbang Hasanah yang diusung PDIP. Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil, diuntungkan kiprah dan pengalamannya sebagai walikota Bandung. 

Setelah pilkada kemarin, akan seperti apa wajah Jabar lima tahun ke depan? Apa provinsi dengan jumlah 46 juta jiwa ini akan kian modern, melek teknologi dan urban tapi di saat bersamaan juga kian puritan?   

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Dosen, Budayawan Sunda

Bagi saya sebagai warga Jawa Barat ada hal yang patut disyukuri dalam pilkada Jabar, yaitu telah sebegitu jauh prosesnya tak menguras energi dan emosi seperti yang terjadi di Jakarta. Jawa Barat aman-aman saja. Saya melihat masyarakat Jabar lebih rileks, lebih gembira. 

Saya kira kemenangan paslon Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum (Rindu) sudah diduga banyak orang. Yang menarik bagi saya yang awam di bidang politik adalah  perolehan suara Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang signifikan. Kemenangan Rindu sangat tipis, hanya sekitar tiga persen. Dan bila tiga persen diterjemahkan dalam angka per kepala, itu sangat besar.

Dari hasil pilkada kemarin saya melihat polarisasi politik berdasarkan ideologi tak terlalu menonjol di Jabar. Terutama bagi pemilih baru. Orientasi mereka lebih pada figur. Mereka lebih mengarah (memilih) figur-figur tertentu yang bagi mereka familiar, lebih komunikatif dan sebagainya. (Kemenangan Rindu) ini juga membuktikan, pada prakteknya manajemen kampanye dan pencitraan yang ditangani sesuai dengan gaya hidup sekarang.     

Masyarakat Sunda sekarang macam-macam. Kita agak sulit memetakan masyarakat Sunda berdasarkan patokan-patokan yang selama ini dipakai, misalnya, berdasarkan aliran ideologis, organisatoris atau sebagainya. Mungkin hal itu tetap ada dan berlaku, terutama untuk kalangan pemilih dewasa (tua). Jadi, polarisasi itu tak bisa diandalkan.   

Dengan kemenangan Ridwan Kamil, sosok yang akrab dengan media sosial, saya kira akan makin signifikan persuasi politik yang mengandalkan teknologi media atau cara komuniaksi yang mutakhir. Persuasi politik dengan cara pendekatan yang lama sekarang sudah tak memadai lagi. Terlebih di Jawa Barat. 

Ada satu momentum yang tidak bisa dipungkiri dalam pilkada kali ini, yaitu berbarengan dengan Piala Dunia. Energi banyak orang tersalurkan juga ke situ. Saya sendiri bisa katakan, animo mengikuti Piala Dunia lebih besar daripada animo pilkada. Saya kira Kang Emil menangkap itu. Ia datang ke TPS pakai jersey (kaos tim) Spanyol.  

Mengenai suara Sudrajat-Ahmad Syaikhu dan partai Islam pengusungnya kita memang tak bisa pungkiri Islam puritan menguat. Studi UIN Syarif Hidayatullah yang saya terlibat di dalamnya sampai batas tertentu, tentang ekspresi keislaman generasi muda khususnya Jabar--saya ambil sampel di Bandung dan Garut--memang ada gejala Islam puritan menguat. Tapi perlu diingat juga, pemilih Dedi Mulyadi tak kecil, 25 persen. Mereka belum tentu nyaman dengan Islam puritan. 

Melihat kemajemukan Jabar dan melihat pola pemerintahannya ketika memimpin Bandung, Kang Emil akan cenderung berupaya memuaskan sebanyak mungkin golongan. Dalam satu perspektif, ini mungkin baik dalam rangka konsolidasi dan pencitraan politik. Tapi dalam perspektif lain patut dicermati juga. Kecenderungan memuaskan masyarakat yang berbeda-beda juga menimbulkan masalahnya sendiri. Itu kurang bagus juga.  

Yang patut dicatat pula, di Jawa Barat dalam dua pilkada terakhir angka golput paling besar. Itu yang selama ini jarang dicermati dan jadi dasar pertimbangan tersendiri bagi mereka yang memenangi kontes pilkada ini.

Kalau bicara statistik yang selalu menang justru golput. dalam dua musim pemilu malah meningkat. Survei Unpad belum lama ini menegaskan hal itu juga. Artinya, ada sekian banyak pula orang yang sudah meragukan politik dalam arti praktis seperti elektoral. Mereka berpikir proses politik tidak menghasilkan perubahan apa-apa. Business as usual saja. Setelah histeria pilkada--kalau ada histerianya--politik akan berjalan seperti biasa. Ini patut dipedulikan oleh siapa pun yang menang masuk ke Gedung Sate hari ini. (ade)           

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF