Apa Makna Foto Lubang Hitam Buat Kita?
berita
Humaniora
Foto lubang hitam pertama. (dok. Guardian) 15 April 2019 15:30
Watyutink.com - Pertama, sebuah konfirmasi. Selama ini lubang hitam lebih sering dibayangkan. Salah satu yang menggambarkannya dengan indah dan membuat takjub adalah Christopher Nolan lewat film Interstellar (2014). Di situ, lubang hitam seperti sebuah piringan hitam raksasa yang menggantung di langit dengan yang punya cincin cahaya terang. Selama ini juga keberadaan lubang hitam hanya dibuktikan lewat gelombang elektromagnetik dan baru sekarang kelihatan wujud persisnya. 

Maka, potret pertama lubang hitam yang diumumkan ilmuwan di Astrophysical Journal Letters pekan lalu sebuah pencapaian besar. Foto itu hasil jepretan Event Horizon Telescope, jaringan dari delapan teleskop besar yang berada di sejumlah tempat di Bumi, termasuk di Kutub Selatan atau Antartika. Lubang hitam yang berhasil dipotret terdapat di galaksi M87. Jaraknya 55 juta tahun cahaya atau sekitar 500 juta triliun kilomter dari Bumi. Diameternya 400 miliar kilomter atay setara tiga juta kali ukuran Bumi. Beratnya 6,5 miliar kali lipat dari Matahari. Ilmuwan yang turut berpartisipasi memotret lubang hitam itu menyebutnya sebuah monster.

Konsep mengenai lubang hitam di jagat raya telah lahir sejak akhir abad ke-18. Ilmuwan Inggris John Michell menengarai keberadaan "bintang gelap" yang menghisap cahaya hingga tak terlihat oleh kita. Berabad lewat, Einstein lantas mencetuskan Teori Relativitas Umum yang antara lain menyebut ada kelengkungan ruang dan waktu, memproduksi gravitasi. Teorinya mengarah pada benda yang bisa membungkus wialyah di ruang angkasa. Saking besarnya massa benda itu, tidak ada apapun yang bisa selamat oleh hisapannya, termasuk cahaya.

Karl Schwarzschild menggunakan persamaan revolusioner milik Einstien dan menunjukkan bahwa lubang hitam sungguh-sungguh ada. Akhir 1930-an diketahui lubang hitam adalah bintang raksasa yang mati dan terisap oleh gravitasinya sendiri.       

Telah banyak teori tentang lubang hitam, namun baru kali ini kita tahu wujud aslinya. Maka, apa arti pencapaian sains ini? Apakah sekadar sebuah foto yang mengkonfirmasi apa yang dibayangkan orang selama dua abad lebih?
 
Mengingat jarak lubang hitam yang terpotret dengan Bumi tempat kita tinggal, kita sepatutnya mafhum: alam semesta ini maha luas. Tidak terbayangkan apa yang harus kita lakukan untuk memotretnya dengan jarak dekat. Teknologi pesawat ulang alik yang berawak manusia kita baru sampai bulan. Yang tanpa awak baru sampai Mars. Apa yang dibayangkan dalam film fiksi ilmiah semacam Interstellar masih jauh. 

Foto lubang hitam yang kita lihat menunjukkan adanya "cincin api" yang sangat terang. Cincin apa tersebut mengelilingi lubang hitam dengan sempurna. Lubang hitam tak memancarkan cahaya. cahaya yang tampak sangat terang itu adalah gas panas yang terhisap lubang hitam, yakni aktivitas material yang berputar-putar dan masuk ke lubang hitam.    

Andai Matahari atau bintang raksasa tetangga kita menjadi lubang hitam tak ada yang bisa kita lakukan. Bintang yang meredup akan menghisap semua benda di sekelilingnya, termasuk bintang yang lebih kecil maupun gugusan planet. Tidak terkecuali makhluk hidup dan kehidupan yang berada di dalamnya. 

Melihat betapa besarnya lubang hitam yang terpotret itu dan betapa tak berdayanya kita andai sebuah lubang hitam menghisap sistem tata surya kita, apa yang bisa kita renungkan dari hal tersebut? 

Mendiang Carl Sagan, astronom dan penulis populer pernah mengatakan di tahun 1980-an, jumlah keseluruhan bintang di alam semesta lebih banyak dari butiran-butiran pasir di semua pantai yang ada di muka Bumi. Di galaksi tempat kita tinggal konon terdapat 120 miliar bintang. Itu cuma dari satu galaksi. Ada yang mengkalkulasi jumlah galaksi di jagat raya sekitar 2 triliun. Bila dari 2 triliun galaksi terdapat rata-rata 100 miliar bintang dengan sistem tata surya masing-masing, ada berapa planet dan satelitnya (bulan) di jagat ini? 

Bukankah melihat fakta itu Bumi dengan 6 miliar lebih manusia di dalamnya hanya sebesar zarah atom di alam semesta ini? Jika kita menuadari kekerdilan kita di alam semesta, kenapa kita kerap menyombongkan diri? Kenapa kita berlaku semau sendiri di BUmi: merusak eko sistem lingkungan, mencemari lingkungan, serta berkonflik dengan sesama manusia? 

Bukankah di alam semesta kita hanya noktah yang lebih kecil daripada tanda "titik" di ujung kalimat ini. 

Apa pendapat Anda? Watyutik? 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Wartawan gaya hidup, peminat masalah Timur Tengah dan keislaman, lulus 1999 dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, buku terbarunya "Mengarungi Samudera al-Fatihah" (2019)

Baru-baru ini sejumlah ilmuwan berhasil memotret black hole atau lubang hitam. Lubang hitam ini dipercaya menyedot semua benda yang berada di dekatnya.

Begitu kuatnya, hingga cahaya yang ada di dekatnya pun berbelok, seperti air yang berada dekat pusaran. Bintang-bintang mati yang ukurannya bisa jauh lebih besar dari matahari juga akan tersedot. 

Yang menakjubkan adalah, jarak dan besaran lubang hitam itu. Diperkirakan jaraknya dari bumi tempat kita tinggal adalah 55 juta tahun cahaya. Itu artinya sama dengan 520,340,175,991,944,064,736 kilometer. Atau 500 ribu triliun kilometer. Sedangkan volumenya adalah 6,5 miliar kali matahari yang kita lihat setiap hari. 

Dari data-data itu kita bisa membayangkan betapa besarnya alam semesta ini. Dengan kecepatan cahaya 300 ribu kilometer per detik pun kita butuh waktu 55 juta tahun untuk bisa ke salah satu bagian dari alam semesta.  Padahal, keliling bumi hanya 40 ribu kilometer.

Tak ada manusia yang bisa membayangkan betapa jauhnya itu. 

Hal ini menyadarkan kita betapa kecilnya manusia. Bahkan bumi yang kita tempati hanyalah butiran debu di alam semesta ini. Dengan menyadari ini, seharusnya tidak ada tempat untuk kesombongan dalam diri kita. Setiap kali bergerak dalam shalat dan mengucap takbir, kita sesungguhnya merasa menjadi seperti debu yang melayang-layang. Kecil… sangat kecil. 

Allahu Akbar… Hanya Allah yang begitu agung.

Catatan: Tulisan ini sebelumnya ditulis penalar di laman almuslim.co dengan judul "Lubang hitam dan kita yang sekecil debu". Dimuat kembali dengan ijin penalar. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Kepala LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional)

Lubang hitam adalah objek yang masif yang sudah mati kehabisan energinya, lalu dia runtuh dan menjadi objek paling masif sehingga gravitasinya menjadi sangat luar biasa. Cahaya pun disedotnya. 

Materi yang disedotnya dari objek di dekatnya nyaris tidak berarti apa-apa dibandingkan massanya. Dia objek yang sudah mati, yang tidak berkembang lagi. Keberadaannya terus sampai akhir alam semesta.

Matahari tidak bisa jadi lubang hitam karena massanya kecil. Kematian matahari hanya akan menyisakan bintang kerdil putih yang lama-lama akan mati, tetapi tidak akan jadi lubang hitam. Pusat galaksi kita adalah lubang hitam raksasa yang gravitasinya  mempengaruhi gerak bintang-bintang yang mengitarinya, tetapi terlalu jauh untuk menyedot bintang-bintang tersebut. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Umur matahari kita untuk mati dan akhirnya jadi bintang kerdil putih sekitar 5 milyar tahun lagi.

Lubang Hitam umumnya berada di pusat-pusat galaksi. Jadi jumlahnya kira-kira sebanyak galaksi yang ada. Lubang Hitam yang terdekat ada di pusat galaksi kita, kira-kira berjalan 30.000 tahun cahaya.

Ya dengan melihat keluasan alam semesta dan ukuran  objek-objek yang luar biasa, matahari pun terlalu kecil, apalagi bumi dan manusianya. Manusia merasa besar hanya karena keangkuhan dan keserakahannya, yang akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional