Amankah Berinvestasi di Film Nasional?
berita
Humaniora
Image credit: Twitter @AyoFilmID 13 April 2018 10:00
Siapa yang tak tergiur melihat angka-angkanya. Hingga akhir masa edarnya di bioskop, film Dilan 1990, rilis akhir Januari 2018, mengumpulkan 6.315.096 penonton ke bioskop. Jika kita asumsikan harga tiket bioskop rata-rata adalah Rp37.000, dikalikan dengan jumlah penonton di atas, maka film yang dibintangi Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla tersebut menghasilkan sekitar Rp233.658.552.000. 

Film terlaris tahun lalu, Pengabdi Setan (4,2 juta penonton) menghasilkan sekitar Rp155,4 miliar. Sedangkan Warkop DKI Reborn: Part 1 (2016) yang jadi film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan 6,8 juta penonton, menghasilkan rupiah sebanyak Rp251,6 miliar.   

Mari simak fakta lain. Majalah Swa edisi 8-21 Maret 2018 mencatat, omset perfilman nasional pada 2017 mencapai Rp1,58 triliun. Kata produser Chand Parwez Servia yang juga Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI), tahun lalu tiket bioskop yang terjual untuk film nasional mencapai rekor tertinggi, 42,7 juta tiket.
Naik 15 persen dari tahun 2016: 32,7 juta tiket. Kata Parwez lagi, pangsa pasar film nasional kini 35 persen. Menjadikan Indonesia berada di posisi 8 negara dengan pangsa film nasional cukup baik. 

Melihat angka-angka di atas, perfilman kita tampak menunjukkan wajah yang cerah. Pertanyaannya kemudian, apa kini saat yang tepat untuk berinvestasi di film nasional?    

Angka-angkanya harus dikulik lagi. Dari 30-an juta penonton film Indonesia pada 2016, sekitar 80 persennya atau 27 juta penonton hanya disumbang 10 film. Sisa 110 film lainnya rata-rata  hanya memperoleh 67 ribu penonton. Penghasilan kotor setiap film dengan 76.000 penonton, kira-kira sekitar Rp2-3 miliar. Itu pun yang diterima produser hanya 40 persennya (40 persen lain untuk bioskop, dan 20 persen untuk pemerintah). Tahun lalu tak banyak beda. Dari 121 film beredar, hanya 11 film yang mendapat penonton di atas 1 juta. Pertanyaannya lalu jadi, film yang bagaimana yang bisa mendatangkan banyak penonton? 

Di sini kita bicara jenis film. Horor, komedi dan karya adaptasi jadi primadona. Horor dan komedi karena orang kita rupanya suka ditakut-takuti dan ketawa bareng di bioskop. Sedangkan karya adaptasi berangkat dari karya aslinya (komik, novel) yang sudah sukses duluan. Tapi apa ada jaminan bikin film horor, komedi atau mengadaptasi novel laris maka filmnya juga laris? Bagaimana dengan production value-nya? Bagaimana promosinya?

Sesungguhnya, iklim perfilman nasional belum kondusif betul. Meski kini asing boleh berinvestasi di perfilman (Korea membangun bioskop di sini), faktanya 80 persen bioskop dikuasai satu kelompok usaha. Pemilik kartel bioskop ini juga importir film Hollywood. Film nasional tak punya pilihan bersaing dengan bikinan
Hollywood yang lebih wah tanpa proteksi pemerintah. Ingat, hingga kini belum lahir peraturan menteri yang mengatur pengalokasian 60 persen jam pertunjukan bioskop untuk film nasional selama 6 bulan berturut-turut sesuai amanat pasal 32 Undang-undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman.  Jadi, apa aman
berinvestasi di film nasional?

Apa pendapat Anda? Watyutink? 

(ade) 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Wartawan Film Senior

Risiko berinvestasi di film nasional tetap besar. Yang ingin investasi harus orang yang benar menguasai film. Karena dari 120 film yang edar, yang sukses box office hanya 12 film, jadi hanya 10 persen. Lebih dari 50 persennya flop (rugi). Yang sukses berinvestasi di film itu orang-orang yang berpengalaman. Sebagai bukti, dari 12 film sukses itu, yang membuat hanya tujuh produser yang sudah amat berpengalaman, seperti MD Pictures, Starvision, dan Falcon. 

Sekarang banyak sekali petualang-petualang yang mencoba terjun ke (bisnis) film. Mereka menganggap film menguntungkan. Padahal itu nggak gampang. Bila ingin film untung, harus benar-benar dikerjakan dengan
serius. MD, Starvision dan Falcon adalah kumpulan orang-orang yang serius dan sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia film. Mereka paham, misalnya, mana novel yang cocok dengan selera masyarakat (calon penonton), mana pemainnya, mana sutradaranya. Orang-orang yang baru terjun di dunia film mungkin tak memikirkan itu. 

Rata-rata rumah produksi (PH) besar di Indonesia membuat 8-10 film per tahun. Mereka sangat memikirkan sisi komersilnya. Tapi toh tetap juga terpeleset (flop, filmnya rugi). Contohnya Partikelir (Starvision) yang
sedang main di bioskop, ternyata hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Tapi ada juga yang hasilnya jackpot (tak disangka luar biasa sukses) seperti film-filmnya Ernest Prakasa. Contohnya, Susah Sinyal (2017,
Starvision). Itu penontonnya 2 juta lebih. Atau juga Yowis Ben (Starvision). Penontonnya hampir satu juta. Itu luar biasa, karena dibuat dengan bujet standar. 

Bicara investasi, yang baru terjadi di Indonesia adalah studio 20th Century Fox yang sedang memperbesar divisi Asia (untuk ekspansi pasar) bekerjasama dengan Lifelike Pictures punya Sheila Timothy membuat Wiro
Sableng
yang akan edar akhir tahun. Fox sudah banyak bekerjasama dengan produser lokal di India, namun untuk Indonesia ini kali pertama. Cara lain, banyak perusahaan produksi film indie dapat dana dari luar negeri
atau fund seperti film-filmnya Edwin (Babi Buta yang Ingin Terbang dan Postcard from the Zoo) atau Joko Anwar di A Copy of My Mind (2015) dapat dana dari Korea.

Dulu, pernah ada yang dapat dana pinjaman dari bank. Wim Umboh pada 1980-an. Tapi filmnya flop. Akhirnya ia harus menggadaikan rumah dan studio filmnya yang berada di wilayah Palmerah untuk membayar utang ke bank. Sejak itu, Wim hanya fokus jadi sutradara, bukan lagi produser.   

Perlu diingat, bisa saja film yang dibiayai cukup besar hasilnya flop. Contohnya, Benyamin Biang Kerok (Falcon, 2018). Ternyata tidak sesukses yang diharapkan. Film Benyamin itu biaya pembuatannya di atas Rp 10 miliar, tapi penontonnya hanya sekitar 600 ribu. Maka, terhitung flop. Tidak semua film Falcon sukses. Sepuluh film pertama yang mereka buat flop semua. Mereka baru sukses di Comic 8 (2015). Dari situ mereka berpikir, dengan promosi besar-besaran sebuah film bisa sukses. Ternyata hal itu tak berlaku di Benyamin.      

Menurut saya pribadi, resep film sukses itu, (filmnya) membumi. Satu kata itu. Buatlah film yang membumi. Itu yang kadang tidak disadari (produser). Itu yang tidak kita peroleh dari Benyamin Biang Kerok

Saat ini tak ada aturan kuota layar film nasional. Sementara itu, perbandingan film Indonesia dengan film impor dalam setahun itu 1:2. Jadi, film Indonesia yang beredar 100, film impor jumlahnya 200. Film impor itu tak hanya dari Hollywood, tapi juga dari Thailand, India, Korea, Hong Kong dll. Paling banyak memang dari Hollywood, dari 200 film sekitar 125 dari AS. Tambahan lagi, film Indonesia tak main di bioskop kelas atas. Hanya film impor di situ, seperti di bioskop kelas Premiere atau IMAX yang tiketnya lebih mahal. (ade)    

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Produser Film

Bicara investasi di film nasional harusnya ini saat yang baik untuk berinvestasi. Yang masuk box office saat ini memang film horor, komedi dan adaptasi novel/ buku best seller. Hingga yang susah adalah mencari calon-calon investor yang tertarik berinvestasi di luar genre-genre itu.

Tapi, sebenarnya, ada indikator yang menarik. Misalnya film Marlina yang edar tahun lalu. Film itu dibuat untuk niche market (pasar tertentu yang sedikit), ternyata mendapat 150 ribu penonton. Artinya, mungkin ada sebuah kelas baru penonton film kita, yakni yang menonton film dengan segmentasi tertentu.

Sekarang ada investor yang sudah melihat peluang di pasar segmen tertentu. Mereka melihat peluang untuk filmnya dijual di luar negeri. Saya pernah ngobrol dengan Sheila Timothy (produser Lifelike Pictures). Dia bilang, peluang film Indonesia dijual di luar negeri besar banget, terutama di genre fantastik, action, horor dan thriller. Belakangan, Pengabdi Setan (sutr. Joko Anwar, 2017) laku di mana-mana, terutama di Asia seperti Hong Kong dan Thailand.

Jadi, sekarang, menurut saya, selain pasar lokal tengah tumbuh, kita juga melihat harus mulai ekspansi, membuat film untuk market luar negeri karena pasarnya ada.

Rumah-rumah produksi atau PH yang sudah established, yang menghasilkan film-film box office sudah paham bagaimana membuat film yang "aman". Mereka sudah tahu formulanya. Pertama, misalnya, mereka cari materi (cerita) yang berkategori strong IP (intelectual property). Misalnya film lama untuk di-remake atau adaptasi novel. Itu langkah paling aman, memang. Kedua, mereka sudah punya sistem. Terutama di sisi promosi. Ini memang harus dipelajari oleh PH-PH kecil atau produser independen seperti saya. 

PH-PH yang sudah established itu punya jam terbang yang sangat lama. Falcon, misalnya, lima tahun pertama hancur-hancuran. Sampai mereka ketemu ritmenya. Buat kami yang berada di jalur independen, ini sulit karena kami tidak berada di satu sistem yang mumpuni.   

Menurut saya, apa yang dilakukan PH besar itu bisa diujicobakan ke genre-genre lain. Karena, dengan Marlina sukses, misalnya, ada peluang-peluang (market) baru di sinema Indonesia. Saya menyebut produser independen ini bukan anti-mainstream. Kami tak membuat film yang aneh-aneh amat. Film kami masih bisa diterima pasar. Saya menyebutnya side-stream

Kami sangat butuh investor. Investor-investor kami biasanya menanam modal per film. Bukan yang kontinyu berinvestasi. Tapi sayangnya, banyak juga produser/sineas yang nakal. Sineas yang nggak asyik, cuma ingin cari uang efek dominonya terasa pada kami yang ingin bikin film yang benar.  

Kadang kami ketemu investor yang sekali bikin film lalu berhenti. Investor yang kapok itu karena sineas tak menjaga (hubungan) dengan dia. Padahal, banyak juga investor yang tak cari untung, tapi ingin buat film yang baik saja.       

Contoh sineas nakal itu macam-macam. Misalnya mark-up budjet. Bilangnya dibuat Rp6,5 miliar, padahal cuma Rp3 miliar. Itu nggak bagus. Karena apa yang muncul di layar tak bisa bohong. Film yang dibuat dengan Rp3 M, beda banget dengan Rp6,5 M.  

Sepengalaman saya, investor yang baru pertama terjun biayai film sebetulnya tak menuntut banyak. Buat mereka, asal laporan keuangan kita betul, itu bagus. Artinya, mereka tak merasa dibohongi. Uang yang dikeluarkan dipakai untuk apa saja. Mereka tak berpikir bikin film pertama bakal langsung untung. BEP (break even point) saja mereka sudah senang.  

Misal investor saya di fim Miracles (2015). Dari awal sewaktu presentasi ia suka cerita yang saya sodorkan. Ia bertanya saya butuh bujet berapa. Saya jawab sekian rupiah, ia oke. Dia lalu tak berpesan, "Film ini harus untung, ya" tapi "Bikin film yang baik, ya." Saat filmnya premiere, dia nonton dan bilang dia suka filmnya. Katanya, "Terima kasih sudah bikinkan film yang baik." Dia ingin bikin film lagi cuma belum ketemu saja waktunya. Hubungan baik dengan investor harus dijaga. Kalau kerja kita benar dan administrasi keuangannya benar, investor senang. 

Investor film sekarang macam-macam. Misalnya kini ada start up yang turut biayai film. Mereka berinvestasi di film-nya Mira Lesmana. Sekarang sih mereka berinvestasi di nama-nama yang sudah besar. Itu tetap bagus. Semoga ke depan bisa juga berinvestasi ke produser-produser lain. 

Hingga saat ini belum ada perbankan yang berinvestasi di film kita. Kabarnya kini sedang dikaji hal tersebut. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir