Akankah Bakal Banyak Pekerjaan Diambil Alih Robot?
berita
Humaniora
13 March 2019 16:30
Watyutink.com - Jika mengacu pada riset yang dirilis McKinsey & Company, dalam seperempat abad mendatang 47 persen pekerjaan akn menghilang. Robot dan kecerdasan buatan akan menyingkirkan 800 juta tenaga kerja di seluruh dunia pada 2030. Hasil studi Universitas Oxford menyebut, sebanyak 50 persen pekerjaan yang tersedia saat ini akan mengalami otomatisasi alias pekerjaan tersebut tak lagi butuh tenaga manusia untuk menunaikannya. Otomatisasi berarti fungsinya digantikan mesin maupun robot. 

Saat ini apa yang diandaikan dalam fiksi ilmiah kian terasa nyata. Mobil tanpa awak tinggal selangkah diproduksi dan dijual massal. Berbagai ujicoba telah dilakukan. Saat ini harganya memang masih terlalu mahal, tapi tak lama lagi kian terjangkau dan umum dipakai. Mobil tanpa awak berarti mengancam pekerjaan para supir. Suatu saat nanti, bila memesan GoCar atau GrabCar yang datang mobil tanpa supir. 

Di sektor pengiriman barang atau logistik, drone telah menggantikan peran kurir. Di sektor manufaktur, banyak pekerjaan di pabrik telah mulai digantikan robot. Perusahaan besar macam Adidas hingga Foxconn telah mempekerjakan robot sejak dua tahun lalu. Di Indonesia, PT Unilever Indonesia Tbk telah memulai pilot project kendaraan robotik di gudangnya. Pabrik tekstil PT Pan Brothers, pabrik mainan PT Mattel Indonesia juga telah mengimplementasikan kecerdasan buatan dalam proses produksinya.  

Dengan menggunakan robot, produksi terbukti meningkat. Robot tidak pernah terluka, lelah, bekerja tepat waktu, akurat, dan jarang melakukan kesalahan. Beli robot memang mahal. Tapi cukup sekali beli. Robot tak menuntut gaji bulanan, uang lembur, asuransi, tunjangan hari raya, serta pesangon bila kena PHK. Robot juga tak berdemo menuntut kenaikan gaji UMR. Artinya, untuk jangka panjang, mempekerjakan robot tepat secara hitungan ekonomi. Benarkah demikian adanya?

Kelihatannya memang menyeramkan. Selama ini berbagai studi tentang otomatisasi, baik robotik maupun kecerdasan buatan kerap dilakukan dengan pendekatan apokaliptik. Sebagaimana film fiksi ilmiah kala robot pada akhirnya tak hanya menggantikan manusia, namun juga memperbudak manusia. Padahal persoalan sesungguhnya tak sesederhana cerita film atau novel fiksi ilmiah. 

Otomatisasi telah berlangsung sejak lama. Bahkan jauh sebelum gegap gempita Revolusi Industri 4.0 didengungkan. Misalnya, ATM alias anjungan tunai mandiri. Kehadiran ATM di tahun 1980-an sempat membuat para teller bank takut kehilangan pekerjaan. Tapi faktanya, di Amerika, seperti dikutip dari acara HBO Last Week Tonight, jumlah teller bank meningkat dalam tiga puluh tahun dari 1980-2010. Pekerjaan menerima dan menyerahkan uang pada nasabah memang digantikan mesin, tapi teller tetap punya pekerjaan, contohnya memasarkan produk bank atau menerima keluhan nasabah. 

Contoh lain, wartawan termasuk jenis pekerjaan yang diramal bakal hilang ketika dotcom mewabah di awal 2000-an dan media cetak mulai berguguran. Media cetak memang kian sedikit dalam 20 tahun terakhir, namun pekerjaan wartawan tetap ada. Dominasi situs mesin pencari semacam Google, media sosial dan menjamurnya media online justru melahirkan pekerjaan baru seperti penulis SEO, admin media sosial dan macam-macam lagi. Sampai 10 tahun lalu tak pernah terpikir akan ada yang berprofesi jadi youtuber, influencer, maupun buzzer

Melihat kenyataan itu, apa ini artinya kita tak perlu khawatir akan kehilangan pekerjaan karena otomatisasi robotik di masa depan?

Waspada perlu. Tapi merasa khawatir berlebihan tak diperlukan. Sebagai manusia yang dibekali akal budi, tugas kita beserta anak cucu kita membekali diri dengan kepandaian dan keterampilan baru yang sesuai dengan perkembangan zaman. Jika hanya bisa pekerjaan yang gampang digantikan mesin, kita bakal tersisih. Masalahnya, kita sedang berlomba beradu cerdas dengan komputer. Kecerdasan buatan yang dimiliki komputer di masa depan akan kian mengaburkan kemampuan mesin dan manusia. Apa akhirnya kita akan dikalahkan kecerdasan buatan? 

Pemerintah telah mencanangkan kampanye Making Indonesia 4.0 untuk menyambut revolusi industri gelombang keempat. Namun kampanye itu akan sia-sia bila hanya berhenti sebatas jargon. Jika kita gagal menghadapi Industry 4.0 bisa-bisa kita tak hanya akan diperbudak robot tapi juga negara lain. Bukankah itu lebih menyeramkan?

Apa pendapat Anda? Watyutink?     

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pakar Teknologi Informasi

Apakah Indonesia telah siap menghadapi Industry 4.0? Tergantung cara pandangnya. Para petinggi di Republik ini sering kali bilang, kalau kita punya barang tersebut (yang digunakan untuk menopang Industry 4.0), berarti kita siap. Padahal itu artinya kita cuma konsumen, sedangkan uangnya lari ke luar negeri. Contoh handphone, komputer, gadget, mesin-mesin berteknologi dan lain-lain, semua buatan luar negeri, tak ada yang dibuat orang Indonesia.

Kalau kita mau jadi produsen yang membuat alat-alat itu semua sendiri kayaknya masih jauh. Bayangkan saya mau cari programmer yang handal aja susah di Indonesia, akhirnya kita terpaksa pakai orang India buat pekerjaan itu.

Jika kita belum siap menghadapi Industry 4.0, maka amblaslah kita melawan persaingan global. Duit akan keluar terus dan jumlahnya triliuan per bulan. Kalau kata orang ekonomi, neraca Perdagangan kita tidak balance. Padahal sih kita terlalu konsumtif dan tidak bisa bikin apa-apa sendiri. Selain itu tidak ada insentif bagi kita yang bisa bikin alat di Indonesia. 

Robot cuma membuat sistem menjadi efisien, lebih presisi, lebih cepat. Akan tetapi robot tidak bisa berkreasi, berfikir, membuat keputusan. Untuk itu membutuhkan manusia yang pandai, berpendidikan. Yang jelas, mereka yang kurang pandai dan tidak kreatif bakal dilibas oleh robot.

Sialnya, sistem pendidikkan kita menjamin bahwa 90 persen rakyat bangsa ini tidak akan bisa mencapai sarjana. Cek saja statistik pendidikan kita, ya jadi jujur 90 persen bangsa ini akan dilibas oleh automatisasi. Memang, pekerjaan baru akan lahir seiring perkembangan zaman. Namun pekerjaan baru itu hanya bisa lahir bagi mereka yang punya kompetensi dan pendidikan. Bagi mereka yang tidak terdidik--atau 90 persen rakyat bangsa ini--kayaknya itu cuma angan-angan saja. 

Di masa depan, tak semua pekerjaan bakal bisa diambil alih robot atau mengalami otomatisasi. Pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan, kreativitas seperti data scientist dan lain-lain akan jadi tumpuan di masa depan. (ade)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti INDEF

Kecerdasan buatan, robotisasi merupakan bagian dari perkembangan zaman yang tidak mungkin kita hindari. Dunia industri didorong untuk lebih menuju kepada persaingan usaha yang sehat yang salah satu hasilnya adalah harga yang kompetitif. 

Untuk terus bertahan salah satunya harus melakukan efisiensi melalui penggunaan teknologi. Alhasil pengembangan teknologi berjalan lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah dengan tagline making Indonesia 4.0 mencoba menghadapi revolusi industri 4.0 dengan berbagai strateginya. Namun alih-alih menyiapkan strateginya, pemerintah hanya bereuforia terhadap keberhasilan satu dua perusahaan aplikasi saja yang dampaknya terbatas pada sektor-sektor tertentu. Seperti Gojek yang diandalkan Pemerintah lewat applikasi transportasi onlinenya. Dan beberapa perusahaan digital lainnya. 

Namun di sisi lain pemerintah seakan lupa bahwa fondasi yang dibangun masih sangat rapuh. 
Rapuhnya fondasi perekonomian di era industri 4.0 terlihat dari sumber daya manusia yang belum siap bersaing, inovasi yang masih kalah dari negara lainnya, hingga masih rendahnya porsi dana penelitian dan pengembangan (R&D) terhadap PDB dibandingkan dengan negara lain. 

Tiga faktor ini yang akan menentukan bagaimana nasib Indonesia ke depan dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Tiga faktor tersebut merupakan dasar untuk meningkatkan kemampuan alamiah manusia dalam hal ilmu pengetahuan. 

Faktor sumber daya manusia sudah menjadi tagline kampanye salah satu calon dan hal tersebut positif untuk mengejar ketertinggalan Indonesia. Inovasi dana dana R&D masih sangat jauh dari pembicaraan mengingat ada salah satu twitan CEO aplikasi ternama Indonesia yang menyindir hal tersebut namun hal tersebut malah menjadi perdebatan pilpres alih-alih perdebatan subtantif terkait inovasi dan R&D. 

Padahal di era pertumbuhan ekonomi saat ini, inovasi dan R&D menjadi kapital tak terlihat bagi fungsi perekonomian. Tiga faktor tersebut menjadi faktor penentu pertumbuhan ekonomi di masa yang akan datang, dan tentu saja untuk menciptakan lapangan kerja yang sesuai dengan industri 4.0. 

Tiga faktor tersebut yang nantinya akan menjadi dasar untuk mengembangkan kecerdasan alamiah manusia dimana tidak akan pernah ditandingi dengan mesin. Bagaimanapun juga manusia yang menciptakan mesin dengan kecerdasan buatan. Dengan itu manusia pasti lebih unggul daripada mesin tersebut. Asalkan pemerintah mau mempertimbangkan 3 faktor yang saya sebutkan di atas. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

FOLLOW US

Polisi Tunduk Pada Hukum             Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?