Agar Tak Ada Lagi Guru (dan Murid) yang Jadi Korban
berita
Humaniora

Sumber Foto: Shohei Otomo's Counterstrike

11 February 2018 13:00
Penulis
Kepedihan di dunia pendidikan Indonesia, seolah tak berujung. Belum reda tragedi yang menimpa guru muda bernama Ahmad Budi Cahyono atau Budi (27 tahun), akibat diserang secara brutal oleh siswanya sendiri di kabupaten Sampang, Madura. Muncul lagi, video yang menghebohkan jagat pendidikan, seorang murid menantang duel Kepala Sekolah karena tak terima ditegur.

Kisah Guru Budi, berawal dari tegurannya kepada seorang murid yang mengganggu teman-teman sekelas.  Merasa tak dihiraukan si murid. Lalu Budi mengoleskan cat air di pipinya. Tak ayal, si murid tersinggung. Dia merangsek dan memukuli kepala Budi hingga gegar otak. Guru muda yang piawai menggesek dawai biola itu tersungkur, tewas sia-sia ditangan anak didiknya--setelah dilarikan ke rumah sakit.

Pelaku kekerasan di bawah umur patut menerima hukuman, tetapi negara juga wajib melakukan rehabilitasi dan memberikan pendampingan psikologis. Anak-anak dibawah umur sangat mudah menyerap berbagai pengaruh negatif di lingkungannya dan berdampak pada kualitas mental mereka.

Meski kurikulum menyisipkan materi budi pekerti, anak-anak memiliki dunia yang bebas kontrol di luar rumah dan sekolah. Tak semua lingkungan sekolah egaliter, memberikan ruang bagi anak-anak berpendapat dan berekspresi. Ironisnya, masih banyak sekolah yang tidak sanggup beradaptasi dengan kondisi terkini.

Sistem pendidikan kita mendefenisikan keberhasilan proses belajar-mengajar lewat angka-angka atau kuantitatif. Yang dikejar adalah nilai 100 atau 10, bahkan untuk bidang studi humaniora, etika, dan norma. Hal ini tentu saja membebani baik guru maupun murid. Guru dikejar target meluluskan siswa, mungkin tanpa mempedulikan murid menyerap telah menyerap nilai moral pelajaran yang diajarkan. Pun begitu dengan murid. Kini beban pelajaran yang diemban murid begitu banyak. Seorang murid SD kelas 6, misalnya, berkutat dengan pelajaran dari matahari terbit hingga terbenam. Pertanyaannya lantas, apa tragedi guru lawan murid di dunia pendidikan kita ekses dari sistem pendidikan ini?

Anak-anak juga semakin jauh dari budaya sopan-santun, sering tak memahami perilakunya dan melampiaskan kekesalannya diluar batas—bahkan mengakibatkan kematian seseorang. Nah, sesungguhnya apa yang terjadi pada mereka? Mengapa anak-anak berani menggunakan jalan kekerasan? Bukankah sekolah harusnya menjadi ruang yang nyaman bagi anak-anak?

Bagaimana peran negara dan sekolah dalam memutus rantai kekerasan? Pendekatan seperti apa yang harus dilakukan untuk merehabilitasi anak-anak yang menjadi pelaku kekerasan dan korban kekerasan? Sudahkah sekolah dan keluarga siswa bersinergi dalam melakukan pengawasan? 

Bagaimana menurut Anda? Watyutink?

(fai)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pendidik, Penulis Buku Sastra, Penggiat Kebudayaan

Banyak faktor yang menyebabkan anak-anak melakukan kekerasan di sekolah, faktor utamanya kondisi di rumah. Sekolah itu sekian persen dari waktu yang dihabiskan anak-anak dalam kesehariannya. Biasanya anak-anak yang punya kecenderungan melakukan kekerasan di sekolah itu pasti bukan dari keluarga yang harmonis atau orangtuanya tak peduli terhadap anak-anaknya.

Selain kurangnya pengasuhan orangtua atau pola asuh yang buruk di rumah, bisa jadi anak-anak yang melakukan kekerasan di sekolah itu adalah anak-anak yang mencoba narkoba, setidaknya mereka sudah menggunakan—walaupun belum pada tahap kecanduan, sehingga menggunakan cara-cara kekerasan di sekolah. Kalau sudah kena narkoba, dia tidak takut lagi pada siapapun.

Pendekatan guru terhadap anak-anak bermasalah itu beragam, artinya guru tidak tinggal diam dalam mengatur strategi pendekatan pada anak-anak didik di sekolah, dari mulai pendekatan secara religius hingga kekeluargaan. Kemudian melakukan perannya sebagai guru, bahkan multi peran. Guru sudah bertindak sebagai orangtua, pendidik dan pengajar, juga kawan dan konsultan.

Tetapi guru harus terus-menerus mengikuti perkembangan peserta didik-- seiring perubahan zaman. Perkembangan itu, mau tidak mau membuat guru belajar dan terus belajar, mengenai metode dan strategi pendekatan terhadap siswa di sekolah, dan itu pekerjaan yang luar biasa melelahkan. Tapi itukan resiko menjadi guru.

Selama ini sekolah sudah berjuang dan bersinergi dengan keluarga peserta didik, untuk memutus rantai kekerasan ini. Sedikit yang berhasil dan lebih banyak yang belum. Tetapi, tentu kita para guru tidak akan tinggal diam dan tidak berputus asa, sekolah akan terus berjuang dan bekerjasama dengan orangtua siswa dan masyarakat. Supaya peserta didik betul-betul bisa tumbuh menjadi manusia pembelajar.

Lingkungan sekolah yang baik, idealnya merupakan sebuah lingkungan yang membuat peserta didik menjadi seorang pembelajar dan mereka terlindungi dari buruknya pengaruh dunia luar. Peserta didik bisa tumbuh sewajarnya menjadi manusia yang punya karakter. Lingkungan pendidikan juga harus memenuhi delapan unsur Standar Nasional Pendidikan. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pendidik dan Pendiri Yayasan Wangsakerta

Pendidikan karakter anak yang paling utama adalah di dalam keluarga, baik dari aspek ikatan emosional dan interaksi, seharusnya paling banyak dalam keluarga. Di sekolah, umumnya guru dan murid hanya berinteraksi 6 jam, diluar itu adalah di rumah atau lingkungan. Persoalannya sekarang ini, banyak orangtua tidak lagi punya kedekatan dengan anak, baik secara emosional maupun fisik. Orangtua lebih sibuk mencari nafkah atau kegiatan sosialnya sendiri, dan ini terjadi tidak hanya di kota, juga di desa. Sementara kohesi sosial di lingkungan tempat anak tumbuh yang dapat menjadi pengganti orangtua sudah tidak ada, orang-orang cenderung individualistik.

Berbeda dengan jaman dulu, anak-anak masih kumpul di mushola, dibimbing seorang ustad yang bisa ngemong mereka. Anak-anak sekarang harus tumbuh sendiri, kalaupun ada orang dewasa di sekitar mereka-- hanyalah tampilan fisik tidak punya kedekatan emosi. Hal ini membuat anak-anak gamang, mengalami tahapan-tahapan perkembangan fisik dan juga psikologis dalam hidupnya. Tekanan sosial menuntut mereka mengambil keputusan-keputusan dalam dirinya yang belum tentu benar juga secara sosial.

Di pihak lain setelah tidak ada keluarga dan lingkungan yang mendukung anak-anak ini dalam proses tumbuh kembangnya, sekolah juga tidak melakukan fungsi pendidikan. Sekolah hanyalah tempat belajar, dimana guru hanya mengajar bukan mendidik. Dengan pemikiran seperti itu, guru hanyalah menuntut bukan mencoba memahami anak dan menuntun mereka dalam belajar menemukan dirinya.

Guru (sekolah) adalah lembaga yang terpisah dari keluarga. Jarang sekali sekolah yang peduli mengembangkan hubungan atau kerja dalam pendidikan anak dengan para orangtua, apalagi lingkungan sekolah hanya lembaga yang tunduk pada Dinas Pendidikan dengan segala aturan mainnya yang kadang malah membuat stres para guru.

Dengan demikian, yang kita dapat adalah anak-anak yang stres, teralienasi, bingung, mungkin dia pintar dalam pengertian nilai-nilai pengetahuannya, tetapi aspek afeksi dia tidak berkembang.

Lalu harus bagaimana? Menurut saya pemerintah dalam hal ini Kemendikbud atau Dinas Pendidikan harus melihat (evaluasi) kembali kebijakannya-- sekiranya membuat kekacauan aspek pendidikan di dalam proses belajar mengajar harus dihapus. Misalnya, mata pelajaran yang luar biasa banyaknya itu, model pelajaran menghafal, dan juga tuntutan administrasi yang membebankan guru harus ditinjau lagi manfaatnya.

Sekolah-sekolah harus membina hubungan yang rill dengan entitas pendidikan di sekitar sekolah, keluarga, mushola, pemerintah desa, dan lembaga-lembaga setempat untuk mengembangkan model kerjasama dalam pendidikan anak. Membuka ruang belajar seluas mungkin, tidak hanya terpaku di kelas. Sekolah dan guru tidak hanya mengundang orangtua siswa-- jika ada urusan soal biaya maupun pengadaan fasilitas belajar. Guru perlu membangun kedekatan dengan anak dan mengamati kecenderungan anak, mengapresiasi hal positif yang dilakukannya, dan mendorongnya untuk meninggalkan atau tidak melakukan kegiatan negatif.

Karena sela kurang lebih empat bulan ini, berinteraksi penuh dengan anak-anak dikampung, saya tersadar betul anak-anak kurang kasih sayang, kurang bimbingan. Banyak orangtua baik kaya atau miskin, dikampung maupun di kota sama saja, mereka mencintai anak dengan caranya sendiri, tidak peduli bagaimana anak ingin dicintai atau harus dicintai dengan mempertimbangkan tekanan sosial yang dihadapi anak. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Robin, S.Pi., M.Si.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kandidat Doktor IPB, Tenaga Ahli Komisi IV DPR-RI

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik