Agar Tak Ada Lagi Generasi Gaptek
berita
Humaniora
31 August 2017 00:00
Dunia bergerak cepat. Teknologi informasi berkembang dalam hitungan byte per second. Tahun lalu, pengguna gawai di Indonesia mencapai 63,9 juta. Sementara itu sebanyak 132,7 juta jiwa penduduk Indonesia terhubung ke dunia maya. Tengok pula perkembangan e-commerce. Tahun 2016 sebanyak 8,7 juta orang berbelanja online dengan nilai transaksi Rp68 triliun. Angka-angka itu dipercaya bakal naik terus. 

Namun angka-angka itu punya sisi lain. Saat ini penduduk Indonesia berjumlah 261,1 juta jiwa. Sekitar 128,4 juta jiwa belum terkoneksi ke internet. Selain itu, 252,4 juta jiwa yang tidak berbelanja online. Artinya, yang belanja online masih minoritas. 

Tahun 2014 Wall Street Journal merilis kabar penetrasi e-commerce belum mayoritas. Hanya 40 persen penduduk Indonesia punya rekening bank yang terhubung ke kartu kredit dan kartu debit. Angka itu rendah, sebab pada 2014 penetrasi handphone telah mencapai 85 persen. Sebab lain, mungkin masih banyak penduduk kita yang gaptek alias gagap teknologi. 

Generasi Baby Boomers, yang saat ini memasuki usia lansia, disinyalir  mengalami gaptek. Menurut data BPS tahun 2014, penduduk di atas 50-60an tahun ini, jumlahnya lebih dari 8,03 persen. Mereka besar di era media cetak, radio, dan TV dan telanjur tua saat internet marak.  Selain itu penyebaran internet belum merata. Kesenjangan pengguna internet di Jawa dan Bali dibandingkan Kalimantan, Maluku, serta Papua adalah 1:10.  

Kemajuan teknologi sebuah keniscayaan. Yang ketinggalan akan tertinggal. Namun, membiarkan ketertinggalan ini,  tak adil bagi saudara-saudara kita yang gaptek. Di era SBY pernah dicanangkan kampanye internet masuk desa, namun hasilnya tidak maksimal. Bagaimana pemerintah sekarang, pedulikah akan hal ini?

Pemerintahan Jokowi tengah giat membangun infrastruktur. Jalan tol, kereta cepat, subway, LRT, dan jembatan dibangun secara masif. Itu bagus. Yah, kita memang butuh itu semua. Namun, tidak terpikirkah membangun infrastruktur teknologi informasi agar kesenjangan digital kota-desa, Jawa-luar Jawa tak kian melebar? Apa artinya bila manfaat internet hanya dirasakan setengah populasi (kota), sementara setengahnya lagi (desa) hidup di zaman gelap, tak kenal e-money dan e-commerce? Terobosan apa yang harus dilakukan pemerintah?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pakar Teknologi Informasi

Sejauh yang saya tahu, kebanyakan inisiatif internet masuk desa Badan Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI) Kementerian Kominfo zaman SBY yang dimulai 2009 banyak yang mangkrak, tidak jalan. Sejumlah kendaraan yang dahulu dipakai menyebar akses Internet dalam program Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK) ditemukan terbengkalai.  

Saat ini pemerintah tengah membangun infrastruktur internet. Yang sedang dibangun adalah sambungan besarnya berbentuk kabel serat optik bawah laut antar pulau. Namun, kalau selular ke desa-desa, sih, rasanya nggak terlalu dibangun. Alasannya mungkin karena terlalu susah menyangkut geografi  atau terlalu mahal.

Sebetulnya pembangunan infrastruktur internet cuma akan dilisensikan ke swasta. Padahal swasta sih kepentingannya cari duit. Pemerintah sendiri kesulitan menyambung 7000-an desa yang tak tersentuh sinyal telekomunikasi. Kalaupun pemerintah serius membangun infrastruktur untuk itu, kemungkinan hanya bisa 200-an lebih desa per tahun. Maklum, tak banyak orang yang menguasai soal teknik di republik ini. 

Pemerintah Korea patut dicontoh bagaimana mengikis generasi gaptek. Mereka punya program menyeluruh mendorong warga mempunyai komputer dan internet, dengan memberikan subsidi harga koneksi pada warga berpendapatan rendah. Salah satu program pemerintah Korea meminta ibu rumah tangga agar belajar komputer dan akrab dengan internet kecepatan tinggi, kemudian memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah kita belum sampai ke situ mikirnya. Untuk transportasi saja sudah pusing kepala. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Plt. Kepala Biro Humas Kementerian Informasi dan Komunikasi

Untuk mengejar keterhubungan ke Internet, maka Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kominfo) telah membuat program afirmatif. Yaitu program yang memberikan connectivity (keterhubungan) yang mencakup seluruh wilayah Indonesia dengan membangun connectivity ke wilayah 3T (Tertinggal, Terluar, Terdepan) dan lokasi prioritas.

Untuk menghubungkan antarkabupaten dibangun Palapa Ring yang menghubungkan 57 Kabupaten/kota. Program ini adalah pembangunan fiber optik sebagai tol informasi dengan program yang disebut Palapa Ring. Palapa Ring memanfaatkan fiber optik dari wilayah Sumatra sampai dengan Papua. Dengan penekanan wilayah 3T. Diharapkan Palapa Ring menjadi backbone (tulang punggung) ke wilayah-wilayah 3T dan memberi supply bandwidth dan konektivitas. Nantinya Base Transceiver Station (BTS) di wilayah-wilayah 3T akan memanfaatkan jaringan tulang punggung tersebut.

BTS 3T dan BTS 3T berfitur 4G akan memberikan layanan berbasis selular di wilayah 3T untuk mengurangi blankspot. Selain itu juga memberikan supply internet.

Untuk tempat-tempat tertentu di wilayah 3T didorong dan diberikan akses Internet, di sekolah-sekolah atau tempat lainnya. Ini internet broadband sekolah-sekolah atau tempat lainnya memanfaatkan VSAT (Very Small Aparture Terminal) yaitu stasiun penerima sinyal dari satelit untuk supply bandwidth-nya di wilayah 3T.

Diharapkan Palapa Ring secara keseluruhan sudah selesai dibangun pada 2019. Untuk Palapa Ring di wilayah barat, penyelesaiannya dipercepat pada akhir 2017.

Untuk wilayah Papua, Palapa Ring akan digelar juga di sisi daratan. Tersinkron dengan pembangunan jalan transpapua. Untuk wilayah Papua yang sulit diakses, untuk memasuki wilayah itu akan digunakan microwave links (jaringan gelombang pendek). (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Sosiologi UNJ

Saat ini tidak bisa dihindari perkembangan dunia Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) semakin pesat. Hampir seluruh dunia mengalaminya, salah satunya Indonesia. Semenjak pasca-Reformasi, perkembangan TIK di Indonesia sangat cepat. Keberadaan TIK kemudian diperkuat dengan berkembangnya produk mobile computing (seperti laptop, wearable computer, PDA, dan smartphone). Produk mobile computing ini kemudian semakin canggih karena didukung oleh sistem jaringan internet. Maka makin lengkaplah perkembangan mobile computing berbasis jaringan internet dalam kehidupan di masyarakat. 

Perkembangan mobile computing dengan segala perangkat pendukungnya, kemudian membantu segala aktivitas kehidupan manusia. Berbagai aktivitas yang dulu dilakukan secara manual atau konvensional, kini beralih berbasis internet atau elektronik. Misalnya saja electronik commerce (e-commerce), e-mail, online shop, e-banking, dan lain sebagainya. 

Berkembangnya mobile computing di Indonesia rupanya tidak terjadi secara menyeluruh pada masyarakat Indonesia. Masih terdapat masyarakat Indonesia yang belum memahami dan belum dapat menggunakan kemajuan mobile computing, misalnya ini terjadi pada masyarakat di pedesaan, perbatasan, terluar, dan terpencil. Bahkan pada masyarakat di perkotaan juga masih ada individu yang belum memahami dan belum dapat menggunakan kemajuan mobile computing ini. 

Oleh karena perkembangan mobile computing tidak bisa dihindari, maka sudah selayaknya setiap individu harus beradaptasi pada situasi dan kondisi yang sedang berkembang. Agar ia dapat mengikuti situasi dan kondisi zaman yang ada saat ini. 

Selain itu juga pemerintah meningkatkan akses mobile computing kepada masyarakat yang berada di wilayah pedesaan, perbatasan, terluar, dan terpencil. Agar masyarakat yang berada di wilayah tersebut dapat memahami, menggunakan, dan beradaptasi terhadap perkembangan yang terjadi saat ini di era mobile computing berbasis jaringan internet. 

Mobile computing berbasis jaringan internet selain memberikan banyak sisi positif pada kehidupan manusia, tetapi kita juga tidak boleh terlena danmelupakan sisi kontak sosial yang nyata antarsesama. Hal ini perlu agar nilai dan norma sosial dapat tetap terjaga, dan kehidupan manusia tidak terjebak dalam kehidupan yang maya. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan             Investor Tak Hanya Andalkan Peringkat Daya Siang