Agar Korban Kecelakaan Mudik Tak Sebanyak Pemilu 2019
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 06 May 2019 19:00
Watyutink.com - Sampai 4 Mei 2019 tercatat penyelenggaraan Pemilu 2019 telah memakan korban nyawa 554 orang, terdiri atas 440 orang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), 92 orang petugas panwaslu, dan 22 petugas kepolisian. Petugas yang meninggal tersebar di 30 provinsi. Angka itu lebih banyak dari korban kecelakaan lalu lintas yang terjadi selama mudik lebaran tahun 2018. Menurut data dari Polri, sepanjang 7-15 Juni 2018 terdapat 1.154 kecelakaan yang merenggut 242 orang meninggal. 

Angka kecelakaan saat musim mudik lebaran tahun 2018 turun dibanding 2017. Dua tahun lalu jumlah kecelakaan mencapai 1.623 dengan korban 374 orang. Sungguh ironis memang, pemilu yang merupakan ajang rakyat berpesta demokrasi lebih banyak memakan korban daripada mudik ke kampung halaman untuk berlebaran.  

Salah satu penyebab begitu banyaknya petugas KPPS yang meninggal akibat kelelahan yang memicu penyakit lain timbul karena tak ada kajian sebelumnya dari risiko pelaksanaan pemilu serentak pileg dan pilpres dengan lima surat suara yang harus dicoblos dan kemudian dihitung dengan teliti. Pekerjaan mengawal pemilu hingga menghitung surat suara sampai memakan waktu 24 jam tanpa istirahat. Maka, yang jadi tanya, pelajaran apa yang bisa dipetik dari tragedi kematian petugas Pemilu 2019 untuk musim mudik tahun ini?   

Yang utama, tidak ada seorangpun yang mengantisipasi bakal banyak petugas pemilu kelelahan yang berisiko pada kematian. Jika hal itu diantisipasi sebelumnya, korban yang meninggal takkan sebanyak sekarang. Pencegahan ini tak dilakukan sejak saat UU pemilu disusun dan diputuskan pileg dan pilpres berlangsung serentak. 

Maka, sebetulnya pelajaran pertama dari tragedi Pemilu 2019 adalah mengantisipasi kejadian terburuk sejak dini. Walau puasa Ramadan baru dimulai sepatutnya aparat terkait sudah menganalisis berbagai potensi kecelakaan lalu lintas serta kerawanannya. Termasuk menyiapkan solusi agar angka jumlah kecelakaan dan jumlah korban yang trennya menurun terus terjadi.  

Kita yakin pihak berwenang baik dari Kementerian Perhubungan maupun Polri mengetahui di mana saja titik-titik lokasi rawan kecelakaan. Mereka tentu juga suadh menyiapkan petugas di sekitar lokasi tersebut. Yang menjadi masalah justru terletak pada masyarakat, baik pemudik maupun petugas yang mengantar pemudik pulang-pergi, misal sopir bus dll.  

Data Badan Litbang Perhubungan memprediksi pemudik tahun 2019 sekitar 18,2 juta orang. Jumlah itu berasal dari Banten,  Jabodetabek dan Bandung Raya. Pasalnya ketiga wilayah ini menjadi bangkitan pemudik terbesar di Indonesia yang paling banyak perantaunya. Dari ketiga wilayah itu terdapat sekitar 4,5 juta rumah tangga. Dari angka itu diketahui juga, tujuan pemudik yang berasal dari Jabodetabek terbanyak ke Jawa Tengah 5,6 juta (37,68 persen), Jawa Barat 3,7 juta (24,89 persen) dan Jawa Timur 1,7 juta (11,14 persen).

Sedangkan moda pilihan terbesar menggunakan mobil pribadi 4,3 orang (28,9 persen), bus ekonomi 2,4 juta (16,1 persen) dan bus eksekutif 2,1 juta (23,9 persen). Pemudik yang memilih memakai bus tertinggi, yakti 4,5 juta orang (30 persen), mobil pribadi 4,3 juta orang (28,9 persen), kereta api 2,5 juta orang (16,7 persen), pesawat udara 1,4 juta orang (9,5 persen), dan sepeda motor 942 ribu orang (6,3 persen).

Pertanyaan besarnya juga, bagaimana mengatur 18,2 juta orang yang pulang mudik agar selamat saat tiba di kampung dan kembali ke kota?   

Seperti petugas KPPS saat pemilu, bila kondisi pengendara tak prima kecelakaan yang bisa merenggut nyawa sangat mungkin terjadi. Selain si pengendara, kondisi kendaraan juga tak kalah penting. Bagaimana mengedukasi pemudik dan pengendara akan pentingnya masalah ini? 

Di luar edukasi pada pemudik, para pemangku kebijakan bisa melakukan banyak hal demi meminimalisir kecelakaan saat musim mudik nanti. Salah satunya menyediakan tempat beristirahat. Masalahnya, cukupkah rest area yang ada di tol saat ini menampung banyak pemudik di waktu bersamaan? Yang kerap terjadi keberadaan rest area yang penuhsesak bikin masalah baru: kemacetan di jalan tol. Adakah solusi yang ditawarkan untuk mengurai masalah ini? Bisakah kita usul pemudik ke luar tol untuk beristirahat di rest area dekat gerbang tol lalu masuk tol lagi tanpa harus bayar atau ada keringanan biaya?

Salah satu sumber kecelakaan saat musim mudik datang dari pemudik bersepeda motor. Pemotor biasanya membawa barang berlebihan saat mudik serta berkendara lebih dari dua orang. Anak-anak juga kerap diajak mudik naik motor melakukan perjalanan jauh. Bagaimana mencegah agar tak banyak kecelakaan yang menimpa penotor saat musim mudik nanti? Bisakah sejak dari kota asal polisi tegas mencegah pemotor yang membahayakan dirinya dan orang lain?  

Bila semua ikut aturan dan diantisipasi sejak dini, korban kecelakaan lalu lintas selama masa mudik nanti takkan seperti korban Pemilu 2019. Bukankah itu yang kita dambakan? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?     

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat transportasi

Keselamatan pemudik harus mendapat perhatian. Meskipun pada saat mudik Lebaran, angka kecelakaan menurun hingga 30 persen dibanding biasanya. Setiap tahun, angka kecelakaan ada kecenderungan mengalami penurunan. 

Potensi pecah ban bisa lebih tinggi. Oleh sebab itu, setiap pemudik yang lewat tol disarankan sebaiknya antara 2-3 jam perjalanan dapat beristirahat. Bisa jadi pengemudi bisa lebih dari satu tetapi kondisi kendaraan juga harus tetap terjaga prima. Kendaraan perlu istirahat sejenak. Permukaan jalan tol rigid pavement yang tidak dilapiskan aspal membuat ban cepat aus dan panas. 

Kesiapan kendaraan dan pemgenudi yang prima untuk perjalanan jarak jauh bisa mengikuti beberapa tips yang sudah dikeluarkan oleh beberapa perusahaan otomotif atau komunitas. 

Penambahan rest area di luar tol dekat gerbang tol lebih memungkinkan untuk mengantisipasi akan banyaknya pemudik yang ingin beristirahat sejenak. Berikan kemudahan dan keringan biaya jika akan masuk tol di getbang yang sama jika ada pemudik yang mau beristirahat di rest area dekat gerbang tol. 

Rest area tersebut dapat difasilitasi pemda setempat. Keberadaan rest area di sepanjang tol tidak akan mampu memebuhi semua pemudik lewat tol. Karena dalam kondisi anomali. Perhitungan kebutuhan jumlah rest area di tol berdasar kebutuhan arus kendaraan normal lewat tol. 

Pemudik yang menggunakan sepeda motor juga dihimbau setiap satu jam beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuh. Pemerintah dapat mengeluarkan larangan membawa anak-anak, tidak lebih dari dua orang dan bawa barang berlebihan. 

Sepeda motor sebagai sarana transportasi sudah diatur pada Pasal 10 Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan,  menyebutkan persyaratan teknis untuk sepeda motor meliputi (a) muatan memiliki lebar tidak melebihi stang pengemudi,  (b) tinggi muatan tidak melebihi .900 milimeter dari atas tempat duduk pengemudi, (c) barang muatan ditempatkan dibelakang pengemudi. 

Perjalanan jarak jauh ke Jateng dan Jatim, sebaiknya memanfaatkan mudik gratis lewat kapal laut. Tujuannya, mempersingkat waktu menggunakan sepeda motor di jalan raya. Mudik gratis lewat kapal laut tidak selaris menggunakan truk dan kereta. 

Mudik gratis lewat kapal laut, pemerintah membiayai sekitar Rp 1,3 juta setiap unit sepeda motor termasuk gratis naik kapal laut untuk dua orang dapat makan grstis selama perjalanan di atas kapal. 

Penggunaan angkutan barang  mengangkut orang harus dilarang. Namun, kenyataannya setiap tahun pasti ditemui truk diberi atap penutup mengangkut orang dan terkadang sepeda motor juga. Pasalnya, di kampung halamannya mau bersilaturahni sudah tidak ada lagi angkutan umum yang nyaman. Bahkan, sudah cukup banyak yang punah. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan