Agar Fans Tak Ikut Bunuh Diri Seperti Jonghyun SHINee
berita
Humaniora

Dok. CNN

26 December 2017 10:00
Jika hendak mengidolakan artis Korea atau musisi K-Pop, Anda harus tahu dahulu, kecenderungan mereka melakukan bunuh diri sangat tinggi. Jadi, sebaiknya harus bersiap bila suatu saat mendengar kabar sang idola bunuh diri. Yang teranyar menimpa personel group idola SHINee, Kim Jonghyun.

Menurut berbagai laporan, Senin sore waktu setempat, 18 Desember 2017 lalu, ia mengakhiri hidup dengan menghirup racun gas dari briket batu bara. Ia meninggal pada usia 28 tahun. Beberapa jam sebelumnya, penyanyi tersebut mengirim pesan teks kepada adiknya berbunyi: "Tolong biarkan saya pergi. Katakan bahwa saya melakukannya dengan baik."

Jonghyun bukan artis Korea pertama yang bunuh diri. Telah banyak yang melakukan hal serupa. Bahkan, hasil penelitian yang dilakukan artis Korea lainnya, Park Jin-hee menunjukkan 4 dari 10 aktor Korea menderita depresi dan memiliki dorongan bunuh diri. Artinya, dari seratus persen selebritas di sana, 40 persennya berpotensi bunuh diri. Disebutkan pula, dari 40 persen tersebut, sekitar 20 persen telah membeli "alat" untuk bunuh diri. Kenapa banyak artis Korea bunuh diri? Apakah semata karena tekanan pekerjaan dan persaingan sengit di industri hiburan?

Kabar yang lebih miris sesungguhnya datang dari tanah air. Di tengah ramai pemberitaan soal Jonghyun, kita dapati pula ada dua Shawol, sebutan bagi fans SHINee, asal Indonesia yang melakukan percobaan bunuh diri mengikuti jejak idolanya. Cerita soal kabar ini juga ramai dibicarakan netizen. Yang berniat bunuh diri tersebut adalah seorang wanita bernama Devi, pemilik akun Twitter @KEY_cebong dan seorang lagi wanita yang bertunangan dengan pemilik akun Twitter @searchingmutual. Keduanya gagal bunuh diri dan mendapat perawatan di rumah sakit.

Bunuh diri persoalan serius yang tak bisa diabaikan. Ketika ada seseorang yang mencoba bunuh diri karena idolanya mengakhiri hidupnya sendiri terlebih dahulu, persoalannya menjadi lebih serius lagi. Kita wajib mencari jawaban dan penyelesaian mengapa sampai ada fans ikut-ikutan mencoba bunuh diri seperti artis pujaannya. Kondisi macam apa yang menyebabkan hal tersebut? Lantas, bisakah perilaku kecenderungan bunuh diri fans mengikuti idolanya ini bisa dicegah atau disembuhkan?

Kita tahu, sejak sepuluh tahun terakhir demam Hallyu (gelombang budaya pop Korea) mengisi jagat hiburan kita, menggantikan kegemaran kita pada hiburan dari Mandarin yang dibawa Meteor Garden dari Taiwan. Kini musik K-Pop dan drama Korea digandrungi remaja kita. Pembuat drama Korea memang piawai bikin cerita. Berjam-jam waktu habis untuk mengikuti serial Korea seperti Jewel in the Palace, Boys Before Flowers, atau Descendants of the Sun dari episode awal hingga tamat. Pun begitu soal musik. Group idola tampil sempurna dan kompak membawakan lagu. Kesempurnaan fisik mereka lantas jadi panutan. Model rambut dan dandanan ala artis Korea diikuti.

Sebatas itu sih tak apa-apa. Namun, bagaimana jadinya bila perilaku negatif juga diikuti fans? Hal ini harus diwaspadai. Kita tak ingin generasi muda kita yang jadi harapan bangsa terenggut nyawanya dengan cara konyol, bukan?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Wartawan, penggemar group K-Pop SHINee

Menurut saya, SHINee itu boyband yang tak hanya jual tampang tapi lebih pada talenta. Di awal debutnya tahun 2008 lalu, SHINee bahkan langsung jadi rising star yang meraih beberapa penghargaan bergengsi. Di Golden Disk Award mereka jadi Best New Comer Artist. Hampir setiap tahunnya (album barunya), SHINee bawa pulang penghargaan.

Tahun depan mereka berusia 10 tahun. Selama itu juga, mereka boleh dibilang SHINee selalu jadi panutan boyband-boyband baru. Paling skandalnya tuh pas Jonghyun pacaran dengan Shin Se Kyung. Atau ya puncaknya tahun ini, onew (leader)-nya terseret skandal dugaan pelecehan seksual. Setelah onew kena skandal di bulan Juli 2017 kemarin, SHINee agak tergeser oleh boyband-boyband baru.

Saat ini aktivitas mereka relatif berkurang. Mungkin karena sudah mulai banyak boyband baru yang bermunculan.Kalau dulu2 mereka sering ngadain fan meeting atau showcase kecil-kecilan. Sekarang ya paling tur konser besar aja. Belum ada album baru juga, sih.

Setahu saya, album terbaru mereka di Korea itu '1 of 1' rilisnya 2016 kemarin. Serta 'Five' album Jepang mereka rilis tahun ini. Jonghyun punya peran signifikan di SHINee. Dia vokalis utama.Dia andalan SHINee. Jonghyun juga masuk dalam S.M The Ballad. Project SM Entertainment yang isinya itu

vokalis2 andalan tiap grup.Dari SHINee itu Jonghyun, dari SNSD Taeyeon, dari TVXQ Changmin, dari f(x) Krystal, EXO Chen dan Zhang Zi Yi (artis SM Entertainment asal Tiongkok). Omong-omong SM Entertainment itu agensi (manajemen artis) SHINee, SNSD, SUJU dll.

Belakangan kan Jonghyun memang lagi fokus sama karier solonya. Apa dia "diperbudak" manajemenya? Kasarnya begini sih, kalau yang saya lihat, Jonghyun kan laris manis, makanya digenjot terus. Begitu ya mungkin. Jonghyun ini kan idola besar. Otomatis imejnya harus terjaga. Tapi sebenarnya  dia tuh pengen dicintai karena dirinya apa adanya.

Pemicu ia bunuh diri belum diketahui persis. Cuma kayaknya tekanan pekerjaan lebih mungkin jadi pemicu dia depresi. Di Twitter dia pernah curhat begini, "Aku baru sampai rumah selesai kerja. Tapi aku merasa kesepian. Rumah bagiku itu hanya ibu, kakak dan Roo (anjing peliharaannya)." Jonghyun kan penyanyi. Di panggung dia dipuja-puja, tapi begitu selesai, dia ngerasa kesepian. Saya tak tahu sudah berapa lama member SHINee nggak tinggal bareng-bareng lagi. Sebelumnya kan mereka satu dormitory (asrama).

Kenapa banyak artis k-pop bunuh diri? Jawabannya, tekanan dan persaingan. Karena hampir setiap tahun, ada group-group baru bermunculan. Banyak juga boyband/girlband yang akhirnya bubar, atau personelnya satu per satu cabut. Mreka merasa "Gue nggak bisa nih begini-begini saja."

Di Korea Selatan juga banyak yang memilih jadi atheis. Karena mereka nggak tahu mau kemana dan bagaimana bila depresi, satu-satunya cara ya mereka mengakhiri hidup. Kayaknya tingkat depresi artis-artis Korea tinggi.

Mengenai ada shawol (sebutan bagi penggemar SHINee--red) Indonesia mau bunuh diri, menurut saya hal itu terjadi Karena mereka (fans tersebut) sudah menganggap SHINee sebagai bagian hidup mereka. Saya pribadi sih tak setuju dengan tindakan fans itu. Saya mengidolakan mereka tapi bukan berarti tak bisa hidup tanpa mereka.

Mengidolakan idol group berarti pula kita bisa menerima apa pun yang bisa bikin mereka bahagia. Contohnya, kalau idola kita punya pacar atau mau nikah, ya kita dukung.

Jangan di-bash (dibanjiri kecaman--red). Mereka manusia biasa. Kalau itu yang bikin mereka bahagia, kenapa nggak? Jangan berusaha masuk ke kehidupan pribadi merekalah intinya. (ade)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Psikolog dari Tiga Generasi dan Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia 

Menurut penelitian Nock (2009) di negara-negara maju, gangguan jiwa yang menjadi prediktor kuat hingga seseorang mencoba bunuh diri adalah gangguan bipolar, post traumatic disorder (PTSD), dan depresi mayor. Sedangkan untuk negara-negara berkembang, yang menjadi prediktor adalah PTSD, conduct disorder, dan ketergantungan pada zat-zat adiktif (drug abuse).

Rasa sakit (baik fisik maupun psikologis) dapat menurunkan gairah hidup seseorang dan memicunya mengembangkan ide bunuh diri. Tentunya ini dipengaruhi hal lain seperti ketidakberdayaan, jika ia merasa tidak berdaya dan tidak akan mampu mengakhiri rasa sakitnya dan memiliki hidup yang lebih baik, ide untuk bunuh diri akan semakin kencang.

Perilaku bunuh diri merupakan perilaku yang didasari kompleksitas kombinasi antara kondisi fisik, biologis/genetik, psikologis, dan psikososial. Kondisi fisik maksudnya sakit yang dirasakan secara fisik memicu keinginan bunuh diri agar sakitnya tidak terasa lagi. Sedangkan dari biologis yakni faktor genetik adalah ketika keluarga seseorang memiliki riwayat bunuh diri atau gangguan mental menjadi lebih rentan untuk melakukan percobaan bunuh diri.

Di sisi psikologis, ada beberapa hal seperti ketidakberdayaan, resiliensi yang rendah, riwayat trauma sejak kecil, riwayat kekerasan baik secara fisik/seksual/psikologis, diabaikan/kehilangan orangtua, riwayat gangguan psikiatrik seperti penggunaan obat terlarang atau gangguan mood terutama depresi. Pada aspek psikososial yakni hal-hal yang menjadi sumber stres dalam kehidupan sehari-hari seperti kondisi finansial, kehilangan orang-orang terdekat, atau terjerat masalah hukum.

Jadi, keinginan untuk bunuh diri bukan berdasarkan satu alasan, namun terjadi atas kompleksitas masalah yang dialami oleh seseorang.

Bagaimana menyembuhkan perilaku keinginan bunuh diri? Beri dukungan positif, mendengarkan keluh kesahnya dengan tulus dan tidak menghakimi, dampingi dan tunjukkan bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi kesulitan ini.

Selain dukungan positif dari keluarga dan teman-teman, perlu juga untuk mencari bantuan tenaga profesional seperti psikolog. Menemui psikolog dapat membantu untuk meredakan pikiran dan emosi negatif serta menanamkan harapan untuk dapat memiliki masa depan yang lebih baik. Selain itu, klien pun dibekali strategi penyelesaian masalah yang efektif untuk dapat diterapkan saat ia memiliki masalah di kemudian hari. Jika memang individu tersebut sudah terbukti depresi perlu juga penanganan farmakalogi yakni dengan obat-obatan anti depressan yang tentunya dapat diberikan oleh psikiater.

Cara penanganan spiritual pun menjadi salah satu pilihan, namun perlu penanganan yang komprehensif untuk dapat meredakan depresi dan keinginan untuk bunuh diri.

Ada fans yang ingin bunuh diri mengikuti idolanya, bagaimana seharusnya fans mengidolakan tokoh? Ambil/pelajari hal-hal baik dari tokoh idola, seperti kerja keras,  pantang menyerah, atau tetap bersikap ramah meski sedang lelah. Harus tetap memiliki batasan dalam mengidolakan seseorang, jangan menjadi seperti cinta buta hingga  tidak dapat membedakan mana yang baik dan buruk dari seorang idola. Cintai hasil karyanya, pelajari sikap baiknya, dan pahami bahwa idola juga seorang manusia yang  memiliki keterbatasan seperti halnya kita agar tetap dapat bersikap objektif kepada idola.

Pahami bahwa kehidupan dunia entertainment memang penuh tuntutan, hingga tak semua orang mampu bertahan dengan cara-cara positif, terutama jika idola tersebut kurang memiliki dukungan dari orang-orang terdekat.

Mengidolakan dalam taraf wajar (tidak berlebihan) menjadi penting. Tunjukkan dukungan dalam bentuk positif seperti berikan kalimat penyemangat, datang ke konsernya, dan membeli karya aslinya merupakan bentuk wajar dalam mengidolakan seseorang. Jika idolamu mengecewakan, patah hati dan menangisinya wajar namun tidak berlebihan,  sehari dua hari cukup lalu kamu harus tetap melanjutkan hidup! (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Psikolog, Pengurus Yayasan Pulih

Ketika berbicara mengenai bunuh diri banyak hal yang dapat menjadi penyebabnya. Kita bisa berbicara dari aspek psikososial atau bagaimana sebuah lingkungan memengaruhi individu sehingga ia menjadi lebih rentan untuk mengalami depresi dan memutuskan untuk bunuh diri. Di tambah lagi, jika individu tersebut tidak memiliki dukungan sosial yang baik (misalnya teman dekat atau keluarga), maka akan meningkatkan juga kemungkinan untuk bunuh diri.

Selain dari aspek psikososial, penyebab bunuh diri juga bisa di lihat dari aspek medis-psikiatris, yang artinya individu tersebut memang sudah memiliki faktor risiko yang dapat membuatnya lebih rentan untuk mengalami depresi. Dalam hal ini, tentunya pertolongan profesional menjadi sangat penting.

Dari dua hal tersebut, dapat dikatakan bahwa bunuh diri merupakan sesuatu yang kompleks serta perlu dilihat dari berbagai sisi dan tidak bisa dipandang dari satu sisi saja. Dalam kasus bunuh diri juga tidak ada penyebab atau alasan tunggal mengapa seseorang memutuskan untuk bunuh diri.

Sulit untuk menjelaskan mengenai penyebab  beberapa orang memutuskan untuk melakukan bunuh diri, sedangkan yang lain dalam kondisi yang sama bahkan lebih buruk tetapi tidak melakukannya.

Apa yang menjadi penyebab bunuh diri, bisa dikatakan sebagai sebuah faktor pencetus saja dan tidak bisa di katakan sebagai alasan tunggal mengapa ia memutuskan untuk bunuh diri. Misalnya saja, dalam kasus Jonghyun, artis K-Pop yang baru-baru ini melakukan tindakan bunuh diri, diduga karena ia merasa sangat tertekan dengan pekerjaannya. Ini dapat dikatakan sebagai pencetus  alasannya melakukan tindakan bunuh diri, sementara ada faktor lain misalnya rasa kesepian yang dirasakan ataupun pertolongan-pertolongan yang belum tepat sasaran, sehingga depresi yang dialaminya bertambah berat sampai akhirnya ia memutuskan untuk bunuh diri.

Kasus bunuh diri paling banyak terjadi karena individu telah mengalami depresi dalam waktu yang cukup lama serta tidak berhasil mendapatkan pertolongan. Ia juga merasa sendiri, tidak berharga, tidak mendapatkan makna dalam hidupnya, serta tidak memiliki dukungan secara sosial dari keluarga maupun teman dekat. Hal ini yang kemudian membuat seseorang lebih mudah memiliki keinginan untuk bunuh diri.

Dalam kasus-kasus bunuh diri, biasanya lebih sering di sebut sebagai kasus percobaan bunuh diri. Mengapa demikian? Karena biasanya, individu yang mencoba untuk melakukan bunuh diri pada dasarnya sedang memberikan sinyal untuk meminta pertolongan dari orang lain.

Oleh sebab itu, kita juga perlu lebih peka terhadap teman-teman kita yang mungkin sedang membutuhkan pertolongan secara emosional, psikologis, atau bahkan ketika kita melihat mereka membutuhkan pertolongan secara medis. Bantuan dari orang-orang terdekat bisa menjadi pertolongan awal bagi mereka yang ingin bunuh diri, karena sekecil apapun yang kita lakukan, apabila hal itu bisa menyelamatkan  sebuah nyawa  maka  hal itu adalah sesuatu yang sangat besar.

Bunuh diri sering di anggap sebagai jalan terakhir yang dapat menyelesaikan masalah. Namun sebenarnya masalah tidak benar-benar berakhir karena pasti akan meninggalkan luka kepada semua orang yang menyayangi individu tersebut dalam bentuk trauma maupun pikiran-pikiran negatif dari orang lain yang kurang mengenal secara mendalam individu tersebut.

Stigma terhadap keluarga juga dapat muncul akibat terjadinya bunuh diri sehingga kasus bunuh diri sering kali di anggap sebagai sesuatu yang perlu untuk dirahasiakan dan tidak perlu dibahas. Padahal, bunuh diri sama pentingnya seperti ketika kita membahas permasalahan-permasalahan lainnya yang berhubungan dengan kesehatan mental. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Psikolog, Pengurus Yayasan Pulih

Menyusul kasus bunuh diri artis K-Pop Jonghyun, saat ini ada dua fans asal Indonesia yang ingin mengikuti Jonghyun untuk bunuh diri. Tentunya kita tidak bisa menyalahkan kedua fans Jonghyun karena kita sendiri tidak mengetahui secara pasti apa yang telah mereka alami dan lalui selama ini.

Kasus Jonghyun bunuh diri hanya menjadi faktor pencetus kedua fans-nya untuk bertindak serupa. Namun sebaiknya memang ketika kita memiliki idola, sebaiknya kita juga menyadari bahwa mereka adalah manusia biasa yang juga bisa memiliki masalah-masalah tertentu. Menjadi artis atau pesohor bukan berarti mereka menjadi setengah dewa

yang selalu dapat menjadi tokoh panutan kita. Apa yang kita lihat di media selama ini adalah upaya-upaya yang mereka lakukan untuk membangun citra ideal mereka di mata publik, namun keadaan buruk mereka pasti tidak akan kita ketahui lebih dalam.

Jika Anda atau orang yang Anda kenal memiliki pemikiran untuk melakukan bunuh diri, jangan sungkan untuk menghubungi orang terdekat maupun menghubungi lembaga-lembaga yang menyediakan pertolongan profesional.

Bagi Anda yang merasa bahwa teman-teman Anda membutuhkan pertolongan profesional, jangan ragu untuk merujuk mereka dan hadir untuk mereka. Kita tidak  sedang hanya membicarakan tentang mereka yang berisiko bunuh diri tetapi kita juga sedang membicarakan masa depan anak bangsa.

Daftar Lembaga Rujukan:

Yayasan Pulih
(021) 78842580
Jl. Tlk. Peleng No.63A, RT.5/RW.8, 8,
Ps. Minggu, Jakarta Selatan,
Kota Jakarta Selatan,
Daerah KhususIbukota Jakarta 12520

Into the Light
intothelight@gmail.com
pendampingan.itl@gmail.com

LSM IMAJI (Inti Mata Jiwa)
mail@imaji.or.id
(0274) 2840227

LSM JanganBunuhDiri
janganbunuhdiri@yahoo.com
(021) 96969293

(ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung             Idealnya Penjara Tidak Untuk Lansia             Selesaikan PR di Periode Kedua             Jemput Bola Tarik Investasi             Fokus Pada Daya Saing, Reindustrialisasi, Pemerataan             Memperkokoh kemampuan mewujudkan cita-cita Presiden Joko Widodo              Simbol Kemajuan Bangsa dan Rekonsiliasi dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo             Apapun Tafsirnya, Kita Bangga Jokowi - Prabowo Bertemu             Bukan Hidup Abadi Badaniah Semata             Hidup Abadi Masih Spekulatif