Ada Apa dengan Jogja?
berita
Humaniora

Sumber Foto : kaskus.co.id

07 November 2017 19:00
Penulis
"Terhanyut aku akan nostalgi/Saat kita sering luangkan waktu/Nikmati bersama/Suasana Jogja..."
                    --Lirik "Yogyakarta", dinyanyikan KLA Project--

Lagu "Yogyakarta" yang dilantunkan vokal manis pentolan KLA Project Katon Bagaskara telah lama jadi lagu "kebangsaan tak resmi" kota tersebut. Seperti kata lagu itu Yogyakarta atau Jogja "masih seperti dulu" ketika "tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna." 

Namun, masihkah Jogja kini seperti dinyanyikan KLA Project dulu?

BACA JUGA: Kenapa Kita Tak Kagum Konstruksi Kecantikan Lokal?

Bisa jadi tidak. Yogyakarta kini sebuah metropolitan yang berubah. Banyak orang yang tinggal di kota itu merasakan kota ini tak senyaman dulu seperti ketika mereka masih sekolah atau kuliah. 

Yang bikin miris Jogja tergolong kota dengan pengidap gangguan jiwa terbanyak di Indonesia. Dari seluruh provinsi di Indonesia, lima prevalensi gangguan jiwa berat terbanyak di daerah: DI Aceh (2,7), DI Yogyakarta (2,7), Sulawesi Selatan (2,6), Jawa Tengah (2,3), dan Bali (2,3). 

Itu data Kemenkes RI pada  2013. Prevalensi gangguan jiwa berat pada 2017 kemungkinan meningkat. Ternyata pengidap gangguan jiwa terbanyak bukan di Jakarta. Di daerah-daerah malah lebih banyak. Kenapa demikian? 

BACA JUGA: Bias Gender Di Film Horor Kita  

Tidak hanya banyak orang dengan gangguan jiwa, tingkat bunuh diri di sana pun tinggi. Hal ini menjungkir-balikkan anggapan Jogja kota yang nyaman dan ramah.  

Orang luar selalu melihat betapa wilayah itu sebagai salah satu tempat yang paling menyenangkan. Anggapan itu tidak salah, Yogyakarta selain dikenal ramah bagi pendatang, juga menjadi pusat pendidikan, kesenian dan kebudayaan, bahkan tempat berkumpulnya para seniman, sastrawan, ilmuwan dan intelektual hebat. Belum lagi, sebagai daerah tujuan wisata alam dan budaya, bahkan memiliki kekayaan arkeologi yang tersohor di dunia.

Kurang nikmat apa lagi? Hidup di Yogyakarta umumnya dianggap murah, dari harga makanan, pakaian, transportasi umum sampai buku-buku, sangat terjangkau. Tak ayal, kaum terdidik atau intelektual selalu mengidealkan hidup di Yogyakarta.

BACA JUGA: Membaca Anies Melalui Penutupan Alexis

Namun faktanya, kehidupan yang harmonis ala Yogyakarta berubah seiring zaman. Pembangunan hotel, apartemen, dan mal menjamur. Jalan-jalan di Yogyakarta mulai macet-- dipadati mobil-mobil mewah, seperti di sepanjang jalan Kaliurang. Pun juga perkara biaya hidup. Tahun 2008 biaya hidup mahasiswa Rp 1,2 juta per bulan. Kini biaya hidup rata-rata di sana Rp 2,7 juta.     

Bahkan tahun ini, terjadi kekerasan di jalanan yang dialami pelajar/mahasiswa dari etnis tertentu. Diskusi buku jadi masalah, hingga panitia dilukai dan dibubarkan paksa oleh kelompok fanatik agama. Benarkah perubahan Yogyakarta memicu gangguan jiwa? Yogyakarta yang berwajah ramah, mengapa berubah garang? Apakah telah terjadi gegar budaya di Yogyakarta? 

Apa pendapat Anda? Watyutink? 

(fai/ade)
 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Psikolog, Pengurus Yayasan Pulih

Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) penyebabnya banyak faktor. Sebetulnya kebudayaan di Yogyakarta itu secara kasat mata sangat menghargai. Bahkan membeli apapun murah. Tapi jangan salah, ternyata ada hal tertentu yang membuat rentan terhadap stres.

Contoh, tradisi pernikahan di Yogyakarta, warga saling membantu beras dan kebutuhan lainnya. Semakin banyak diberi, semakin besar balas-budinya. Bayangkan si mempelai suatu hari nanti-- tidak sanggup membalas budi kepada orang-orang yang memberinya dengan jumlah yang setara. Itu tekanan tersendiri. Itu terkait gengsi sosial mereka, “Ini lho, saya bisa ngasih sekian banyak”.

Persoalan lain, minimnya kesadaran akan kesehatan mental. Di Gunung Kidul itu paling tinggi tingkat bunuh dirinya. Itu terkait mitos Pulung Gantung dan ada penelitiannya. Disana itu sangat tinggi angka penderita Skizofrenia-- seringkali dikaitkan mistis, bukannya diobati. Di Jawa kan cukup kental mistisnya. Nah, pikiran kolot ini menghambat kesadaran warga untuk pahami kesehatan mental.

Ironisnya di desa-desa, ODGJ dibawa ke orang pintar (dukun), bahkan ada yang kakinya dipasung. Padahal penderita sangat membutuhkan perawatan medis. Skizofrenia tidak boleh putus minum obat dan harus teratur.

Nah, orang-orang di Yogyakarta ini tipikalnya alon-alon (pelan-pelan), santai-- tapi tingkat bunuh dirinya kok justru paling tinggi. Jadi sebetulnya ada pressure yang kasat mata. Karakter yang mendem jero (memendam perasaan)  itu berpengaruh-- meski bukan satu-satunya faktor pencetus.

Tak setiap orang yang mendem jero itu sakit jiwa. Ada juga, orang berhasil mengelola stresnya, entah curhat ke teman dan lainnya. ODGJ itu disebabkan, tidak memiliki akses support sosial yang bisa diajak bercerita. Semua persoalan ditanggung sendiri, diperparah oleh perubahan struktur kota seperti pembangunan hotel, mall dan lainnya.

Dua pendekatan yang berbeda terkait ODGJ, di kota akan lebih mudah memaparkan fakta-fakta dengan ilmu pengetahuan. Kalau di desa, pengaruh kejawennya sangat kuat-- itu agak susah, yang bisa dilakukan adalah mengedukasi masyarakat. Kita tidak bisa bergerak sendiri, harus mengajak pihak lainnya.

Di Yogyakarta, banyak psiko-edukasi terutama bagi penderita Szikofrenia. Bahkan yang dipasung dilepaskan. Keluarga diberi pemahaman soal penyakit tersebut. Sebenarnya penderita dapat berfungsi normal dengan rutin minum obat. Bukan pasien yang rusuh dan resah, yang tidak bisa ditolong lagi. Kita bantu memberi rujukan secara medis dan mengedukasi—agar bisa tenang dan berguna di  masyarakat. Pasien Skizofrenia rutin minum obat. Itu bisa membantu dia, tapi kalau tidak minum obat-- sampai kapan pun akan ngamuk-ngamuk.

Itu kontinum (rangkaian), mulai dari stres-- ketika dia tidak bisa mengelola stres karena faktor kepribadian atau sosial-lingkungannya itu akan memperparah stresnya. Stres ada yang ringan, sedang dan berat. Stres berat mengarah ke depresi. Depresi juga ada yang ringan, sedang dan berat. Tidak semua depresi mengarah ke psikotik atau gangguan kejiwaan berat. Dianggap psikotik ketika seseorang sudah mulai mengalami halusinasi dengar.

Berbicara dengan keluarga penderita Skizofrenia itu sangat berat. Keluarga beranggapan bahwa penderita Skizofrenia seperti anak kecil dan berbeda dengan dulu. Ketika menjalani perawatan, muncul masalah baru; komplain saat minum obat. Pasien Skizofrenia suka bilang, “Saya sudah sembuh kok” padahal belum sembuh. Mereka bisa sembuh dan dapat bekerja—cuma ada kendala-kendala yang terbatas. Mereka suka mengeluh, minum obat kayak mummy, affect nya jadi datar. Saya tahu itu lucu, tapi tidak bisa tertawa. Saya sedih.

Terkait stres dan depresi, masyarakat mulai paham. Kalau Skizofrenia masih tertutup banget. Itu bisa ditolong, separah apapun. Waktu saya dulu praktek di  RSMM Bogor, ada pasien di bangsal yang gaduh dan gelisah, ngamuk sampai nyakar. Lalu dikasih obat dan memasuki tahap konseling-- kita ajak ngomong meski awalnya tidak nyambung. Ketika emosinya mereda dan lebih tenang akan dipindahkan ke bangsal lain.

Tanda orang stres itu kehilangan minat. Kalau belum pada tingkat psikotik, pasien bisa ke psikolog. Tapi psikolog tidak memberikan obat, lalu merujuk ke psikiater. Itu kalau sudah ada halusinasi dengar. Tahap lainnya, baru penanganan medis, dan konseling. (Fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Seniman Grafis, Dosen, Pendiri Phalie Studio

Orang yang memiliki gangguan mental seperti Skizofrenia punya kecenderungan (kecerdasan) visual. Biasanya, mereka lebih sulit fokus. Uniknya, mereka bisa konsentrasi dengan warna, bentuk, gambar dan lainnya. 

Mereka bisa mengamati detail. Kesulitan khususnya bagaimana mengkomunikasikan secara visual. Rata-rata mereka cerdas. Tapi bagus atau tidaknya gambar yang dihasilkan itu sangat relatif, tergantung emosinya. Mereka juga paham soal obyek karena motoriknya bagus.

Yang punya masalah justru gurunya. Guru yang harus belajar dan mencari tahu bagaimana berkomunikasi, interpretasi dan membuat persepsi. Maksudnya murid yang berkebutuhan khusus itu inginnya begini, gurunya gak paham.

Nah, sayangnya pendidikan disini tidak mengakomodir mereka. Skizofrenia ini kan memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Konsentrasi mereka pada visual bagus, menggambar/melukis bisa menjadi terapi psikologi buat mereka.

Skizofrenia ini kan tidak mengenali dirinya, energi yang dikeluarkan ekstra  untuk menggambar, motoriknya juga berlebihan. Logika mereka jalan ketika mengerjakan karya visual. Tapi gurunya yang harus membangkitkan semangatnya, sering kali mereka bosan dan mandek menggambar.

Ada realitas yang berbeda dialaminya. Guru harus paham alat komunikasi yang digunakan untuk mengenal obyek dan mengarahkan mereka untuk melampiaskan emosinya melalui karya seni. 

Ada teori Gestalt psychology atau gestaltism (bahasa Jerman: Gestalt [???talt] "shape" (bentuk), "form" (bentuk) berasal dari Sekolah Berlin tentang psikologi eksperimental. Teori bentuk dalam melihat persepsi visual, dapat digunakan untuk mengajarkan mereka yang mengalami gangguan mental. Biasanya teori ini diajarkan di sekolah-sekolah desain, sayangnya di seni rupa tidak diajarkan. 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dokter Psikiater

Diperkirakan gangguan depresi akan jadi masalah nomor dua di seluruh dunia pada tahun 2020 (WHO), sehingga perlu adanya pencegahan sejak dini atau mulai sekarang. Perubahan ekonomi, perkembangan zaman, dan persaingan yang sangat ketat bisa jadi salah satu penyebabnya.

Kalau dilihat, ada beberapa daerah yang lebih banyak orang dengan gangguan jiwa, dipengaruhi faktor:

1. Biologi - genetik, gizi buruk saat di dalam kandungan dan masa perkembangan, infeksi atau sakit berat saat lahir.

2. Psikologis - kemampuan mengatasi masalah, ciri kepribadian, persepsi terhadap stres yang dialami.

3. Sosial - dukungan komunitas, keluarga, pemerintah, penyediaan layanan kesehatan.

Berbagai stresor yang menjadi penyebab gangguan jiwa, bisa dari kondisi dalam kehidupan sehari-hari seperti masalah keuangan, kehilangan sesuatu atau seseorang yang bermakna, konflik hubungan, masalah kesehatan, beban kerja, dan sebagainya.

Usaha yang dilakukan pemerintah sudah cukup baik, seperti mendirikan taman bermain dan ruang hijau untuk masyarakat bisa bersantai, jam kerja dan job desc yang jelas, gaji yang sesuai dengan kebutuhannya, pendidikan yang diperlukan sebagai bekal dalam menghadapi tantangan hidup, kegiatan kerohanian, bekerja sama dengan profesional, dan memberikan pelatihan manajemen stres di sekolah dan tempat kerja, menjaga keamanan agar masyarakat bisa merasa nyaman bersosialisasi dengan yang lain. (fai)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wartawan web asing, warga Yogyakarta

Rasanya tidak butuh satu dekade bagi Jogja untuk memoles diri. Setidaknya begitu yang saya rasakan setelah hampir 8 tahun meninggalkan kota ini.

Naif rasanya kalau saya menyalahkan modernisasi yang terjadi. Karena di satu sisi,  maraknya pembangunan mampu membuka lapangan pekerjaan baru bagi para anak muda di kota ini.

Namun di luar itu,  sulit membohongi rasa kehilangan ketika tempat-tempat yang biasa jadi kenangan tiba-tiba berubah menjadi hotel megah atau ruko baru yang--masih kosong--menunggu untuk ditempati.Transportasi umum pun kian minim. Jalanan semakin padat dengan kendaraan pribadi. Cukup bikin stres meski belum sekeras Jakarta. 

Tentu saja kita bisa dengan mudah membawa pulang kendaraan baru dengan uang muka yang ringan, tanpa sadar dibekali  'oleh-oleh' cicilan yang akan membebani anda hingga 2-3 tahun lamanya. Sebuah jalan yang tak mudah,  namun cukup masuk akal jika Anda termasuk orang dengan mobilitas yang tinggi di kota ini. 

Kendati begitu, di kalangan pekerja muda banyak yang mulai gelisah tak bisa membeli rumah lantaran harga tanah yang melonjak cukup jauh. Sementara UMP masih berkisar di angka Rp1,7 juta. 

Harga kos atau kontrakan juga belakangan sudah mulai ikut naik. Begitu juga dengan makanannya. Para perantau yang sedang bekerja di Jogja harus pintar-pintar mengelola uangnya supaya bisa tetap memiliki tabungan untuk masa depan.

Tabrakan gaya hidup dari luar dan dalam membuat tekanan hidup di Jogja jadi lumayan tinggi. Kesulitan seperti ini mungkin jarang terlihat dengan sekilas pandang. Namun cukup pelik jika ditinjau lebih dalam. Terbukti dengan kasus gangguan jiwa yang terhitung cukup tinggi di kota ini.

Untuk urusan identitas, Jogja akan tetap hidup lewat orang-orang serta budayanya.  Ketika saya melihat ada karya besar para seniman yang gagah bersanding di tengah megahnya metropolitan, di situlah harapan saya akan kota ini kembali berpijar. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF