73 Tahun Merdeka, Nasib Pendidikan Moral Anak-anak Terbengkalai?
berita
Humaniora
Sumber Foto : murianews.com (gie/watyutink.com) 16 August 2018 16:30
Sekolah tempat bagi anak-anak mendapatkan pendidikan formal. Anak-anak didorong meningkatkan kecerdasan, prestasi, dan keterampilan. Namun sayangnya, pendidikan moral dan pembentukan karakter nyaris luput diajarkan. Ada pribahasa Latin berbunyi “Non scholae sed vitae discimus” yang artinya belajar bukan demi nilai sekolah, namun demi nilai kehidupan. Tapi pada kenyataannya, anak-anak justru diarahkan mengejar nilai pelajaran, bukan nilai moral. Kecerdasan intelektual atau IQ masih dianggap lebih penting dibanding kecerdasan ESQ.

Sudah 73 tahun Indonesia merdeka, namun rasanya mutu pendidikan di Indonesia semakin menurun. Hampir setiap tahun pemerintah berkoar meningkatkan mutu pendidikan, tapi pada kenyataannya tidak ada perubahan signifikan hingga hari ini. Mirisnya, moral anak-anak zaman sekarang justru semakin buruk saja. Lalu, apa pemerintah telah gagal meningkatkan mutu pendidikan?

Belum lama ini, masyarakat dihebohkan dengan pemberitaan seorang bocah SD yang menjadi pengedar narkoba, di Makassar. Anak itu diduga membantu kedua orangtuanya yang berada dalam tahanan untuk mengedarkan narkoba. Kedua orangtuanya pun ditahan karena kasus yang sama. Kemudian, saat pihak kepolisian akan melakukan penangkapan, anak itu malah menghilang dan bersembunyi. Bak pengedar profesional dia berhasil menghindar dari kepolisian. Pertanyaannya, siapa yang salah dalam hal ini?

Beberapa waktu lalu warga Jakarta juga dihebohkan pembunuhan yang pelakunya adalah anak-anak SMP, sementara korbannya adalah murid SD. Peristiwa yang terjadi di Ciracas itu berawal dari cekcok di media sosial dan berlanjut di kehidupan nyata. Karena kesal, pelaku yang juga merupakan anak di bawah umur, dengan nekat langsung melakukan pembacokan terhadap korban yang merupakan bocah SD tersebut. Korban yang dibacok berkali-kali menggunakan celurit, langsung tewas di tempat, sementara jenazahnya hanya diletakkan di depan sebuah warung. Melihat hal itu, bagaimana bisa anak-anak yang terdidik cukup baik, menjadi seorang psikopat yang tidak punya jiwa kemanusiaan dan belas kasihan? Bukankah seharusnya sekolah menanamkan jiwa kemanusiaan kepada setiap anak didiknya?

Pernah juga kita mendengar adanya kasus, sepasang kekasih yang merupakan anak SMP melakukan tindak asusila di sekolah. Bahkan video tersebut beredar di kalangan masyarakat, memperlihatkan keduanya yang sedang melakukan hubungan intim di kelas. Sangat ironis memang, mengapa hal tersebut justru dapat terjadi di sebuah institusi pendidikan? Apakah ini sebuah bentuk kelalaian dari para pendidik?

Dan yang paling sering terjadi di sekolah-sekolah adalah kasus bullying, yang bahkan tak sedikit berujung pada kematian. Hasil survei Kementrian Sosial menunjukkan sebanyak 84 persen anak usia 12-17 tahun di Indonesia, pernah menjadi korban bullying. Bahkan sejumlah video yang menggambarkan kekerasan tersebut menjadi viral. Bagaimana bisa hal ini luput dari pengawasan para pendidik?

Melihat berbagai realita yang ada, dapat dikatakan pola pendidikan di Indonesia masih terbilang buruk. Generasi muda saat ini justru banyak yang terlibat dalam perbuatan-perbuatan amoral. Yang lebih menyedihkan, mereka semua melakukannya tanpa rasa bersalah. Sebenarnya apa yang membuat mereka dapat bertindak seperti itu? Dan, apa yang harus dilakukan pemerintah atau para pendidik untuk menangani masalah itu?

Patut kita renungkan, setelah 73 tahun merdeka, kenapa mutu pendidikan budi  moral dan norma kita kian menurun?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengajar dan Aktivis Pendidikan

Kenakalan remaja atau tindakan kriminal yang dilakukan anak-anak di bawah umur, memang sekarang ini dapat terlihat jelas, berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Kenakalan remaja yang menjadi tindak kriminal pada dasarnya memang sudah ada sejak tahun 70-an, namun pada saat itu belum terekspos dan menjadi bahan perbicangan publik seperti sekarang. Pertanyaannya, sejauh mana pendidikan formal dapat menanggulangi persoalan itu? Dan itu yang masih menjadi pertanyaan hingga kini.

Apabila kaitannya dengan narkoba, seharusnya sekolah memiliki program-program untuk menanggulangi hal itu, seperti penyuluhan misalnya. Tapi saya melihat, ada persoalan dari guru pada jaman dulu hingga guru pada jaman sekarang, yakni kurangnya pengetahuan mengenai narkoba. Sehingga agak sulit bagi mereka untuk memecahkan masalah narkoba yang menjerat anak-anak sekolah. Meskipun sebenarnya BNN sudah mencoba masuk ke beberapa sekolah untuk membantu guru mengetahui bagaimana ciri-ciri anak-anak yang mengkonsumsi narkotika dan sebagainya.

Namun tentu saja tidak semua lembaga bisa masuk ke sekolah-sekolah, jadi, guru-guru harus memiliki kesadaran bahwa kejahatan narkoba sudah masuk ke sekolah. Sehingga mereka harus menambah pengetahuan untuk mengetahui bagaimana menanggulanginya. Tapi sayangnya, hal itu kurang dilakukan oleh para guru.

Yang perlu diketahui adalah, mereka yang menjadi guru, biasanya dulu merupakan anak-anak yang baik dan hampir tidak pernah berurusan dengan tindakan yang menjurus pada kenakalan remaja. Sehingga mereka tidak tahu seperti apa kenakalan remaja itu, dan mereka pun tidak ingin mencari tahu. Padahal banyak kenakalan remaja berujung pada tindakan kriminal yang dilakukan di institusi pendidikan. Mengapa demikian? Karena para guru kurang tanggap dan kurang mengenal anak didiknya.

Para guru seharusnya dapat mengobservasi anak didik mereka. Tugas guru sebenarnya bukan mengontrol, tapi memahami anak-anak, dengan cara mengobrol dan mengenali mereka dengan baik. Tapi berapa banyak guru yang bisa membaur dengan anak-anak dan menjadi teman dekat mereka? Berapa banyak guru yang berbincang dengan murid saat jam istirahat? Faktanya, hal itu hampir tidak ada.

Banyak guru yang tidak peka dengan apa yang terjadi pada anak-anak didiknya. Jika ditanya, para guru akan beralasan bahwa mereka sudah terlalu disibukkan dengan urusan administrasi di sekolah dan sebagainya. Tetapi itu tidak dapat dimaafkan. Pada dasarnya memang tidak semua kesalahan ada pada guru, tetapi lebih kepada pendidikan guru. Hal ini justru yang tidak terlalu diperhatikan pemerintah. Pemerintah menganggap bahwa seolah-olah pendidikan guru itu tidak ada masalah. Oleh sebab itu, persoalan pendidikan hingga kini tidak terpecahkan. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.

Wajah sektor pendidikan di negeri kita di usia 73  Indonesia merdeka sungguh wajib memperoleh sorotan tajam seradikal-radikalnya. Mengingat "mencerdaskan kehidupan bangsa" merupakan salah satu tujuan nasional paling utama yang dipancang para bapak pendiri bangsa ketika mendirikan republik ini. Lewat upaya serius "mencerdaskan kehidupan bangsa" itu hendak menjadikan seluruh rakyat Indonesia sebagai SDM unggul, yang dapat diandalkan bagi bangsa ini menuju tahap kemajuan peradaban sejatinya sebagai bangsa yang gandrung pada kebenaran, kesejahteraan sosial dan kemakmuran sosial, kemajuan kebudayaan, persaudaraan dan solidaritas nasional dan internasional.

Namun jika dihadapkan dengan proses dan output sistem pendidikan yang berlangsung saat ini, maka sesungguhnya terdapat hal-hal mendasar yang harus dirombak dan digenjot untuk pembenahan mendasar sektor pendidikan. Hal itu dapat dilihat dari angka-angka literasi, maupun  survei-survei internasional dan nasional tentang kemampuan pelajar Indonesia di bidang sains, bahasa dan matematika yang ditunjukkan oleh PISA (program for Internasional Studinya Assesment), maupun INAP (Indonesia Nasional Assessment Program) yang masih amat rendah. Perombakan dan pendongkrakan itu berada di tataran kebijakan terkait falsafah pendidikan yang dijadikan acuan, metode pembelajaran yang diterapkan, serta segenap hal yang menjadi turunannya. Secara garis besar di antaranya adalah:

Pertama, sistem pendidikan kita harus kembali dipastikan konkret dan konsisten, bahwa di semua jenjang pendidikan dasar 12 tahun adalah hak setiap anak Indonesia yang akan dibentuk sebagai manusia pembelajar seumur hidup.  Sehingga jika ditemui anak Indonesia usia jenjang pendidikan dasar yang tidak bersekolah maka itu menjadi aib nasional dan aib daerah dari pemangku kebijakan yang sedang menjabat sebagai pemimpin publik.

Kedua,  sistem pendidikan yang dijalankan adalah yang berbasis pada pendidikan yang memanusiakan manusia.  Sehingga para peserta didik lewat seluruh materi pembelajaran yang direkatkan pada proses pemahaman yang utuh dan proses aktualisasi dalam memanusiakan manusia sehingga berujung menjadi karakter peserta didik. Serta proses pendidikan kita harus dijatuhi dari paparan konten dan praktik pendidikan yang mengeksploitasi kemanusiaan.

Ketiga, pendinginan dan pengoperasian  sebuah "road map" pentahapan progresif pendidikan nasional  ke arah pendidikan gratis dan sangat bermutu bagi seluruh anak Indonesia usia pendidikan dasar dari seluruh kelas sosial di wilayah Indonesia.

Keempat, dibangun dan dikembangkan penerapan pendidikan yang menyenangkan,  sehingga sekolah, meminjam istilah Ki Hajar Dewantara, nyata-nyata menjadi "taman bunga" yang menyenangkan.  Bukan malah menjadi "gudang gelap menjemukan". Dan pendidikan  yang menyenangkan itu hanya terlaksana lewat metode pembelajaran yang menggembirakan, yang mampu merangsang terbukanya sistem memori di otak anak ketika berada dalam proses pembelajaran, sebagaimana hal itupun diberlakukan pada pendidikan di Finlandia yang terkenal berkualitas itu.

Kelima, menerapkan paradigma dan pendekatan multiple intelligence (kecerdasan majemuk) dalam sistem pendidikan dasar kita, dan menanggalkan paradigma yang hanya berfokus pada IQ semata yang hanya akan melahirkan manusia-manusia  "pintar keblinger" dan memuakkan di tengah sistem sosial-kemasyarakatan kita.

Keenam, mendorong, melatih, dan membiasakan para guru untuk membuat rencana pembelajaran (lesson plan) berkualitas. Sehingga setiap guru selain mendidik dengan metode yang tepat,  juga ditunjang rencana pembelajaran yang mampu menambah bobot pencapaian tujuan pembelajaran para peserta didik.

Ketujuh,  yang juga teramat penting adalah proses membangun sinergi konstruksi antara proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah oleh guru  dengan proses pembelajaran yang berlangsung di keluarga oleh orangtua. Hal ini penting agar jangan sampai proses pendidikan yang berlangsung baik di sekolah ternyata "ditorpedo" oleh proses pendidikan yang buruk di dalam keluarga, atau sebaliknya. Di sinilah peran penting Direktorat Pendidikan Keluarga Kemendikbud untuk menangani berbagai persoalan pendidikan. Salam Anak Nusantara. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Dunia pendidikan kita, hingga tanggal 17 Agustus 2018 ini, pada  hari kemerdekaan yang ke 73, masih saja menjadi sorotan tajam di dalam masyarakat kita. Dunia pendidikan  bahkan dirasakan semakin karut marut, bagai mengurai benang kusut. Tidak pernah ada masalah yang usai dan selesai dilerai dengan tuntas dan lepas.

Begitu banyak  persoalan pendidikan muncul, kecil maupun besar. Tidak cukup halaman untuk ditulis. Juga tidak gampang menelusuri semuanya seperti membalik telapak tangan, karena persoalan pendidikan memang sangat dinamis dan terus menerus bermasalah. Belum sesesai satu, berlanjut dengan yang lainnya. Darmaningtyas pun mennggambarkanya dengan  buku “ Pendidikan Rusak-Rusakan”, sebagai bentuk kritik dan keprihatinan terhadap dunia pendidikan kita.  Berbagai kritik dan protes juga tidak pernah reda. Apalagi  dalam  perjalanan pembangunan dunia pendidikan dan pembelajaran di lembaga pendidikan kita terus mengalami distorsi dan disorientasi, tidak bisa berjalan mulus, yang membuat dunia pendidikan sering tergelincir atau mengalami turbulence di tengah jalan. 

Bila mengacu pada tujuan Pendidikan Nasional yang bertujuan  mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Maka, kecerdasan tidak hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga manusia Indonesia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak dan berbudi luhur. Namun apa yang terjadi? Perjalanan pencerdasan anak bangsa tidak berjalan seimbang. Dunia pendidikan kita sedang berjalan terombang–ambing, bahkan banyak yang salah arah akibat deras dan kuatnya arus distorsi oleh berbagai pihak, termasuk arus politik pendidikan.

Ada banyak yang tidak seimbang dan hilang dalam praktek pendidikan kita di lembaga-lembaga pendidikan selama ini. Lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat untuk menempa sikap dan etika serta moralitas yang baik, namun semua nilai etika dan moralitas tersebut pupus dari waktu ke waktu. Sekolah-sekolah bisa jadi berhasil membuat peserta didik berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa dan terampil menjadi bisa dan terampil. Sayangnya masih gagal mengubah ranah afektif, perilaku, akhlak peserta didik yang tidak baik menjadi lebih baik, lebih berakhlak mulia. Domain akhlak mulia terabaikan. Idealnya ketiga domain ini sinergis. 

Namun distorsi dan disorientasi terus terjadi dalam konteks pembelajaran yang  mengejar angka yang banyak diperoleh dengan cara manipulatif. Bagaimana bisa berharap dapat membangun manusia Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, yang menjunjung tinggi nilai - nilai moralitas dan mentalitas bermartabat, bila  nilai-nilai kejujuran semakin pupus, terkikis oleh berbagai kepentingan dan tindakan distorsi, serta destruktif yang dilakukan oleh masyarakat dan Lembaga pendidikan?

Apalagi sinergi masing-masing stakeholders pendidikan juga hilang. Konsep tri pusat pendidikan yang diajarkan Ki hajar Dewantara pun tercerabut dan terputus.  Maka, dalam momentum HUT RI ke 73 ini, pemerintah harus meluruskan kembali kiblat Pendidikan, kembali kepada amanah konstitusi dan berbasis kepentingan bangsa yang dibangun dengan ikhlas dan jujur. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang