73 Tahun Merdeka, Apa Kita Telah Bahagia?
berita
Humaniora

Sumber Foto : masterfile.com (gie/watyutink.com)

17 August 2018 16:00

Pada Agustus 2017, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data, Indeks Kebahagiaan masyarakat Indonesia mencapai angka 70,69. Tingkat kebahagiaan ini diukur pada skala 0-100. Angka ini menunjukkan umumnya masyarakat Indonesia cukup bahagia. Tapi, benarkah Anda telah merasa bahagia jadi warga negara dan tinggal di Indonesia? 

Pertanyaan itu layak ditanyakan sehubungan dengan usia Republik yang kini menginjak 73 tahun. Sebab, dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan keberadaan Pemerintah Negara Indonesia bertujuan "melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia." Sudahkah cita-cita luhur pendiri bangsa ini terwujud?

Kembali ke data Indeks Kebahagiaan 2017, tingkat bahagia masyarakat Indonesia tercatat mengalami peningkatan dibanding tahun 2014 yang hanya mencapai 68,28. Dalam menghitung Indeks Kebahagiaan, terdapat 3 dimensi yang diukur: Kepuasan Hidup (Life Satisfaction, nilai skor: 34,80 persen), Perasaan (Affect, 31,18 persen), dan Makna Hidup (Eudaimonia, 34, 02 persen). 

Untuk data 2017, dimensi dengan skor indeks paling tinggi adalah dimensi makna hidup yang mencapai 72,23. Kemudian disusul dimensi kepuasan hidup 71,07. Terdiri dari subdimensi sosial 76,16 dan subdimensi personal dengan pencapaian indeks 65,98. Sementara dimensi perasaan hanya mencapai angka 68,59. Dalam survei yang sama, BPS juga menyebut masyarakat Maluku Utara paling bahagia (75,68) sedang paling buncit masyarakat Papua (67,52).  

Meski secara umum telah merasa bahagia, nyatanya tingkat kebahagiaan orang Indonesia berada di urutan ke-4 di kawasan Asia Tenggara. Menurut survei World Happiness Report 2016 yang dirilis PBB, kita berada di bawah Singapura, Thailand, dan Malaysia. Di survei itu juga disebutkan negeri-negeri Skandinavia berada di urutan 10 besar. Masing-masing negara paling bahagia penduduknya adalah: Denmark, Swiss, Islandia, Norwegia, Finlandia, Kanada, Belanda, Selandia Baru, Australia, dan Swedia.Kita berada di urutan ke-79 dengan skor 5,3 dari skala 10. Singapura berada di posisi 22 dengan skor 6,7.       

Indeks ini mengukur kebahagiaan dengan mempertimbangkan faktor pendapatan per kapita, dukungan sosial, dan kesehatan. Selain itu PBB juga menilai kadar kebahagiaan dari aspek kebebasan sosial, kedermawanan, serta level korupsi. Maka, wajar saja negeri Skandinavia dan Singapura yang korupsinya nyaris nol masyarakatnya lebih bahagia. Sebab, setiap kebutuhan hidupnya juga telah disediakan negara mulai dari pendidikan hingga kesehatan. Birokrasi mereka pun berorientasi melayani alih-alih bikin tambah repot. Sudah 73 tahun merdeka, kapan kita bisa seperti itu? 

Yang menarik sebetulnya, meski berada di urutan 79 dalam skala global, masyarakat Indonesia sudah merasa cukup bahagia menurut versi BPS. Artinya, masyarakat kita menerima saja korupsi marak, harga kebutuhan pokok naik terus, dan kesenjangan si miskin dan si kaya kian lebar. Apa ini menunjukkan sikap masyarakat kita yang nrimo?          

Bila disimak dari sejarah, perbaikan negeri-negeri Skandinavia dan Eropa lainnya berlangsung berbarengan dengan Indonesia, yakni selepas Perang Dunia II. Catatan pula, Singapura malah memulai lebih larut lagi, pada 1965, hampir sama dengan kita mengganti Orde Lama dengan Orde Baru. Tapi kenapa mereka demikian maju dan kita seakan jalan di tempat? Kenapa mereka lebih bahagia dari kita?    

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Sastrawan, budayawan.

Masyarakat Indonesia sudah merasa bahagia menurut saya. Ada banyak indikasinya. Orang Indonesia tidak punya tuntutan yang berlebih. Kita mengenal konsep berkecukupan. Cukup itu berarti tidak kaya, tidak menumpuk harta sebanyak-banyaknya, tidak melakukan kapitalisasi. Misalnya, ada seorang pedagang di sebuah pasar. Dia berjualan sampai jam sepuluh saja. Begitu terus sampai bertahun-tahun, diturunkan ke anak cucunya, tidak besar atau buka cabang. Padahal banyak yang menawarkan, tapi si empunya sudah merasa cukup.

Yang begitu bukan satu orang saja. Hampir semua begitu. Karena sudah merasa berkecukupan. Kalau sudah cukup, maka sudah bahagia. Masalahnya, konsep kebahagiaan menurut Barat yang dianut saat ini adalah mengumpulkan aset sebanyak-banyaknya. Kalau itu yang jadi ukurannya, maka nggak akan cocok dengan kita.

Kita tak seperti itu. Ekonomi kita itu "Ekonomi Cukup". Dari dulu orang Indonesia menerapkan itu: punya rumah, bisa menyekolahkan anak, bisa naik haji. Itu saja sudah cukup. Nah, yang kita anut ini berbeda dengan Eropa kontinental. Mereka punya sifat tak puas, maka mereka perlu melakukan akumulasi modal, melakukan kapitalisasi, menumpuk harta sebanyak-banyaknya.

Kita tidak punya (filosofi) Protestan Etik sebagaimana awal mula kapitalisme di Barat. Protestan Etik bermula di Eropa, dan Amerika juga dibangun oleh etos itu. Di sana, orang kalau punya uang tak dihabiskan, tapi ditabung (investasi), dikumpul, sampai akhirnya menumpuk. Setelah modal terkumpul akhirnya melakukan kapitalisasi. Jadinya akan lahir orang-orang yang (harta) sangat berlebih dibanding orang lain. Ujungnya mereka melakukan eksploitasi pada yang lemah.

Kita tak mengenal hal seperti itu. Dalam kehidupan komunal kita, tidak pernah ada yang mati karena kelaparan. Karena pasti ditolong. Semelaratnya orang, pasti ada yang bantu. Walau tidak punya kerjaan atau penghasilan tak  ada yang mati. Semua pasti dibantu.

Etos kehidupan sosial kita, basisnya adalah komunalisme. Pola hidupnya komunitarian. Prinsipnya berbagi. Misalnya konsep lumbung padi. Hampir di semua kebudayaan dari Sabang sampai Merauke pasti masyarakat tradisionalnya punya lumbung padi, meskipun namanya berbeda-beda. Saat panen, padi tak dihabiskan semua. Tapi dikumpulkan, disimpan. Dan itu bukan untuk pribadi. Tapi digunakan bersama bila ada musibah, karena panceklik hingga stok pangan terancam.

Oleh karena itu, pikir saya, nggak ada indeks kebahagiaan seperti yang dibikin oleh Eropa itu di sini. Kebahagiaan kita dalam ukuran sangat sederhana. Pada masyarakat kita tak ada Protestan Etik yang menggumpal jadi etos kapitalisme modern. Persoalannya, kita ditarik dan dipaksa untuk seperti mereka (orang Barat). Ya, nggak bisa.

Ketika negara atau pemerintah nggak hadir mengurus rakyatnya, saya yakin kita tetap bahagia. Yang membuat kebahagiaan terdistorsi justru pemerintah. Negara dengan segala perangkatnya menggoda rakyat (untuk mengumpulkan kapital). Karena basis ekonomi negara kita neo-kapitalisme.  Kita disuruh mengumpulkan modal dan mengkapitalisasinya, sehingga dengan tak sengaja kita jadi manusia kapitalis. Padahal dalam akar kultural masyarakat kita itu tak ada. Menabung pun untuk bersama-sama. Kita sangat komunal, individualisme tak ada tempat di Nusantara. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

73 Tahun Merdeka, Apa kita telah bahagia? Pertanyaan yang sebenarnya personal, karena bahagia itu dirasakan secara personal. Walaupun ada kebahagiaan bersama, namun secara kualitas perasaan bahagia setiap orang akan berbeda dan tidak bisa disamaratakan. Persoalannya, bahagia itu juga merupakan hal yang relatif. Masing-masing orang akan merasakan bahagia sesuai dengan tingkat kepuasannya dan dipengaruhi banyak faktor. Biasanya, kepuasaan pribadi, karena memiliki atau memperoleh sesuatu yang sesuai dengan harapan. Namun demikian, pada orang-orang tertentu, kendatipun sudah mendapatkan banyak hal, belum mencapai  bahagia itu. Mengapa demikian? Kita tidak pandai bersyukur. Padsahal, Kita akan bahagia, apabila kita pandai bersyukur. Lalu, apakah kita bisa merasa bersyukur  dan bahagia kala Indonesia ini sudah berusia 73 tahun? 

Selayaknya, kita merasa bahagia dan mensyukuri kemerdekaan yang sudah kita nikmati dari hasil perjuangan yang penuh darah dan korban jiwa itu. Apalagi, kemerdekaan yang kita nikmati saat ini sudah hampir seabad. Artinya bukan kemerdekaan sesaat, lalu hilang direbut kembali oleh penjajah. Kita benar-benar sudah menikmati kemerdekaan yang hakiki, bebas dari penjajahan yang mencapai 350 tahun di bawah okupasi Belanda dan 3,5 tahun dalam jajahan Jepang.  Kini, sudah 73 tahun kita menikmati nikmat merdeka, sepantasnya kita merasa bahagia.

Nah, ketika bahagia itu bersifat personal dan relatif,  lalu kita  nikmat kemerdekaan yang tahun ini kita rayakan sebagai Perayaan  HUT  RI ke 73, tentu bahagia  yang kita rasakan juga relatif dan personal.  Menjadi kebahagiaan bersama, ketika kemerdekaan yang kita nikmati adalah kemerdekaan bersama, bangsa dan Negara Indonesia dari Sabang hingga ke Mereuke dan dinikmati oleh lebih kurang 265 juta jiwa yang tersebar di 17.504 pulau dan lebih dari 300 etnik atau 1.340 suku bangsa menurut BPS 2010 itu. Sepatutnya bertanya, apakah telah merasa bahagia?

Merujuk pada indeks  kebahagiaan Negara-negara di dunia yang dirilis PBB tahun 2018 ini, Indonesia mengalami penurunan hingga 15 tingkat dari posisi sebelumnya pada posisi 81 dari 155 negara yang tahun ini berada pada posisi 96. Artinya, hingga pada perayaan HUT RI ke 73 ini, masyarakat kita Indonesia masih belum bahagia, apalagi kalau dibandingkan dengan peringkat kebahagiaan Finlandia yang di peringkat pertama sebagai Negara yang paling bahagia di dunia. Jelas, kita belum bisa menyamakan rasa bahagia bangsa kita dengan Negara-negara yang sudah makmur itu. Ya, bagaimana bahagia, kalau jumlah masyarakat miskin di Indonesia hingga Maret 2018 masih 25,95 juta orang?

Idealnya semua anak bangsa ini merasa bahagia, terutama dengan nikmat kemerdekaan yang sudah dinikmati selama 73 tahun tersebut. Namun mengacu pada data BPS yang dirilis tahun ini  bahwa survey indeks kebahagiaan masyarakat Indonesia tahun ini sebesar 70.69 pada skala 0-100 dimana angka ini diukur berdasarkan hasil survey Pengukuran Tingkat kebahagiaan (SPTK).  Kalau begitu, apakah kita sudah bahagia? Kita pasti tidak berani menjawab dengan jujur. Akan tetapi kalau melihat fenomena di berbagai sector kehidupan kita, akan terasa bahwa kita masih belum puas dengan apa yang sudah dicapai dan apa yang sedang berlansung di negeri ini. Oleh sebab itu, agar kita tidak merasa kecewa dan bisa bahagia, bersyukurlah dengan kemerdekaan yang sudah kita proklamirkan dan nikmati selama 73 tahu ini. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Kegalauan Anies, Lahirkan Kebijakan Itu             Bukan Sekadar Buat Aturan, Tapi Bangkitkan Rasa Kepedulian              Tidak Ada Alasan Mengabaikan Putusan MK             Keputusan KPU Mengembalikan DPD Khittahnya             Awasi Distribus Beras dengan Benar!             Koordinasi dan Komunikasi Menko Perekonomian Buruk              Bersaing dulu di ASEAN             Harus Ada Transformasi Struktural Industri              Tingkatkan Daya Saing Produk Kita             Perlindungan Anak Harus Libatkan Pengurus RT dan RW