72 Tahun Merdeka, Kebaya "Menghilang"
berita
Humaniora
17 August 2017 20:00
Penulis
Kapan terakhir kali melihat wanita berkebaya? Pertanyaan ini mungkin sangat sederhana, namun akan memutar ingatan kita sejenak. Ada apa dengan kebaya?

Kebaya berasal dari kata "Kebyak" atau "Mbayak" dari bahasa Jawa. Konon, Majapahit adalah kerajaan Nusantara yang pertama menggunakan kebaya untuk isteri dan para selir raja. Kebaya dipakai dengan kemben, stagen yang dipadukan dengan kain jarik.

Kartini, sosok pejuang perempuan digambarkan memakai kebaya. Demikian pula dengan Dewi Sartika. Cut Nyak Dien, juga Christina Martha Tiahahu, juga menggunakan sejenis kebaya khas daerah masing-masing. Lho kok sekarang, mengapa sudah jarang sekali wanita terlihat pakai kebaya dan sejenisnya?

Padahal dulu, kebaya  memainkan peran politik yang cukup penting. Kebaya berpasangan dengan sarung, dinyatakan sebagai busana nasional Indonesia. Ada pula kritik bahwa kebaya hanya digunakan secara luas di Jawa dan Bali. Sejenis kebaya sebenarnya juga ditemukan di Sumatera, Sulawesi, dan NTT dengan corak sesuai daerah tersebut. Apakah meredupnya pemakaian kebaya di kalangan wanita Indonesia ada hubungannya dengan pemahaman dan konsepsi yang keliru tentang modernisasi?

Kiblat fashion Indonesia beberapa tahun belakangan ini setidaknya pada dua kutub, Barat dan Timur Tengah. Pakaian Timur Tengah hadir lewat jendela agama. Yang kebarat-baratan, generasi milenial tak segan berpakaian sangat minim. Mengapa kebaya tak menarik bagi kaum milenial? Lihat saja Jakarta Fashion Week, lebih banyak menjejalkan pakaian ala Barat dan Timur Tengah ketimbang berbusana ala kebaya khas Indonesia.

Dalam acara pernikahan,  wisuda, dan acara resmi lainnya, mungkin masih terlihat perempuan berkebaya. Fenomena apa ini? Apakah ini tanda bahwa kebaya demikian diformalkan tapi sekaligus dimarjinalkan? Atau justru di zaman serba praktis ini kebaya dianggap sebagai simbol keribetan? Apa iya?

Buktinya ada beberapa komunitas profesi yang mayoritas perempuan selalu berkebaya di setiap aktivitasnya. Termasuk di salah satu komunitas jurnalis perempuan. Mereka punya slogan “Berkebaya kemana saja dan kapan saja.” Keteguhan mereka melestarikan tradisi kebaya sekaligus menepis anggapan bahwa berkebaya mengganggu ruang gerak.

Budaya menunjukkan bangsa. Pakaian tak kalah penting dalam membangun karakter budaya. Mengapa setelah 72 tahun Indonesia merdeka, kebaya justru menghilang? Old fashion, tidak praktis, tidak modern? Atau, gagal faham tentang apa itu definisi manusia modern?
Bisakah juga jadi indikasi menurunnya kadar nasionalisme?

Bagaimana menurut Anda? Watyutink?

(yed)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Perancang Busana

Saat ini kurang tersedia kebaya yang bisa dipakai sehari-hari. Baik variasi desain maupun inovasi bahan yang dinilai nyaman untuk anak muda sekarang. Selain itu banyak sekali generasi muda yang tidak mengenal kebaya. Banyak yang salah mengenali kebaya, yaitu semua blus atau baju malam yang terbuat dari lace/brokat dikira kebaya.

Bisa jadi pula kebaya dianggap pakaian orangtua, jadi mesti ada sedikit program “pemaksaan” memakai kebaya atau busana tradisional Indonesia lain sekali seminggu, agar generasi muda diajak belajar mengenal dan merasakan memakainya. Kalau kenal dan jatuh cinta, tentu akan ada pemikiran-pemikiran baru untuk berinovasi dari generasi muda agar lebih nyaman dikenakan sehari-hari. 

Kebaya sendiri merupakan hasil pengaruh budaya luar Indonesia. Tapi bagaimana agar kebaya atau busana tradisional lain bisa dikolaborasikan dengan hal-hal baru saat ini, itu yang perlu dilakukan. Pakai hijab atau rok mini sering dipadukan juga dengan kebaya. 

Sejak 2006 saya sudah membuat inovasi kebaya yang ringan dan dipadukan dengan rok mini, tutu, celana panjang dan lain-lain, membuat saya yang pendatang baru di dunia fashion jadi dikenal.  Apabila produk itu banjir di pasaran dan ada ketentuan memakainya  minimal satu kali seminggu, saya yakin bisa jadi populer kembali. 

Memang ada persepsi kebaya itu formal dan ribet. Makanya perlu dibuat keharusan memakai kebaya. Perlu juga diperbanyak lagi acara fashion yang mengangkat kebaya dari yang kasual sampai dengan formal. Saya dkk membuat acara seperti ini di Banyuwangi yaitu Kebaya Festival, yang selain fashion show juga ada edukasi tentang kebaya.

Dulu, perempuan berkebaya dicitrakan anggun, kalem, lemah lembut, dan keibuan. Mungkin karakter masyarakat saat ini sudah tidak sejalan dengan itu. Karenanya, kebaya harus memiliki citra tambahan, yaitu bisa untuk wanita sporty, lincah, cekatan yang lebih bisa masuk ke era masa kini, di mana wanita sudah sangat bebas mengejar cita-citanya. 

Oleh karena itu, menurut saya, berkebaya atau tak berkebaya tak ada hubungannya dengan nasionalisme.  Nasionalisme ada di dalam dada setiap orang, dan bisa ditunjukkan dalam banyak ekspresi. Pakaian hanya salah satunya. (ade)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Aktor Senior Indonesia

“Mana bajuku?! Mana Kebayaku?!"

Itulah kalimat Eyang putri saya ketika tiba tiba beliau terbangun dari kondisi tidak sadar di ruang ICU rumah sakit mewah di kawasan Jakarta Selatan. Walaupun perawat telah menutup tubuhnya  dengan seragam pasien, Eyang Putri masih merasa dirinya tidak berbusana. Dengan menggunakan kebaya kesayangannya itulah Beliau menghadap kembali ke penciptanya.

Ternyata kebaya bukan sekadar baju bagi Beliau. Kebaya adalah hidupnya. Hidupnya terasa tak lengkap tanpa kebaya.

Berdasarkan pengalaman saya dengan Eyang Putri, maka kebaya tidak dimaknai hanya sebagai baju. Baju bisa berganti dari yang kotor menjadi bersih, atau yang bermotif bunga berganti jadi polos tanpa corak apapun. Kotor dan bersih, yang bermotif maupun polos, bukan ukuran. Yang penting modelnya harus kebaya.

Jika saya berandai memberikan "Baju Bodo” adat Sulawesi Selatan pada Eyang saya, kira kira apa yang terjadi? Beliau pasti berterimakasih karena bahannya terbuat dari sutra dan warnanya cemerlang.Tetapi saya yakin Beliau tidak mungkin memakainya. Diperlukan waktu untuk menjadikan baju bodo sebagai "miliknya". Memerlukan apresiasi tertentu untuk menjadi sandangan diri dari sebuah pribadi yang dibesarkan dengan adat istiadat yang berbeda.

Jika hari ini kaum wanita kita tidak lagi menggunakan kebaya dalam keseharian, maka dipastikan pribadi itu dibentuk oleh informasi budaya lain yang memiliki pola pikir berbeda. Jadi jangan dipaksakan untuk memakai kebaya. Kemajuan teknologi informasi membuat siapapun dengan mudah menjaring informasi dari berbagai adat dan budaya. Kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini berjalan tanpa kejelasan cultural policy. Negara pengendali informasi dunia dengan mudah mengubah pola pikir bangsa lain dengan diarahkan hanya pada satu warna budaya.

Jika dampak open sky policy pemerintah RI di dalam kebijakan global dunia yang menawarkan persaingan bebas telah dirasakan sebagai tragedi kebudayaan, karena gaya hidup dan pola pikir orang Indonesia telah terlalu jauh meninggalkan bayangan budayanya, maka tidak heranlah jika pemerintah menggalakan kembali semboyan “AKU PANCASILA" dan "AKU INDONESIA!” Kita telah kehilangan kebaya, baju bodo, teluk belanga dan lain-lain yang memberi ciri sebagai bangsa dan negara yang memiliki kekayaan budaya.

Melalui pembicaraan tentang kebaya, ternyata kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dalam rangka merayakan hari kemerdekaaan, maka pengertian kemerdekaan harus dimaknai dengan: Memerdekakan kita untuk menjadi diri sendiri. Menjadi kembali menjadi bangsa Indonesia sangat penting karena saat ini kita telah kehilangan jati diri.

Mungkinkah kebaya hidup kembali dalam masyarakat yang telah menjadi "orang lain" yang tak lagi mengenal warna budayanya? Kebaya hari ini tak lebih hanya menjadi baju karnaval.

Mari Berkebaya! Mari menjadi Jawa yang baik, karena Jawa merupakan bagian dari kemajemukan budaya yang jelas dimensi adat istiadatnya. Hanya orang yang mengenal adat yang memenuhi syarat untuk beradab. Yang memahami sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Jawa, Batak,Padang, Bugis, Ambon, yang memiliki kejelasan adat istiadat yang baik. Begitu pula suku lain yang juga beradat baik, pastilah dapat diartikan sebaga Indonesia yang baik yang percaya kemajemukan dan keindahan.

SELAMAT HARI KEMERDEKAAN. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Globalisasi sedang kita rasakan saat ini. Salah satu yang kita rasakan adalah revolusi teknologi yang mendorong daya freak seluruh ruang sosial ekonomi. Revolusi teknologi yang kemudian membawa kehidupan sosial terasa tanpa batas dan melampaui batas-batas sosial budaya masyarakat global itu sendiri.

Satu dimensi yang tak bisa dilepaskan adalah terkikisnya akar sosial budaya masyarakat kita. Globalisasi memproduksi masyarakat global tetapi mengancam masyarakat lokal. Masyarakat lokal termarjinalkan dalam dunia tunggal globalisasi tersebut. Identitas masyarakat lokal tergerus di tengah kepungan globalisasi.

Terminologi tradisional hilang dalam dunia sosial kita dan digantikan oleh terminologi teknologi, digital, borderless, informasi. Apa yang terjadi? Masyarakat Indonesia terancam kehilangan identitas lokal yang justru memperkuat keindonesiaan. Misalnya pakaian tradisional sudah mulai tersisih dalam dunia fesyen karena dianggap tertinggal atau ketinggalan zaman. Anak-anak kita juga lebih aware dengan gadget dan smartphone dibandingkan dengan permainan tradisional. Apa yang terjadi?

Globalisasi membawa ancaman dan tantangan bagi masyarakat lokal. Ada upaya tafsir tunggal dunia sosial secara global. Yang harus kita pahami adalah masyarakat memiliki budaya dan keunikan yang khas dan itu harus kita hargai sebagai sebuah posisi sosial. Masyarakat lokal adalah entitas yang membuat keindonesiaan semakin kokoh. Tak ada alasan untuk tidak menempatkan identitas, budaya lokal, dan nilai tradisional sebagai bagian penting dari dunia sosial kita sehari-hari. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Komunikasi/ Dosen FIKOM Universitas Prof.DR.Moestopo (Beragama)

Bicara soal kebaya kita harus melihat sejarah perjalanan nenek moyang kita yang berasal dari Yunan Selatan. Masuk ke Indonesia melalui Tumasek (Singapura) sekitar 600-400 SM. Mereka membawa kebudayaan yang dipengaruhi kepercayaan menyembah dewa matahari dan dewa bulan. Dewa matahari disimbolkan dengan warna merah, dewa bulan disimbolkan dengan warna putih. Ini juga yang menjadi inspirasi bendera nasional merah putih. Ini juga yang menjadi cikal bakal simbolisasi warna.

Simbolisasi ini terus tertanam di dalam masyarakat Indonesia. Dalam perjalanannya nenek moyang kita memperkenalkan budaya berpakaian. Budaya berpakaian ini kemudian terasimilasi dengan budaya lama yang telah ada. Menurut sejarah, tempat akhir perjalanan nenek moyang kita yaitu Pulau Jawa. Ini dapat dilihat dari kerajaan-kerajaan kuat tersebar di Pulau Jawa, baik Timur, Tengah dan Barat. Dari Jawa lah budaya berpakaian tersebar ke wilayah utara Sumatera dan bagian Timur Indonesia.

Budaya berpakaian juga menunjukan kelas antara kelas priyayi dengan kelas rakyat biasa. Rakyat biasa kaum perempuannya hanya menggunakan kemben, dilapisi dengan batik dan mengunakan ikat kepala. Sedangkan perempuan kelas priyayi juga mengunakan hal yang sama, namun dilapisi kain lagi yang kemudian disebut sebagai kebaya.

Kebaya sendiri adalah budaya yang dibawa dari Yunan Selatan. Sedangkan kata kebaya berasal dari kata "abaya" (bahasa Arab) yang artinya berpakaian. Lalu karena pengucapannya, di masyarakat kemudian terbiasa menyebut istilah kebaya.

Pada zaman kerajaan, yang terbiasa mengunakan pakaian atau kebaya adalah kaum perempuan. Sedangkan kaum pria bertelanjang dada. Inilah yang kemudian membuat kebaya diidentikkan dengan perempuan. Namun seiring perkembangan zaman, kaum pria juga mengunakan pakaian untuk menutup badan. Kebaya atau berpakaian sebenarnya bukan hanya dilakukan oleh perempuan tetapi juga laki-laki.

Ketika kerajaan Islam masuk ke Nusantara, kelas dihapuskan. Kebaya yang tadinya hanya digunakan oleh kelas priyayi berusaha disederhanakan untuk digunakan masyarakat umum. Terjadi perubahan secara model pada kebaya. Kebaya yang dulu dipakai oleh kalangan kerajaan, kini berusaha disesuaikan untuk untuk masyarakat umum. Kelas pada kebaya dihilangkan.

Model pada kebaya memang mengalami perubahan, dari kebaya yang rumit menjadi kebaya yang lebih sederhana. Kalau ditanyakan apakah kebaya menghilang, mungkin secara model terjadi perubahan. Namun menurut saya secara filosofis tidak. Secara filosofis kebaya berarti berpakaian. Selama orang Indonesia masih berpakaian, selama itu juga secara filosofis orang Indonesia masih berkebaya.

Kebayanya tidak hilang, namun yang mesti diperhatikan itu pergeseran kebaya agar tidak terjadi bias gender. Kebaya hanya diidentikan dengan pakaian perempuan. Padahal kalau dilihat dari filosofi dan arti harafiahnya yang berkebaya bukan hanya kaum perempuan, tetapi juga kaum pria. (ast)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
PNS Dinas Kesehatan Jakarta

Mbah putri dan ibuku adalah wanita yang dalam keseharian maupun dalam berbagai acara senantiasa menggunakan kebaya dan kain batik, jika dalam acara yang resmi kain batiknya di rempel depan atau di wiru, yaitu dengan melipat bagian pinggir kain menjadi lipatan kecil-kecil agar terlihat lebih indah dan terkesan rapi.

Sangat cantik dan anggun menurut pandangan kami, namun seiring dengan perkembangan mode dan kepraktisan sejak disekolah generasi yang lahir di era 60 an sudah tidak akrab lagi dengan kebaya, kalaupun ada di beberapa tempat seperti di Pemprov DKI masih bisa kita melihat seminggu sekali para pegawai menggunakan kebaya, walaupun lebih di fokuskan kepada kebaya Betawi, bagi sebagian ini sudah dapat mengingatkan bahwa kita punya pakaian nasional yang tidak kalah indahnya dengan mode pakaian barat ataupun dari timur.

Namun, demikian entah karena mengambil praktis atau ingin menempatkan diri pada posisi yang modern ibu-ibu dengan kondeh atau gelung pun sudah banyak ditinggalkan.

Maka dengan berbagai penyesalan kita sudah harus siap menerima pergeseran busana nasional kita untuk di korbankan demi melayani derasnya pasar busana. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir             Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!