Usaha Butuh Hasil, Butuh Aman
berita
Ekonomika
Sumber Foto : tribunnews.com 12 December 2018 18:30
Penulis
Likuiditas adalah darah ekonomi. Ekonomi akan lumpuh jika tidak ada likuiditas. Mengetat sedikit saja likuiditas, dunia usaha kelimpungan menjalankan operasi perusahaan. Membeli bahan baku, berpromosi, menjalankan mesin, mengirimkan barang, hingga menggaji karyawan memerlukan likuiditas.

Darah dipompa oleh jantung. Jantung ekonomi adalah investasi. Tanpa investasi, likuiditas tidak dapat bergerak mengalir. Harus ada usaha yang mengalirkan surplus likuiditas di satu tempat ke tempat defisit likuiditas. Upaya ini menjadi tugas perusahaan menjalankannya.

Pemerintah tentu sangat paham mengenai pentingnya investasi. Berbagai kebijakan diterbitkan untuk mendorong agar investasi semakin banyak. Pemberian fasilitas, insentif, kemudahan prosedur, pemotongan waktu pengurusan izin, hingga layanan satu atap terus dikembangkan agar investor merasa senang dan nyaman menanamkan dananya di Indonesia.

Satu hal yang tidak kalah penting adalah jaminan keamanan dalam berinvestasi. Investor membutuhkan kepastian bahwa usahanya bisa berjalan dengan baik dan aman, tidak ada gangguan atau ancaman yang bisa menghentikan usaha mereka.

Buruknya keamanan sangat merugikan investor karena usahanya menjadi terganggu. Perusahaan menjadi sulit memenuhi target produksi, menepati kontrak, mencapai kinerja yang baik. Pada akhirnya perusahaan akan merugi.   

Mengingat pentingnya keamanan dan menumbuhkan rasa aman bagi investor, pemerintah merangkul para satuan pengamanan (satpam) agar semakin meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya di bidang keamanan.

Dalam acara Konferensi Industri Jasa Pengamanan Nasional Tahun 2018, Presiden Joko Widodo menyampaikan penghargaan kepada Satpam  yang berada di garda depan keamanan perusahaan.

Dia mengatakan setiap orang masuk ke satu kantor, pabrik, mal, hotel, kawasan industri maka yang pertama-tama ditemui adalah satpam, bukan manajer atau direktur. Para Satpam tidak bertugas hanya mengamankan tetapi juga menjadi wajah paling depan dari sebuah perusahaan.

Satpam mempunyai tanggung yang tidak ringan. Mereka harus dapat melindungi dan mengamankan perusahaan dari berbagai ancaman maupun gangguan yang datang dari dalam maupun luar perusahaan, mengawasi arus orang dan barang, termasuk hal-hal yang mencurigakan.

Peranan penting dimainkan oleh Satpam dalam masalah keamanan. Situasi yang aman akan mengundang investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Jasa keamanan akan semakin dibutuhkan di Indonesia karena ekonomi yang bertumbuh membutuhkan perlindungan.

Melihat pentingnya pengamanan, sebenarnya seberapa besar rasa aman ini dibutuhkan investor? Seberapa penting masalah keamanan ini dibandingkan dengan faktor lain yang juga dibutuhkan investor? Apakah kondisi Indonesia rawan keamanan sehingga dibutuhkan perhatian khusus terhadap masalah ini?

Data menunjukkan bahwa penanaman modal asing langsung menurun di Indonesia. Apakah dengan demikian ada korelasi antara tingkat keamanan dan tingginya minat investasi? Apakah ada jaminan kemanan yang tinggi dapat menarik investor? Faktor apa yang sebenarnya lebih menarik bagi investor dalam menanamkan dananya? Bagaimana dengan prospek investasi asing langsung di Tanah Air?

Apa pendapat Anda? Watyutink?  

SHARE ON
OPINI PENALAR
 Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

Indonesia makin dijauhkan oleh investor asing dalam menanamkan dananya secara langsung (FDI). Dilihat dari jumlah dana yang ditanamkan, Indonesia paling sedikit menerima dana FDI. Mereka lebih memilih negara lain. Bahkan dengan Bolivia dan Vietnam yang komunis, Indonesia kalah bersaing menarik FDI.

Pada tahun 2016, relokasi perusahaan Jepang yang ada di China ke Vietnam mencapai 38 perusahaan, ke Thailand sebanyak 9 perusahaan, Myanmar 9, Filipina 5, dan Indonesia 5. Setahun berikutnya pada 2017, Indonesia nol. FDI tidak akan datang jika yang sudah ada saja merasa gerah.

Pemerintah harus merawat investor yang ada di Indonesia agar betah, senang, nyaman, dan mau menginvestasikan kembali labanya di Tanah Air, daripada menarik investor baru yang belum tahu bersedia menanamkan modalnya.

Banyak investor asing yang membawa labanya ke luar negeri karena tidak ada tawaran menarik dari pemerintah. Dana yang dibawa pada akhirnya menyebabkan defisit transaksi berjalan. Penyebab defisit transaksi berjalan bukan ekspor impor barang dan jasa seperti yang ditekankan pemerintah, tetapi karena keuntungan perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia yang dibawa pulang ke negaranya.

Keuntungan perusahaan asing yang dibawa keluar Indonesia pada tahun 2017 mencapai 20 miliar dolar AS, sementara neraca perdagangan ekspor impor surplus 18 miliar dolar AS. Pada tahun ini dari Januari hingga September, perdagangan surplus 2,2 miliar dolar AS, jasa defisit 5,7 miliar dolar AS, dan keuntungan yang dibawa keluar sebesar 13 miliar dolar AS. Ini tidak dibicarakan dan dicari jalan keluarnya.

Presiden bisa meminta investor asing seperti Phillip Morris, Singtel, Indosat, Tree, dan XL yang banyak membawa keluar keuntungannya untuk menginvestasikan kembali dananya di Tanah Air. Mereka membawa keluar labanya karena tidak tersedia ‘kebun yang cukup luas’ untuk menanamkan dananya.

Pemerintah perlu menyediakan lahan yang cukup luas untuk mereka agar mau menanamkan kembali keuntungan di Indonesia.  Mereka akan bersedia jika return yang diberikan setidaknya sama dengan dibawa pulang atau diinvestasikan di tempat lain. Tidak harus semuanya diinvestasikan di sini, cukup seperempatnya saja sudah besar. Tetapi hal ini tidak dilakukan. Yang dilakukan pemerintah justru menaikkan PPh 21 dan dibayar di muka, pilihan yang rumit. Lebih mudah membujuk investor asing menahan dananya sebesar 5 miliar dolar  AS.

Pemerintah mengharapkan penanaman modal asing secara langsung (foreign direct investment/FDI. Mengundang investor baru belum tentu mau, namun investor yang sudah ada tutup.  Beberapa perusahaan keramik yang sudah tutup antara lain Essenza, Superitalia, Idola, Masterina, dan Maestro. Akibatnya, kebutuhan keramik diimpor dari China. Demikian juga beberapa pabrik gelas dan botol.

Pemerintah seharusnya merawat yang sudah ada, dan mereka senang maka berlaku falsafah restoran Padang “jika enak beritahu teman, jika tidak enak beritahu kami’. Tanpa BKPM FDI akan tumbuh jika investor yang ada merasa senang. Mereka akan menceritakan dari mulut  ke mulut mengenai pengalaman mereka yang menyenangkan di Indonesia. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF