Upaya Meraup Rezeki Asian Games 2018
berita
Ekonomika
Sumber Foto : Sriwijaya Post (gie/watyutink.com) 02 August 2018 10:00
Penulis
Sebentar lagi, DKI Jakarta akan punya perhelatan akbar Asian Games 2018 yang akan dilaksanakan pada (18/8 – 02/9) mendatang. Bersama dengan Palembang sebagai venue kedua di Sumatera Selatan, hal ini merupakan kali kedua Indonesia dipercaya sebagai tuan rumah. Terakhir pelaksanaan Asian Games diadakan di Jakarta pada 1962.

Sebagai ajang kompetensi olahraga paling akbar yang diikuti ribuan atlet dari berbagai negara Asia, event itu akan mempertandingkan 40 cabang olahraga, 67 disiplin, dan 462 nomor pertandingan yang akan digelar di 64 competition venue yang menyebar di Jakarta dan Palembang. Anggarannya sendiri dikabarkan mencapai Rp30 triliun, meliputi biaya penyelenggaraan, infrastruktur, dan sarana transportasi pendukung. Untuk infrastruktur saja hampir Rp7 triliun, perbaikan fasilitas di Palembang dan Jakarta hampir Rp3 triliun, sehingga total Rp10 triliun.

Namun dari besarnya anggaran Asian Games 2018, satu hal yang patut dipertanyakan, apakah event akbar itu juga akan menyebabkan peningkatan konsumsi masyarakat dan pendapatan masyarakat sekitar venue, juga bagi PDRB daerah? Apakah di tengah ketegangan akibat pelemahan rupiah saat ini, event Asian Games 2018 mampu menghadirkan harapan dan gairah berusaha bagi ribuan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan industri sektor kreatif lain yang terlibat pada perhelatan internasional tersebut?

Tahun 2018, selain disebut sebagai tahun politik, oleh para pengambil kebijakan ekonomi tahun ini diharapkan juga bisa meningkatkan konsumsi masyarakat, tumbuhnya PDRB, dan pada ujungnya membantu pencapaian target pertumbuhan ekonomi secara nasional yang dipatok 5,4 persen. Hal itu akibat beberapa event nasional dan internasional yang dilaksanakan, antara lain Pilkada serentak dan Asian Games 2018. Belum lagi efek hari raya Idul Fitri 2018 yang disebutkan telah mengerek peningkatan volume transaksi perdagangan dan peningkatan konsumsi masyarakat.   

Perhelatan Asian Games 2018 di dua kota besar Palembang dan Jakarta dipastikan akan menyebabkan tingginya transaksi perdagangan jasa perhotelan, konsumsi makan dan minuman, transportasi, cindera mata, aneka rupa bahan peraga dan penolong event olah raga seperti kaos, training pack dan lain-lain, juga hal-hal lainnya terkait transaksi layanan bagi sekitar 11 ribu atlit dari berbagai penjuru Asia yang dipastikan hadir (sport.bisnis.com, 11/07/2018). 

Palembang dan  Jakarta, tentunya sudah siap dengan berbagai program bagi peningkatan pendapatan sektor-sektor industri kecil dan industri kreatif serta ribuan UMKM di dua kota tersebut. Kesiapan agaknya harus paripurna, agar dampak multiplier bagi peningkatan pendapatan dan konsumsi masyarakat betul-betul dapat dirasakan oleh penduduk sekitar venue. Itu artinya harapan dari para pengambil kebijakan ekonomi dapat terwujud, dan biaya begitu besar yang dikeluarkan untuk Asian Games 2018 tidak terbuang percuma begitu saja.

Apakah harapan bagi peningkatan PDRB dan peningkatan pendapatan ekonomi rakyat akan terwujud dari Asian Games 2018? Juga terwujudnya perbaikan tingkat konsumsi masyarakat yang dipicu dari event tersebut? Sudah siapkan dua kota tempat pelaksanaan acara memberikan ruang bagi transaksi bisnis UMKM dan sektor kreatif masyarakat ikut ‘berlaga’ dalam perhelatan internasional tersebut? Apakah masyarakat kecil kebanyakan juga merasakan 'berkah' dari Asian Games 2018 yang hadir pada dapur keluarga mereka masing-masing?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Kalau kita bicara Asian games tentu secara normatif pasti memiliki dampak langsung terhadap perekonomian baik daerah maupun nasional. Karena yang menjadi tuan rumahnya adalah dua daerah yakni Palembang dan Jakarta tentu seharusnya dua provinsi ini mendapatkan selain benefit juga profit. Tentu saja pada penerimaan daerahnya.

Selain itu juga mestinya muncul sektor-sektor atau industri-industri kreatif dan juga kaitannya dengan pariwisata. Jika terkait event Asian Games, tentu yang terkait adalah industri-industri yang terkait dengan event tersebut. Hanya saja permasalahannya, apakah event itu direspon oleh sektor-sektor industri tersebut dengan sebaik mungkin? Atau bahkan sudah bisa menghitung berapa akuntabilitas dan profitabilitas dari event itu terhadap profit yang akan didapat. Termasuk juga untuk konsumsi masyarakat di daerah. Hal-hal itu yang harus diperhatikan benar oleh dua daerah itu.

Demikian pula untuk dampak ekonomi bagi daerah yang dikategorikan sebagai dampak “first round effect” dan dampak “second round effect” bagi daerah bersangkutan. Untuk dampak “first round effect” itu akan langsung dirasakan oleh wilayah itu yakni pembangunan dan perbaikan infrastruktur. Kemudian euphoria dari masyarakat terkait penyediaan sarana prasarana, dan juga terkait kebutuhan-kebutuhan dari industri kreatif untuk kegiatan Asian Games itu sendiri.

Yang kedua untuk “second round effect”, adalah ihwal 'efek pengganda' terhadap perekonomian daerah dalam penciptaan lapangan kerja, atau meningkatkan produktivitas kerja, pertumbuhan ekonomi, dan juga peningkatan pendapatan masyarakat. Nanti ujungnya ke PDRB di daerah.

Semestinya yang first round effect itu yang benar-benar bisa dirasakan oleh industri atau sektor-sektor yang langsung bersentuhan dengan event ini. Contohnya tadi yang saya sebut pariwisata, industri kreatif, atau industri kecil menengah (IKM). Tentunya itu semua seharusnya dapat diberdayakan dengan local wisdom atau sumber daya kearifan lokal yang diberdayakan.

Hanya sekarang, sepertinya euphoria Asian Games belum tampak muncul ke masyarakat. Kalau dari sisi marketing memang nampak dari media sosial, televisi dan lain-lain. Hanya saja kita harus lihat bagaimana partipasi masyarakat terhadap event besar ini? Ini “PR” bagi pemerintah daerah.

Seharusnya, kalau partisipasi masyarakat nya naik dari sisi produksi—artinya dari IKM atau industri besar—itu kan butuh gimmick-gimmick kegiatan. Katakanlah butuh kaos, kerajinan tangan dan lain-lain sebagai cindera mata dari Palembang, Jakarta atau juga dari daerah-daerah lain dengan kerjasama antar daerah. Tapi yang aneh, sekarang kok tidak terlihat yang seperti itu. Ini ada apa?

Seharusnya dari jauh hari sudah dipersiapkan serius. Meskipun DKI Jakarta sudah mempersiapkan untuk wisma atlet banyak dipersiapkan dan lainnya.

Perhitungan kami, kalau misalnya Asian Games ini betul-betul dipersiapkan dan sesuai dengan perencanaan yang sangat baik, itu bisa menghasilkan cukup besar bagi PDRB Jakarta. Untuk Jakarta saja, PDRB bisa didapat sekitar Rp15 triliun sampai Rp16 triliun. Jadi analisis kita menggunakan analisa perhitungan ekonomi antar regional sekitar itu. Akan ada peningkatan signifikan terhadap PDRB Jakarta. Dari investasi biaya Asian Games tentunya akan ada margin signifikan dari situ. Kemudian akan ada peningkatan konsumsi masyarakat juga. Kesempatan kerja juga otomatis terbuka.

Jika sektor-sektor industri kreatif masyarakat didorong saja, misalnya hasil kerajinan tangan khas Jakarta maka akan nampak signifikan hasilnya. Bahkan daerah lain juga bisa ikut berpartisipasi. Jadi bukan hanya hajat Jakarta dan Palembang saja, tapi hajat dari seluruh bangsa Indonesia. Kalau itu terjadi maka akan ikut mendorong peningkatan ekonomi daerah-daerah. Sektor rekreasi, hiburan juga akan terdorong semakin baik.

Oleh karena itu seharusnya secara normatif Asian Games ini akan meningkatkan konsumsi masyarakat dan PDRB. Hanya persoalannya apakah kondisi itu akan terjadi di tengah beratnya kondisi perekomian saat ini? (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Mantan Ketua DPR RI

Gebyar Asian Games itu memang luar biasa—gebyarnya--dan gubernur Sumatera Selatan itu selalu mensosialisasikan kepada masyarakat. Satu yang mungkin tidak terlihat adalah bagaimana masyarakat di daerah itu mampu memanfaatkan potensi orang yang datang untuk berbelanja dari hasil-hasil orang Palembang. Misalnya dengan dibuatnya pernak pernik Asian Games produk Palembang--tetapi bukan mengimpor dari China--semakin ramai yang datang, lalu dijual di Palembang, bukan seperti itu. Yang diharapkan itu adalah mereka yang berdagang cindera mata atau oleh-oleh sebagaimana orang datang ke negara lain, lalu orang asing itu membeli dan membawa cindera mata Palembang ke negara mereka.

Namun sekarang ini hampir tidak terlihat usaha kita untuk menyiapkan itu semua. Jadi produktivitasnya tidak digairahkan untuk menghasilkan sesuatu.

Kalau produksi empek-empek semua orang sudah tahu. Tetapi orang dari negara-negara Asia belum tentu lidahnya sesuai jika makan empek-empek. Mungkin ada peningkatan orang untuk makan empek-empek. Tetapi itu hanya dinikmati oleh pedagang empek-empek yang jumlahnya memang cukup banyak tapi tidak mempengaruhi masyarakat luas.

Yang kita harapkan adalah konsumsi masyarakat tumbuh karena ada tamu-tamu dari luar. Itu yang harusnya dimanfaatkan. Harusnya orang bukan hanya bertanding olahraga, tapi juga berbelanja. Itu yang paling penting. Sayangnya yang saya lihat tidak dibina secara masif. Memang ada pernak pernik dari songket dan kerajinan, tapi tidak seperti orang dagang empek-empek yang jumlahnya sangat signifikan mempengaruhi income masyarakat.

Konsumsi itu tergantung income. Jika income-nya tidak meningkat apa yang hendak dikonsumsikan. Lagipula, dari sisi persiapan-persiapan seperti pembangunan infrastruktur, tukangnya mayoritas berasal dari pulau Jawa. Di Palembang ini tukang-tukangnya mayoritas ambil dari Jawa. Memang dari sisi profesionalisme tukang asal Palembang belum begitu halus buatannya. Kebetulan kita bangun gedung sekolah juga mereka yang dari Jawa yang datang.

Karena pertama, mereka kerja fulltime, menginap di proyek, jam kerja juga sampai malam. Jadi memang agak berbeda dengan tenaga lokal. Memang tenaga lokal juga kita pergunakan.

Tetapi artinya dampak dari pembangunan Infrastruktur Asian Games itu tidak langsung dirasakan oleh masyarakat, karena semuanya datang dari luar. Apalagi pembangunan yang berskala besar, pemborong dan dananya dari Jakarta semua. Kalau misalnya ada sub-sub pekerjaan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat lokal dan ada income di sana, maka baru akan ada peningkatan konsumsi masyarakat. Sekarang ini karena tidak berpengaruh, maka masyarakat di Palembang biasa-biasa saja.

Memang, dengan Asian Games ini masyarakat kota Palembang menikmati jalan yang bagus, sarana prasarana olahraga juga bagus, ada LRT walau nanti setelah Asian Games bakal dipakai atau tidak wallahu’alam. Karena jalan biasa di Palembang toh masih lancar-lancar saja, karena jarak pendek. Orang dari Bandara jika mau naik LRT mau turun dimana? Lalu setelah turun naik apa lagi, karena harus dua kali naik. Kalau di Jakarta memang berbeda karena manusianya banyak dan mobilitasnya tinggi.

Jadi saya kira dampaknya tidak akan meningkat signifikan. Bisa meningkat kalau ada penghasilan. Kalau pekerjaannya diambil orang luar semua, maka sulit ada peningkatan. Ada memang pekerja luar itu makan di Palembang, tapi sebagian besar uang mereka di kirim ke Jawa, ke keluarga masing-masing. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
 Pengamat Kebijakan Publik/ Anggaran

Ajang kompetensi ini pemerintah seharusnya sudah memikirkan bagaimana memberikan ruang/fasilitas/bekerjasama dengan UMKM di berbagai aspek. Visi misi dibalik ajang ini bukan hanya memperkenalkan 2 daerah yang menjadi tuan rumah, tetapi memperkenalkan semua daerah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Antusiasme seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya sekedar mendukung tetapi keterlibatan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam memperkenalkan resource yang dimiliki setiap daerahnya. Anggaran yang digelontorkan memang murni untuk sarana-prasarana dalam penyelenggaraan Asian Games 2018, dan membutuhkan inovasi diluar itu untuk memberdayakan ekonomi kreatif pada saat Asian Games berlangsung.

Pemerintah sepertinya juga mengandeng K/L dan BUMN, tapi masih sebatas pada kegiatan teknis dalam penyelenggaraan Asian Games. K/L yang terkait ekonomi kreatif bisa di sektor pariwisata, UMKM, perdagangan dan lain-lain seharusnya dapat memiliki inovasi lebih untuk memanfaatkan event ini, bagaimana memperkenalkan dan memberikan ruang kepada “Ekonomi Mikro” untuk terlibat.

Menggandeng/melibatkan BUMN pun jangan di aspek pembelian tiket, tapi bagaimana BUMN di sektor terkait bisa ikut memberikan kontribusi pada ekonomi mikro agar dapat ikut berpartisipasi. Sehingga tidak hanya 2 propinsi saja yang akan mendapat effect dari event ini dalam peningkatan PDRB dan pendapatan ekonomi rakyat.

Kerjasama antara wilayah yang dikoordinasi oleh pusat sangat penting dalam hal ini untuk pelibatan ekonomi mikro, mungkin 2 daerah (Jakarta dan Sumsel) sudah memiliki strategi sendiri dalam mendulang kontribusi bagi APBD-nya atau dalam melibatkan UMKM di event ini. Asumsi saya untuk 2 daerah ini akan terjadi peningkatan transaksi yang cukup besar baik di sektor jasa, sektor transportasi, UMKM/ekonomi kreatif, hanya diperlukan komitmen dari 2 Pemprov ini untuk memberikan ruang yang seluas-luasnya dan terkoordinasi dengan baik bagi sektor-sektor tersebut. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Bangsa Indonesia dan pemerintahnya saat ini boleh saja berbangga dan bergembira, karena pada tahun ini, dalam waktu yang hanya tinggal menghitung hari itu, perhelatan olah raga terbesar yang diberi nama Asian Games akan dilangsungkan di Jakarta dan Palembang (Sumatera Selatan). Sebagai bangsa Indonesia memang kita layak ikut berbangga, karena perhelatan olah raga sekaliber Asian Games sulit diperoleh oleh Indonesia. Buktinya, sudah lebih dari 50 tahun, setelah tahun 1962, baru kali ini  bisa terselenggara di Indonesia. Jadi, jelas ini merupakan perhelatan paling bergengsi bagi Indonesia. Makanya wajar kita berbesar hati. Namun demikian, jangan dipertanyakan apakah perhelatan akbar yang menelan biaya yang kabarnya  mencapai Rp30 triliun ini bisa membawa harapan besar bagi  bangkitnya ekonomi Indonesia, atau pada tataran paling bawah bisa meningkatkan kesejahteraan para pengusaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan sektor kreatif lainnya?

Ups, tunggu dulu. Sekadar berharap dan bermimpi tentu boleh-boleh saja. Namun, kendatipun anggaran untuk penyelenggaraan Asian Games itu sangat besar, yang namanya rakyat kecil, UMKM serta sektor kreatif, akan tetap pada posisi awal, yakni kecil, mikro. Kendatipun ada mendapat rezeki, tetapi tidak signifikan. Mengapa?

Beberapa alasan yang membuat masyarakat kecil yang kita sebut UMKM dan sektor kreatif hanya bisa mengais rimah-rimah ( sisa makanan) dari perhelatan terbesar itu. Pertama, dari segi waktu pelaksanaan kegiatan olah raga tersebut, waktunya sangat singkat. Kedua,  dari jumlah atlit yang datang, kendatipun mendatangkan ribuan atlit dari luar negeri, berapa besar uang dan waktu yang akan mereka habiskan untuk belanja barang-barang produksi UMKM kita yang nilai barangnya juga kecil? Apalagi, mereka datang ke perhelatan tersebut terkonsentrasi untuk membawa piala atau tropi yang besar untuk Negara mereka, bukan belanjaan. Ke tiga, dilihat dari jenis barang atu produk kreatif yang dijajakan yang harganya mungkin kacangan, kita akan bertanya berapa harga atau nilai barang yang berupa souvenir itu bisa meraup untung?

Jujur saja, ketika kita menerka  dampak positif perhelatan olah raga bergengsi ini terhadap bangkitnya gairah berusaha para pelaku UMKM dan dampak bangkitnya rupiah, tampaknya sulit diraih, karena tidak berdampak sangat siginifikan. Keuntungan besar tetap ada, tetapi bukan untuk rakyat kecil. Lalu siapa yang memperoleh rezeki besar? Pertama, nikmat pembangunan fasilitas olah raga tuan rumah, yakni Jakarta dan Palembang. Kedua, tentu menguntungkan orang-orang besar, perusahaan-perusahaan besar yang mengelola proyek besar untuk menyediakan berbagai fasilitas dan kebutuhan perhelatan Asian Games. Sementara orang kecil yang hanya menjalankan usaha kecil, UMKM yang bermodal kecil, mereka  hanya bisa mengais rimah-rimahnya. Artinya hanya bisa memanfaatkan sedikit peluang untuk menjual hasil usaha. Apalagi yang namanya UMKM sekelas PKL yang akan selalu tergusur dari kepentingan besar. Mereka bisa-bisa hanya gigit jari, karena dikejar dan digusur untuk menjaga marwah bangsa. Bahkan, kalau di Aceh ada pepatah begini, "Buya Krueng teudong-dong, buya tamoeng yang meuraseuki”. Ya, bahkan banyak yang jadi penonton saja.(pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif pajak, daya sistem pajak yang paling rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan