Tak Bisa Genjot Ekspor, Konsumsi Jadi Tumpuan
berita
Ekonomika
24 July 2019 17:00
Penulis
Watyutink.com - Pemerintah bersikap realistis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Menyadari ekspor tidak dapat diandalkan sebagai mesin pertumbuhan karena kondisi global yang tidak kondusif, pemerintah fokus menjadikan konsumsi dan investasi sebagai mesin pendorong pertumbuhan.

Presiden Joko Widodo sudah memberikan arahan kepada pembantunya para menteri ekonomi  untuk mengedepankan efisiensi dan mengoptimalkan belanja yang bersifat produktif pada tahun ini. Untuk itu belanja pemerintah senilai Rp1.527 triliun akan dioptimalkan untuk menyokong pertumbuhan ekonomi.

Penyerapan belanja negara pada  tahun lalu mencapai 99 persen, karena adanya kebutuhan mendesak berkaitan dengan penyelenggaraan Asian Games dan bantuan bencana alam. Penyerapan belanja pada tahun ini diperkirakan tidak sebagus tahun lalu sehingga hanya mencapai 94-95 persen.

Disebutkan belanja pemerintah dalam enam bulan ke depan diperkirakan mencapai Rp896,6 triliun atau 54,9 persen dari pagu anggaran. Sebagian besar dari belanja tersebut diserap oleh kementerian dan lembaga pemerintah  (K/L) sebanyak Rp512,6 triliun, sementara belanja non-K/L di mana di dalamnya termasuk subsidi senilai Rp384 triliun.  Apakah anggaran sebesar ini mampu menggerakkan konsumsi nasional?  Program apa saja yang mempunyai dampak berantai terhadap peningkatan konsumsi?

Pemerintah mengklaim terus mendorong ekspor agar lebih kompetitif, namun terganjal oleh permintaan eksternal yang sedang lemah. Alhasil konsumsi yang paling bisa dimainkan untuk menggerakkan pertumbuhan, disamping investasi dan belanja pemerintah. Apakah ini sebuah kepasrahan atau strategi jitu mengakali lemahnya ekspor?

Fokus pemerintah untuk bertumpu pada konsumsi dan investasi sebagai pendorong pertumbuhan mendapatkan momentumnya dengan diturunkannya suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate dari 6 persen menjadi 5,75 persen. Pemerintah berharap penurunan suku bunga tersebut dapat memperbaiki investasi. Apakah langkah ini akan diikuti oleh perbankan nasional dengan menurunkan suku bunga kredit?

Pemerintah tidak tinggal diam. Sejumlah kebijakan insentif sudah dirilis untuk mendorong investasi dan hasilnya diharapkan bisa dilihat pada semester II  tahun ini. Pertumbuhan investasi pada tahun ini diperkirakan mencapai 6 persen.

Apakah kebijakan pemerintah bertumpu pada konsumsi untuk mendorong pertumbuhan tidak memiliki risiko penurunan daya beli? Strategi konsumsi seperti apa yang bisa membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi?  Bauaran kebijakan seperti apa antara otoritas fiskal dan moneter yang bisa mendorong konsumsi dan investasi secara efektif?

Apa pendapat Anda?  Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Faktor yang berperan besar pada ekonomi Indonesia adalah konsumsi. Ini wajib dijaga karena risikonya besar. Turun sedikit saja konsumsi, bisa-bisa berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Di satu sisi bagus untuk menjaga konsumsi,  tapi juga harus dipikirkan bagaimana insentif yang diberikan untuk penguatan daya beli tidak hanya berpengaruh sesaat.

Insentif yang diberikan untuk penguatan daya beli harus berkesinambungan, ada perbaikan kualitas hidup, perbaikan terhadap keterampilan tenaga kerja, UKM, dan kewirausahaan. Ini semua perlu diupayakan sehingga ke depan ketika mereka tidak mendapatkan lagi bantuan sosial atau yang bersifat bantuan langsung, mereka masih bisa berkembang.

Di sisi lain, upaya penguatan daya beli rakyat ini merupakan  kabar baik bagi industri, dunia usaha. Pasarnya dijaga sehingga permintaannya tetap tumbuh. Diharapkan kabar baik ini disambut oleh pengusaha lokal dengan memproduksi barang lebih banyak, sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan manufaktur  dan mendorong ekonomi lebih besar lagi.

Program bantuan yang bersifat langsung dan tunai bisa terus dilanjutkan, namun tidak dilupakan bagaimana membuat rakyat  mempunyai daya tahan yang lebih baik ke depan. Program bantuan yang sekadar bagi-bagi akan hilang dampaknya begitu program tersebut dihentikan.

Selain itu, pemerintah juga perlu menjaga stabilitas harga barang. Pendapatan rakyat naik tetapi jika harga barang ikut naik maka tidak bisa  menikmati kenaikan pendapatan. Harga yang harus dijaga stabilitasnya adalah yang ada di kelompok pangan, bahan makanan dan makanan jadi, dan sandang. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Pemerintah baru akan melakukan kebijakan yang berfokus pada konsumsi dan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga kalau dilakukan evaluasi belum terlihat hasilnya. Tetapi jika dilihat komitmen dan realisasi investasi selama ini terus turun.

Membicarakan pertumbuhan ekonomi memang tidak bisa mengesampingkan faktor-faktor lain selain konsumsi  karena sudah sangat dominan peranannya. Namun semakin ke sini semakin stagnan peranannya. Masih ada pertumbuhan tetapi pertumbuhannya tidak seperti yang diharapkan, masih dibawah  pertumbuhan ekonomi.

Oleh karena itu perlu varibel baru seperti ekspor dan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.  Investasi  terkait dengan ekosistem, menyangkut kebijakan yang kondusif. Dalam beberapa tahun terakhir, penanaman modal asing (PMA/FDI) terus turun dan realisasinya dibawah ekspektasi karena investor jangka panjang retensi melihat konsistensi kebijakan.

Konsistensi kebijakan dalam beberapa tahun terakhir ini mengkhawatirkan.  Beberapa kali pemerintah mengeluarkan kebijakan tapi kemudian dianulir. Yang paling brutal terjadi pada 2018 menyangkut pemotongan subsidi BBM, diumumkan di sela-sela forum IMF dan Bank Dunia, tapi kemudian dianulir. Banyak kebijakan lain yang tumpang tindih dan terkesan tidak konsisten. Ini  perlu dibenahi ke depan. (sar)  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF