Sukubunga Kredit Perbankan, antara Turun dan Tidak
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 23 April 2019 19:00
Penulis
Watyutink.com - Industri perbankan nasional dikabarkan berharap adanya penurunan sukubunga kredit oleh BI. Hal itu disuarakan, lantaran penurunan sukubunga 7 Days Reverse Repo Rate (7DRR) diyakini akan mampu menambah likuiditas guna langkah ekspansi pembiayaan. Pelonggaran kebijakan moneter oleh BI diperkirakan juga akan memperbaiki likuiditas perbankan nasional.

Pihak perbankan beralasan, kebutuhan pembiayaan biasanya akan meningkat signifikan pada menjelang puasa dan hari raya Idul Fitri mendatang. Jika sukubunga belum juga turun, maka iklim likuiditas ketat seperti itu diyakini masih akan menyulitkan perbankan nasional dalam memenuhi permintaan kredit yang meningkat.

Tren pelonggaran likuiditas, disinyalir juga menggejala di sejumlah negara. Akibat perkiraan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, beberapa negara saat ini  telah menurunkan sukubunga acuan kredit perbankan, seperti yang telah dilakukan India, Australia, dan Brazil.

Bank Sentral Amerika (The Fed) juga mengisyaratkan kebijakan pelonggaran kebijakan moneter (dovish) pada 2019 ini, dan menunda rencana kenaikan sukubunga acuan Fed Funds Rate.

Namun demikian, apakah BI juga akan mengabulkan harapan perbankan nasional untuk menurunkan tingkat sukubunga (6 persen) saat ini? Pertanyaan berikutnya, apakah rupiah dinilai sudah cukup aman saat ini jika sukubunga diturunkan? Padahal, terdapat arus inflow senilai Rp90 triliun pada portofolio investment dalam tiga bulan terakhir.

(Baca juga : Jaga-Kestabilan-Politik-Ekonomi-Butuh-Kesejukan)

Perkara defisit yang terjadi pada neraca current account (CAD) yang menggayuti kinerja perekonomian nasional, masih menjadi soal berat yang menghantui ketegaran mata uang rupiah. Terlebih, investasi portofolio yang “kadung” menjadi andalan penguatan rupiah pada waktu terakhir, diperkirakan akan menjadi batu sandungan paling rumit. Portofolio investment, adalah investasi yang sangat rentan untuk minggat ke negara lain, apabila terdapat kondisi perekonomian suatu negara yang kurang menguntungkan bagi investasi nya.

Sementara, klaim OJK bahwa sepanjang 2018 kemarin bahwa kredit perbankan mampu tumbuh di kisaran 12,9 persen (Kompas.com,01/2019) dianggap masih terlalu kecil. Kinerja pertumbuhan kredit seharusnya dibandingkan dengan kinerja pertumbuhan kredit negara lain dan pencapaian pada periode-periode sebelumnya, yang mampu menembus di atas 20 persen.

Lalu, seandainya keinginan dunia perbankan tanah air untuk penurunan sukubunga kredit masih berat dikabulkan oleh otoritas moneter, sementara perekonomian global cenderung melambat, maka bagaimana strategi jitu agar pertumbuhan kredit bisa tumbuh dengan baik?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Guru besar ekonomi UII Yogyakarta, Wakil Ketua PP ISEI

Kalau memungkinkan--karena situasinya juga cukup kondusif--memang harus distimulus untuk menurunkan sukubunga acuan BI. Dengan cara bank sentral (BI) menurunkan sukubunga indikasinya.

Mengapa hal itu perlu, karena secara global Indonesia perlu meningkatkan daya saing. Lagipula tingkat bunga kita secara relatif lebih mahal dibandingkan pasar uang internasional.

Kedua, penurunan sukubunga acuan cukup dibutuhkan di dalam negeri, jadi bukan sekadar menyambut puasa dan sebagainya, tetapi untuk mendorong investasi. agar supaya pertumbuhan ekonomi Indonesia juga dapat lebih tinggi dengan mendorong investasi.

Perekonomian internasional sendiri memang belum begitu kondusif, tetapi sudah lebih baik dibanding tahun lalu. Misalnya perekonomian Amerika Serikat dan juga China yang walaupun belum cerah, tetapi dampak perang dagang kedua negara tersebut tidak semasif tahun lalu. Dengan demikian Indonesia mempunyai peluang untuk menurunkan sukubunga acuan.

Terkait nilai tukar rupiah, sepertinya tidak semata-mata dari unsur nilai tukar saja. Karena memang, tujuan Bank Indonesia sendiri saat ini hanya untuk menstabilkan nilai rupiah. Tetapi angkanya sendiri tidak pernah diumumkan. Karena sifatnya situasional pada neraca perdagangan dan neraca pembayaran dalam negeri, juga situasi cadangan devisa yang ada, berapa rate yang laik itu memang hanya di BI.

Tapi jika dilihat rate rupiah sekarang maka angkanya sudah lebih baik ketimbang sempat melemah sekitar Rp15 ribu per dolar AS pada beberapa waktu lalu. Depresiasinya juga tidak terlalu besar. Pelemahan rupiah pada akhir tahun lalu bisa dikendalikan setelah pemerintah melepas obligasi. Sehingga terdapat capital inflow yang signifikan dan rupiah menjadi menguat. Setelah itu rupiah relatif stabil, ekonomi dalam negeri juga semakin membaik.

Sepertinya saat ini adalah momentum baik untuk menurukan sukubunga acuan, apalagi Pemilu juga sudah berlangsung relatif aman. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia

Ihwal sukubunga ini memang dilematis. Sukubunga acuan, berarti ada dua sisi yang harus diperhatikan. Pertama sisi eksternal, dan kedua, sisi internal atau domestik.

Pada sisi eksternal, sukubunga acuan yang tinggi menjadi insentif bagi masuknya aliran modal portofolio yang selama ini dijadikan andalan untuk menutup defisit current account. Kalau sukubunga diturunkan, kemungkinan aliran modal asing portofolio akan terhenti atau bahkan keluar. Kalau itu terjadi, maka akan berdampak pada ketahanan rupiah. Kenyataannya memang, dari tahun ke tahun portofolio investment selalu menjadi andalan.

Dilihat dari struktur perekonomian dalam negeri, kita memang bersandar pada aliran modal asing khususnya dalam bentuk portofolio. Disitulah ancaman yang timbul jika menurunkan sukubungan acuan atau risiko sudden reversal yang akan dihadapi.

Adapuan ihwal pertumbuhan kredit pada 2018 yang hanya 12,9 persen itu amat kecil. Indonesia butuh di atas 20 persen untuk pertumbuhan kredit. Melihatnya jangan hanya satu atau dua periode saja. Kita pernah mengalami pertumbuhan kredit di atas 30 persen, dan juga harus membandingkan dengan pertumbuhan kredit di negara-negara lain. Pertumbuhan kredit di kisaran 10 persen itu rendah sekali. Tidak cukup untuk mendorong investasi.

Hal itu memang amat dilematis, sementara untuk medorong pertumbuhan kredit, kita butuh sukubunga  yang kompetitif dan mendukung investasi. Artinya, untuk itu seharusnya sukubunga acuan rendah, dibanding sekarang yang cukup tinggi dibandingkan negara-negara tetangga.

Dalam waktu, belum ada tanda-tanda atau masih kecil sekali kemungkinan penurunan sukubunga, mengingat risiko yang cukup besar.

Untuk menurunkan sukubungan acuan, terlebih dahulu harus mengubah struktur perekonomian dalam negeri. Juga mengubah struktur kebijakan moneter. Dan itu adalah masalah yang kompleks. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar