Sentimen Negatif Rupiah Akibat Aksi Terorisme di Surabaya
berita
Ekonomika

Sumber Foto : investasio.com (gie/watyutink.com)

15 May 2018 19:00

Penulis
Serangan bom bunuh diri teroris di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur selama 2 hari berturut-turut sejak hari minggu (13/5) kemarin memunculkan sentimen negatif terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Pasca dibuka pada pukul 08.00 WIB kemarin (14/5), menguat 3 poin atau 0,02 persen di Rp13.957 per dolar AS, tiba-tiba pukul 09.00 WIB rupiah berbalik anjlok, turun 15 poin atau 0,11 persen ke level Rp13.975 per dolar AS. Rupiah terus tertekan hingga 18 poin atau 0,13 persen pada pukul 09.40 ke level Rp13.978 per dolar AS.

Sebelumnya memang rupiah bahkan sempat menembus Rp 14.000 per dollar AS, yang kemudian memunculkan sorotan terhadap kinerja tim ekonomi pemerintahan Jokowi-JK.

Jika dihitung sejak awal tahun 2018 hingga Jumat (11/5) kemarin, rupiah melemah rata-rata melemah di level 2,99 persen. Terhadap dollar Singapura, Rupiah juga masih melemah hingga 3,05 persen ytd. Rupiah semakin ‘teler’ tak berdaya saat dihadapkan dengan Yen, dimana telah anjlok 6,10 persen sepanjang tahun ini.

Nampaknya para pelaku pasar cenderung wait and see untuk melakukan transaksi dan aksi korporasi, sambil menunggu tindakan aparat keamanan mengurus tuntas  kasus terorisme yang mengguncang publik selama dua hari ini. Dengan harapan,  kembali kondusifnya keamanan nasional yang berimbas pada kondusifitas pasar yang akan memunculkan sinyalemen positif. Selama rentang waktu wait and see ini, rupiah diperkirakan bergerak stagnan di rentang Rp13.950-Rp14.000 per dollar AS.Para analis pasar memperkirakan, sentimen negatif akibat serangan bom di Surabaya sepertinya hanya  berdampak terbatas bagi pergerakan rupiah. Benarkah demikian?

Selain nilai tukar rupiah yang tertekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin kemarin (14/5) juga dibuka turun 23.37 atau 0,39 persen ke level 5,933.46. Berdasarkan data statistik perdagangan pre-opening bursa Senin pagi, nilai transaksi hanya tercatat Rp25,84 miliar dengan frekuensi sebesar 1.387 kali transaksi. IHSG pun hari ini diprediksi berpotensi melemah seiring pelemahan EIDO, pelemahan harga minyak dunia, tren pelemahan Rupiah, dan sentimen kasus bom di Surabaya.

Berdasarkan data BEI, total Aksi jual bersih (net selling) oleh investor asing pada perdagangan hari ke-15 berturut-turut, Senin (14/5/2018) mencapai Rp208,04 miliar.

Mengutip riset Samuel Sekuritas Indonesia, Wall Street sendiri berakhir mixed pada akhir pekan kemarin setelah saham sektor kesehatan terdongkrak dengan munculnya rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk mengatasi tingginya harga obat-obatan, namun saham sektor teknologi mengalami pelemahan. Sementara itu, bursa saham Eropa meneruskan reli pada Jumat dengan indeks STOXX 600 Eropa naik 0,11 persen. Angka indeks terus mencatatkan peningkatan mingguan dalam tujuh pekan terakhir.

Banyak pihak yang menggunakan dan memanfaatkan kejadian ini dengan menghembuskan opini yang tak berdasar, bahwa aksi-aksi terorisme yang terjadi saat ini, sejak kejadian di Mako Brimob, kelapa Dua-Depok, hingga pemboman 3 gereja di Surabaya, rusun di Sidoarjo, dan Mapolretabes Surabaya adalah ‘blessing in disguise’, karena berhasil menutupi kasus-kasus besar yang menyeret para elite dan permasalahan bangsa yang tak kunjung selesai, termasuk masalah terpuruknya ekonomi, bertambahnya hutang pemerintah, arus investasi yang tak kunjung membaik, nilai tukar rupiah yang semakin ‘teler’ dan sempoyongan terhadap dolar.

Apa Pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Politikus/ mantan Menteri Keuangan dan Dirjen Pajak

Saya kira faktor bom Teroris di Surabaya hanya berdampak kecil terhadap rupiah dan pasar modal. Keduanya banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil oleh The Fed dan pemerintah Amerika Serikat. Depresiasi nilai tukar rupiah saat ini mengganggu kepercayaan investor asing. Risiko investasi Indonesia yang tercermin dalam credit default swap (CDS) terbilang meroket dalam lima bulan pertama di tahun. Bahkan, pada Selasa (8/5/2018) kemarin, CDS kita telah melambung, berada di level tertinggi, mencapai 129,19 bps. Kemudian pada hari Rabu-nya (9/5/2018), CDS Indonesia posisinya masih ada di level 211,420 yang merupakan rekor terburuk di tahun ini.

Nilai CDS digunakan sebagai indikator fundamental yang paling dicari oleh para investor besar dan para fund manager di seluruh dunia. Semakin tinggi CDS maka semakin tinggi risiko investasi yang harus dihadapi investor. Ditambah lagi pelemahan rupiah yang tembus Rp14.000 per dollar Amerika Serikat (AS), yang tentunya akan terus menggerus imbal hasil yang diterima investor. Tentu akan membuat investor akan berpikir ulang untuk mempertahankan investasinya di Indonesia.

Jadi dalam hal ini, yang perlu sikapi disini adalah data dari Bursa Efek Indonesia(BEI) tentang adanya net selling, yang berarti arus modal keluar negeri sudah mulai terjadi. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, investor asing melakukan aksi jual sekitar 1,24 miliar lembar saham senilai Rp4,09 triliun. Aksi beli investor asing tercatat 1,31 miliar lembar saham senilai sekitar Rp3,88 triliun. Total Aksi jual bersih (net selling) oleh investor asing pada perdagangan hari ke-15 berturut-turut, Senin (14/5/2018) mencapai Rp208,04 miliar. Hal ini mengindikasikan bahwa investor mulai meninggalkan Indonesia dan membawa modalnya keluar Indonesia. Akan sangat mengkhawatirkan jika kondisi seperti ini terus dibiarkan. (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ekonom Danareksa dan Analis Kuantitatif LPEM UI

Aksi terorisme yang terjadi kemarin secara berturut-turut di Mako Brimob Depok, Surabaya dan Sidoarjo, sebenarnya tidak terlalu berpengaruh secara signifikan. Mengingat, kejadian aksi terorisme yang kemarin terjadi itu bukan pertama kalinya di Indonesia. Secara historis, pelaku bisnis kita bisa dibilang sudah kuat dan berpengalaman menghadapi kondisi-kondisi instabilitas keamanan akibat aksi terorisme. Hal ini yang kemudian membentuk semacam ‘imunitas’ pada para pelaku bisnis dan pasar modal di Indonesia.

Meski begitu, kejadian terorisme yang terjadi secara beruntun kemarin memang sempat membuat ‘kaget’ para pelaku bisnis dan pasar kita. Namun, pergerakan pasar mudal dan kurs rupiah yang melemah, saya kira bukan karena faktor itu. Melainkan pada faktor eksternal dan faktor internal makro ekonomi kita. Jadi kalau kita mengaitkan antara terror bom yang terjadi kemarin dengan kurs maupun pasar modal, saya melihat korelasinya terlalu sempit.

Kalau mau jujur, kemarin ketika terjadi terror bom di Indonesia, nilai tukar rupiah sempat menguat, meskipun tipis 3 poin atau 0,02 persen ke level Rp13.957 per dolar AS dari posisi penutupan perdagangan di akhir pekan lalu Rp13.960 per dolar AS.

Terkait dengan pelemahan yang terjadi terhadap nilai tukar rupiah ini, saya melihatnya akibat dari faktor eksternal, karena adanya perubahan kebijakan ekonomi di Amerika Serikat (AS), antara lain adanya rencana kenaikan Federal Funds Rate (FFR) yang berpengaruh menentukan suku bunga properti, kartu kredit dan pinjaman lainnya, kenaikan suku bunga obligasi pemerintah AS, dan kekhawatiran terhadap perang dagang (trade war) yang di canangkan AS dengan China. Kalau perang dagang terjadi, banyak orang mengkhawatirkan akan terjadinya resesi dunia. Jika resesi dunia terjadi, maka banyak orang akan mencari apa yang disebut dengan ‘safe haven’, yakni orang akan mencari aset yang digunakan sebagai pelarian saat kondisi ekonomi global dianggap sedang tak aman. Apa yang terjadi saat ini agak mirip-mirip dengan apa yang terjadi pada tahun 2013.

Selain itu juga termasuk adanya faktor geopolitik yang mempengaruhi, seperti rencana AS keluar dari perjanjian nuklir dengan Iran, yang bisa membuat terjadinya gejolak di Timur Tengah. Nah, terjadinya gejolak di Timur Tengah ini tentu akan berimbas kepada naiknya harga minyak dunia.

Ditengah-tengah kebijakan organisasi minyak dunia (OPEC) yang menekankan produksi, kemudian ada gejolak di Timur Tengah, tentu akan menimbulkan konsekuensi harga minyak dunia akan naik tinggi. Jika harga minyak semakin naik tinggi, yang akan terjadi ke ekonomi kita adalah turunnya neraca perdagangan baik ekspor maupun impor kita. Karena saat ini Indonesia itu net importir minyak. Hal inilah yang menimbulkan kekhawatiran di pasar dalam jangka panjang jika harga minyak dunia terus naik. Maka neraca pembayaran kita akan tertekan. Dan inilah yang kemudian membuat nilai tukar rupiah akan (semakin) melemah.

Sementara, faktor dalam negeri adalah karena pertumbuhan ekonomi kita selama 2017 yang hanya dikisaran 5,06 persen, dari target semula yang 5,4 persen kemudian diturunkan menjadi 5,2 persen. Hal ini sedikit banyak membuat pasar agak kecewa. Sehingga faktor kepercayaan pasar berkurang. Hal ini tentu menjadi pertimbangan bagi investor dan pasar. (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Duta Besar RI untuk Jepang 1979-1983, Gubernur Lemahanas 1974-1978, Wakasad 1973-1974

Saya kurang setuju menamakan teror yang terjadi berturut-turut di Depok dan Surabaya  sebagai "a blessing in disguise". Perbuatan yang kejam itu tidak patut disebut “blessing”. Buat saya ini semua merupakan tantangan yang harus diselesaikan Pemerintah bersama Bangsa Indonesia dengan baik untuk menjamin masa depan yang lebih baik.

Untuk itu Pemerintah harus sanggup mewujudkan “Semangat Juang” pada seluruh bangsa yang membuat semua melakukan yang terbaik di bidang masing-masing. Dengan begitu akan terwujud kondisi bangsa yang produktif dan maju.

Akan terbangun Ketahanan Nasional yang efektif. Ini semua menuntut dari orang-orang yang duduk di Pemerintahan sikap dan perbuatan yang sepenuhnya sesuai dengan kepentingan nasional. Bukan kepentingan pribadi atau golongan. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ada atau tidak serangan teroris nilai rupiah dan harga saham akan terus merosot. Serangan teroris yang sedang menghebohkan Indonesia hanya mempercepat pelemahan kedua indikator ekonomi tersebut. Ini karena masyarakat kian menyadari adanya ketidakberesan dalam pengelolaan perekonomian nasional.

Masyarakat sudah paham bahwa napsu besar pemerintah dalam berburu utang dan mengandalkan impor untuk menjinakkan inflasi sebagai pertanda buruk dalam pereknomian ansional. Napsu ini membuat cadangan devisa merosot karena cicilan utang dan impor harus dibayar menvgunakan dollar AS. Apalagi banyak duit utang tersebut dipakai untuk proyek infrastruktur dengan studi kelayakan tak jelas, dan telah mengakibatkan berbagai kecelakaan kerja berakibat fatal.

Hal itu tentu saja tak lepas dari program pembangunan yang dibuat asal mentereng dan sarat utang. Dampak paling nyata dari strategi ini tampak pada realisasinya yang ibarat 'panggang yang sangat jauh dari api'. Lihat saja laporan Bank Indonesia, yang menyebutkan bahwa  proyek strategis nasional (PSN) yang diusung Presiden Joko Widodo sejak 2015 hingga akhir 2017 cuma rampung dua persen.

Bahkan yang rampungpun menyimpan tanda tanya besar, terutama soal biaya. Indikasinya, tarif tol di Indonesia tertinggi di Asia. Tol yang dibuat jaman Jokowi sama saja. Tarifnya bahkan lebih tinggi dari Singapura, Malaysia, Thailand, dan China meski harga tanah di negara-negara ini lebih mahal.

Penghamburan dana juga kian kasatmata di sektor pangan. Berbanding terbalik dwngan klaim pemerintah bahwa produksi terus meningkat sehingga Indonesia kian dekat dengan swasembada pangan. Impor 7 komoditas pangan- beras, jagung, gandum, ubi kayu, bawang putih, kedelai, dan gula tebu- meningkat dari 21,7 juta ton pada 2014 menjadi 25,4 juta ton pada 2017.

Jadi jangan heran kalau defisit perdagangan kian bengkak. Pada April lalu defisit tersebut mencapai 1,63 miliar dollarAS. Ini kenaikan ketiga kalinya dalam empat bulan pertama tahun ini.

Maka, untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri, pemerintah tampaknya harus mendegar tembang 'Long and Winding Road' punya The Beatles. (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Bangun Infrastruktur, Juga Manufaktur Orientasi Ekspor             Capaian yang Bagus, Upayakan Terealisasi             Perang Kepentingan Melawan Korupsi             Nilai-Nilai Pancasila Sudah Lama Tewas             Setop Adu Nyinyiran             Pembenahan ke Dalam di Era Disrupsi              Mencegah 'Barjibarbeh'             Perlu Tindak Lanjut Komitmen Investasi             Tantangan Fiskal Di Tengah Gejolak Global             Akhlak Turun Ke Titik Nadir, Seks Bebas Tumbuh Subur