Sekali lagi, Membedah Dunia Riset Nasional
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 25 April 2019 18:00
Penulis
Watyutink.com - APBN 2020 mendatang, porsi anggaran riset sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia akan dinaikkan secara signifikan oleh pemerintah. Anggaran riset akan dinaikkan dan dimasukkan sebagai penambah dana abadi penelitian sebesar Rp1 triliun.

Sebagai sebuah aktivitas dasar bagi pengembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi, riset di Indonesia dinilai masih jauh tertinggal dibanding laju penelitian dan pengembangan di negara maju. Anggaran riset nasional, diketahui masih berkisar 0,08 persen dari PDB. Masih jauh dibanding Malaysia yang 1,3 persen dan Singapura 2,36 persen dari PDB. Negara-negara maju di Eropa, Amerika, dan Asia Timur bahkan mengalokasikan anggaran riset di atas 2 persen dari PDB*.

(Baca juga: Benang Kusut Dunia Riset Kita)

Fokus pembangunan pada APBN 2020 memang akan dipusatkan pada penguatan kualitas SDM Indonesia, setelah pada 4,5 tahun terakhir lebih banyak ke penguatan bidang infastruktur.

Era bonus demografi 2020-2045, dinilai minus kesiapan tenaga terampil untuk mengisi kebutuhan industri--apalagi yang berbasis teknologi tinggi 4.0--yang disadari akan menjadi batu sandungan serius apabila tidak segera disikapi dengan benar. Era bonus demografi terancam terbuang sia-sia jika tidak ada platform yang tegas pada penggarapan aspek peningkatan kualitas SDM.

Namun yang masih menjadi pertanyaan adalah, bagaimana koordinasi dan implementasi pemanfaatan anggaran riset di tengah karut marut dunia riset dalam negeri yang belum efektif, dan terpencar di banyak kementerian? Apalagi, anggaran riset di perguruan tinggi juga sempat diturunkan pada 2016 dari semula Rp250 miliar menjadi hanya Rp150 miliar saja.

Aktivitas riset di Indonesia, selama ini dinilai masih menjadi “domain” utama pemerintah tanpa adanya insiatif yang menonjol dari swasta. Padahal, di negara maju riset dan inovasi adalah inisiatif swasta atau industri yang menjadi “nyawa” bagi pengembangan produk inovatif berdaya saing, yang amat menentukan pencapaian kinerja perekonoman. Terlebih di era yang mengandalkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (4.0).

Nah masalahnya sekarang, apa saja sebenarnya yang harus diketengahkan dalam strategi mencapai keunggulan daya saing nasional berbasiskan riset yang kuat? Sudahkah dunia swasta atau industri di tanah air dapat mengubah “mindset”kebutuhan akan riset sebagai aktivitas kunci dalam meningkatkan daya saing produk? Apa pula yang harus dipersiapkan oleh perguruan tinggi?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif NGO Lokal

Hasil riset seharusnya menjadi nyawa bagi peningkatan ekonomi, yang merupakan masalah mendasar atau pokok. Hingga saat ini di Indonesia, sangat disayangkan riset hanya menghiasi rak-rak perpustakaan atau balitbang. Hasil riset jarang sekali membawa manfaat bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Kalau boleh diusulkan, sebelum dilaksanakan kenaikan anggaran riset, dilakukan terlebih dahulu monitoring dan evaluasi terhadap riset-riset berikut prosedur riset yang sudah ada. Agar riset yang dilakukan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Sebagai contoh, dapat diberikan gambaran sebagai berikut, bagi mahasiswa tingkat akhir yang akan lulus, diwajibkan melakukan riset yang berhasil guna, tidak sekadar menyusun skripsi atau tugas akhir sebagai syarat kelulusan.
Banyaknya tenaga ahli di Indonesia tidak mempunyai nilai jual karena, tidak mampu mengkomunikasikan hasil riset dalam bahasa bisnis (marketable).

Setelah riset dilakukan diadakan penilaian kelayakan apakah hasil riset yang bersangkutan dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat, dan dapat diproduksi untuk peningkatan kualitas ekonomi maupun SDM.

Di China, mesin-mesin industri skala kecil diproduksi dengan sangat murah, karena mereka sudah melakukan proses produksi massal dengan harga murah karena sudah dilakukan kanalisasi proses produksi. Hasil riset dikembangkan dalam skala industri dan di distribusikan pembuatan nya kemudian dirakit dengan standar mutu yang baik, sehingga ketika bersaing dengan siapapun dia akan unggul dari sisi harga, hal ini mampu membuat perusahaan-perusahaan besar di Amerika dan Jepang babak belur.

Di situ pentingnya hasil riset bisa dikerjasamakan dengan pihak swasta agar bisa mempunyai nilai bisnis.

Contoh lain adalah riset tentang optimasi potensi sumber daya alam menggunakan teknologi tepat guna, yang bisa digunakan dalam skala industri kecil dan bisa dilakukan oleh masyarakat secara inklusif.

Produksi mesin-mesin teknologi tepat guna ini bisa dikerjasamakan dengan swasta, agar memberikan multiplier effect dan merangsang tumbuhnya industri turunan di desa. Kemudahan proses melalui mesin-mesin produksi dengan teknologi sederhana dan terjangkau, sehingga dapat dioperasikan oleh siapapun dengan pendidikan paling minim. Hal itu secara bertahap akan berdampak pada perkembangan teknologi lanjutan, dimana kondisi masyarakatnya sudah tidak "gaptek" lagi terhadap teknologi.

Di Indonesia, selama ini dirasakan dampak empowering terhadap peningkatan ekonomi merambat, dan tidak signifikan. Terkait hasil riset yang bisa diadopsi masyarakat yang akan mampu memberikan dampak signifikan pada kegiatan empowering/pemberdayaan. Untuk itulah, hasil riset mempunyai peran sangat penting bagi bangsa dalam rangka peningkatan mutu SDM dan peningkatan ekonomi masyarakat.

Penggunaan hasil riset ini bisa diuji dalam bentuk percontohan (skala kecil) agar bisa dihitung berapa persen dampaknya pada target capaian dengan menggunakan analisa dampak sosial, ekonomi dan lingkungan hidup

Dalam melakukan analisa sosial, analisa ekonomi inklusif dan pertumbuhan ekonomi masyarakat, selayaknya dilakukan analisa menggunakan LFA (Logical Framework Analysis).

Analisa LFA sangat membantu menjelaskan kenapa target capaian belum tercapai, apa yg harus diperbaiki, sehingga memberikan hasil maksimal. Jadi bukan sekadar empowering atau pemberdayaan parsial yang ujungnya hanya pemborosan anggaran dan tidak memiliki dampak signifikan.

Jika riset itu berdampak positif di era industri 4.0 silakan dibiayai, jadi tidak disamakan dengan riset biasa.
Hasil riset harus mampu menjadi pengungkit ekonomi masyarakat dan menarik minat swasta (dunia usaha) untuk dikembangkan skala industri, dan mampu menjadi daya ungkit ekspor sehingga menambah devisa negara. Sayangnya, riset di Indonesia belum punya dampak bagus pada minat investor karena tidak punya pengaruh positif pada keuntungan bisnis. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Berbicara riset di Indonesia seakan tiada putus karena memang banyak menyangkut berbagai hal antara lain peneliti, lembaga, prosedur, regulasi, tema dan fokus riset, ilmu pengetahuan, teknologi, pemanfaatan hasil riset, hingga hal yang selalu dibincangkan terus: dana riset.

Beberapa bulan lalu seorang pendiri unicorn Indonesia mengeluhkan minimnya prosentase dana riset yang dianggarkan pemerintah, meski menggunakan data yang kurang valid namun esensinya ditangkap bahwa memang dana riset Indonesia tergolong rendah dibanding negara-negara jiran seperti Malaysia atau Singapura.

Apakah dengan meningkatkan dana riset akan mengatasi tantangan dan permasalahan riset di Indonesia? Rasanya tidak serta merta demikian.

Tantangan riset di Indonesia setidaknya harus mulai dari pemetaan hal-hal mendesak dan penting untuk diatasi, yaitu: kewenangan riset yang tidak terkoordinasi secara sistematis untuk mencapai tujuan konkrit secara berkesinambungan. Lembaga riset pemerintah yang meliputi badan litbang di kementerian dan perguruan tinggi sudah bertahun-tahun tidak memiliki koordinasi kegiatan riset yang sistematis dan terarah. Lembaga riset swasta yang ada di berbagai industri melakukan kegiatan menurut agenda masing-masing untuk orientasi profit dan keberlanjutan usahanya dalam  persaingan bisnis yang semakin sengit. Alhasil riset di Indonesia menunjukkan tumpang tindih dan carut marut kegiatan yang seakan berjalan di tempat (leading to no where).

Gagasan sentralisasi atau desentralisasi riset nasional menjadi semakin menambah keruwetan masalah yang dihadapi para pemangku kepentingan riset nasional. Ada sebagian yang setuju dengan  pembentukan lembaga riset nasional yang berwenang penuh atas kegiatan riset di Indonesia. Namun ada juga yang menentang dengan dalih bahwa otonomi akademik dan kebebasan peneliti perlu diberi ruang dalam lembaga-lembaga sebagaimana sekarang ada seperti badan litbang kementerian, badan litbang LPNK, perguruan tinggi, dan lembaga litbang swasta.  

Lima tahun ke depan nampaknya pemerintah melalui beberapa sinyal yang sudah diberikan akan berusaha mengambil kebijakan tegas jika tidak ingin disebut ekstrim dan tidak populer, yaitu tata ulang kelembagaan riset dan konsentrasi dana riset. Berbasis pada orientasi hasil maka riset lima tahun ke depan dituntut memberikan hasil konkrit yang bermanfaat dan diaplikasikan di masyarakat dalam berbagai bentuk.

Dana riset akan dikelola dengan sistem tata kelola yang lebih baik sehingga jelas pertanggungjawabannya. Sebagai contoh: apabila hasil riset berupa publikasi maka publikasi tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas kegiatan akademik lembaga-lembaga pendidikan atau bila hasil riset berupa purwarupa maka dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha terkait untuk diteruskan ke masyarakat.

Pendeknya, hasil riset harus akuntabel dan dapat bermanfaat bagi masyarakat secara nyata, meski hasil riset tidak selalu harus berhasil karena riset yang hasilnya tidak sesuai dengan harapan atau gagal merupakan suatu hasil juga yang masih bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi namun perlu adanya pertanggungjawaban atas proses riset tersebut. Tentu saja paradigma ini perlu dimiliki oleh BPK atau Kejaksaan dalam memeriksa kegiatan riset yang dibiayai negara sehingga tidak dengan mudah menyatakan riset yang hasilnya gagal adalah merugikan negara.

Dukungan teknologi informasi menjadi keniscayaan untuk membenahi kegiatan riset di Indonesia agar dapat terintegrasi dalam sebuah sistem yang transparan, akuntabel dan komprehensif. Suatu hal yang tidak mudah dan perlu komitmen dukungan segenap pemangku kepentingan riset nasional bila memang ingin ada perubahan kemajuan riset di Indonesia.

Riset bermakna juga eksperimen yang didorong oleh keingintahuan (curiosity) dan kemauan mencoba hal baru. Jika sudah bertahun-tahun kegiatan riset di Indonesia memang tidak memberikan hasil dan manfaat yang seperti diharapkan bahkan menimbulkan berbagai masalah maka sudah saatnya pemerintah diberi kesempatan menerapkan formula baru dalam mengurai benang kusut masalah riset sekaligus menjawab tantangan-tantangannya lima tahun ke depan.(pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Humas dan Kerjasama Universitas Widya Mataram di Yogyakarta, Ketua Ikatan Dosen Republik Indonesia (IDRI) Wilayah DIY

Dalam upaya meningkatkan daya saing bangsa di era revolusi Industri 4.0, Indonesia sebagai negara yang mempunyai keunggulan komparatif maupun keunggulan kompetitif sebenarnya adalah hal yang mudah. Namun sepertinya keunggulan tersebut belum dioptimalkan.

Salah satu upaya yang dapat digunakan untuk optimalisasi keunggulan tersebut adalah melalui perguruan tinggi. Perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi terhadap pemecahan masalah berbasiskan riset.

Riset-riset yang dilakukan perguruan tinggi dapat diarahkan untuk membantu  pemecahan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia. Berbagai permasalahan, mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah, menurunya nilai ekspor dan naiknya impor yang berdampak terhadap melemahnya daya saing bangsa.

Dalam membantu mengatasi permasalahn tersebut Insan perguruan tinggi dapat melakukan riset kolaboratif guna mencari akar permasalahan.

Jika akar masalah dapat ditemukan maka dapat dipastikan semua permasalahan dapat diatasi. Indonesia yang mempunyai kurang lebih 4.500 perguruan tinggi negeri maupun swasta, di dalamnya tersimpan kekuatan intelektual dan akan menjadi kekuatan yang ampuh untuk mengatasi permasalahan bangsa ini.

Bukanlah sebuah utopia jika bangsa ini ingin unggul melalui hasil kegiatan riset, asalkan perguruan tinggi bersedia untuk berkolaborasi atau di desain untuk selalu berkolaborasi dalam riset.

Riset yang dilakukan oleh insan perguruan tinggi idealnya adalah riset untuk memenuhi kebutuhan dalam rangka memecahakan permasalahan yang ada.

Berawal dari modal ketersediaan sumberdaya di perguruan tinggi, asalkan riset diarahkan untuk meningkatkan daya saing dan memecahkan permasalahan, maka kemungkinan Indonesai akan menjadi negara yang mempuyai daya saing.

Untuk dapat mewujudkan hal tersebut maka diperlukan strategi yang efektif dan efisien, salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah strategi Penthahelix yang merupakan strategi kolaborasi antara, Akademisi, Business, Government, Costumer dan Media (ABGCM). Dalam strategi tersebut masing-masing mempunyai peran yang jika dapat berkolaborasi akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa.

Riset yang dilakukan perguruan tinggi (akademik) akan menjawab kebutuhan bidang bisnis (Business) karena berorientasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan (costumer). Disesuaikan dengan kebijakan pemerintah yang ada dalam roadmap pengembangan industri (government) dan selalu menggandeng media untuk sosialisasi dan desiminasi hasil riset tersebut. Strategi akan lebih mantap jika hasil riset dapat menjawab permasalahan bangsa ini dari hulu hingga hilir. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

FOLLOW US

Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol             Dehumanisasi di Hari Kemanusiaan Internasional terhadap Masyarakat Papua             Rasisme Terhadap OAP dan Masa Depan Papua dalam Bingkai NKRI             Ekonomi 2020 Tak Janjikan Lebih Baik             Pertumbuhan 5,3 Persen Sulit Dicapai             Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan