Rupiah Semakin Tak Berdaya, Dolar Rp15 Ribu Belum Puncaknya
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 13 October 2018 14:00
Penulis
Pelememahan rupiah terhadap dolar AS sudah melewati angka krusial, yakni Rp15 ribu per dolar AS. Pada penutupan akhir pekan ini ( Jumat, 12/10/2018) rupiah berada di level Rp 15.200 per dolar AS di pasar spot. Menguat 0,20 persen dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. Meski menguat, namun rupiah masih belum bisa lepas dari tekanan dolar AS yang terus menguat hingga bulan Oktober ini.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan bahwa kondisi ‘teler’nya rupiah saat ini belum mencapai puncaknya. Karena tekanan dolar AS terhadap mata uang dunia, termasuk rupiah masih akan berlangsung hingga tahun depan. Hal ini didasarkan pada pernyataan Gubernur The Fed, Jerome Powell yang menyebut bahwa kebijakan moneter Amerika Serikat belum mencapai keseimbangan (equilibrium). Tahun lalu, The Fed telah menaikkan tiga kali suku bunga acuan. Dan tahun ini, rencananya empat kali, dengan nilai peningkatan sekitar 2 persen hingga saat ini. Kemungkinan sampai level berapa rupiah saat puncaknya?

Sri Mulyani menjelaskan, pelemahan rupiah atas dolar AS ini masih dilatar-belakangi oleh tren kenaikan yield US Treasury alias imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun telah menembus di angka 3,4 persen. sementara Yield  US Tresury bond ini menjadi patokan untuk menetapkan harga instrumen utang di seluruh dunia. Yield US Tresury bond di atas 3 persen dianggap bahaya bagi pelaku pasar pada dunia investasi dan ekonomi.

Seperti diketahui, sejak bulan April lalu, Yield US Tresury bond tenor 10 tahun telah menembus level ‘psikologis’ yakni sebesar 3 persen. Saat itu, para analis mencoba menerka dampaknya di masa depan pada pasar aset dan terpenting pada ekonomi global.

Akankah nilai tukar rupiah akan semakin terperosok jatuh mencapai level di atas Rp16 ribu per dolar AS, seperti yang terjadi pada Juni 1998, saat krisis monter menerjang Indonesia?

Apakah hanya karena faktor eksternal, terutama kebijakan The Fed, yang mempengaruhi tertekannya rupiah? Tak adakah pengaruh dari faktor internal, terutama kebijakan ekonomi pemerintah yang menyebabkan rupiah semakin ‘tersungkur’? Bukankah defisit neraca transaksi berjalan (CAD) di 2018 karena tingginya impor juga mempengaruhi jebloknya nilai tukar rupiah?

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) melaui Deputi Gubernur Seniornya menyebut bahwa kondisi nilai tukar rupiah masih aman. Meski levelnya sudah melewati angka Rp15 ribu per dolar AS, namun yang penting volatilitas, suplai dan demand-nya masih jalan dan banking sector juga kuat. Benarkah demikian?

BI sendiri hingga bulan Oktober ini telah 3 kali menaikkan suku bunga acuan untuk menghadang laju tekanan dolar AS terhadap rupiah. Terakhir menaikkan suku bunga BI 7-Day Reserve Repo Rate sebesar 50 basis poin menjadi 4,75 persen. Kenaikan suku bunga dilakukan dalam tempo dua pekan, di mana yang terakhir kali diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI ekstra di luar RDG rutin. Akankah BI menaikkan suku bunga acuan lagi? Efektifkah?

Meski sudah 3 kali menaikkan suku bunga acuan, kenapa kurs rupiah semakin ‘terjerembab’ melewati Rp15 ribu? Dengan terus menaikkan suku bunga, bagaimana nasib industri perbankan, properti dan lainnya?

Amankah perekonomian Indonesia hingga tahun depan? Lalu, bagaimana otoritas moneter dan otoritas fiskal Indonesia menghadapi dinamika perubahan pada pada ekonomi global ini? kebijakan apa yang sekiranya bisa diambil oleh otoritas fiskal dan otoritas moneter agar ekonomi Indonesia bisa selamat?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani yang mengatakan bahwa pelemahan rupiah saat ini, yang sudah melewati level Rp15 ribu per dolar AS, belum sampai puncaknya. Pelemahan rupiah akan terjadi hingga tahun depan.

Hal ini berdasarkan kajian dan simulasi yang kami lakukan, bahwa sampai tahun 2019 rupiah akan mendapat tekanan-tekanan yang semakin besar. Bahkan, ada potensi di 2019 nanti akan ada equilibrium yang baru. Jika kita tidak waspada, maka depresiasi rupiah ini bisa mencapai Rp16 ribu per dolar AS.

Meskipun, kalau kita lihat dari sisi depresiasi, jika dirata-rata selama setahun, apa yang terjadi dengan rupiah ini belum termasuk yang terburuk jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Tetapi diantara negara-negara Asean, Indonesia adalah salah satu yang terburuk.

Ada dua faktor yang paling mempengaruhi terjadi pelemahan rupiah ini, yakni: faktor eksternal dan faktor internal.

Dari faktor eksternal kita bisa melihat emerging market yang selama ini trennya mengalami penurunan. Terjadi depresiasi nilai tukar mata uangnya. Bisa kita lihat hal ini terjadi di China, Brazil, Turki, India dan negara-negara emerging market lainnya yang performance-nya rontok. Terutama performance indikator makronya. Dan kita juga bisa melihat tren apresiasi yang cukup resistance di negara-negara tersebut. Secara umum, kita bisa menyebut bahwa emerging market saat ini anjlok.

Hal ini terjadi karena, confidence level di Amerika Serikat (AS) memang cukup tinggi. Kita lihat dari tren kenaikan suku bunga Yield US Tresury bond (US T-bond) tenor 10 tahun. US investor  memiliki kepercayaan diri yang tinggi, sehingga mereka tidak memegang aset yang tingkat resikonya rendah. Itulah kenapa US T-bond ini suku bunganya meningkat. Karena harganya turun, disebabkan karena demand-nya tidak terlalu banyak. Hal itulah yang menjadi kemudian implikasi US T-bond suku bunganya meningkat hingga melewati batas psikologis 3 persen.

Meskipun dalam beberapa hari terakhir terjadi shock di pasar saham Amerika yang membuat tingkat kepercayaan investor sedikit terkoreksi. Tetapi all in all, kita masih melihat bahwa tren perekonomian Amerika, setidaknya di jangka pendek ini, akan mengalami cycling up. Hal ini pula yang kemudian membuat emerging market kehilangan tajinya. Dimana semuanya mengarah ke AS, karena memang tingkat perekonomian mereka yang cukup tinggi.

Selain itu juga, adanya kebijakan AS di jangka panjang yang juga memicu tekanan terhadap emerging market. Pertama, dari sisi kebijakan moneternya yang mengalami normalisasi. Sehingga, emerging market ini posisinya akan jauh lebih tertekan lagi, karena rata-rata suku bunganya meningkat. Kedua, dari sisi kebijakan perdagangan yang kemudian memicu trade war. Trade war ini pada akhirnya akan merugikan bukan hanya ‘lawan-lawan’ dagang AS, juga merugikan AS itu sendiri. Meskipun saat ini AS masih cukup digdaya, tetapi di beberapa tahun mendatang, sepertinya AS akan kehilangan ‘steam’. Jika ini terjadi, tentu hal ini akan mengakibatkan krisis. Ketika AS krisis, tentu akan memicu rentetan krisis di negara-negara lainnya. Sehingga terjadilah krisis global

Sementara, dari faktor internal, tekanan yang membuat rupiah terdepresiasi adalah defisit neraca transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD). Hal ini terjadi, salah satunya karena kinerja ekspor yang tidak terlalu baik. industri yang menjadi penopang utama ekspor ternyata kinerja semakin memburuk, bahkan mengarah kepada terjadinya deindustrialisasi yang prematur. Kontribusi sektor industri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) semakin lama semakin kecil. Dahulu di tahun 2001-an, kontribusi industri terhadap PDB bisa lebih dari 30 persen. Saat ini tinggal sekitar 19 persen.

Dari kedua faktor tersebut, untuk jangka pendek ini ternyata yang paling dominan yang memicu terjadinya pelemahan terhadap rupiah adalah rupiah itu sendiri. Faktor ekspektasi masyarakat terhadap rupiah, dimana saat terjadi pelemahan terhadap rupiah hingga melewati batas-batas psikologis, maka tingkat kepercayaan masyarakat terhadap rupiah pun akan ikut turun. Faktor ini sifatnya bukan fundamental. Namun, faktor inilah yang bermain di jangka pendek. Sehingga yang harus kita lakukan agar tekanan rupiah tidak semakin besar adalah bagaimana membangun ekspektasi. (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Ketidakpastian global saat ini sedang cukup tinggi setidaknya karena tiga hal. Pertama, karena kebijakan normalisasi Amerika Serikat. Kedua, karena perang dagang Amerika Serikat dengan Cina yang mulai menujukkan dampaknya pada negara-negara yang memiliki hubungan dagang dengan kedua negara tersebut. Ketiga, karena harga minyak dunia yang terus meningkat.

Depresiasi rupiah adalah salah satu masalah pelik yang terjadi akibat ketidakpastian global tersebut. Nilai tukar rupiah yang saat ini menembus angka lebih dari Rp15.000 per dollar membuat beban perekonomian Indonesia semakin berat. Belum lagi harga minyak dunia yang terus meningkat padahal Indonesia sudah menjadi net importir. Dua hal ini setidaknya akan membebani APBN: pertama,  depresiasi rupiah akan membuat beban bunga utang akan meningkat dan pembiayaan utang akan menjadi semakin mahal karena yield yang terus meningkat; kedua, meningkatnya harga minyak dunia akan memberatkan beban subsidi energi.

Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar mungkin masih akan terus terjadi di 2019 karena FED diprediksi akan meningkatkan suku bunga acuannya lagi di 2019. Namun hal ini kemungkinan besar tidak akan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat terutama masyarakat kecil, sama hal nya dengan tahun berjalan saat ini. Kenapa? Karena Pemerintah masih menjaga daya beli masyarakat dengan tidak meningkatkan harga BBM bersubsidi, tidak meningkatkan harga tarif dasar listrk, dan menjaga stabilitas harga bahan pangan, selain itu masih terdapat program-program bantuan lainnya yang banyak digelontorkan. Hal ini terlihat dari postur belanja bantuan sosial RAPBN 2019 yang melonjak cukup tinggi dari outlook APBN 2018, dari Rp80.252,5 miliar ke Rp103.237, 8 miliar.

Pemerintah hingga saat ini telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga perkonomian. BI sudah melakukan tugasnya sebagai otoritas moneter untuk menjaga nilai tukar, salahsatunya dengan meningkatkan suku bunga acuan meski ternyata belum mampu menahan depresiasi rupiah. Sementara itu otoritas fiskal juga telah melakukan upaya dengan mengatur belanja sosial dan belanja subsidi, memberikan insentif fiskal pada pengusaha, dan menarik pajak impor barang konsumsi untuk mengurangi defisit.

Tantangan APBN 2019 adalah pada pembiayaan anggaran. Rupiah masih akan terus terdepresiasi jika benar FED meningkatkan suku bunga acuannya. Jika suku bunga acuan naik, maka yield obligasi dunia akan terkerek naik sehingga biaya utang luar negeri akan semakin mahal. Sementara itu, di nota keuangan RAPBN 2019, kebijakan fiskal yang diambil adalah kebijkan ekspansi fiskal dengan meningkatan belanja pemerintah. Hal ini tentu akan cukup berat mengingat lagi-lagi tax ratio yang masih rendah meski mengalami pertumbuhan beberapa tahun kebelakang ini, sehingga Pemerintah masih akan bergantung pada obligasi untuk membiayai anggaran belanja.

Menghadapi tantangan pembiayaan yang cukup berat di 2019, pemerintah setidaknya dapat: (1) Pertama, melanjutkan pendalaman pasar domestik dengan retail obligasi seperti yang dilakukan tahun ini. Tahun 2018, Pemerintah mulai melakukan pendalaman pasar domestik dengan retail obligasi untuk memenuhi kebutuhan anggaran. Hal ini perlu didukung karena dengan retail obligasi pasar domestik kemungkinan terjadi cash outflow sangat kecil, sehingga mengurangi ketergantungan pada pasar global yang beresiko tinggi. (2) Meningkatkan tax ratio dengan mempermudah pelayanan & bimbingan pembayaran pajak, sosialisasi pajak dengan pendekatan yang lebih baik agar masyarakat paham pentingnya membayar pajak, dan memperbaiki infrastruktur layanan pajak online menjadi lebih mudah. (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF