Rupiah Melemah Emiten Pasrah
berita
Ekonomika
Sumber Foto : twitter.com (gie/watyutink.com) 31 May 2018 15:00
Penulis
Fluktuasi nilai tukar rupiah kembali memakan korban. Setelah suku bunga acuan Bank Indonesia harus naik, harga-harga barang naik, kini giliran perusahaan yang akan melepas sahamnya di bursa harus menunda rencana go public dan menggesernya ke semester 2 tahun ini, menunggu membaiknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Fluktuasi nilai tukar rupiah dan perang dagang antara AS dan China menjadi sentimen negatif di pasar sehingga menekan IHSG ke level  terendah 5.783 pada perdagangan Jumat (18/5). Inilah yang membuat investor wait and see untuk bermain di lantai bursa sehingga menekan indeks.

Saat investor bersikap menunggu, pasar lesu karena transaksi berkurang dan daya serap pasar menurun. Akibatnya, emiten dan penjamin emisi harus mencari waktu yang pas untuk mendapatkan harga maksimal dari saham yang akan dilepas. Jika dipaksakan go public pada saat pasar lesu maka calon emiten harus menurunkan harga atau mengurangi porsi saham yang akan dilepas.

Emiten bisa saja berkompromi dengan menurunkan harga saham yang akan dilepas, namun akan berdampak tidak baik bagi citra perusahaan, kesannya jadi murahan. Begitu juga dengan mengurangi jumlah saham yang akan dilepas membuat perolehan dana initial public offering (IPO) tidak sesuai target.

Beberapa perusahaan yang menunda IPO antara lain PT Wahan Vinyl Nusantara, PT Wika Realty, PT Harvest Time, dan PT Artajasa Pembayaran Elektronis. Di samping itu masih ada dua emiten yang juga menunda IPO. Pada saat pasar bergejolak seperti sekarang, sulit bagi emiten dan penjamin emisi untuk menentukan harga.

Pasar modal merupakan salah satu sumber dana murah bagi perusahaan. Cukup melepas sebagian saham, perusahaan dapat meraup uang miliaran hingga triliunan rupiah. Tidak ada kewajiban mencicil bunga atau kupon, tidak tersandera oleh bank, dan membuka kesempatan kepada karyawan untuk memiliki saham. Dana yang diperoleh umumnya digunakan untuk ekspansi usaha, meningkatkan kapasitas produksi, atau memperluas pasar.

Penundaan IPO berdampak pada rencana pengembangan usaha perusahaan. Padahal pengembangan usaha membuka lapangan kerja baru, meningkatkan produk domestik bruto (PDB) nasional, dan menambah potensi penerimaan pajak bagi pemerintah. Akankah pemerintah berdiam diri melihat kondisi ini? Bagaimana strategi pemerintah mengatasi masalah ini? Adakah alternatif sumber dana murah lain yang didorong oleh pemerintah?

Selain pasar modal, sebagaian besar perusahaan masih mengandalkan pinjaman bank untuk mendanai ekspansi mereka. Namun dalam kondisi pengetatan moneter, tidak mudah mendapatkan likuiditas dari bank. Belum lagi kemungkinan dinaikkannya suku bunga yang berdampak kepada kenaikan biaya dana (cost of fund). Apakah meminjam dana bank bisa menjadi alternatif di saat pasar modal lesu?

Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan sedikitnya 35 emiten baru yang melantai di bursa pada tahun ini dan hingga akhir Mei baru 16 emiten yang melepas sahamnya. Dengan melemahnya rupiah, target BEI jadi semakin berat, karena di samping jumlah emiten baru BEI juga menargetkan kenaikan transaksi harian dan jumlah investor di pasar modal.

Namun bagaimanapun pemain pasar menunggu gebrakan BEI agar tidak ada penundaan IPO. Bukankah investor membutuhkan darah segar di bursa dengan hadirnya emiten baru? Bagaimana dengan alternatif pendanaan lain seperti penerbitan obligasi atau melakukan pinjaman ke bank? Likuiditas adalah darah bagi perusahaan. Apa pun keadaannya dan dari mana sumbernya akan tetap dicari oleh perusahaan. Tinggal menimbang mana yang lebih menguntungkan.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Guru Besar Universitas Bina Nusantara

Perusahaan tidak harus melakukan initial public offering (IPO) untuk mendapatkan dana. Kalau pasar lagi lesu tidak perlu IPO. Cari alternatif lain yang bukan melepas saham. Bisa dengan menerbitkan surat utang (obligasi) atau mencari kredit ke bank. Walaupun kondisi moneter sedang ketat, perusahaan bisa melakukan lobi kepada bank untuk mendapatkan kredit.

Menerbitkan saham cost-nya besar. Secara teori lebih mahal ongkosnya melepas saham di bursa (cost equity) dibandingkan dengan berutang ke bank (cost of fund). Melepas saham memiliki risiko reputasi, karena ada investor yang menanamkan dananya di saham perusahaan. Jika perusahaan tidak membagikan dividen maka citranya di mata investor jelek. Jika terjadi kesalahan maka akan tersangkut ke harga saham.

Investor pembeli saham akan menjadi pemegang saham yang hak dan kewajibannya sama dengan pemegang saham pendiri antara lain menjadi pihak paling akhir mendapatkan sesuatu jika terjadi risiko likuidasi. Bisa jadi tidak mendapatkan apa-apa. Karena itu investor akan meminta return yang tinggi.

Menerbitkan surat utang (obligasi) lebih berisiko dibandingkan dengan IPO. Perusahaan harus membayar kupon/bunga secara reguler sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Selain itu, setiap jatuh tempat pembayaran pokok dan bunga, perusahaan harus menyiapkan prinsipal. Perusahaan juga harus menyiapkan informasi sebagai bagian dari keterbukaan informasi kepada investor.

Berbeda jika perusahaan mendapatkan pinjaman dari bank, tidak perlu memikirkan reputasi. Perusahaan bisa menunda pembayaran hingga 1-2 bulan berikutnya jika belum mampu membayar, dan pihak luar tidak mengetahui jika perusahaan sedang menghadapi kesulitan keuangan. Sementara, penerbit obligasi yang belum membayar utang yang jatuh tempo akan mudah diketahui investor sehingga mempengaruhi reputasinya. Pemasok tidak akan percaya pada perusahaan yang memiliki reputasi buruk karena gagal membayar kupon obligasi sehingga berpengaruh kepada proses produksi perusahaan. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti INDEF

Pada dasarnya, karakteristik dari pemain di lantai bursa adalah mendapatkan keuntungan dari setiap transaksi yang dilakukan. Bagi pihak yang menawarkan sahamnya pasti akan berharap penjualan besar untuk pembiayaan mereka. Sedangkan investor pasti mengharapkan keuntungan memegang saham. Titik ini harus diketemukan di pasar saham.

Salah satu faktor yang membuat investor seperti menunda melakukan pembelian saham adalah fluktuasi nilai tukar rupiah yang masih belum mereda, walaupun rupiah saat ini sudah kembali di bawah Rp14.000 per dolar AS.

Namun kekhawatiran mengenai melemahnya nilai tukar masih ada lantaran The Fed masih akan menaikkan suku bunganya sebanyak 3 kali di tahun ini. Kemungkinan besar hal ini akan terjadi mengingat ruang The Fed untuk menaikkan suku bunganya sangat lebar, yang salah satunya dapat dilihat dari angka pengangguran yang semakin membaik. Dengan naiknya suku bunga tekanan kepada rupiah akan semakin membesar.

Dampak dari kenaikan Fed Fund Rate (FFR) atau suku bunga The Fed adalah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau 7-Days Repo Rate. Kenaikan ini memang untuk menstabilkan rupiah dan cara ini memang yang efektif untuk meredam nilai tukar beberapa hari yang lalu. Namun di sisi lain, dampaknya adalah semakin tingginya suku bunga pinjaman bagi perusahaan. Pertumbuhan kredit akan diprediksi melemah pasca kenaikan 7-Days Repo Rate. Ekspansi usaha akan melambat.

Pada sisi yang lainnya, pasar domestik Indonesia cenderung masih sepi dan konsumsi masyarakat yang masih lemah. Pertumbuhan konsumsi masyarakat masih berapa di kisaran 4,9-5,0 persen per tahunnya. Indeks Tendensi Konsumen juga melemah pada Triwulan I 2018 dan akan berlanjut ke Triwulan II. Sepinya pasar akan membuat keuntungan perusahaan akan sedikit terganggu dan hal ini yang membuat investor masih menunggu ada perbaikan konsumsi dengan harapan keuntungan perusahaan akan meningkat yang artinya keuntungan bagi investor juga meningkat.

Yang harus dilakukan pemerintah adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, untuk mejaga kepercayaan investor bahwa pemerintah bisa menghindari kejadian yang tidak diingingkan seperti krisis. Yang kedua tentu perbaikan daya beli masyarakat untuk menunjang bisnis perusahaan. Dua hal tersebut yang dapat dilakukan pemerintah, selebihnya tergantung manajemen perusahaan itu sendiri dalam menjalankan bisnisnya. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF