Ritel Kolaps, Apa Penyebabnya?
berita
Ekonomika

Foto Ilustrasi : Muid / Watyutink

20 September 2017 16:18
Penulis
Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016 melaporkan, populasi warganet di Indonesia sebanyak 132,7 juta orang, atau 51,8 persen dari populasi seluruh penduduk Indonesia, dengan 70 persennya menggunakan smartphone untuk akses internet. Dengan jumlah warganet sebesar itu, apakah akan mengubah pola kehidupan masyarakat Indonesia?

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2016 menyebut, industri e-commerce di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir tumbuh sekitar 17 persen dengan total jumlah usaha mencapai 26,2 juta unit. Menkominfo, Rudiantara menambahkan, per Desember 2016, terdapat 8,7 juta konsumen yang bertransaksi di toko online (e-commerce) dengan nilai transaksi mencapai 4,89 miliar dolar AS atau setara dengan Rp68 triliun. Di tahun 2017 ini, nilai transaksinya diperkirakan mencapai 5,29 miliar dolar AS, dan di 2020 nanti, mencapai 130 miliar dolar AS. Apakah hal ini menunjukkan telah terjadi perubahan perilaku konsumen di Indonesia?

Ditutupnya delapan gerai Ramayana, dua gerai Matahari di Pasaraya Manggarai dan Blok M, serta dua gerai Hypermart, menunjukkan bahwa kondisi ritel tengah dalam kondisi ‘kolaps’. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengakui industri ritel mengalami penurunan 20 persen di semester I-2017 dengan nilai transaksi kurang dari Rp30 triliun. Fakta ini melengkapi pilunya pedagang di Glodok dan Tanah Abang yang lebih memilih tutup toko karena sepi pengunjung. Apakah ini imbas dari maraknya e-commerce atau memang faktor penurunan daya beli masyarakat?

Jika memang karena e-commerce , seharusnya supermarket yang menjual kebutuhan pokok tidak terkena imbasnya. Namun faktanya, selama semester I-2017, dua raksasa supermarket juga mengalami penurunan laba yang signifikan. Alfamart labanya turun hingga 53,3 persen, dan Indomaret labanya anjlok sampai 71,03 persen, meski keduanya tidak sampai menutup gerainya. Bukankah ini artinya e-commerce hanya dijadikan ‘blessing in dishguise’ atas penurunan daya beli saat ini? Ataukah, fakta ini menunjukkan sinyalemen rontoknya kejayaan mal, dan super market yang telah bertahan lebih dari tiga dekade di Indonesia? Lantas, bagaimana dengan nasib warung dan kios milik rakyat yang dikelola dengan modal seadanya?

Bagaimana menurut Anda? Watyutink?

(afd)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Kepala Badan Ekonomi Kreatif / BEKRAF

Sebenarnya, e-Commerce ini pengaruhnya kecil sekali. Mungkin daya beli kelas menengah-bawah yang ada penurunannya. Di segmen kelas menengah-atas tidak terjadi. Hal ini disebabkan, masyarakat saat ini memiliki kecenderungan untuk memilih barang sesuai dengan seleranya, dan lebih tailor made. Jika kita amati, masyarakat sekarang mengalami perubahan selera yang cepat. Dari yang awalnya hanya menginginkan barang A, tiba-tiba menginginkan yang B. Hal itu wajar, mengingat banyaknya referensi yang mereka dapatkan, menyebabkan cepat terjadi perubahan perilaku konsumen. Untuk saat ini, yang bisa mengakomodir perilaku konsumen tersebut, ya, e-Commerce.

Namun juga tidak serta merta menyebut bahwa e-Commerce lah sebagai penyebab terjadinya penurunan di industri ritail kita. Karena, sebenarnya internet ini hanya sekadar sarana penunjang untuk membantu percepatan layanan informasi. Sedangkan penurunan, bahkan penutupan yang sebuah pusat perbelanjaan, itu karena department store tersebut tidak mau mempercantik diri, dan tidak bisa beradaptasi dan mengikuti perubahan selera pasar. Makanya, ditinggalkan konsumen.

Namun dengan sinyalemen yang watyutink.com sebutkan, untuk ukuran mal, mungkin masih belum berlaku. Karena, saat ini masyarakat itu sudah menjadikan mal sebagai gaya hidup, dan parameter ‘kekinian’ mereka. Kecuali, kalau mal tersebut tidak mau berbenah, merenovasi, dan mempercantik diri, ya pasti akan ditinggalkan juga oleh masyarakat.

Kalau kita berbicara fakta, justru beberapa mal mengalami kenaikan selama tahun 2016-2017. Seperti: Gandaria City, +20 persen; Kasablanka Mall, +18 persen; Mall Central Park, +14 persen; Plaza Indonesia, +12 persen; dan Pondok Indah Mall, +9 persen. Meski, juga ada beberapa mal yang mengalami penurunan, seperti: Metro Pasar Baru, -59 persen; Taman Palem Mall, -49 persen; Glodok Plaza, -34 persen; Mangga Dua Mall, -23 persen; dan ITC Roxy Mas, -17 persen.

Artinya, jika kita menyalahkan internet dengan kehadiran e-Commerce nya sebagai biang dari penurunan di industri ritel, itu sangat tidak relevan. Selain itu, jika disebutkan bahwa penurunan daya beli menyebabkan retail mengalami penurunan di semua sektor, itu juga tidak tepat. Saya kira ini hanya kelesuan industri retail saja akibat penurunan daya beli masyarakat. (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Ada yang mengatakan, bahwa yang terjadi saat ini bukanlah penurunan daya beli, melainkan pergeseran (shifting) dari toko ritel konvensional ke e-commerce. Indikatornya adalah: Pertama, pertumbuhan toko online yang pesat, hingga 17 persen dalam sepuluh tahun terakhir (Data BPS 2016), dengan platform jual-beli hingga usaha rumahan yang jumlahnya  mencapai 26,2 juta unit, seperti yang ditulis dalam sinopsis watyutink.com. Bisa juga jumlahnya lebih. Kedua, omset salah satu perusahaan e-commerce selama Lebaran lalu naik hingga 200 persen, dan sebuah perusahaan jasa pengiriman/logistik dikabarkan harus merekrut 500 karyawan baru untuk melayani tingginya pengiriman barang dari toko online selama Lebaran lalu. Jadi, menurut mereka yang berpendapat dengan teori shifting, hal ini adalah kewajaran. Di satu sisi, peritel konvensional mengalami kerugian dan penurunan, disisi lainnya, pemain e-commerce berkembang pesat dan meraup untung besar. Tapi benarkah e-Commerce penyebabnya?

Kalau mau jujur, sebenarnya munculnya e-commerce dan perubahan pola belanja generasi milenial yang disruptif dan melek digital, tidak bisa menggambarkan kondisi ekonomi secara nasional. Karena, porsi e-commerce di Indonesia terhadap total ritel nasional masih di bawah 1 persen.  Itu artinya, teori shifting tersebut tidak bisa dijadikan alasan penyebab turunnya penjualan ritel secara nasional.

Faktanya, kalau dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS), daya beli masyarakat memang menurun tajam sejak 3 tahun lalu. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga terus melambat, dari 5,15 persen di tahun 2014 menjadi 4,93 persen di tahun 2017. Tentu saja, bagi negara yang 57 persen kue ekonominya dibentuk dari sektor konsumsi, tentu tren penurunan tersebut berimbas secara signifkan pada sektor ritel yang menjual consumer goods, yang tentu pasti ikut turun.

Nah, kalau benar-benar mau mengamati, penyebab utama turunnya daya beli pada tiga tahun terakhir tersebut, salah satunya, karena era “Commodity Boom”.  Terutama kenaikan harga minyak berakhir disertai dengan turunnya perekonomian China sebagai mitra dagang terbesar Indonesia. Penurunan kinerja ekonomi secara global tersebut membuat ekonomi Indonesia terpukul.

Sementara, di sisi lain, Pemerintah ingin mengembalikan keadaan ekonomi dengan menggenjot pembangunan infrastruktur. Sayangnya obat yang diramu Pemerintah masih belum tokcer. Pembangunan infrastruktur berbeda dari era Soeharto dulu dalam hal penyerapan tenaga kerja. Karena saat ini teknologi konstruksi sudah canggih, maka tidak terlalu dibutuhkan banyak tenaga kerja.

Jadi, ratusan proyek infrastruktur yang dibuat Pemerintah saat ini, tidak sebanding dengan tenaga kerja yang diserap. Begitu pun dengan investasi yang masuk ke Indonesia makin padat modal dan padat teknologi ketimbang padat karya. Wajar apabila realisasi penyerapan tenaga kerja versi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menurun 141 ribu orang di semester I 2017 dibandingkan tahun sebelumnya. Kalau penyerapan tenaga kerjanya jelek, otomatis pendapatan masyarakat secara umum tidak bisa mengejar kenaikan harga. Belum lagi, pencabutan subsidi listrik memukul masyarakat dari sisi pengeluaran dari Januari hingga Juni.

Melihat realita penurunan daya beli tersebut, sebaiknya Pemerintah tidak lagi berdiskusi dan mencari berbagai macam kambing hitam, termasuk kepada e-Commerce. Melainkan bekerjasama dengan pelaku usaha merumuskan jalan keluar dari kesulitan saat ini. (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif pajak, daya sistem pajak yang paling rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan