Prospek Ekonomi dalam Industri 4.0
berita
Ekonomika
Sumber Foto :keuangan.co (gie/Watyutink.com) 04 May 2018 18:00
Penulis
Perkembangan teknologi digital dan pemanfaatan internet dalam segala hal (internet of things) membawa harapan akan meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada level yang jauh lebih tinggi dari  catatan yang pernah ditorehkan sebelumnya.

Riset terbaru yang dirilis oleh Microsoft dan IDC Asia/Pacific mengungkapkan, transformasi digital dapat melipatgandakan pendapatan di sektor manufaktur. Ada tambahan sekitar 387 miliar dolarAS atau sekitar Rp5.397 triliun dalam kurun waktu 5 tahun (2016-2021) pada produk domestik bruto (PDB) kawasan Asia Pasifik dimana Indonesia ada di dalamnya, yang diperkirakan akan mencapai  8.399 triliun dolar AS pada 2021.

Perbandingannya, jika tanpa transformasi digital pertumbuhan PDB diperkirakan sebesar 30,1 persen dari 1.856 triliun dolar AS pada 2016 menjadi 8.012 triliun dolar AS pada 2021. Dengan transformasi digital di sektor manufaktur maka akan ada tambahan 1 persen pada pertumbuhan ekonomi tiap tahunnya sehingga pada 2021  pertumbuhan PDB akan mencapai 8.399 dolar AS pada 2021. Pemerintah RI sendiri telah meluncurkan roadmap  dan strategi Indonesia untuk menerapkan revolusi industri jilid 4 yang diberi nama Making Indonesia 4.0 yang akan memberikan arah bagi pergerakan industri nasional di masa depan.

Industri 4.0 adalah sebuah evolusi dari tahapan industrialisasi sebelumnya. Dari era Industri 1.0  saat mekanisasi dimulai pada revolusi industri, lalu revolusi industri 2.0 dengan penggunaan ban berjalan, industri 3.0  yang mulai menggunakan komputer (driven by computer program) sampai fase 4.0 era robotik, penggunaan big data, digitalisasi, dan internet of things (IOT).

Mengutip riset McKinsey pada 2015, dampak revolusi industri 4.0 akan tiga ribu kali lebih besar dari revolusi industri 1.0. Pertanyaannya, betulkah Indonesia telah siap memasuki era industri 4.0? Apakah roadmap yang ada telah memperhitungkan gejala deindustrialisasi yang tengah terjadi? Lalu, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan industri nasional sebelum betul-betul siap dengan era industri 4.0?

Data BPS, PDB Indonesia pada 2017 mencapai Rp13.588,8 triliun dan PDB per kapita mencapai Rp51,89 juta atau 3.876,8 dolar AS dengan tingkat pertumbuhan sebesar 5,07 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya 5,03 persen.  Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor informasi dan komunikasi (infokom) sebesar 9,81 persen, dan ekspor barang dan jasa sebesar 9,09 persen. PDB sebesar Rp13.588,8 triliun setara 1.003 triliun dolar AS jika menggunakan kurs Rp13.548 per dolar AS. Meski pertumbuhan sektor manufaktur di bawah sektor infokom dan jasa, tetapi PDB Indonesia saat ini sudah di atas Belanda, Turki, maupun Swiss. Hal ini semakin mengukuhkan Indonesia sebagai negara dengan perekonomian terbesar di kawasan Asia Tenggara.  

Revolusi industri 4.0  diharapkan mampu mendorong perbaikan dan revitalisasi sektor manufaktur. Untuk penerapan awalnya, roadmap industri 4.0 bakal berfokus pada lima sektor manufaktur, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronik.

Salah satu sektor yang juga akan memasuki fase Industri 4.0 adalah sektor logistik yang di dalamnya ada supply chain management yang diharapkan dapat memuluskan implementasi industri 4.0 di Indonesia dalam hal efisiensi biaya, kecepatan produksi, dan akurasi data mengenai penawaran dan permintaan dalam perekonomian nasional. Tetapi, akankan berjalan semulus yang diharapkan?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(sar/jim)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Ketua Asosiasi Logistik Forwarding Indonesia (ALFI)

Tujuan akhir roadmap Industri 4.0 sektor logistik adalah produk-produk Indonesia mempunyai daya saing tinggi, pemasok di dalam negeri juga semakin baik, dan kita berharap biaya logistik Indonesia dalam 1-2 tahun ke depan bisa dibawah 20 persen.

Dukungan untuk industri 4.0 dari bidang logistik tanpa disadari sudah banyak perubahan. Tapi kita termasuk yang masih terlambat. Industry 4.0 ini adalah kegiatan industri tahap keempat, berjalan secara penuh di seluruh dunia dan menyentuh semua industri, termasuk di dalamnya logistik. Kita akan merekomendasikan kepada pemerintah hal-hal yang menjadi bottle neck, halangannya. Lagi-lagi di Indonesia kendalanya adalah masalah koordinasi. Di pihak swasta sudah banyak yang melakukan digitalisasi tetapi tidak akan lengkap jika tidak terkoneksi antara satu dan yang lain.

Indonesia terlambatnya di regulasi. Ini yang kita harus dorong, kira-kira apa yang menjadi hambatannya. Dari 16 paket deregulasi yang dikeluarkan pemerintah, 5 paket berkaitan langsung dengan logistic dan satu paket masalah e-commerce. Ini berarti dinilai sangat penting dan sudah membicarakan masalah platform, digitalisasi, tetapi dalam prakteknya tidak jalan.

Contoh sederhana adalah smart port di pelabuhan yang selama ini didorong oleh ALFI hingga saat ini realisasinya masih setengah-setengah. Ini baru dari sisi kapal ke operator. Kita harapkan ke pelaku logistiknya juga, ke pemilik barang. Ibaratnya, kalau menggunakan Go-Jek, kita pesan makanan tapi makanannya diambil sendiri.  Ini kan berarti belum tersistem dengan baik.  Ini yang kita dorong. Ke depannya ada tracking-nya, ada warehousing, siapa yang mau ikut mari bergabung bersama-sama. Dimanapun seperti di China, Taiwan dari sisi logisitik dan mata rantai pasoknya terintegrasi.  Jadi mulai dari petani hingga pengguna itu masuk dalam satu kesatuan sistem makanya bisa bernilai tinggi, termasuk juga monitoring.

Di Indonesia barang-barang yang mudah busuk (perishable) seperti buah-buahan dan sayuran, sebanyak 40 persen itu mati, layu, busuk sebelum sampai ke pasar. Ini artinya tidak tersistem dengan baik. Makanya kita dorong supaya harganya bisa tinggi di petani tetapi tidak mahal saat diterima masyarakat.  Sebanyak 40 persen produk yang mudah busuk ini rusak sebelum sampai ke konsumen, tidak terjual sehingga menjadi biaya (cost) dan dibebankan ke konsumen sehingga jadi mahal. Jadi bukan sekadar logistik tapi harus masuk ke dalam whole chain.

Di whole chain ini banyak produk-produk hasil bumi, hasil laut, buah-buahan yang sebenarnya punya daya saing ekspor dan pasar domestic. Coba kita lihat di market begitu banyak produk impor yang bisa masuk ke Indonesia. Sudah 10 tahun kita bicara masalah ongkos pengiriman jeruk dari Medan ke Jakarta mahal. Apa kita terus mau seperti itu.

Presiden mengeluh ekspor kita rendah, kalah oleh Vietnam, Thailand. Biaya logistik kita tahun lalu masih 23,7 persen. Dengan pembangunan infrastruktur yang massif pun hanya bisa menurunkan menjadi 21 persen, sementara Thailand dibawah 15 persen, Malaysia 13 persen. Kita berterima kasih kepada pemerintah yang berusaha keras menurunkan biaya logistik tapi kita masih jauh. Kita harus bekerja keras, seluruh stakeholder yakni pemerintah, swasta, dan industri. Kalau tidak, kita akan tertinggal lagi padahal 2020 sudah era industri 4.0.

Industri 4.0 bukan sekadar dibicarakan tetapi diimplementasikan. Masalah logistik melibatkan paling tidak empat kementerian yakni Kementerian Perhubungan untuk masalah moda transportasi, Kementerian Perdagangan menyangkut barang, Kementerian Perindustrian menyangkut masalah industri manufaktur, dan Kementerian Keuangan menyangkut bea cukai. Yang terjadi Kementerian Pertanian menyatakan beras cukup, akan ada panen tetapi impor juga, hal ini menunjukkan ada sistem yang tidak jalan. Di sini pentingnya digitalisasi sehingga data menjadi akurat.

Efisiensi bisa didapat kalau kita masuk ke dalam satu sistem yaitu salah satunya 4.0 ini. Dengan transparansi, kecepatan, ketepatan, monitor kontainer, pergerakan barang di laut, udara, maupun di kereta akan termonitor sehingga orang akan tahu dimana bottle neck-nya, hambatannya, apakah di pelaku usaha, apakah di perizinan oleh pemerintah. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wakil Ketua Asosiasi Logistik Indonesia

Pada negara tertentu Industri 4.0 dapat menambah efisiensi. Misalnya, dalam satu rangkaian produksi digunakan beberapa komputer di masing-masing bagian sehingga ada 10 set komputer. Sekarang 10 set komputer itu dimasukkan ke dalam server sehingga menghapus investasi untuk aset 10 set komputer tersebut.  Rangkaian proses produksi jadi sederhana, menjadi efisien, memotong biaya. SDM-nya dialihkan ke tempat lain yang membutuhkan skill yang lebih tinggi.

Industri otomotif saat ini sudah banyak menggunakan teknologi digital yang pengerjaannya tidak bisa dilakukan oleh manusia, namun ada bagian lain yang masih menggunakan manusia.

 Di Indonesia belum ada yang menjalankan industri 4.0. Kita baru mulai dan pemerintah baru mengeluarkan roadmap. Program kerjanya adalah menjadikan Indonesia siap untuk industri 4.0 (Making Indonesia 4.0). Roadmap ini difokuskan pada lima sektor manufaktur, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronik.

Efisiensi biaya produksi meningkatkan daya saing. Daya saing bagus bisa mengekspor. Selain itu, terjadi kecepatan produksi sehingga ada ekses kapasitas yang bisa diekspor, pola pikirnya harus seperti itu. Bukannya industri 4.0 akan mengurangi karyawan secara keseluruhan. Karyawan yang memiliki keahlian di industri 4.0 dapat berpindah ke usaha baru sehingga terjadi ekses kapasitas yang bisa diekspor seperti yang terjadi pada industri otomotif di China.

Pada 2020 platform industri 4.0 direncanakan sudah siap secara keseluruhan. Namun untuk dapat menerapkannya semua sarana dan prasarana pendukung harus siap, termasuk kebijakan pemerintah, infrastruktur dan SDM yang mengerti digitalisasi dan robotisasi.

Dalam masalah logistik, perusahaan lokal tidak dapat mengejar multinasional company yang memiliki dukungan finansial yang besar dan jaringan global yang luas karena mereka memiliki referensi global. Mereka masuk ke Indonesia karena mempunyai kontrak untuk masuk ke Indonesia.  Mereka mempunyai warehouse management system yang sangat mahal. Sekarang dengan adanya sistem cloud sharing, sewa, kita bisa mengalahkan mereka. Tinggal adu konsep dengan mereka. Karena perusahaan lokal mengetahui jengkal demi jengkal bumi Indonesia membuat kita bisa bersaing dengan mereka. Ini berkat adanya teknologi. Tidak perlu memiliki server yang mahal, karena sudah ada cloud computing, warehouse sharing.

Supply chain enabler for 4.0  yakni supply chain memungkinkan terjadinya 4.0. Persaingan di sektor industri ada di supply chain, mulai dari sumber daya, pembuatan, hingga pengiriman (resources, making, delivery).  Ini merupakan tiga point kegiatan supply chain. Logistik adalah pemungkin terjadinya supply chain.  Ia adalah pergerakan fisiknya, sementara supply chain adalah pergerakan perencanaan. Ada planning, ada desain di dalamnya. Eksekusinya ada di kegiatan logistik. Ini yang membedakan supply chain dan logistik. Demand bisa diciptakan. Dulu ojek pangkalan hanya duduk duduk menunggu order. Sekarang dengan adanya ojek online, orang jadi ingin pergi kemana-mana dengan mudah. Dulu kalau mau kemana mana harus tunggu bus, angkot. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar