Penguatan Rupiah dan Stagnasi Petumbuhan
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 29 November 2018 17:30
Penulis
Menguatnya kembali mata uang rupiah atas dolar AS hingga menyentuh level Rp14.500 an per dolar AS, selain menimbulkan kekaguman atas kinerja Bank Indonesia (BI), juga memunculkan sederet pertanyaan. 

Pertanyaan yang muncul terkait asal usul mengapa nilai mata uang rupiah bisa menguat demikian cepat. Analisa yang dilakukan tentu bukan sebatas spekulasi mengenai penguatan rupiah akibat kemenangan Partai Demokrat Amerika pada pemilu sela yang baru lalu, tapi juga menyangkut kebijakan menjual Surat Berharga Negara (SBN) untuk mendapatkan capital inflow dari investor portofolio. 

Besarnya modal asing yang masuk melalui instrumen SBN/Obligasi yang diterbitkan pemerintah, ditengarai menjadi sebab paling besar dari menguatnya kembali mata uang rupiah atas dolar AS. 

Tercatat, sampai dengan November 2018 modal asing yang masuk secara kumulatif mencapai Rp42,6 triliun lewat instrumen SBN. BI juga mencatat, instrumen saham juga mulai dialiri modal asing sebesar Rp5,5 triliun.

Sebelumnya, pada periode (29/10) hingga (7/11) terdapat aliran masuk ke Indonesia melalui SBN sebesar Rp18,1 triiun dan pada (29/10) hingga (5/11) tercatat aliran masuk melalui saham mencapai Rp2,07 triliun.

Apakah masuknya banyak aliran modal asing portofolio tersebut menyiratkan bahwa ekonomi Indonesia telah berangsur pulih? BI sendiri menyebutkan, bahwa itu adalah sinyal dari kepercayaan investor asing terhadap Indonesia yang mulai meningkat. Tercermin dari pelepasan mata uang dolar AS oleh investor dan bank. 

Namun pengamat ekonomi Salamudin Daeng menilai, penguatan rupiah tidak hanya terhadap mata uang dolar AS saja, tetapi juga terhadap mata uang negara lain seperti dolar Singapura, Euro, Poundsterling dan dolar Australia. Tak pelak, penguatan yang sedemikian “super” dari rupiah menimbulkan berbagai spekulasi. 

Salamudin menyebutkan, modal asing yang masuk ke Indonesia memang berasal dari surat berharga yang diterbitkan pemerintah dan terdiri dari berbagai obligasi diantaranya global bond PT Pertamina sebesar 11,5 miliar dolar AS, PT PLN dengan obligasi senilai 1 miliar dolar AS dan 500 juta Euro dan beberapa obligasi lain. 

Juga, penerbitan SBN dengan coupon rate 11,625 persen senilai 2 miliar dolar AS (Rp30 triliun), yang merupakan surat utang negara dengan bunga paling besar selama ini. Salamudin menengarai, bahwa diterbitkannya surat utang berbunga tinggi tersebut diduga karena pemerintah terdesak karena harus membayar utang jatuh tempo sebesar Rp810 triliun periode 2018-2019.

Apakah tren penguatan mata uang rupiah akan berkelanjutan? Apakah penguatan tersebut akan berpengaruh pada perbaikan iklim investasi dan pertumbuhan kredit yang semakin baik tahun depan? Jika merupakan sinyal dari perbaikan ekonomi, apakah itu berarti Indonesia akan dapat lepas dari “kutukan” stagnasi pertumbuhan ekonomi yang hanya 5 persen-an? 

Lepas dari stagnasi angka pertumbuhan ekonomi, agaknya merupakan “PR” besar bagi semua pengambil kebijakan ekonomi. Jika penguatan rupiah akan berdampak positif bagi perekonomian dan berhasil meningkatkan gairah investasi (FDI) dan pertumbuhan kredit, maka tentu menjadi harapan semua pihak. 

Namun, bisakah pertumbuhan kredit (dan investasi) akan membaik jika kebijakan kenaikan suku bunga kredit terus dipertahankan? Padahal, hal itu justru akan memperpanjang stagnasi pertumbuhan (pro-siklikal)?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Sebenarnya hampir semua mata uang non dolar AS menguat. Hal itu lebih karena sentimen pada mata uang dolar AS yang cenderung melemah. Di samping itu, memang betul rupiah menguat secara cukup signifikan. Termasuk yang paling tinggi penguatannya di antara mata uang yang lain.

Di lain hal, pada waktu rupiah melemah juga mengalami pelemahan yang lumayan dalam. Artinya, waktu melemah dulu, sebetulnya tidak didukung oleh faktor fundamental dan  bisa melemah ke level Rp15,200. Jadi kalau rupiah melemah sampai di atas Rp14,800 itu sudah overshooting atau kebablasan. Melemahnya tidak didukung oleh sisi fundamental.  

Nilai rupiah kita tidak melesat terlalu tinggi karena di awal tahun lalu rupiah berada di level Rp13,300 kemudian melemah sampai Rp15,200. Kita masih punya ruang yang cukup baik, tapi kita tidak bisa menghitung berapa level fundamental kita. Penentuan nilai rupiah itu tidak semata-mata demand supply tapi juga ada sentimen, itu yang tidak bisa diukur seberapa besar sentimennya.

Kalau dari sisi teoritis memang ada justifiksinya. Ada yang disebut real effective exchange rate, itu patokannya. Rupiah itu undervalue 10 persen dari nilai yang semestinya. Jadi kalau rupiah sekarang ada di level Rp14,500 per dolar AS--dan kita masih undervalue mungkin 8 persen--maka posisi rupiah sebenarnya Rp13,400. Itu masih bisa diterima secara teoritis menurut Real Effective Exchange Rate (REER).

Kalau bicara menurut selisih inflasi Indonesia, rupiah itu melemah hanya 1 persen karena Amerika inflasinya sekitar 2 persen dan Indonesia ada di 3 persen. Itu lagi-lagi teoritis menurut perbedaan inflasi.

Kalau dari sisi perbedaan suku bunga, BI ada di 6 persen dan The Fed di 2,25 persen, maka depresiasi rupiah yang wajar mestinya 4 persen. Kalau kita mengawali dari Rp13,300 per dolar AS di awal tahun lalu dengan depresiasi 4 persen, maka mestinya pelemahan--secara teoritis lagi-- ada di Rp13,800 per dolar AS.

Jadi secara teoritis saat ini sebenarnya rupiah berpotensi masih bisa menguat lagi.

Masuknya portofolio asing memang membantu, pertama, akan menambah devisa karena akan ditukar ke rupiah. Kemudian mereka belikan aset di Indonesia baik dalam bentuk obligasi maupun saham. Itu betul akan membantu penguatan rupiah. Kenapa mereka masuk, karena mereka melihat komitmen Bank Indonesia (BI) melakukan kebijakan yang konsisten. Artinya memang BI fokus di situ atau stabilisasi di rupiah.

Kosistensi kebijakan itulah yang direspon positif oleh asing. Konsistensi BI dalam melakukan kebijakan itulah yang diapresiasi oleh investor sehingga investor merasa cukup nyaman untuk masuk sekarang.

Kalau investor masuk sekarang dengan posisi di level Rp14,500 maka investor akan mendapat banyak rupiah untuk kemudian membeli aset di Indonesia.

Satu hal lagi, penguatan rupiah juga terbantu secara signifikan oleh komentar Gubernur Bank Sentral Amerika bahwa bunga “just below” dan kemungkinan besar kenaikan sukubunga The fed akan naik tidak terlalu banyak pada 2019. Itu membuat potensi mata uang dolar AS melemah belanjut dan rupiah menjadi menguat.

Implikasi untuk Indonesia yang harus diwaspadai, pertama, ketika rupiah menguat, ada semacam keyakinan bagi pelaku usaha untuk berproduksi lebih banyak. Kalau dia berproduksi lebih banyak, masalahnya bahan baku kita lebih banyak diimpor. Sehingga ketika rupiah menguat impor akan cenderung naik. Jika impor naik maka rupiah akan melemah lagi karena butuh valas lebih banyak.

Kedua, dari sisi positif ekonomi kita akan relatif lebih murah. artinya barang-barang yang diproduksi dengan rupiah yang menguat akan menjadi cukup murah dari segi biaya produksi. Akhirnya harga barang di dalam negeri bisa jadi lebih murah.

Implikasi ke makro, inflasi akan lebih terkendali karena tidak ada tekanan. Ditambah harga minyak mentah dunia sedang turun. Jadi ketika rupiah menguat dan harga minyak dunia turun maka hal itu jadi sesuatu yang baik karena tidak perlu mengimpor minyak mentah dengan jumlah dolar AS yang lebih besar. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Terkait penguatan rupiah dimana banyak mata uang dolar AS masuk melalui instrumen SBN, hal itu merupakan cara yang instan untuk mendapatkan dolar AS. Memang tidak mudah jika misalnya investor asing tidak percaya. Dengan bunga SBN yang cukup tinggi, hal itu menjadi daya tarik tersendiri bagi investor asing untuk menanamkan investasi portofolionya di Indonesia.

Impact-nya memang jangka pendek bagi penguatan rupiah. Namun, kalau hasil “utangan” ini tidak bisa dikelola dengan baik untuk meningkatkan hal-hal produktif seperti menggairahkan kembali sektor riil, iklim usaha makin kondusif dan juga meningkatkan investasi direct dan juga pertumbuhan kredit, maka investasi portofolio itu akan menjadi percuma.

Jumlah perolehan penjualan surat berharga yang sekian puluh triliun itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebangkitan kembali sektor riil. Karena bagaimanapun juga, cara untuk mendapatkan dolar AS yang baik dan sehat adalah dengan melakukan ekspor. Baik ekspor barang maupun jasa.

Pertanyaannya, kalau tidak ada produk barang yang berdaya saing untuk dieskspor, lalu apa yang akan diekspor?  

Oleh karenanya harus dibuat dulu produk-produk manufaktur yang berdaya saing. Untuk membangun produk manufaktur yang kompetitif dibutuhkan iklim usaha yang kondusif. Masalah-masalah yang selama ini menjadi penghambat bagi pertumbuhan industri harus dihilangkan terlebih dahulu.

Akan sangat percuma jika perolehan dari portofolio investment ini tidak bisa dimanfaatkan alias percuma, bahkan akan kembali menjadi beban perekonomian karena otomatis utang harus dibayar dan bunga pinjaman akan makin besar. Jika itu yang terjadi maka nilai rupiah bisa jadi akan melorot lagi.

Untuk upaya jangka pendek, penerbitan SBN itu memang relevan dilakukan, tapi jangan lupa setelah ini “PR” nya lebih berat. Yakni bagaimana bisa meningkatkan sektor riil supaya dapat menghasilkan devisa yang lebih sustain.

Selain ekspor barang maupun jasa, sektor pariwisata (ecowisata) juga menjadi salahsatu prospek yang harus ditingkatkan. Tinggal lagi sekarang bagaimana destinasi-destinasi wisata yang ada ditingkatkan pengelolaannya agar bisa menarik wisatawan mancanegara ke Indonesia, yang otomatis akan mendatangkan devisa.

Sebaiknya mulai diidentifikasi sektor-sektor apa saja yang bisa menghasilkan devisa dan harus segera digarap serius agar dapat didayagunakan untuk mendapatkan pemasukan negara.

Kita tidak bisa terus menerus mengandalkan investasi portofolio dengan bunga yang tinggi karena akan punya konsekwensi tersendiri dalam jangka menengah dan jangka panjang.

Kenaikan nilai rupiah memang diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan investasi dan kredit, tetapi memang, di tengah kebijakan sukubunga yang tinggi 6 persen seperti sekarang, sebaiknya ada skema-skema khusus yang dibangun untuk mendorong gairah berusaha dan berinvestasi bagi pelaku usaha. Itu bisa dilakukan misalnya dengan memberikan insentif fiskal dan insentif ekspor untuk kredit investasi dan modal kerja sektor manufaktur. Juga  dengan memberikan subsidi bunga kepada debitur dalam rangka meningkatkan ekspor. Atau insentif-insentif fiskal lainnya yang bisa membantu sektor riil secara umum agar industri kita bisa menghasilkan produk-produk yang berdaya saing. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia

Di tengah pesimisme yang melingkupi hampir semua pelaku ekonomi sejak awal tahun, nilai tukar rupiah tanpa disangka selama tiga minggu terakhir mengalami penguatan yang drastis. Pada awal November nilai rupiah masih  di level Rp15.200 per dolar AS. Hari ini, 29 November, rupiah sudah berada di level Rp14.350 per dolar AS, atau menguat besar kurang lebih 5,6 persen. Penguatan yang begitu besar dan tiba-tiba menimbulkan banyak pertanyaan. Apa yang menyebabkan rupiah bisa menguat begitu besar dan begitu cepat? Apakah penguatan ini mengindikasikan adanya perbaikan di struktur ekonomi? Apakah akan sustain?

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab penguatan rupiah selama tiga minggu terakhir. Faktor-faktor tersebut bisa kita kelompokkan menjadi dua. Pertama, yang kita sebut faktor-faktor pendorong (push factors) yaitu berupa sentimen negatif atas kondisi perekonomian Amerika. Kita ketahui bahwa seiring meningkatnya intensitas perang dagang AS vs China pertumbuhan ekonomi AS justru mengalami perlambatan. Perlambatan pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan akan direspons oleh The Fed dengan menunda kenaikan suku bunga. Perkiraan ini semakin diperkuat dengan adanya sinyal Gubernur the Fed baru-baru ini untuk tidak menaikkan suku bunga acuan the Fed pada Desember yang akan datang. Perlambatan pertumbuhan AS ditambah penundaan suku bunga the Fed membuat para investor global mulai mengalihkan dana investasinya ke negara-negara yang dianggap memiliki prospek keuntungan terbesar ke depan.

Kedua, faktor-faktor yang menarik masuknya aliran investasi ke Indonesia atau disebut pull factors. Di saat investor asing berniat mengalihkan investasinya, beberapa indikator ekonomi Indonesia menunjukkan prospek keuntungan yang menarik bagi investor. Prospek keuntungan ini ditunjukkan oleh yield SBN yang sudah demikian tinggi dipicu oleh kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 175 bps sejak Mei yang lalu, serta harga saham yang sudah demikian murah (diindikasikan oleh PER yang rendah). Prospek investasi di Indonesia diperkuat oleh trend penurunan harga minyak selama sebulan terakhir. Penurunan harga minyak diyakini akan memperkuat neraca perdagangan sekaligus mengurangi beban APBN.

Kombinasi push factors dan full factors di atas menyebabkan aliran modal asing dalam bentuk portfolio mengalir deras ke Indonesia dan mendorong penguatan rupiah secara drastic dan cepat.

Namun demikian, penguatan rupiah tersebut bisa dipastikan rentan dan sewaktu-waktu Rupiah bisa kembali melemah. Aliran modal asing dalam bentuk portfolio atau lebih sering disebut sebagai hot money sangat rentan terhadap isu global dan domestik. Pembalikan secara tiba-tiba (sudden revearsal) bisa terjadi sewaktu-waktu dan bila itu terjadi Rupiah akan kembali terpuruk.

Untuk mendapatkan penguatan rupiah yang stabil dan berkelanjutan diperlukan perbaikan di struktur ekonomi kita khususnya di struktur pembiayaan. Saat ini pembiayaan perekonomian kita didominasi oleh utang luar negeri baik oleh pemerintah maupun swasta. Sekitar 40 persen utang pemerintah adalah utang luar negeri. Sementara jumlah utang LN swasta sudah sama besarnya dengan utang luar negeri pemerintah. Di pasar surat berharga, sekitar  40 persen SBN dan saham dimiliki asing. Oleh karena itu wajar bila Rupiah sangat rentan terhadap pergerakan pemodal asing.

Selama persoalan struktur pembiayaan ini masih belum diperbaiki, siapapun rezim yang berkuasa, rupiah masih akan rentan terhadap dolar. Perbaikan struktural ekonomi harus dimulai. Pemenang Pemilu 2019 hendaknya menjadikan ini sebagai prioritas. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan