Pelemahan Rupiah dan Upaya Merayu ‘Samurai’ Jepang
berita
Ekonomika
Sumber Foto : ekbis.sindonews.com (gie/watyutink.com) 27 August 2018 15:00
Penulis
Salah satu upaya otoritas moneter/keuangan Indonesia untuk menutup defisit neraca transaksi berjalan dan defisit APBN adalah mengadakan pendekatan kepada kalangan investor dan analis pasar keuangan Jepang. Pendekatan itu dilakukan agar investor Jepang mau menanamkan lebih banyak investasi langsung dan investasi portofolio di Indonesia. Diharapkan dengan masuknya kembali banyak investasi asing--langsung ataupun portofolio--akan dapat membantu memperbaiki struktur perekonomian Indonesia.

Jepang, meski kini tercatat sebagai investor nomor 2 terbesar di Indonesia setelah Singapura, merupakan negara yang secara ‘tradisional’ memainkan perannya dalam perekonomian Indonesia. Sejak dimulainya orde baru, Jepang, Amerika Serikat (AS) dan negara industri maju lainnya memulai sebuah era yang menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai kiblat utama dari pembangunan ekonomi Indonesia. Industri manufaktur pun dibangun di berbagai kawasan industri dan secara kebetulan banyak diisi oleh investasi langsung Jepang dan AS.
 
Meski kemudian menimbulkan beberapa protes dalam negeri akibat faktor ketimpangan yang melebar, tetapi Jepang telah menjadi ‘trademark’ tersendiri pada perekonomian Indonesia. Oleh karena itulah, meski menduduki posisi papan atas investor di Indonesia, investasi langsung dan portofolio Jepang yang lebih signifikan di Indonesia mungkin dianggap dapat menjadi faktor ‘lucky’. Benarkah demikian?

Hal yang perlu menjadi perhatian adalah, industri pasar modal sangat sensitif terhadap isu-isu ekonomi, politik, keamanan domestik ataupun global. Sensitivitasnya dapat secara langsung mempengaruhi iklim investasi. Terlebih pasar keuangan Jepang sangat kritis dan amat peka terhadap informasi keuangan yang terjadi. Itukah sebabnya, akibat krisis ekonomi global saat ini arus capital outflow yang keluar Indonesia begitu deras, hingga mencapai Rp48,9 triliun sejak awal 2018 hingga (30/7)? Apakah investor Jepang juga turut melarikan dananya ke luar negeri? Padahal, tahun lalu Indonesia baru saja mendapat predikat investment grade dari lembaga pemeringkat S&P, yang diharapkan dapat lebih menarik investor Jepang ke Indonesia.

Sampai saat ini, rupiah memang terus tertekan. Pada Jumat (24/8) lalu rupiah melemah 0,08 persen di pasar spot antar bank menjadi Rp14.649 per dolar AS. Diduga, pelemahan terus terjadi karena perang dagang AS-China masih terus berlangsung ditambah indikasi kenaikan kembali suku bunga the fed 2 kali lagi tahun ini.

Padahal, BI dan pemerintah sudah ‘berjibaku’ total, antara lain menghidupkan lagi SBI (Sertifikat Bank Indonesia) tenor 9 dan 12 bulan, menyerukan menarik DHE (dana hasil ekspor) di luar negeri, mendorong sektor pariwisata, menambah utang valuta asing, sampai merevisi ketentuan harga batubara untuk wajib pasok pasar lokal atau Domestic Market Obligation (DMO) yang diperkirakan mendatangkan devisa sebesar 5 miliar dolar AS per tahun.   

Meski tercatat ada dana masuk lewat SBN, pertanyaannya, apakah cukup mampu untuk meredam derasnya aliran capital outflow yang mempengaruhi fluktuasi rupiah? Apakah pendekatan yang dilakukan terhadap Jepang dapat mengembalikan kepercayaan investor dan pasar keuangan Jepang pada investasi (PMA) dan  portofolio di Indonesia? Skenario apa yang harus dilakukan apabila upaya tersebut belum membuahkan hasil, sedang gejolak ekonomi dunia terus saja berlangsung?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Informasi tentang volume perdagangan valutas dengan London sebagai puncak forex trading di atas New York. Jadi kita tidak bisa berpretensi jadi superman kalau kondisi kita ya memang belum superman.

Pada masa diplomasi dan negosiasi dengan Belanda, Franklin Graham, utusan khusus AS yang ditunjuk PBB jadi ketua mediator Komisi Tiga Negara menyatakan dengan gamblang kepada PM Syahrir, “You are what you are”, Anda adalah Anda dalam realitas. Kalau RI memang waktu itu hanya "de facto" menduduki Jawa Sumatera, ya harus mengakui itu sebab daerah lain sudah dikuasai NICA kembali. Average daily forex turnover in London stood at $2.73 trillion in April, up 15 percent from six months ago, with swaps trading up 18 percent in that period versus an 8 percent rise in cash trading volumes.

Nah sekarang yang jadi soal adalah kenapa waktu itu dalam perundingan KMB, RI rela mengakui utang 1,2 miliar dolar AS, warisan Hindia Belanda. Karena Graham menjanjikan akan menggelontorkan bantuan AS ke Indonesia. Ternyata cuma dikasih kredit export untuk Semen Gresik dan Pusri. Jadi Indonesia adalah satu-satunya negara jajahan yang dibebani membayar utang bekas penjajahnya. Across the Atlantic, daily currency volumes averaged $993.55 billion in April, up percent from a year ago, the New York Fed said.

Nah sekarang ini ya kita harus melihat Indonesia itu punya potensi kekayaan, tapi " memble" dalam mengelola karena "terus menerus dikibuli" seperti waktu KMB itu.  Bagaimana caranya deal dengan negara kaya dan maju itu secara canggih, supaya kita menikmati arus dana investasi, dijadikan sasaran investasi dan jadi lahan produksi untuk ekspor ke pasar global. Ini harus dijual oleh siapapun capres nya.

Jadi kalau ada yang teriak-teriak go to hell, nasionalisme dan sebagainya,  sebetulnya sudah ketinggalan zaman. Sebab, dunia semua berteriak perlu investasi, meski retorika sok bicara nasionalisme retorik gaya jurkam yang kosong melompong tidak punya data dan informasi. Diplomasi itu soal give and take, quid pro quo tit for tat.

Singapura menjadi terkenal karena jadi tuan rumah KTT Trump-Kim Jong Un. Indonesia juga bakal jadi tuan rumah Sidang Gabungan Bank Dunia IMF, tapi malah dikritik tanpa mengerti substansinya. Sidang itu bakal jadi putusan restrukturisasi pemegang saham Bank Dunia-IMF, dimana RI berpeluang naik kelas dan naik quota sahamnya jadi pengendali 10 besar. Ini yang harus diperjuangkan bukan malah kritik soal EP tetek-bengek. Jadi EO itu otomatis akan kedatangan devisa wisatawan yang spendingnya besar itu.

Yang jadi soal besar itu kita sebagai pemegang saham World Bank-IMF, dapat apa, bisa apa dengan posisi itu. Ini yang harus di lobby, bukan malah sibuk soal biaya "hajatan" WB-IMF. Indonesia Inc. punya dana bukan cuma government atau negara atau BUMN, rakyat Indonesia, juga punya aset.

Nah kalau kita kerjanya cuma saling sentimen, saling oposisi kritik tanpa pernah mau memanfaatkan aset Indonesia secara optimal, ya itu kedunguan kita sendiri. Jangan salahkan orang lain.

Kalau Trump invest kesana kemari, tapi ke Asean cuma bawa 300 juta dolar AS. Mau memanfaatkan Indo Pacific, ketimbang OBOR miliaran dollar, karena isu anti AS, anti Beijing, anti sara global macam-macam, ya Indonesia tidak akan kemana mana. Medioker saja. You are what you are.

150 orang kaliber Trump harus digerakkan sebagai aset Indonesia Inc. Sama-sama meningkatkan kelas harkat martabat Indonesia dalam percaturan ekonomi bisnis internasional. Kalau terus saling sikat sikut zero sum game, penguasa petahana diganti oposisi saling ganti kursi tapi tidak menambah kemakmuran, sebab cuma saling gonta ganti kursi dan saling kuasai aset "atas nama negara" tapi zero sum game, tidak akumulatif  berkelanjutan. Itu problemnya: you are what you are.(pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Sebenarnya Jepang masih melihat Indonesia sebagai partner strategis. Indonesia juga tentunya memandang Jepang tidak hanya partner strategis, tapi tradisional. Jepang itu memang tipikal yang sangat berhitung dan berhati-hati. Jadi tidak due date untuk mengambil keputusan, itu bisa sangat panjang. Sementara ini memang masih cukup stagnan karena memang belum ada peningkatan yang cukup signifikan dari sisi environment investasi domestik.

Kalau kita bicara investasi, sekarang banyak investasi Jepang yang masuk tidak hanya ke Indonesia tapi juga menyebar ke Thailand, Vietnam, yang mana salah satu point utamanya adalah karena memang masalah infrastruktur yang ada di sana. Juga masalah ketenagakerjaan dan proporsi industri dimana mereka—dibandingkan kita--cukup agresif.

Dalam konteks investasi itu, meski masih cukup tinggi, tetapi itu tadi, sekarang sudah ada yang namanya perpindahan investasi dari Indonesia ke negara-negara ASEAN yang lain.

Untuk capital outflow terutama FDI (Foreign Direct Investment) sendiri tentunya tidak semudah itu untuk outflow. Yang lebih banyak memang portofolio investment dimana mayoritas investor kita disini memang masih dalam bentuk FDI, dan ini kelihatannya masih cukup baik. Dan dalam konteks itu sebenarnya ketakutannya adalah dari segi environment domestik, dimana kalau kita lihat soal tenaga kerja dan juga iklim investasi yang kecenderungannya tidak betul-betul signifikan membaik. Hal itu yang membuat negara-negara seperti Jepang mungkin tidak akan tertarik melakukan investasi baru.

Meskipun sudah on the right track kalau kita bicara ihwal investment grade. Secara rating investasi, dengan mendapatkan investment grade bagi Indonesia itu tentunya sudah cukup baik. Juga berbicara mengenai pengelolaan perbankan, moneter dan fiskal dalam negeri juga sudah cukup baik. Tapi memang kita masih cukup butuh waktu ketika berbicara ihwal performance industri. Itu yang menjadi persoalan bagi Jepang di sini. Belum lagi kalau kita bicara mengenai keinginan Jepang. Jepang itu menginginkan infrastruktur dibangun di Pulau Jawa, bukan di luar Jawa. Alasannya, karena  return yang paling menarik adalah di Pulau Jawa. Ekosistem investasi sudah cukup terbangun di Pulau Jawa. Jadi sekarang kita bersilancar diantara kepentingan Jepang itu dan kepentingan populisme pemerintah.

Jalan keluarnya mungkin bisa dengan mekanisme cross subsidi. Kita membangun infrastruktur di Jawa lalu return nya sebagian digunakan untuk membangun infrastruktur di luar Jawa untuk aksi pemerataan.

Selanjutnya kalau kita bicara ihwal tekanan eksternal terhadap moneter kita memang masih cukup besar khususnya dengan masih adanya rencana kenaikan sukubunga ‘the fed’. Tapi apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dan Bank Indonesia dalam konteks ini sudah on the right track. Seperti halnya pemerintah ingin mengurangi defisit dengan memperlambat pembangunan infrastruktur. Selain menaikkan suku bunga Indonesia juga sudah melakukan pendalaman pasar dan inovasi-inovasi finansial lainnya seperti pemberian fasilitas SWAP.  

Hal hal tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi tekanan terhadap rupiah. Tapi sebetulnya yang paling besar concern nya adalah pada Current Account Defisit (CAD) dibandingkan dengan kenaikan sukubunga ‘the fed’. Kenaikan sukubunga ‘the fed’ sebenarnya saat ini sudah di perss-in oleh market. Jadi elastisitasnya terhadap laju depresiasi di emerging market sudah semakin kecil, karena sudah di press-in. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Sebetulnya investasi portofolio Jepang itu biasanya lewat samurai bond di pasar saham. Namun kalau pemerintah ingin Jepang lebih signifikan dalam penanaman investasi portofolionya di Indonesia, maka itu harus ada semacam guarantee dari pemerintah Jepang. Beberapa waktu lalu Indonesia pernah menawarkan samurai bond yang tidak menggunakan guarantee atau jaminan. Cuma lalu saya tidak mendapatkan informasi responnya bagaimana. Karena memang betul, masyarakat Jepang itu sangat hati-hati, sehingga kalau tidak ada jaminan memang susah. Barangkali itu yang harus ditembus dulu oleh pemerintah kita untuk mendapatkan semacam kesepakatan bilateral (guarantee letter) untuk bisa memberikan jaminan kepada pemerintah Indonesia agar bisa menjual lebih banyak samurai bond, dan itu harus disupport oleh pemerintah Jepang. Kalau tidak, maka agak susah.

Kalau tidak bisa memberikan guarantee letter maka pemerintah sepertinya harus menambah kupon atau menambah imbal hasil (yield). Artinya dengan memberi insentif dengan menambah kupon dengan nilai lebih tinggi misalnya sampai di atas 50 basis point di atas guarantee untuk daya tariknya. Tetapi itupun belum menjamin bahwa itu akan diminati karena memang masyarakat Jepang itu sangat hati-hati. Hal yang sama, mereka sekarang juga menabung cukup tinggi walaupun bunga relatif rendah, Itu tidak membuat mereka tidak menabung. Karena bagi mereka investasi tetap, tetapi yang dipilih tetap investasi yang sangat rendah resikonya (secure). Jadi pertama yang dilihat rating kita dulu, kalau rating kita belum masuk, maka kemudian kita harus punya jaminan dari pemerintah jepang.

Bisa juga pemerintah Indonesia menjual bond ke bank sentral Jepang. Bank sentral Jepang juga banyak membeli obligasi kita. Hal itu bisa dilakukan dengan cara kita mendatangi investor di sana yaitu bank sentral di Jepang untuk membeli obligasi kita. Kita memang mengalami defisit, maka karena itu kita hutang. Tapi itu tidak berarti mudah juga untuk menjual obligasi kita kesana.

Sekarang ini kita memang mengalami dilema. BI sudah menaikkan sukubunga sampai 5,5 persen tetapi selalu kita lihat, setiap kali ‘the fed’ mau menaikkan bunga maka saat itu juga dolar AS menguat, sehingga sepertinya bagi BI agak sulilt untuk tidak mengikuti. Mungkin untuk yang September 2018 ini jika rupiah kita bisa cukup stabil di Rp14.500 per dolar AS, maka BI bisa menahan diri untuk tidak perlu dulu menaikkan sukubunga. Alternatif nya memang menggunakan cadangan devisa, menaikkan sukubunga atau menarik/mengurangi rupiah dari pasar. Itu juga bisa dilakukan. Misalnya Bi menjual SBI nya dengan lebih banyak atau juga BI menjual obligasi pemerintah yang dia miliki dengan lebih banyak. Hal itu supaya BI dapat uang rupiah lebih banyak. Kalau BI dapat banyak rupiah maka nilai mata uang rupiah bisa agak menguat.

Memang yang tidak bisa kita antisipasi itu kalau ada isu-isu eksternal yang datang tiba-tiba. Itu selalu terjadi. Faktor yang membuat rupiah sekarang melemah itu lebih karena faktor eksternal.

Ihwal DHE (devisa hasil ekspor), kalau pemerintah memberikan insentif-insentif mungkin bisa lebih cepat dari semestinya. Kalaupun saat ini peraturannya tidak ada holding barriers dan juga datangnya boleh 6 bulan lagi, maka aturan yang ada itu mestinya diperbaiki dengan arus masuk yang lebih awal atau lebih cepat dari 6 bulan. Sementara ada holding barriers juga. Kalau tidak, agak susah mengharapkan DHE cepat masuk karena kalau kita bicara nasionalisme dengan pengusaha-pengusaha itu seperti bicara dengan tembok. Artinya mereka menggali produksi dari dalam negeri tapi tidak membawa uangnya masuk. Presiden sendiri sudah menghimbau agar eksportir memasukkan hasil ekspornya, tetapi jika tidak ada reward and punishment nya maka agak susah. Semestinya ada reward and punishment. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Simpan dulu keyakinan bahwa investor Jepang bisa dirayu agar bersemangat masuk ke Indonesia. Mereka adalah investor yang sangat berhati-hati, dan paham betul bahwa masalah ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia adalah akibat ulah sendiri.  

Mereka sekarang selalu waspada bahwa di Indonesia banyak jebakan yang bisa membuat mereka rugi besar. Rekam jejak sebagai investor dan kreditur terbesar tak lagi berarti. Mereka bisa disingkirkan begitu saja karena hadirnya sahabat baru pemerintah: China. 

Mereka sadar betul bahwa hubungan Indonesia-Jepang saat ini berada di tingkat terendah. Ulang tahun ke 60 hubungan diplomatik Indonesia-Jepang yang jatuh pada tahun ini seolah tak lagi memiliki arti penting. 

Kini mereka bersikap wait and see perekonomian Indonesia yang sedang gonjang-ganjing akibat defisit neraca pembayaran yang membuat nilai rupiah kian loyo. 

Mereka paham betul kenapa sampai sekarang pemerintah belum mengayunkan langkah konkrit untuk mengatasi hal tersebut meski cadangan devisa merosot cepat, sementara pelarian modal kian menjadi-jadi. Ada banyak kepentingan pribadi di kalangan elite politik, baik di pemerintahan maupun lembaga legislatif.

Melakukan kebijakan uang ketat dengan membekukan atau membatalkan sebagian proyek pembangunan infrastruktur nyaris tak mungkin. Ada banyak pebisnis besar di kabinet dan parpol besar, yang bisa rugi bila kebijakan tersebut dilaksanakan. 

Mungkin para investor dari negeri samurai itu merasa geli ketika para petinggi politik menuding faktor internasional sebagai biang kerok, dan membandingkan nilai rupiah dengan mata uang negara lain yang juga sedang loyo.

Mereka tahu semua itu cuma muslihat untuk meyakinkan rakyat bahwa seolah pemerintah tak membuat kesalahan. Seolah semua pembangunan direncanakan dengan baik, dan kebocoran bisa ditekan habis-habisan. 

Sesungguhnya apa yang terjadi sekarang sudah cukup lama digelisahkan oleh para investor, tak hanya yang dari Jepang tapi juga dari negara-negara maju lain. Kegelisahan mereka bersumber dari kenyataan bahwa pemerintah giat berburu utang berbunga tinggi, sementara pembangunan infrastruktur dijalankan dengan melanggar prisip kehati-hatian, dan dilandasi semangat pokoknya membangun.

Mereka tidak buta untuk menyaksikan pembangungan infrastruktur yang dilakukan tanpa tender meski menghabiskan triliunan rupiah uang rakyat. Di antaranya adalah jalan tol Becakayu dan LRT. 

Proyek-proyek ini diserahkan begitu saja ke BUMN-BUMN, seolah perusahaan-perusahaan plat merah ini bersih dan paling jagoan meski kecelakaan kerja kerap terjadi dan berulang kali terlibat korupsi. 

Mereka juga geli menyaksikan impor pangan secara besar-besaran meski stok masih mencukupi. Apalagi sebelumnya disertai janji bahwa Indonesia tak akan impor pangan! 

Industri keuangan kini juga ekstra-waspada membiayai proyek besar di Indonesia, terutama yang berhubungan dengan pemerintah karena bisa dibatalkan mendasak. Contohnya adalah pembangunan jalur kereta cepat Jakarta-Bandung,  terminal LNG terapung di blok Masela, dan kabel listrik bawah laut Jawa-Sumatra. 

Mereka mungkin juga kaget pada keputusan pemerintah menaikkan tarif impor untuk berbagai barang, yang menurut Menkeu Sri Mulyani tak akan mengganggu pembangunan. Pemerintah tampaknya tak sadar bahwa hal itu bisa mengundang pembalasan dari negara pengekspor seperti dilakukan China terhadap kenaikan bea impor baja oleh Amerika Serikat. 

Ringkas kata, Indonesia di mata para investor tersebut untuk sementara ini cukup ditonton saja, seperti lagu 'boneka cantik dari India, yang boleh dilihat tapi tak boleh dipegang'. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Salamudin Daeng

Anggota Institute Sukarno for Leadership Universitas Bung Karno (UBK)

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir