Optimisme di Tengah Tantangan 2019
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 03 January 2019 17:30
Penulis
Perjalanan tahun 2019 diawali dengan optimisme kenaikan pendapatan negara yang diperkirakan bakal berlanjut dari tahun sebelumnya. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan beberapa komponen penyokong kenaikan pendapatan antara lain kenaikan royalti dan penerimaan sumber daya alam dari windfall profit kenaikan harga minyak dunia.

Potensi berlanjutnya windfall profit tersebut sudah terefleksi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 dengan proyeksi penerimaan sebesar Rp2.165,1 triliun. Komponen penyokongnya adalah harga minyak dunia yang akan naik tahun ini.

Harga minyak pada 2019 diproyeksikan sebesar 70 dolar  AS per barel, lebih tinggi dari penetapan dalam APBN 2018 sebesar 48 dolar AS per barel.  Rejeki nompok ini dapat menanggung bebas subsidi yang juga naik pada tahun ini.

 Optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia pada 2019 sudah digaungkan sebelumnya.  Tanda-tanda yang memperlihatkan prospek yang lebih baik mengenai kondisi ekonomi Indonesia sudah ada sejak semester II 2017.

Optimisme tersebut ditandai oleh pick up growth (pertambahan pertumbuhan) secara keseluruhan pada sisi permintaan dan penawaran. Perubahan terjadi pada ekspor yang tumbuh positif.  Sayangnya, pada saat bersamaan impor tumbuh lebih tinggi dibandingkan ekspor karena berbagai dinamika ekonomi yang terjadi.

Kenaikan ekspor sekitar 4-5 persen tidak dapat mengejar impor yang naik empat kali lipatnya sebesar 20 persen per tahun sehingga menimbulkan defisit dalam neraca transaksi berjalan pada semester II 2018 sebesar 13,7 miliar dolar AS. Ditambah lagi dengan menurunnya arus modal yang tidak setinggi 2016-2017.

Optimisme mengenai kondisi ekonomi 2019 bukan tanpa tantangan. Sejumlah pihak menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak setinggi target pemerintah sebesar 5,3 persen. Prediksi mereka  berkisar di level 5-5,2 persen karena faktor global dan domestik.

Saat ini situasi ekonomi global belum dapat diprediksi. Perang dagang antara AS dan China masih berlangsung. Yang ada baru pernyataan genjatan senjata tetapi belum ada pernyataan dari kedua belah pihak untuk menyudahinya. Konfrontasi AS dan China ini memengaruhi perekonomian Indonesia.

Dari dalam negeri, penyenggaraan pemilu sedikit banyak akan mempengaruhi sikap pelaku usaha karena terjadinya perubahan komposisi abinet. Pergantian kabinet diperkirakan akan menurunkan efektivitas penyelenggaraan negara oleh pejabat  dan berdampak kepada pencapaian target usaha.

Siapa yang akan menduduki posisi  di kementerian ekonomi belum dapat diprediksi karena baru akan terbentuk pada  Oktober 2019.  Pada periode 10 bulan ke depan masih akan dipegang oleh kabinet sekarang. Menjelang pemilu 17 April efektivitas kabinet juga dipertanyakan.

Dengan tantangan yang ada, bagaimana pemerintah menghadapinya? Apakah tantangan  tersebut akan meredupkan optimisme yang sudah membuncah di awal tahun? Kiat-kiat apa saja yang perlu disiapkan pemerintah dalam menghadapinya?

Dengan beragam tantangan yang dihadapi, pendekatan apa saja yang perlu dikedepankan untuk mengatasinya? Bagaimana dengan pengelolaan anggaran agar Indonesia dapat menghadapi tantangan tersebut?  Modal pembangunan apa yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan daya saing Indonesia?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Presiden Direktur PT Schroder Investment Management

Sejumlah tantangan akan dihadapi pada tahun 2019 mulai dari perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang dipicu oleh melemahnya ekonomi AS dan China, geo politik yang memanas, perang dagang berlanjut, permintaan yang melemah, harga minyak yang menurun karena penurunan laju pertumbuhan global yang berimbas pada penurunan harga komoditas ekspor andalan Indonesia.

Tantangan ini perlu dihadapi dengan cara menata anggaran untuk lebih fokus pada kegiatan yang lebih produktif, pengelolaan anggaran yang lebih pruden menghadapi gejolak perekonomian dunia, mendiversifikasi ekspor, dan menarik investasi ke Indonesia.

Diversifikasi ekspor dibutuhkan karena pada saat ekonomi melemah ada tantangan dalam mengumpulkan pendapatan.

Indonesia harus lebih fokus lagi dalam penggunaan anggaran untuk pembangunan yang produktif. Pembangunan infrastruktur yang sudah banyak jadi memberikan satu kesempatan untuk bisa menurunkan biaya produksi.

Salah satu bagian dari biaya produksi adalah biaya transportasi. Dengan adanya infrastruktur yang lebih baik maka biaya transportasi akan menurun dan akan memperbaiki struktur biaya produksi. Sekarang ini produsen harus memanfaatkan infrastruktur yang telah dibangun dalam beberapa tahun terakhir untuk menekan biaya transportasi.

Penggunaan anggaran yang lebih pruden ditujukan agar tepat sasaran. Pengelolaan anggaran dengan keadaan seperti ini maka harus benar-benar bisa mengalokasikan dengan tepat terhadap sasaran yang ingin dicapai. Bukan berarti yang dulu tidak tepat, karena setiap tahun berbeda-beda tantangan yang dihadapi .

Berikutnya bagaimana Indonesia fokus pada upaya menarik investasi, tidak hanya portofolio yang merupakan salah satu saja di dalamnya, tetapi bagaimana fokus pada investasi baik dalam negeri maupun asing.

Indonesia perlu membuat investasi non-portofolio menjadi menarik juga. Kita sudah menawarkan insentif tetapi persoalan berikutnya adalah bagaimana menawarkan insentif tersebut kepada para investor supaya mereka lebih tertarik. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)

Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia harus dilihat dari leading indicator. Pada tahun lalu, leading indicator menunjukkan semakin dominannya sektor konsumsi.

Dominannya sektor konsumsi di dalam perekonomian nasional tidak salah, tetapi mempunyai konsekuensi atau risiko terhadap pertumbuhan ekonomi dimana peningkatannya tidak akan berkelanjutan, tidak sustain sehingga kemungkinan tidak akan berlanjut ke tahun 2019. Kemungkinan malah akan terjadi tekanan terhadap pertumbuhan.

Selain itu, ancaman inflasi pada 2019 akan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, walaupun tidak akan terjadi hyper inflation.  Potensi kenaikan inflasi terjadi di kisaran yang lebih tinggi dari inflasi 2018 yang sebesar 3,2 persen. 

Beberapa faktor yang bisa memicu kenaikan inflasi adalah harga minyak  yang kemungkinan akan naik pada 2019. Meskipun saat ini turun tetapi tidak akan terus mengalami penurunan. Harga minyak kemungkinan akan naik karena negara petro dolar sebagai produsen tidak akan membiarkan mati bersama dan berusaha menahan penurunan harga.

Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap komoditas impor cenderung meningkat. Sekalipun harganya  tidak meningkat,  ia akan membuat defisit transaksi berjalan melebar yang berdampak kepada depresiasi nilai tukar rupiah hingga ke level sekitar Rp 15.000 per dolar AS.

Sekalipun tidak terjadi tekanan terhadap harga minyak dan harga pangan tetapi jika impor dikonversi ke dalam mata uang rupiah yang melemah maka tetap akan mengakibatkan terjadinya imported inflation . Hal ini akan mendorong kenaikan inflasi.

Pada saat inflasi naik maka konsumsi rumah tangga tidak bisa naik di atas 5 persen menjadi 5,1 persen. Kenaikannya hanya di kisaran 5 persen. Demikian juga dengan sektor investasi yang kemungkinan akan turun, menyusul penurunan produktivitas dan masih banyaknya persediaan di gudang pada triwulan I, II, dan III, akibat menurunnya daya saing Indonesia.

Jika investasi hanya tumbuh sekitar 5 persen dan konsumsi rumah tangga tumbuh di kisaran 5 persen maka tidak mungkin ekonomi pada tahun ini akan tumbuh di atas 5 persen. Bahkan kemungkina hanya tumbuh di kisaran 4,9 persen.

Namun jika pemerintah segera menyadari potensi pertumbuhan ekonomi tidak akan mencapai 5 persen maka tantangan yang ada jangan dianggap baik-baik saja. Jika pemerintah menganggap semuanya berjalan baik maka tidak ada upaya yang agresif dalam mencari terobosan, memitigasi, atau mencari alternatif kebijakan. Kalau pemerintah menyadari ada every winter maka upayanya akan lebih agresif. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Konglomerasi Media dan Pilpres             Kuatnya Arus Golput: Intropeksi Bagi Parpol             Golput Bagian dari Dinamika Politik             Parpol ke Arah Oligharkhis atau Perubahan?             Melawan Pembajak Demokrasi             Pilih Saja Dildo             Golput dan Migrasi Politik             Golput Bukan Pilihan Terbaik             Golput dan Ancaman Demokrasi             Edy Rahmayadi Cuma Puncak Gunung Es Rusaknya Tata Kelola Sepakbola