Militansi Minoritas dan Pilpres 2024
Gigin Praginanto
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/ watyutink.com 16 January 2020 10:30
Watyutink.com - Di Jakarta,  gegara banjir, aroma SARA kembali merebak di jalanan. Aroma yang sudah lama merebak di dunia maya ini menghambur ke jalanan lantaran ada yang menuntut Anies Baswedan mundur sebagai Gubernur Jakarta. Lalu, 16 Januari lalu, mereka unjuk kekuatan di depan Balai Kota DKI dengan mengerahkan beberapa ratus demonstran anti Anies.

Unjuk kekuatan ini, seperti di dunia maya, dihadang oleh pendukung Anies. Ternyata pesertanya jauh lebih banyak. Polisi pun terpaksa turun tangan untuk mengevakuasi kelompok anti Anies.

Bila dirunut ke belakang, terutama kalau dikaitkan dengan saling gempur di dunia maya, terlalu sulit untuk memungkiri bahwa peristiwa tersebut bukan kelanjutan Pilkada DKI 2017. Ras dan agama campur aduk dalam Pilkada yang menurut peneliti LIPI Siti Zuhro, terburuk karena tidak mampu mengedepankan rasionalitas, kita digiring ke isu sensitif seperti SARA.

Siti Zuhro klop dengan hasil survei Populi Center, yang mengungkapkan bahwa 71 persen warga Jakarta mengaku khawatir dengan semakin menguatnya isu SARA. Pasca pilkada, masalah ini berlanjut di dunia maya, dan bahkan memakai berbagai kata sangat kasar seolah sengaja untuk memancing keributan.

Bila dikaitkan dengan berbagai survei terkait Pilkada DKI 2017, sikap keras tersebut sesungguhnya tak ada yang aneh.  Survei-survei tersebut menunjukkan militansi di kalangan para pendukung pasangan cagub dan cawagub.

Lihat saja hasil survei Pusat Data Bersatu (PDB) pada putaram kedua. 53 persen pemilih Muslim memilih memilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno, 37 persen memilih Ahok-Djarot. 86 persen pemilih non-Muslim memilih Ahok-Djarot, dan hanya 9 persen memilih Anies-Sandiaga.

Survei Lembaga Indikator Politik Indonesia pada putaran pertama menunjukkan, 80,4 persen pemilih Kristen memilih Ahok-Djarot. Hanya 11,4 persen memilih Agus-Sylvi, dan Nol persen Anies-Sandiaga. 79,1 persen etnis Cina memilih Ahok-Djarot, 0 persen untuk Agus-Sylvi dan Anies-Sandiaga

Survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) mengungkapkan 95,7 persen pemilih Protestan dan Katolik memilih Ahok-Djarot. Nol persen Agus-Sylvi dan Anies-Sandi. 71,4 persen pemilih etnis Cina memilih Ahok-Djarot, 0 persen untuk Agus-Sylviana, dan 7,4 persen memilih Anies-Sandiaga.

Bila sekarang sejumlah pengacara beretnis Batak tampak aktif menggalang dukungan untuk menggugat Anies, tampaknya terkait dengan hasil survei SMRC. Lihat saja, 83,7 persen pemilih beretnis Batak memilih Ahok-Djarot, 0 persen memilih Agus-Sylviana, dan hanya 3,3 persen memilih Anies-Sandi.

Hasil-hasil survei di atas menunjukkan bahwa para pemilih non-Muslim lebih kompak bahkan lebih militan dalam berpolitik. Inilah mengapa, meski minoritas, mereka tetap bersemangat melancarkan serangan-serangan politik, baik di dunia maya maupun nyata. Apalagi secara ekonomi mereka juga sangat kuat, yang tampak dari penguasaannya di dunia bisnis dan politik tingkat tinggi.

Maka, bila berharap ketegangan politik beraroma SARA  di Jakarta akan segera reda, itu seperti mimpi di siang bolong. Apalagi Pilpres 2024 sudah mulai ramai dibicarakan, dan Anies salah satu politisi yang sedang diorbitkan.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Krisis APBN Kian Mendekat

24 February 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF