Merumuskan Langkah Cerdas Hadapi Tekanan Global
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 16 May 2019 16:30
Penulis
Watyutink.com - Situasi ekonomi nasional terakhir, bukannya menunjukkan sinyal membaik tetapi justru memburuk dengan serius. Berlanjutnya perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China, dituding menjadi penyebab gejolak perekonomian global yang berimbas ke Indonesia.

Akibat tindakan balasan China terhadap impor setidaknya 4000 produk AS senilai 60 miliar dolar AS dengan kenaikan tariff 10-25 persen bea masuk, telah menyebabkan pasar saham dan nilai tukar mata uang dunia bergejolak, termasuk nilai rupiah yang kembali terpuruk ke level Rp14,448 per dolar AS (15/5/2019).

Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup pada posisi 5,980,885, anjlok 3,85 persen sejak awal tahun. Neraca perdagangan juga jatuh pada defisit terdalam sebesar 2,501 miliar dolar AS, dengan nilai ekspor Januari - April 2019  turun 53,2 miliar dolar AS (9,39 persen) dibanding periode yang sama tahun lalu.

Indikator-indikator pelemahan tersebut tak pelak membuat Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa pemerintah berada pada kewaspadaan tinggi. Trade war AS-China diperkirakan tidak akan berlangsung dalam jangka pendek.

Untuk itu, pemerintah akan menjaga motor penggerak domestik yaitu sektor konsumsi rumah tangga dan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Sementara ekspor tidak lagi dapat diandalkan sebagai penggerak pertumbuhan, karena melemahnya perekonomian global.

Namun pertanyaannya, siapkah sektor konsumsi dan PMDN berperan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi ? Bukankah sektor konsumsi telah mencapai tingkat keseimbangan alaminya? Momen saat ini untuk meningkatkan konsumsi hanyalah ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Sementara pemilu 2019 telah terlaksana dengan baik.  

(Baca juga : https://www.watyutink.com/topik/ekonomika/Ekonomi-Kuartal-I-2019-Kehilangan-Greget)

Kinerja PMDN sendiri, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 2018 telah terealisasi investasi PMA dan PMDN sebesar Rp721,3 triliun. Investasi tersebut sebesar 15,8 persennya atau Rp114,2 triliun merupakan realisasi investasi (PMA dan PMDN) dengan lokasi proyek di DKI Jakarta.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi DKI Jakarta mencatat, realisasi PMDN di DKI Jakarta merupakan realisasi tertinggi di Indonesia sebesar Rp49,1 triliun. Sementara realiasi investasi PMA sebesar 4,9 miliar dolar AS (2018). Lima sektor yang paling diminati investor PMDN dan PMA di DKI Jakarta adalah Transportasi, Gudang dan Telekomunikasi; Konstruksi; Listrik, Gas dan Air; Perumahan, kawasan industri dan perkantoran, serta industri makanan.

Namun, tentu saja hanya mengandalkan sektor konsumsi rumah tangga dan investasi PMDN--apalagi hanya DKI Jakarta--bukanlah langkah tepat. Sektor Investasi PMA terutama FDI, belanja pemerintah dan nett ekspor haruslah menjadi satu kesatuan unsur pertumbuhan ekonomi yang harus terus dibenahi. Terutama pembenahan total sektor industri manufaktur.

Apa saja langkah strategis kebijakan ekonomi yang harus dilaksanakan dengan situasi yang semakin penuh tantangan? Sementara, upaya perbaikan defisit neraca perdangan dan CAD juga masih terkendala akibat melemahnya mata uang rupiah dan menurunnya ekspor?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Kontribusi sektor konsumsi rumah tangga di hampir sebagian besar negara di dunia, memang paling tinggi terhadap GDP.

PMDN, di tengah situasi ketidakpastian global seperti saat ini memang “wait and see”. Sehingga mau tidak mau harus mengandalkan PMDN. Hanya masalahnya,  kontribusi PMDN pasti tidak akan besar dan dananya juga terbatas.

Persoalan lainnya di Indonesia adalah saving investment gap nya relatif tinggi. Padahal jika saving investment gap tidak begitu tinggi, maka sebenarnya kontribusi PMDN bisa relatif lebih besar.

Jadi dalam jangka menengah panjang memang harus mengupayakan saving investment gap semakin kecil. selisih antara investasi dengan saving harus diupayakan tidak terlalu besar. Tabungan adalah penawaran dana, sedang investasi merupakan permintaan dana. Sekarang karena saving nya rendah maka mau tidak mau harus mengandalkan dana dari luar negeri. Baik investasi FDI ataupun investasi portofolio.

Oleh karenanya jika kita mengandalkan PMDN, dalam jangka pendek ini sepertinya agak susah.

Untuk membenahi sektor manufaktur, sebenarnya kita sudah terlalu lama membiarkan industri manufaktur tidak tumbuh. Ditinjau dari teori ekonomi struktural, gejala di Indonesia terbilang aneh.

Seharusnya, ketika pada tahap awal dimana pendapatan per kapita masih rendah, sumbangan sektor primer atau pertanian biasanya paling tinggi. Kontribusi kedua adalah sektor manufaktur, dan ketiga sektor jasa.

Ketika kemudian pendapatan menjadi menjadi naik, maka manufaktur berubah ke posisi paling tinggi, ke dua, sektor pertanian dan yang ketiga sektor jasa.

Jika kemudian pertumbuhan terus meninggi maka urutannya manufaktur, jasa lalu pertanian. Pada posisi dimana pertumbuhan menjadi paling tinggi maka urutan kontribusi adalah sektor jasa, manufaktur, dan sektor pertanian.

Persoalannya data kontribusi di Indonesia menunjukkan bahwa sektor jasa terlalu cepat melampaui sektor manufaktur, padahal posisi Indonesia adalah negara dengan pendapatan middle low. Anehnya, kontribusi sektor jasa sudah cukup besar. Sedangkan sektor manufaktur mengalami declining terlalu cepat.

Maka pekerjaan rumah yang paling utama adalah membangun kembali sektor manufaktur, minimal mengandalkan sumber daya alam atau primer yang mempunyai keunggulan komparatif. Artinya kita harus memanfaatkan potensi sumber daya alam maupun skill khusus yang dimiliki.

Contoh kecil dari industri rumahan bulu mata di Purbalingga Jawa Tengah, butuh skill khusus seperti ketalatenan dan sebagainya yang menjadi keunggulan komparatif.

Produk bulu mata Purbalingga itu secara kualitas tidak bisa dikalahkan oleh China, Korea Selatan atau lainnya. Hal itu disebabkan tipikal pekerja perempuan di Purbalingga memang telaten. Oleh karena itu selain keunggulan sumber daya alam, kita juga mempunyai skill sumber daya manusia yang punya keunggulan komparatif.

Manufaktur yang  harus kita kembangkan mungkin bukan manufaktur yang sangat besar tetapi karena selama ini kita sangat tergantung pada ekspor komoditas, maka jika kita hendak melakukan lompatan ke manufaktur yang sifatnya high-tech, sepertinya butuh investasi yang besar.

Maka, kita manfaatkan dengan membuat komoditi yang lebih bernilai tambah. Hal itu Harus dilakukan dengan tahapan-tahapan perkembangan manufaktur (stepping), agar waktunya juga tidak terlalu panjang.

Dalam tahun ini mengubah sektor manufaktur menjadi sektor unggulan agaknya masih berat.

Rekomendasi untuk jangka pendek adalah, dari ketergantungan kita yang cukup besar terhadap faktor eksternal--dimana terjadi perlambatan ekonomi global berikut adanya ketidakpastian, maka sebaiknya jangan menambah faktor internal yang dapat memperburuk kinerja ekonomi.

Salah satu contohnya adalah, pengelolaan APBN harus benar sehingga defisit dapat ditekan, dan mengelola neraca transaksi berjalan sehingga defisit yang terjadi tidak semakin membengkak. (pso)

 

 

 

 

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Akademisi Universitas Airlangga Surabaya

Dari sisi konsumsi sebenarnya agak sedikit meragukan, karena konsumsi kita berada pada tren inflasi yang melambat. Inflasi yang melambat secara ekonomi bisa terjadi karena dua hal: pertama, karena adanya pertambahan produksi, barang tambah banyak. Kedua, karena daya beli masyarakat melemah. Ibarat kondisi pasar, pembeli sedikit maka mau tidak mau akan jatuh.

Dalam konteks Indonesia agaknya gejala kedua yang lebih tampak. Daya beli sedang melemah, oleh karenanya jangan mengharapkan dari sisi konsumsi. Sepertinya tarikan konsumsi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tidak lagi sekuat dulu.  

Apalagi saat ini sedang diharapkan salah satu sektor untuk menarik pertumbuhan yakni sektor pariwisata. Generasi milenial sekarang cenderung lebih tertarik untuk “membeli pengalaman” dengan touring kemana saja.

Tetapi ironisnya, rezim sekarang adalah “rezim” pesawat mahal (tarif). Hal itu membuat efek melambat yang berdampak kemana-mana. Konsumen jadi malas bepergian karena tarif tiket pesawat yang mahal. Dan itu dampaknya ke berbagai sektor pendukung pariwisata.

Kedua, tarif angkutan online baik taxi maupun ojek online (Ojol) mulai diregulasi oleh pemerintah. Ada upaya untuk menaikkan harga. Keputusan menaikkan tarif transportasi online itu juga berdampak berbagai sektor.

Sektor transportasi juga merupakan salah satu sektor vital untuk memindahkan orang dan barang dari satu titik ke titik lainnya. Kalau tarifnya meningkat, maka dampaknya ke daya beli dan inflasi. Jadi, sudahlah ongkos pesawat mahal, ditambah tarif transportasi online juga naik.

Kondisinya sekarang, kalau tarif pesawat yang menjadi konsumsi kelas menengah naik, begitu juga tarif transportasi online yang notabene milik kelas bawah, maka tinggal orang-orang kaya saja yang bisa mendorong konsumsi kita.

Dari sisi PMDN sebenarnya ada peluang dari proyek infrastruktur yang dilakukan di era Jokowi. Kalau proyek infrastruktur berhasil ditindaklanjuti oleh pihak swasta misalnya travel time yang turun oleh adanya jalan tol, maka perkiraannya bisnis yang tadinya tidak menguntungkan menjadi menguntungkan.

Tapi tentu saja hal itu butuh waktu sampai bisa dieksekusi. Pada dasarnya untuk PMDN ada ruang untuk menjadi motor penggerak pertumbuhan. Itupun dengan dua hal yaitu pertama, butuh waktu bagi masyarakat untjuk merespon.

Kedua, karena inflasi rendah dan daya beli melemah, maka sukubunga riil diperkirakan akan turun. Harga modal pun akan turun. Bagi investor, saat ini momen yang pas karena sukubunga sedang murah.

Sebenarnya jika inflasi rendah maka sukubunga akan turun, hanya dikhawatirkan sukubungan BI bisa jadi akan naik lagi sebagai upaya mengerem depresiasi rupiah.

Harapan sekarang adalah dari dampak limpahan PMDN dari sisi pembangunan infrastruktur. Harus diperhatikan juga, dampak dari pembangunan infrastruktur bagi ekonomi lama yang ikut tergusur. Daerah yang semula ramai kemudian menjadi sepi karena dilewati jalur tol trans Jawa misalnya.

Tapi di sisi lain hal itu juga membuka peluang bagi ekonomi baru. Sekarang tinggal dibandingkan lebih besar mana ekonomi lama yang tergusur, atau ekonomi baru sebagai dampak dari pembangunan infrastruktur.

Pemerintah harus segera membuat konsep untuk mengakselerasi sektor riil yang terbantu oleh infrastruktur agar menjadi lebih cepat tumbuh.

Peningkatan konsumsi di bulan ramadhan dan Idul Fitri sekarang diperkirakan tidak sebesar di tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu saja, peningkatan konsumsi pada ramadhan tidak sebesar 2-3 tahun terakhir. Gejala itu bisa juga dibaca pada artikel-artikel yang mengupas hal tersebut. (pso)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Kondisi kurs rupiah terhadap dollar AS sejak pertengahan April hingga pertengahan Mei 2019 menunjukkan pelemahan dari level di kisaran Rp14000 per dolar AS menjadi mendekati angka Rp14500 per dolar AS.

Pelemahan ini diikuti IHSG yang turun cukup dalam sejak pertengahan April hingga pertengahan Mei 2019 dari level di seputar angka 6400 yang kini anjlok mendekati angka 5800. Nilai Rupiah dan IHSG tersebut mencerminkan akibat dari kejadian ekonomi yang berkembang hangat belakangan. Beberapa kejadian tersebut merupakan kombinasi dari faktor nasional dan global yang berjalan beriringan sebulan terakhir.

Dari faktor nasional, pertama adalah rilis BPS mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal 1-2019 menghasilkan angka sebesar 5,07 persen, jauh dari target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pemerintah pada 2019 sebesar 5,3 persen. Kedua, rilis BPS mengenai kondisi neraca perdagangan Indonesia bulan April 2019 sebagai defisit terburuk, yakni defisit sebanyak 2,5 miliar dolar AS.

Dari faktor global, kembali menguatnya perang dagang antara dua kekuatan ekonomi besar dunia, yakni Amerika Serikat dan China, menyebabkan negara-negara berkembang mengalami gonjang-ganjing perekonomian sebagaimana Indonesia mengalaminya selama satu bulan ke belakang.

Pertumbuhan ekonomi global yang masih melambat, khususnya pada negara-negara tujuan utama ekspor Indonesia, juga masih menjadi salah satu faktor karena negara-negara tersebut mengurangi permintaan, termasuk permintaan barang dari Indonesia.

Dari faktor internal dan eksternal tersebut, aspek internal yang patut dijadikan sarana introspeksi karena hal tersebut merupakan faktor-faktor yang dapat dikendalikan dan dibenahi kedepannya. Pertumbuhan ekonomi yang meleset dari target dan defisit terburuk neraca perdagangan April 2019 berakar dari, salah satunya, deindustrialisasi dini yang terjadi di Indonesia. Pembangunan industri manufaktur merupakan hal yang paling utama yang harus dikerjakan oleh Presiden terpilih periode 2019-2024.

Industri manufaktur sebagai sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar dapat mendorong konsumsi masyarakat sehingga mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, industri manufaktur, khususnya yang menjadi keunggulan komparatif Indonesia, bisa memberikan nilai tambah yang optimal bagi komoditas-komoditas unggulan sehingga tidak mengekspor bahan mentah begitu saja. Dengan begitu, dapat pula meningkatkan ekspor sehingga mampu menekan defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia.

Dengan telah masifnya pembangunan infrastruktur beberapa tahun terakhir, perbaikan reformasi birokrasi yang terus dilaksanakan, menekan korupsi dari tingkat pusat maupun daerah sebagai 3 faktor utama penghambat kemajuan bisnis dan industri Indonesia selama ini, idealnya industri manufaktur dalam waktu 5 tahun mendatang dapat meningkat karena ketiga faktor penghambat bisnis tersebut perlahan-lahan terus dibenahi selama ini.

Dengan terus memperbaiki ketiga faktor tersebut, diiringi dengan political will dari pemerintah untuk mendorong industri manufaktur melalui pemberian insentif kebijakan yang berpihak kepada industri dalam negeri, sesungguhnya kita optimis perekonomian Indonesia di masa yang akan datang tidak lagi mengalami gonjang-ganjing karena faktor-faktor eksternal. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pajak lebih Besar untuk Investasi Tidak Produktif             Semua Program Pengentasan Kesenjangan Harus dikaji Ulang             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi