Menyoal Macetnya Mesin Pertumbuhan Ekonomi
berita
Ekonomika
Sumber Foto : reliji.com (gie/watyutink.com) 11 August 2018 09:00
Penulis
Rilis data BPS kuartal II/2018 ihwal pertumbuhan ekonomi Indonesia menyentuh angka 5,27 persen (yoy) menimbulkan banyak pertanyaan. Capaian tersebut cukup mengejutkan di tengah kelesuan sektor riil saat ini. Meski masih lebih rendah dibanding target pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,4 persen. Ditilik lebih jauh, ternyata yang memicu pencapaian kinerja pertumbuhan triwulan II/2018 adalah momentum musiman Ramadhan dan lebaran 2018, pemilihan kepala daerah (pilkada) di 171 daerah, dan percepatan realisasi belanja pemerintah. Hal-hal tersebut menjadi kontributor utama terjadinya peningkatan pertumbuhan. 

Namun dari serangkaian data capaian tersebut, terdapat sejumlah paradoks atas kinerja variabel makro ekonomi yang menjadi kontributor utama dari pertumbuhan ekonomi. Akankah momentum kenaikan ini berlanjut pada dua triwulan berikutnya? Atau, ini adalah titik tertinggi yang dapat dicapai pada tahun ini? 

Tercatat, realisasi belanja APBN triwulan II/2018 mencapai Rp523,70 triliun (23,58 persen). Realisasi Bansos triwulan II/2018 bahkan naik 67,57 persen (Rp27,19 triliun) dibanding triwulan II/2017. Ditambah kebijakan pemerintah  untuk memberikan THR bagi pegawai negeri sipil. Triwulan II juga mencatat tumbuhnya belanja pemerintah sebesar 5,26 persen, sehingga kontribusinya dalam pertumbuhan ekonomi naik dari 6,31 persen pada triwulan I menjadi 8,5 persen pada triwulan II/2018.

Jika yang mengalami pertumbuhan hanya dari sektor belanja pemerintah ditambah pengeluaran dana sosial pada puasa dan lebaran dan menjadi stimulus sektor konsumtif (konsumsi rumah tangga), bagaimana dengan kinerja sektor produktif dan investasi sebagai mesin pertumbuhan yang seharusnya menjadi penopang utama dari pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja? 

Terungkap, bahwa pada triwulan II/2018 secara keseluruhan sektor industri anjlok hanya tumbuh sekitar 3,9 persen. Bahkan, sektor produktif dalam negeri seperti industri manufaktur non migas justru melorot dari 5,07 persen menjadi 4,41 persen. Itu artinya, dampak dari peningkatan belanja pemerintah hanya berdampak pada peningkatan konsumsi rumah tangga dari 4,95 persen pada triwulan I/2018 menjadi 5,14 persen pada triwulan II/2018. Itu semua termasuk ditopang oleh momentum lebaran dengan adanya THR dan Pilkada. Bagaimana menjelaskan penurunan sektor penting seperti sektor industri manufaktur non migas tersebut?

Memang, dari Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI pada (12/7) mencatat kegiatan usaha di triwulan II/2018 meningkat signifikan. Saldo bersih tertimbang (SBT) naik dari 8,23 persen di triwulan I/2018 menjadi 20,89 persen di triwulan II. Rata-rata kapasitas produksi terpakai juga naik dari 76,72 persen di triwulan I ke 78,40 di triwulan II/2018. Kenaikan itu terjadi karena dunia usaha selalu menjadikan momentum lebaran sebagai saat menangguk keuntungan sebesar-besarnya. Namun, rupanya pada triwulan II/2018 itu juga inventory tumbuh sangat tinggi 44,07 persen (yoy) dan 18,5 persen (qtq). Itu artinya, peningkatan produksi pada lebaran tidak mampu terjual. Uniknya, pada saat yang sama peningkatan impor juga terjadi sebesar 15,17 persen (yoy). Apakah kenaikan inventory dipengaruhi oleh peningkatan impor? Bagaimana menjelaskan ini?

Jika sektor yang menjadi mesin pertumbuhan justru mengalami penurunan, bagaimana kinerja ekonomi pada semester II/2018 (q3 dan q4)? Apakah mengharapkan pertumbuhan dari momen Asian Games 2018 dan sidang IMF/WB mendatang?

Apa pendapat Anda? Watyutink?      

SHARE ON
OPINI PENALAR
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Awalnya saya punya perkiraan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II/2018 itu sebesar 5,21 persen, tapi kemudian saya revisi menjadi 5,16 persen. Itu karena saya tidak punya data investasi yang belum keluar pada waktu itu. Walaupun saya juga menduga ada perlambatan karena efek pilkada. Pilkada itu membuat semua aktivitas di kegiatan pemerintahan daerah melambat sehingga pencapaian juga akan berpengaruh.

Jadi karena saya tidak punya data investasi dan  saya juga melihat ada defisit di neraca perdagangan yang cukup besar, maka perkiraan pertumbuhan ekonomi triwulan II/2018 saya revisi menjadi 5,16 persen. Tapi ternyata memang masih bisa di 5,2 persen, karena sebetulnya 5,2 persen itu bisa tembus kalau konsumsi rumah tangga  di atas 5 persen. Ternyata kemudian komsumsi rumah tangga justru di angka 5,14 persen sedang prediksinya saya hanya 5,02 persen. 

Jadi itu terbantu oleh adanya THR dan lebaran. Jelas, itu adalah momentum terbaik ekonomi kita pada saat adanya bulan puasa dan lebaran.

Pemerintah mempunyai kebijakan menaikan THR. Jumlah THR yang diterima juga meningkat, yang mendapat THR juga lebih banyak, pensiunan yang tadinya tidak dapat, tahun ini bisa dapat. Lalu ada gaji ke 13 juga yang diberikan pada awal Juli. Jadi mereka yang PNS, merasa bahwa toh nanti ada gaji ke 13, jadi urusan anak sekolah di gaji ke 13. THR bisa untuk beli barang-barang konsumsi. Kami juga cek dengan data emiten, karena kami ada di pasar modal, kami cek apakah data emiten itu bagus di bulan Juni, ternyata bagus semua laporan keuangannya. Ini kita bicara di sisi konsumsi. Bahwa kemudian konsumsi itu impor, itu masalah lain, tetapi konsumsi memang kuat, terlihat dari data emiten, penjualan dari semua emiten naik.

Kalau dari sisi manufaktur mungkin memang ada perlambatan, tapi kalau dilihat dari sumber pertumbuhan, manufaktur tetap yang paling utama. Kalau diperhatikan data pertumbuhan dari sisi produksi, sumber pertumbuhan tertinggi masih di sektor industri  pengolahan. Kemudian dia melambat dan sektor lain juga meningkat kontribusinya. Bukan impor tapi misalkan dari sektor jasa itu ada peningkatan. sektor lain seperti liburan yang ber efek pada transportasi juga meningkat. 

Tapi kalau bicara sektor manufaktur sendiri yang dari waktu ke waktu terus melambat, ini banyak faktor. Bisa juga karena impor, bisa juga di sisi operasionalnya ada peningkatan karena efek dari biaya-biaya produksi yang naik. Tapi kalau dilihat di tingkat emiten kinerjanya masih bagus, profit-nya meningkat.

Saya agak kurang percaya data makro. Kalau data mikro kita lihat jika emitennya turun kita bawa, kalau makro nya masih bagus. Kalau mikronya turun maka sesaat kemudian makro-nya pun turun, mungkin ada timeleg saja.

Menurut saya tidak ada itu efek dari event Asian Games. Beberapa orang merasa yakin bahwa itu berpengaruh tapi kalau menurut saya tidak. 

Beberapa pihak bilang bahwa spending media naik. Mungkin saja spending media naik tapi apakah itu membuat konsumsi rumah tangga naik, saya kira tidak. 

Secara siklus, triwulan tertinggi adalah triwulan yang ada puasa dan lebaran. Sehingga saya selalu membuat candaan agar setiap triwulan ada lebarannya. Ketika lebaran itu memang demand nya tinggi. Kuartal III dan IV pasti melambat. Apalagi kuartal IV pasti minus, itu merupakan siklus yang sudah berpuluh tahun begitu.

Sekarang sebaiknya di fokuskan kepada perbaikan kembali di Industri atau mempertahankan momentum ini.
Mempertahankan momentum ini jelas tidak bisa karena memang tidak bisa karena kuartal yang ada puasa lebaran memang temporer. Yang bisa adalah jangan sampai melambatnya lebih jelek dari tahun 2017. Sama-sama melambat tapi melambatnya tidak sejelek tahun 2017. 

Saya kira lewat government spending bisa. Pengeluaran pemerintah ini biasanya di kuartal III dan IV di kejar untuk mengejar realisasi anggaran, harapannya disitu. Konsumsi rumah tangga memang melambat, harapannya konsumsi pemerintah meningkat. Syukur bisa mengejar 100 persen di tahun ini. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)


Kalau kita lihat dari feeding indicator dari mesin pertumbuhan triwulan III 2018 nanti dimana kita sudah tidak punya “kemewahan” lebaran, tidak ada Pilkada juga tidak ada THR, Bansos juga banyak yang sudah disalurkan, Rastra juga sudah 99 persen disalurkan, maka harus cepat ada kreativitas untuk menciptakan “engine” atau mesin pertumbuhan yang baru. Salah satunya mungkin ada momen Asian Games 2018, lalau ada IMF/Wold Bank Forum, tapi itukan juga terbatas. Makanya sekarang harus segera ada evaluasi dari belanja pemerintah yang tidak produktif agar benar-benar harus dialihkan ke sektor produktif. Karena, sekalipun saat ini adalah tahun politik, justru tahun politik itu adalah pertaruhannya kalau sampai nanti pada triwulan III dan triwulan IV 2018 pertumbuhan ekonomi turun, maka akan mempengaruhi orang ketika mencoblos pada Pilpres 2019. 

Jadi menurut saya hal ini yang harus segera dicarikan alternatif jalan keluarnya. Diantisipasi dan diselesaikan, terutama oleh incumbent. Karena kalau tidak, itu pertaruhannya sangat besar. Pertaruhan dari dampaknya pada vote pemilih pada Pilpres mendatang.

Sektor yang mempunyai primeover menjadi mesin pertumbuhan ekonomi adakah sektor industri. Tetapi industri di sini jangan hanya terkesima oleh industri 4.0. harus paham betul, apa yang dimaksud dengan industri 4.0. Pada Industri 4.0 tidak harus seluruhnya high technology. Artinya yang diperhatikan bukan hanya sektor-sektor industri yang Hi-tech. tetapi bagaimana memanfaatkan teknologi itu untuk menciptakan nilai tambah dan menciptakan efisiensi di industri-industri potensial kita. Industri potensial kita yang sudah pasti teruji misalnya industri pakaian jadi, industri alas kaki, makanan dan minuman. Nah, bagaimana di industri-industri potensial ini, terutama juga agro industri dimana kita punya potensi besar, memanfaatkan digital technology sehingga membuat efisiensi dan efektivitasnya meningkat. Sehingga daya kompetitifnya meningkat, termasuk dalam hal pemasaran.

Jadi ekspor akan menjembatan keterbatasan kita pada negara tujuan ekspor. Dengan memanfaatkan berbagai macam teknologi tinggi akan bisa menjadi salah satu solusi dengan berbagai macam sampel dan sebagainya untuk mempeluas negara-negara tujuan ekspor. Tetapi kunci pentingnya adalah pasar akan terbuka kalau kita punya produksi. Sehingga langkah awal yang harus dilakukan pemerintah adalah memberika insentif dan fasilitas sektor industri manufaktur kita agar tidak terbebani dengan berbagai macam regulasi yang membuat mereka terjebak pada high cost economy.

Jika tidak ada respon yang cepat dari pemerintah, hampir bisa dipastikan pada triwulan III dan IV 2018 pertumbuhan ekonomi akan turun. Karena, mesin penggerak pertumbuhan ekonomi sudah terkumpul di triwulan II/2018. Sehingga harus diupayakan agar pertumbuhannya jangan stagnan atau justru turun, minimal masih 5,2 persen atau 5,1 persen lebih. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan             Investor Tak Hanya Andalkan Peringkat Daya Siang