Mencari Kiat Menembus Pasar Non Tradisional
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 22 September 2018 09:00
Penulis
Upaya untuk mengurangi defisit transaksi berjalan dan neraca pembayaran internasional Indonesia sedang terus diupayakan. Setelah upaya untuk mempercepat akselerasi program biodiesel B20, dan pembangunan kilang minyak dalam negeri masih terus dilakukan, maka upaya memperluas pasar non tradisional di luar negeri juga terus digalang.

Hal tersebut wajib dilakukan, selain mengantisipasi ancaman sanksi negara-negara ekonomi kuat khususnya Amerika Serikat (AS), Uni Eropa dan India terhadap produk-produk dari Indonesia--Uni Eropa dan India telah mem"band" dan  menaikkan tarif bea masuk produk CPO Indonesia--serta AS yang mengancam meninjau fasilitas impor bagi negara-negara berkembang termasuk Indonesi, maka keharusan membuka pasar baru bagi ekspor Indonesia menjadi hal yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Apakah upaya pengembangan pasar baru non tradisional Indonesia ke luar negeri akan semulus yang diperkirakan? Bagaimana dengan negara-negara competitor yang juga agresif membuka pasar internasional? Belum lagi China yang amat agresif membuka pasar dan investasi baru di negara-negara Afrika dan Asia Tengah lainnya? Juga satu hal, siapkah Indonesia men-supply pasar baru dengan produk yang berkualitas dan tersedia dalam volume yang dibutuhkan?

Selama ini, andalan ekspor Indonesia adalah komoditas ekstraktif SDA seperti batubara dan CPO. Namun, seiring dengan perkembangan harga komoditas internasional yang tidak menggembirakan, ditambah naiknya harga minyak bumi menyebabkan defisit current account pada perekonomian dalam negeri.

Padahal, pasar-pasar non tradisional seperti negara-negara Afrika, Asia Tengah eks Uni Soviet dan Timur Tengah amat menjanjikan. Menjadikan produk non migas Indonesia sebagai andalan devisa untuk masuk ke pasar non tradisional luar negeri sebetulnya bisa dimaksimalkan. Produk-produk tekstil dan alas kaki  Indonesia amat disukai di pasar besar seperti Amerika Serikat dan Eropa. Namun, seiring dengan perkembangan ekonomi global, hambatan non tarif antara lain proteksi dan` perang dagang AS-China yang masih berlangsung, menyebabkan dunia industri dalam negeri harus segera berbenah dan menyiapkan infrastruktur dan strategi ekspor lebih terarah ke pasar non tradisional internasional.

Untuk itu, upaya menjadikan iklim investasi langsung (FDI) lebih bergairah dan revitalisasi industri-industri non migas yang selama ini eksis dalam ekspor ke pasar internasional harus lebih diperhatikan.

Pelajaran dari kalah saingnya produk-produk non migas Indonesia dalam menembus pasar tradisional besar oleh negara sekelas Vietnam harus dijadikan masukan berharga. Termasuk juga pembenahan di sektor pertanian yang menurut data Agustus 2018 anjlok 20,98 persen menjadi  301,2 juta dolar AS dibandingkan Agustus 2017 sebesar 381,2 juta dolar AS. Penurunan ekspor produk pertanian terjadi akibat banjir produk pertanian di pasar global dan rendahnya kualitas produk pertanian asal Indonesia.

Siapkah Indonesia melakukan aksi penetrasi pasar non tradisional luar negeri? Prasyarat apa saja yang harus disiapkan dengan lebih sempurna? Kiat dan strategi jitu apa yang harus dikoordinasikan oleh stakeholder industri nasional?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pemerhati masalah ekonomi dan ketimpangan

Pertama yang harus kita lihat, bagaimana sebetulnya upaya pemerintah untuk bisa meningkatkan industri dalam negeri.

Ekspor itu tidak terlepas dari seberapa besar produktivitas tenaga kerja yang menghasilkan barang-barang untuk diekspor. Masalah kualitas produk menjadi penting. Artinya, walaupun kita memindahkan produk kita dari satu pasar ke pasar lainnya, tapi kalau produk nya tidak memenuhi kompetensi maka penetrasi  tidak bisa berhasil.

Yang terpenting adalah kualitas dari produk kita, yang kedua baru mengenai pasar.

Kualitas dari produk ekspor kita, tergantung dari seberapa besar produktivitas  tenaga kerja. Jadi terkait lagi dengan masalah industrialisasi. Ke depan, bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas produk ekspor kita dengan meningkatkan produktivitas tenaga kerja agar bisa menghasilkan produk ekspor yang lebih bagus dan berdaya saing. Selanjutnya kita bisa mulai mencari pasar-pasar non tradisional. Bisa dengan menembus pasar di Afrika dan Timur Tengah yang menjadi pasar berikutnya. Pointnya menurut saya adalah bagaimana me revitalisasi industri dalam negeri.

Investasi yang digalakkan harus masuk pada sektor-sektor yang bisa meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan juga mendorong sektor manufaktur dapat bergairah lagi. Kondisi sektor manufaktur kita sekaran--walau tumbuh--tetapi sangat lambat. Bahkan ada kecenderungan terjadi deindustrialisasi tapi deindustrialisasi yang prematur. Jadi ada pergeseran dari sektor industri ke sektor jasa yang terlalu awal.

Sebetulnya deindustrialiasi di negara-negara lain, biasanya lebih dulu mereka menghasilkan GDP per kapita yang cukup tinggi. Sementara kita mengikuti pola mereka, tetapi belum sampai pada level GDP per kapita seperti negara-negara tersebut. Itu yang disebut sebagai premature deindustrialization. Kita terlalu cepat bergeser ke sektor jasa sementara GDP per kapita belum memadai. Sementara Negara lain, memang bergeser ke sektor jasa dengan GDP per kapita yang memang sudah tinggi. Itu sama dengan pola pertumbuhan pada umumnya. Setelah GDP tinggi lalu bergeser tidak lagi ke sektor manufaktur. Berbeda dengan negara kita.

Sementara dengan GDP per kapita yang sama, negara-negara lain itu masih dalam tahap industri. Bandingkan by data, katakanlah GDP per kapita Indonesia adalah 3600 dolar AS. Pada saat 3600 dolar AS itu negara-negara lain (peers) itu masih pada tahap industrialisasi. Tapi kita sudah bergeser.

Dalam soal kualitas produk ekspor kita sebenarnya ada yang sudah memadai dan diterima pasar AS. Misalnya seperti alas kaki dan tekstil. Itu hal menggembirakan  karena selama 40 tahunan kita masih berkutat pada ekspor produk ekstraktif seperti coal dan sawit/CPO. Kedua produk itu masih jadi porsi terbesar ekspor kita selama ini. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa ekonomi Indonesia adalah ekonomi kelapa sawit. Jika harga sawit turun, maka ekonomi RI bisa turun, karena ekspor kelapa sawit nilainya turun. Demikian pula sebaliknya.

Jadi kualitas produk alas kaki dan sebagainya memang diterima pasar luar negeri, tetapi porsinya masih sangat kecil. Dibandingkan ekspor CPO atau batubara masih amat jauh.

Sekali lagi, memang mencari pasar non tradisional adalah hal penting, terutama dengan terjadi nya perang dagang dan sebagainya pada ekonomi global. Namun yang lebih krusial lagi adalah bagaimana kita bisa meningkatkan daya saing barang-barang kita. Jika ditarik kebelakang, maka harus terjadi transformasi struktural khususnya di sektor manufaktur. Harus digerakkan lagi industri manufaktur, industri pengolahan non migas dalam negeri Indonesia supaya bergerak lebih baik dan menghasilkan produk berkualitas dan berdaya saing.

Baru-baru ini ada semacam konsensus bahwa akan dimajukan 5 industri manufaktur dalam negeri diantaranya industri tekstil, alas kaki, obat-obatan. Mudah-mudahan dengan konsensus itu bisa menjadi starting point bagi peningkatan kinerja industri. Sepertinya sekarang sudah lebih fokus dan telah terlihat memang kita kalah daya saing. (pso)

 

 

 

 

 

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Perbedaan pasar non tradisional dengan pasar tradisional kita, untuk mitra-mitra dagang utama yang punya pasar besar dan punya daya beli besar termasuk diantaranya Amerika memang persaingan lebih ketat. Karena memang banyak negera-negara ekspotir melempar produknya ke pasar-pasar yang besar ini. 

Untuk pasar non tradisional itu sebetulnya persaingan tidak seketat di pasar yang besar atau di pasar-pasar utama. 

Untuk pasar utama daya saing Negara kita lemah di bandingkan sejumlah negara pesaing terutama Vietnam. Tapi kalau pasar non tradisional saya pikir peluang-peluangnya lebih terbuka. Tentu saja dari jenis barang yang berbeda dari setiap pasar non tradisionalnya. Artinya menurut saya peluang itu besar, hanya permalahan-permasalahan yang diluar daya saing misalkan logistik dan kesepakatan perdagangan dari sisi hambatan tarif dan non tarif. Hal itu yang saya pikir lebih utama. 

Daya saing di pasar non tradisional terutama di beberapa produk unggulan kita semestinya cukup bisa bersaing walaupun ada juga persaingan dari China, Vietnam dan lain-lain. Tetapi paling tidak hal ini dari sisi diversifikasi strategi atau diversifikasi ke pasar tujuan ekspor, ini kita butuhkan. Saya pikir peluangnya cukup lumayan walaupun dari sisi nilai besarnya pasar tidak bisa menghentikan pasar-pasar utama, tapi paling tidak bisa membantu dari sisi pertumbuhan eksport kita yang relative lambat, terutama di pasar-pasar yang besar. 

Sejumlah barang-barang kita yang bisa menembus pasar-pasar non tradisional yang masih belum maksimal diantaranya misalnya tentu saja sawit. Di pasar non tradisional tidak mempermasalahkan masalah lingkungan dan sebagainya, sebagaimana di Negara maju yang selama ini menjadi pasar utama sawit kita. 

Lalu produk-produk manufaktur yang cukup bersaing. Juga tekstil masih bisa masuk. Lalu produk peralatan rumah tangga serta otomotif yang LCBC murah, karena keunggulan kita adalah dari sisi otomotif produk LCBC yang harganya lebih murah. Hal ini banyak di pasar non tradisional yang lebih laku, dan juga sejumlah produk lainnya masih bisa untuk tembus kesana.

Ihwal mengapa produk Vietnam bisa lebih bersaing di pasar utama daripada produk Indonesia. Itu ada pada daya saing efisiensi produksi. Di negaranya sendiri sebelum di ekspor pun lebih bagus daya saingnya dan lebih murah. Lebih murah karena pertama, seperti tingkat upah, kedua masalah energi. Ketiga, logistiknya lebih efisien, hal itu yang membuat mereka di start awalnya lebih bagus harganya dibandingkan kita. Walaupun dari sisi mutu kemungkinan Negara kita tidak kalah bersaing, bahkan mungkin kita bisa lebih baik, tetapi harganya mereka bisa lebih murah.

Selanjutnya dari sisi strateginya Vietnam yang secara logistik itu juga memudahkan karena mereka lebih dekat ke pasar utama. Ke China lebih dekat demikian juga ke Amerika, pelabuhannya pun langsung berhadapan dengan samudera sehingga ongkos logistik bisa di tekan. Belum lagi mereka lebih aktif dalam meng approach mengenai perjanjian-perjanjian dagang dengan Negara lain, itu juga yang membuat Vietnam lebih bagus lagi dalam penetrasi pasarnya.

Perlu sekali jika mungkin diadakan direct selling dengan AS. Hanya saya tidak tau bagaimana caranya bisa seperti itu. 

Karena, mengapa kita butuh singgah ke Singapore, karena armadanya di butuhkan muatan yang besar serta armada yang bisa menempuh perjalanan yang panjang. 

Belum lagi dari sisi jasa pelengkapnya seperti asuransi, trust, hal ini butuh di bangun juga, bukan hanya infrastruktur fisiknya saja, hal itulah mengapa selama ini kita lewat pelabuhan Singapura serta pelabuhan lainnya. 

Sebetulnya kalau bisa direct salling bagus sekali seperti menggunakan kapal berukuran tanker yang besar, bisa menghemat waktu serta meredam kelemahan daya saing kita dari sisi logistik dari para pesaing-pesaing kita.

Pasar Afrika lebih memungkinkan secara logistik. Dari sisi pertumbuhan demand nya juga, beberapa Negara di Afrika itu bagus seperti Negara Afrika Selatan, Nigeria kemudian Kenya serta beberapa Negara yang sedang tumbuh, juga yang  pertumbuhan ekonominya sedang lumayan seperti Ethiopia. itu bisa menjadikan pasar yang cukup membantu untuk kita. 

Penetrasi kita selama ini relatif kurang dibandingkan pesaing-pesaing kita.  Di Asia Tengah juga begitu, tetapi di Asia tengah kita terkendala logistik karena lebih susah.

Mereka tidak menghadap langsung ke samudera yang dekat dengan kita.

Jika dibandingkan dengan China mereka lebih direct menembus pasar di Asia tengah, lebih dekat dan logistiknya lebih langsung atau direct dibandingkan kita. 

Menurut saya justru wilayah Timur Tengah yang bisa lebih bagus penetrasi nya tapi dalam hal ini masih kurang optumal. Padahal dari sisi logistik lebih mudah seperti ke Saudi atau Negara-negara teluk atau Mesir karena bisa langsung ke Samudera Hindia. Tetapi hal ini relatif kurang terutama ke Saudi Arabia. 

Sebetulnya dari sisi non ekonomi dengan Saudi Arabia seperti kesamaan religi kita lebih dekat, dan kita juga banyak mengirimkan Jema’ah haji. Semestinya hal itu bisa dikembangkan dengan hubungan ekonomi perdagangan, misalkan dengan negara-negara yang mengirim jemaah haji.

Jamaah haji itu butuh pakaian, makanan dan macam-macam logistik yang sebenarnya mereka impor dari luar. 

Selama ini yang mensuplai sayang sekali bukan dari kita, tetapi justru berasal dari Thailand, China, hal tersebut yang membuat kita miris, padahal kita itu mempunyai peluang yang besar, hal tersebut yang seharusnya.

Harus ditetapkan dari sisi kebutuhan impor untuk mereka selama ini apa saja, hal itu yang harus kita perkuat dan mulai dirintis jalannya dengan melobi kepada pemerintahnya. Kemudian kita masuk pasar tersebut, walaupun tidak bisa langsung karena umumnya ekspor-impor ini adalah by contract, misalkan bila sebelumnya membeli sawit dari Malaysia, tidak bisa langsung diubah membeli ke negara kita tapi harus menunggu hingga jangka waktu tertentu. 

Namun hal ini harus segera dilakukan negosiasi dari sekarang. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti INDEF

Pasar ekspor Indonesia dinilai sangat fluktuatif pada beberapa tahun terakhir walaupun secara tren menunjukkan tren kenaikan dari tahun 2016. Secara tahunan dari 2016, ekspor Indonesia mengalami pertumbuhan secara year-on-year (yoy) yang signifikan hingga tahun 2018. Pada awal tahun 2016, pertumbuhan ekspor sempat menyentuh angka minus 21,53 persen atau terendah untuk tiga tahun terakhir. Namun keadaan tersebut berangsur pulih hingga tahun 2017-2018 dimana tertinggi pada Juli 2017 yang tumbuh sebesar 42,81 persen.

Selama tahun 2018, ekspor mencatatkan pertumbuhan yang positif dari bulan Januari hingga Juli 2018, dan relatif meningkat walaupun belum setinggi bulan Juli tahun lalu. 

Pada Juli 2018, ekspor Indonesia sebesar 16.242,7 juta dolar AS atau meningkat 19,33 persen dibandingkan Juli tahun lalu. Peningkatan ini lebih tinggi daripada pertumbuhan ekspor bulan lalu (yoy). Namun kenaikan ini masih sangat tergantung dengan perubahan harga komoditas dunia seperti nikel, tembaga dan batubara bukan karena peningkatan pada daya saing sehingga meningkatkan industri dalam negeri.

Data menyebutkan bahwa ekspor Indonesia terhadap ekspor dunia masih berada di peringkat 29 dari total negara. Masih jauh jika dibandingkan dengan China (peringkat 1), AS (peringkat 2), bahkan dengan negara tetangga seperti Singapura (14), VietNam (20), Thailand (21), dan Malaysia (26). Peringkat yang masih rendah tersebut dipengaruhi oleh daya saing Indonesia yang masih di bawah negara-negara tersebut. Daya saing yang rendah akan menimbulkan produk yang tidak bisa bersaing secara kuantitas maupun kualitas dengan negara-negara tersebut. 

Selain itu, negara-negara dengan peringkat 10 besar terbesar porsi ekspornya tersebut merupakan negara dengan pengekspor produk berbasiskan teknologi dan mempunyai nilai tambah yang tinggi. Bandingkan dengan Indonesia yang masih saja mengandalkan komoditas mentah untuk diekspor seperti minyak, CPO, karet, dan batubara. Barang-barang produk olahan dan berteknologi tinggi belum menjadi andalan ekspor Indonesia.

Berdasarkan negara tujuan ekspor pun juga tidak pernah ada perubahan drastis. Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor utama hanya itu-itu saja seperti China, AS, Jepang, dan India. Barang yang diminta negara-negara itu merupakan barang-barang dengan nilai tambah rendah seperti China yang banyak mengimpor CPO dan minyak dari Indonesia, serta AS yang banyak mengimpor karet dan minyak dari Indonesia. Kebalikannya, impor dari negara-negara itu ke Indonesia merupakan produk olahan dengan nilai tambah tinggi. Jadi membuka pasar ke negara-negara non tradisional merupakan strategi utama untuk meningkatkan ekspor Indonesia.

Ada dua tantangan utama dari strategi membuka pasar ekspor baru. Pertama tentu persaingan dari negara lainnya. China merupakan salah satu negara yang sangat gencar membuka pasar internasional. Terlebih dengan adanya perang dagang AS yang mengharuskan adanya saluran baru barang produksi dari China agar tidak menumpuk di dalam negeri. Selain itu investasi yang gencar dilakukan China di negara berkembang membawa keharusan negara tersebut mengimpor produk-produk dari China sebagai bahan baku pembangunan seperti Jalan Tol, Jembatan, ataupun Gedung.

Kedua adalah, daya saing produk Indonesia yang masih kurang efisien. Barang-barang dari Indonesia relatif lebih mahal daripada barang-barang yang dihasilkan oleh negara lain terutama China.

Peningkatan daya saing industri merupakan strategi utama yang harus dilakukan pemerintah untuk bisa bersaing dengan negara lain, minimal harus bisa bersaing di ASEAN karena untuk bisa bersaing dengan China merupakan tugas yang berat walaupun pasti suatu saat bisa. Selain itu, strategi dengan mengandalkan perwakilan Indonesia di negara-negara dengan potensi sebagai pasar utama baru. Para duta besar Indonesia di negara-negara tersebut harus dimanfaatkan untuk bisa menjadi agen produk Indonesia untuk diekspor. Ada target ekspor yang dibebankan ke masing-masing perwakilan. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan