Menanti Jurus RI Stabilkan Rupiah
berita
Ekonomika
Sumber Foto : sapawarga.com (gie/watyutink.com) 25 May 2018 14:00
Penulis
BI dan Pemerintah diharapkan dapat berselancar secara harmonis di jalan setapak bertubir di kanan kirinya. Keduanya didamba mampu berjibaku menstabilkan nilai tukar rupiah. BI melalui instrumen moneter, sementara pemerintah lewat perangkat fiskal. Keduanya diminta untuk seiring sejalan  mengeluarkan kebijakan yang ciamik.

BI sudah mengeluarkan jurusnya dengan menaikkan suku bunga BI 7-Day Reserve Repo Rate menjadi 4,5 persen. Kebijakan ini belum mampu mengembalikan keperkasaan rupiah kembali di bawah Rp14.000 per dolar AS. Alih-alih menguat, rupiah semakin dalam terpuruk ke posisi Rp14.192 berdasarkan kurs tengah yang dirilis BI pada 23 Mei.

BI belum menyerah dengan jurus moneternya. BI masih bisa menaikkan suku bunga lagi apabila tekanan pada nilai tukar rupiah masih berlanjut dipengaruhi oleh ekspektasi investor atas kenaikan suku bunga di AS. Menjalankan amanat UU, kebijakan BI itu juga untuk menjaga agar inflasi tidak melewati target 4 persen tahun ini. Konsekuensinya, likuiditas akan seret. Pemilik uang lebih memilih menaruh dananya di bank dengan bunga deposito lebih tinggi ketimbang menginvestasikannya di sektor usaha. Akibatnya, ekspansi usaha akan terhambat.

Rezim bunga tinggi pernah diterapkan BI saat krisis ekonomi pada tahun 1998. Saat itu suku bunga deposito mencapai 60 persen, wow !!!. Alasan utama menaikkan suku bunga tinggi karena masyarakat tidak mempercayai bank untuk menyimpan dananya, menyusul ditutupnya 25 bank.

Bagaimana jika rupiah masih terus melemah, apakah BI akan terus menaikkan suku bunga? Adakah  jurus lain menangkal pelemahan rupiah? Bagaimana menutup kelangkaan dana dari sumber lain? Adakah sumber dana murah yang bisa digunakan? Bagaimana menarik investor agar mau tetap memarkir dananya di Tanah Air?

Pemerintah memiliki instrumen fiskal yang dapat digunakan untuk menstabilkan rupiah, melengkapi instrumen moneter yang dimiliki BI. Penerbitan surat utang negara adalah domain pemerintah yang dapat digunakan untuk cari duit. Pemerintah dalam kurun waktu dan untuk kebutuhan tertentu menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN). SBN diperjualbelikan secara global sehingga potensi dana yang bisa diserap jauh melebihi kebutuhan likuiditas di Tanah Air. Berapapun emisi SBN, pasar global mampu menyerap sepanjang imbal hasil yang ditawarkan menarik mereka.

Keterpurukan rupiah juga disebabkan oleh arus keluar dana asing dari instrumen investasi di pasar keuangan domestik ke surat utang AS (US Treasury). Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun sudah bergerak di atas 3 persen.

Dengan kecenderungan pengetatan kebijakan moneter BI, pemerintah dapat lebih ekspansif menggunakan instrumen fiskal agar tetap ada dana segar yang dapat digunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Pemerintah membantu BI menahan arus keluar dana asing di pasar keuangan domestik dengan menaikkan imbal hasil SBN. Namun pemerintah harus siap dengan pembayaran bunga utang yang semakin besar. Saat ini cicilan utang pemerintah mencapai sekitar Rp300 triliun. Beban bunga utang semakin besar membuat APBN menjadi rapuh karena dominasi investor asing di SBN.

Bersediakah pemerintah menaikkan imbal hasil SBN? Masih adakah ruang menaikkan imbal hasil SBN? Sanggupkah pemerintah dengan risiko membayar bunga utang yang semakin besar? Bagaimana jika pemerintah tidak membantu BI dengan menaikkan imbal hasil SBN?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Guru Besar Universitas Diponegoro

Dalam jangka pendek sektor moneter memang harus melakukan sesuatu dan Bank Indonesia sudah melakukan. Namun harus jujur dikatakan BI agak terlambat sehingga kurs sudah kadung dalam posisi yang cukup lemah.

Di sisi fiskal, dalam neraca pembayaran memang kondisinya memungkinkan adanya persepsi yang kurang menguntungkan bagi nilai tukar rupiah dilihat dari kecenderungan yang ada. Selain masalah rasio utang, pertumbuhan utang lebih tinggi dari pertumbuhan produk domestik bruto sehingga orang memiliki persepsi negatif sehingga memperlemah nilai tukar rupiah.

 Instrumen fiskal dalam mengatasi nilai tukar rupiah tidak fleksibel. Untuk melakukan pinjaman atau utang maka harus melalui mekanisme di DPR. Ini akan menjadi lambat kalau kita mengandalkan fiskal. Jadi untuk mengatasi masalah pelemahan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek memang harus dengan instrumen moneter.

Ke depannya dibutuhkan komitmen dari Gubernur BI yang baru bahwa bank sentral bertanggung jawab bertanggung jawab juga terhadap pertumbuhan ekonomi, tidak hanya menjaga inflasi.

Untuk menjaga inflasi tetap terkendali harus dipastikan distribusi lancar dan tersedianya barang selama puasa dan menjelang Lebaran. Kalau inflasi tidak dapat dikendalikan maka instrumen moneter berupa penaikan suku bunga BI 7-Day Reserve Repo Rate --meski terlambat tapi diperlukan-- menjadi tidak berdaya dalam menjaga nilai rupiah.

BI tidak perlu menaikkan suku bunga lagi. Kalau dinaikkan lagi secara psikologis akan mendorong lebih kuat lagi spekulasi. Pelaku pasar akan melihat BI tidak percaya diri.

Melemah tidaknya rupiah ke depan tergantung pada pengendalian inflasi. Kita lihat beberapa hari ke depan, apakah ada titik balik nilai tukar rupiah ketika Gubernur BI yang baru dilantik. Kredibilitas Gubernur BI yang baru cukup diakui karena menguasai makro ekonomi. Rupiah diharapkan tidak terus melemah dan bisa dikendalikan. Untuk itu Gubernur BI yang baru perlu segera melakukan konsolidasi internal. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Kita berhadapan dengan invisible trinity, trinitas kemustahilan, yang tidak mungkin ketiga-tiganya disatukan. Pertama, exchange rate yang stabil. Kedua, independensi Bank Indonesia. Ketiga, free capital flow. Ini tidak bisa berjalan tiga-tiganya secara bersamaan. Pilihannya hanya dua dari tiga saja, tidak bisa disatukan semuanya.

Kalau kita punya kondisi free capital flow, dimana arus masuk keluar modal bebas, lalu mempunyai kebijakan bank sentral yang independen maka korbannya adalah volatilitas dari nilai tukar. Tidak bisa dicapai tiga-tiganya.

Tapi kalau kita mau menjaga nilai tukar rupiah yang stabil di tengah bank sentral yang independen, itu kita harus mengontrol kapital, salah satunya adalah dengan mekanisme Tobin Tax. Arus modal masuk dan keluar dikontrol dengan mekanisme pajak dimana capital yang keluar dikenakan pajak, sementara capital yang masuk diberikan insentif.

Memang ketika kita melakukan kontrol terhadap kapital  memang ada implikasi lain yaitu kemungkinan besar ada investasi yang beralih ke negara lain karena mereka tidak mau terlalu dikontrol sehingga ini menjadi hambatan juga untuk investasi. Tapi ini memang pilihan-pilihan yang harus diambil.

Lalu kenapa kebijakan Bank Indonesia menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate terkesan tidak signifikan dalam memperkuat nilai tukar rupiah. Memang kalau melihat tren historis dari 2013 dimana kita saat itu juga mengalami depresiasi yang cukup dalam, kebijakan BI menaikkan beberapa kali suku bunga SBI tidak terlihat di pasar uang. Justru yang terjadi rupiah makin terdepresiasi. Hal ini terjadi karena elastisitas kebijakan semakin kecil dan pasar melihat adanya kepanikan BI dengan menaikkan suku bunga sehingga pelaku pasar semakin kehilangan kepercayaan terhadap rupiah.

BI terlalu awal menaikkan suku bunga, walaupun kita harus menaikkannya juga. Kita harus melihat momentum. Waktu dinaikkan minggu kemarin kita melihat tekanan masih terlalu deras. Justru kenaikan suku bunga ini mempunyai implikasi lain terdapat pertumbuhan ekonomi. Ini memang pilihan, stabilisasi atau pertumbuhan.

Kalau kita mengejar stabilisasi melalui instrumen moneter dengan menaikkan suku bunga memang gejalanya dalam jangka menengah panjang pertumbuhan ekonomi akan terkendala. Namun kita melihat suku bunga yang dinaikkan ini belum ampuh juga dalam membantu nilai tukar rupiah terapresiasi. Malah justru ke depan menjadi konstrain dalam pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan yang paling tepat untuk menstabilkan rupiah memang dari sisi moneter dalam jangka pendek. Dari sisi fiskal yang bisa diterapkan adalah tadi, Tobin Tax. Penerbitan SBN di pasar yang sangat ketat saat ini justru tidak disambut pelaku pasar, pasar sangat sepi.

Untuk melihat nilai tukar rupiah saat ini kita juga harus melihat imbal hasil obligasi jangka panjang yang sekarang justru sedang meningkat. Ini menunjukkan tekanan ke depan makin kuat. Kalau kita memilih stabilisasi, pertumbuhan dikorbankan. Kita memang harus memilih salah satu saja. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF