Menakar Nasib Petani Sebagai Kunci Kedaulatan Pangan
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 15 February 2019 16:30
Penulis
Watyutink.com - Salah satu tujuan dari pembangunan pertanian di Indonesia adalah menjadikan dunia pertanian sebagai sentra produksi pangan bagi kebutuhan pangan nasional dan industri melalui program swasembada pangan, serta mewujudkan kesejahteraan petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian di Indonesia.  

Alat ukur utama untuk mengindikasikan kesejahteraan petani dalam dunia pertanian di Indonesia adalah melalui indikator Nilai Tukar Petani (NTP). Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani.

Meski Nilai Tukar Petani Indonesia pada akhir 2018 sebesar 103, 17 yang membaik pada NTP Januari 2019 menjadi sebesar 103,33 namun NTP Perkebunan rakyat masih di bawah angka 100 yang mengindikasikan terjadinya penurunan standar kesejahteraan petani perkebunan rakyat akibat fluktuasi harga komoditas dunia.

NTP tanaman pangan diketahui juga naik 107, 39 pada Januari 2019 namun dalam jangka menengah panjang ancaman terhadap penurunan hasil produksi karena El Nino dan tata niaga pangan yang belum kondusif oleh maraknya impor pangan, dapat mengancam keberlangsungan ketahanan pangan nasional.

Kecenderungan impor pangan, selain menjatuhkan harga komoditas pangan dalam negeri, menjadikan petani sebagai profesi yang tidak lagi diminati kaum muda perdesaan dan lebih memilih menjadi buruh di perkotaan. Terlebih profesi petani hanya bisa menghasilkan sekitar Rp1,2 juta saja per bulan karena mahalnya ongkos produksi pangan dan belitan tengkulak serta pengijon. Akibatnya usia kaum tani mayoritas diisi petani berusia 45-54 tahun.

Menilik pada tantangan yang dialami sebagian besar petani dan buruh tani di Indonesia, apakah kesejahteraan petani saat ini memang masih merupakan barang mewah yang sulit diwujudkan?

Ihwal kesejahteraan petani, sebenarnya sudah lama menjadi fokus dari silih bergantinya pemerintahan. Tak kurang pada periode Jokowi-Jusuf Kalla saat ini urusan petani dan kesejahteraan petani dinyatakan sebagai kunci Indonesia jika ingin mencapai kedaulatan pangan. Pagu anggaran Kementerian Pertanian pun dinaikkan dari semula Rp14,2 triliun pada 2014 menjadi Rp22,6 triliun. Porsi peruntukan anggaran dirubah dari semula 35 persen pada 2014 untuk sarana prasarana (sarpras) pertanian menjadi 85 persen pada 2018 untuk porsi anggaran sarpras.

Dengan perubahan komposisi peruntukan anggaran pertanian seperti itu, seharusnya tidak terdengar lagi petani mengeluh kekurangan sarana peningkatan hasil produksi pertanian. Tetapi yang diketahui publik terakhir adalah banyaknya petani yang membuang hasil produksi pertanian seperti cabe merah, bawang merah dan buah naga yang terpaksa dibuang berserakan karena harga yang jatuh. Petani gula dan beras pun mengeluh ketika justru impor beras dan gula secara masif membanjiri pasar.

Berdasarkan fenomena tersebut, masihkah tema kesejahteraan petani menjadi fokus bersama sebagai negara agraris? Apa yang harus diperbuat untuk mengembalikan harkat petani sebagai kunci kedaulatan pangan nasional di tengah tata niaga pangan yang masih perlu terus menerus diperbaiki?

Apa pendapat Anda? Watyutink? 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)

Masalah terpenting sekarang adalah bagaimana mewujudkan kesejahteraan petani. Jika petani sejahtera maka otomatis sudah terjadi swasembada pangan. Kendalanya, saat ini terjadi semacam shock antar harga. Ketika panen tiba, harga komoditas pertanian bisa turun, paska panen malah terjadi kelangkaan stok. Itu jelas mengindikasikan terjadinya kesemrawutan di bidang manajemen supply.

Sekarang ada target swasembada pangan tetapi sayang tidak melihat apakah dengan swasembada itu membuat petani sejahtera. Jika mau swasembada sebetulnya mudah sekali. Perusahaan-perusahaan besar diminta untuk menanam saja tanaman pangan maka swasembada pangan beres. Tetapi kemudian bermasalah di petani.

Kesejahteraan petani seharusnya yang mesti diciptakan. Di dalam pembangunan ekonomi pertanian, maka petani sebagai pelaku pertanian harus sejahtera. Jika petani sejahtera, misalnya saja petani beras bisa mendapatkan 3 kali lipat dari hasil sekarang, maka pasti semuanya mau menanam. Tetapi begitu mereka tahu bahwa harga beras turun, maka pada musim tanam berikutnya dia tidak akan mau menanam lagi. Itulah yang membuat selalu terjadi kontraksi dari hasil atau output pertanian.

Cara mencapai kesejahteraan petani harus memahami dulu bahwa produktivitas pertanian itu sebetulnya terbatas. Tidak mungkin bisa terus meninggi. Untuk meningkatkan ekonomi sosial juga sulit jika dia hanya memiliki 1 hektar lahan, misalnya. Oleh karenanya seharusnya bisa disiasati dengan harga. Tetapi secara politis harga beras itu ditekan. Dia tidak boleh naik karena jika harga beras naik maka hal itu bisa memberi kontribusi kepada jumlah rakyat miskin. Itulah korelasinya.

Ada dua komoditas pertanian penting yakni beras yang kita semua mengkonsumsinya, dan kedua adalah jagung. Jagung itu untuk pakan ternak. Pakan ternak mempengaruhi harga telur dan harga daging ayam. Kalau komoditas itu naik akan memberi kontribusi kepada inflasi.

Dilain pihak petani harus sejahtera, tetapi karena produktivitas dia terbatas atau tetap, maka mau tidak mau harus diberikan kenaikan harga. Disitulah perlu nya pemberian subsidi harga oleh pemerintah. Kedua, lambat laun karena pembangunan industri tidak berjalan, maka penyerapan tenaga kerja dari pertanian ke industri tidak terjadi. Oleh karena itu jumlah tenaga muda pertanian yang urbanisasi ke kota semakin besar.

Subsidi diberikan dalam bentuk langsung berupa harga gabah kering yang dinaikkan atau subsidi end produk. Misalnya, jika kita mau menjaga harga beras di konsumen katakanlah Rp 8 ribu. Jika harga itu tidak cukup ketika dibandingkan dengan pendapatan buruh, maka harga gabah kering harus dinaikkan dengan dibayar lebih mahal, supaya bisa mencukupi pendapatan petani.  

Di Amerika Serikat, jumlah petani memang menyusut drastis, tetapi output pertanian tidak menyusut. Karena setiap petani mempunyai lahan yang lebih besar. Lahan itu dibagi-bagi untuk petani supaya bisa bertanam lebih banyak. Petani juga diberikan subsidi berupa pertama, subsidi direct payment, kedua, conservation subsidies, ketiga, price volability and support, keempat, disaster aid.

Selain masalah di atas infrastruktur pertanian di daerah pertanian yang jauh masih banyak yang belum cukup memadai bagi petani. Contoh di Lombok, ada petani yang sampai harus menggunakan sumur bor—dan harus membayar--untuk mendapatkan pengairan pertanian. Hal itu jelas jauh lebih mahal. Seharusnya infrastruktur pertanian itu dibuat oleh pemerintah setempat. Itulah tantangan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan memperbaiki tingkat pendapatan atau kesejahteraan petani. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Rektor Universitas Lakidende Konawe, Sulawesi Tenggara

Dunia pertanian harus sudah mulai bergerak ke Digital Farming. Masalah saat ini salah satunya adalah, bagaimana memotivasi kaum muda kita untuk tetap tinggal di desa sebagai kunci ketahanan pangan. Harus ada solusi komprehensif bagaimana mensiasati dunia pertanian kita dengan kaum tani yang mayoritasnya usia tua.

Krisis ke depan bagi penduduk bumi adalah krisis pangan dan air di belahan utara khatulistiwa. 70 persen penduduk bumi belahan utara khatulistiwa akan mencari lahan pangan baru, dan mereka sudah mendapati bahwa pangan dan air berlimpah di kawasan Asia utamanya di Brasil, Kongo dan Indonesia. Di ketiga negara itu terdapat timbunan pangan karena berada di garis khatulistiwa. Otomatis akan ada perebutan sumber daya alam untuk pangan dan air.

Saat ini penduduk Indonesia sudah harus berpikir ke laut untuk mendapatkan pangan. Apalagi karena 70 persen wilayah RI adalah lautan. Masalah kita 15 tahun ke depan adalah pangan, air dan energi. Repotnya sekarang Indonesia tidak mandiri dalam  pengadaan pangan.

Untuk mandiri harus kita urus dengan benar para petani. Gapoktan dan Poktan (kelompok tani) harus diberdayakan. Kemarin ada Rp16 triliun dana untuk anggaran teknologi pertanian. Jadi per tahun disediakan Rp4 triliun, tetapi sayang nya tidak mendorong peningkatan hasil pertanian. Kemana mengalirnya dana yang amat banyak tersebut, masih perlu dijelaskan.

Untuk meningkatkan dunia pertanian sudah saatnya konsep Pentahelix dipergunakan kembali. Perlibatan perguruan tinggi, LSM, birokrasi dan lain-lain sumber daya perdesaan. Perguruan tinggi harus kembali hadir di pertanian. Ada baiknya kader-kader muda pertanian kita dikirim belajar ke Korea dan Taiwan, biarkan mereka belajar sampai faham selama 1 tahun, lalu kembali ke desa mempraktikkan ilmunya.

Masa depan pertanian RI sekarang ada di kaum muda kita yang berusia 24 sampai 39 tahun. Dan kebanyakan mereka sekarang ada di kampus. Juga harus dibarengi dengan visi baru ihwal digital farming. Dengan digital farming, tidak memberi kesempatan kepada para tengkulak bermain karena kita pergunakan unsur ABC. A adalah Artificial, B adalah Big Data dan C adalah Connectivity. Seharusnya sudah dikompilasi semua data para petani kita, berapa keluarganya, dan kepemilikan lahan. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan