Leisure Economy. Akan Bertahan Sampai Kapan?
berita
Ekonomika

Sumber Foto: linkedin.com

07 January 2018 14:00
Penulis
Tiap akhir pekan jalur Puncak selalu macet. Lokasi wisata baru banyak ditemukan dan terus diburu, sebagai tempat bersantai dan ber-selfie. Terutama saat libur Natal dan Tahun baru kemarin.  Bahkan, tempat makan yang unik banyak bermunculan saat ini. Sosial media menjadi ajang pamer dan sarana berekspresi.

Bagi kaum urban di kota-kota besar, rutinitas setiap hari yang running time, berkubang dengan kemacetan, dan deadline pekerjaan menjadi momok. Ada perasaan bersalah kepada hidupnya, karena merasa menyia-nyiakan umur hanya untuk pekerjaan dan rutinitas yang menekan tanpa sempat bersenang-senang dan menikmati hidup. Benarkah liburan jawabannya? Apa ini hanya alasan demi mengikuti gaya hidup leisure yang tren saat ini? 

Studi dari State University of New York di Oswego menyebutkan, mereka yang liburan setahun sekali memiliki harapan hidup 20 persen lebih tinggi dari yang tidak liburan. Benarkah demikian? Bagaimana dengan para petani di Okinawa, Jepang, yang ‘awet’ hidup meski rutin bekerja setiap hari tanpa liburan?

Perubahan pola konsumsi yang oleh para ekonom disebut shifting, biasanya terjadi seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan naiknya tingkat pendapatan, terutama pada masyarakat kelas menengah. Boston Consulting Group (BCG) memperkirakan jumlah konsumen “kelas menengah” di Indonesia akan meningkat menjadi 141 juta pada tahun 2030. Penduduk kelas menengah inilah yang paling konsumtif dibanding high end maupun low end. Sosial media berperan penting dalam perubahan pola konsumsi ini. Masyarakat kelas konsumtif, yang oleh netizen biasa disebut “kelas menengah ngehek” gemar memajang (baca: memamerkan) foto-foto selfie maupun wefie di lokasi-lokasi wisata dan tempat-tempat makan yang menarik. Kegemaran yang kemudian menular secara masif hingga saat ini menjadi budaya baru di masyarakat kita kah?

McKinsey memperkirakan angka penduduk “kelas konsumtif” meningkat 135 juta pada tahun 2020. Shifting ini lebih masuk akal menjadi alasan utama atas anjloknya konsumsi rumah tangga dari pada e-Commerce. Alvara Research Center mengeluarkan rilis mengenai Outlook Indonesia 2018 dalam Perspektif Marketing dan Politik. Dalam rilis tersebut menunjukkan ekonomi Indonesia 2018 akan membentuk suatu ekosistem ekonomi baru, yaitu leisure economy. Akankah hal ini juga akan berpengaruh terhadap ekonomi nasional?

Berdasarkan data BPS, leisure economy yang di antaranya hospitality (hotel dan restoran) serta rekreasi dan budaya (recreation and culture) bertumbuh sebesar 5,52 persen (year on year/yoy).

Akankah shifting yang potensinya secara global mencapai 7,6 triliun dolar AS ini secara jeli bisa dimanfaatkan oleh pemerintah untuk meraup devisa? Ataukah  potensinya dibiarkan menguap berlalu begitu saja? Akan bertahan berapa lama leisure economy?

Bukankah sebaiknya pemerintah lebih tanggap menyambut ledakan leisure economy di 2018 dengan membangun tempat-tempat wisata baru dan membenahi wahana wisata yang sudah, ada dari pada terus-terusan berhutang ke luar negeri, menjual aset negara, dan mengeruk pajak dari rakyat demi mengejar 'impian' proyek infrastruktur?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(afd)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Istilah leisure economy mendadak naik daun di tengah tahun 2017 lalu saat banyak outlet ritel ditutup dan terjadi tren penurunan bisnis ritel yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia. Ada penjelasan yang diajukan oleh pakar tentang fenomena tersebut bahwa telah terjadi pergeseran konsumsi masyarakat Indonesia dari belanja off-line menuju belanja on-line. Namun tidak semua setuju penjelasan ini, dan mengajukan penjelasan lain yaitu munculnya fenomena leisure economy - masyarakat Indonesia tidak lagi berselera membeli barang (material goods) namun lebih memilih menghabiskan uang mereka untuk pengalaman (experience). Penjelasan terakhir ini disambut positif dari banyak pihak karena secara praktis dapat dikaitkan dengan peningkatan bisnis di sektor pariwisata, transportasi, hiburan, makanan dan minuman di banding tahun-tahun sebelumnya.

Leisure economy dapat ditelusuri sejarahnya hingga pada Thorstein Veblen, seorang ekonom dan sosiolog Amerika yang menulis buku “The Theory of Leisure Class” di tahun 1899.  Menurut Veblen, para pemilik modal di Amerika Serikat pada waktu itu dinamai “Leisure Class” karena melakukan apa yang disebut dengan ‘conspicuous consumption’, yaitu membelanjakan uang guna mendapatkan barang dan jasa mewah lalu dipertontonkan ke publik dengan maksud pamer kekuatan ekonomi mereka.

Konsep leisure economy tersebut di atas berkelanjutan hingga di tahun 2007, seorang ekonom, Linda Nazareth menulis buku berjudul  “The Leisure Economy - How canging demographics, economics and generational atitudes will reshape our lives and our industries”. Nazareth memaparkan perbedaan nilai maupun sikap  dari tiga generasi, yaitu generasi Baby Boomers, generasi X dan generasi Y terhadap hidup, kerja dan kenikmatan. Umumnya generasi Baby Boomers memiliki nilai dan sikap bahwa bekerja adalah hal utama dilakukan dalam hidup. Saat pensiun nanti maka hasil kerja baru akan dinikmati. Tidak demikian dengan generasi X dan Y yang memandang bahwa hidup harus dinikmati sembari kerja, sebagai contoh: bekerja juga dapat dilakukan di rumah, tidak harus di kantor.  Menikmati hidup tidak perlu menunggu pensiun. Hal-hal inilah menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi yang disebut dengan leisure economy.

Di sini, Leisure economy diberi makna sedikit beda dengan Veblen, lebih dekat kepada Nazareth, bahwa kerja dapat dilakukan dengan menikmati hidup. Hal ini nampaknya semakin kokoh lewat dukungan teknologi informasi dan kolaborasinya dengan dunia keuangan sehingga memudahkan berbagai transaksi ekonomi saat ini. Kehadiran generasi Z (millenial) yang begitu akrab dengan teknologi menjadi key driver bagi leisure economy di masa depan. Menikmati hidup dapat dilakukan bersamaan dengan melakukan aktivitas ekonomi produktif. Namun berbahaya bila melakukan aktivitas menikmati hidup tanpa melakukan aktivitas ekonomi produktif karena akan menuju kebangkrutan ekonomi sebab produktivitas ekonomi akan menurun sehingga seperti pepatah: “Besar pasak dari pada tiang”.

Kemenpar, Bekraf, Kominfo dan BPS merupakan motor penggerak leisure economy di Indonesia, tentunya dengan dukungan berbagai lembaga lainnya. Kemenpar harus memanfaatkan momentum stabilitas politik, sosial dan ekonomi guna meningkatkan jumlah wisatawan sehingga berimbas pada pertumbuhan ekonomi lokal. Bekraf dan Kominfo menjadi pendorong munculnya berbagai start-up unicorn yang mampu menghasilkan besaran nilai bisnis eksponensial. BPS secara khusus mencatat semua statistik leisure economy, memegang peran strategis dalam perencanaan dan pengembangan leisure economy. Indonesia sudah saatnya memanfaatkan potensi generasi millenial, pesona budaya, kuliner dan alam Nusantara untuk memperkuat leisure economy. (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Kepala Badan Ekonomi Kreatif / BEKRAF

Saat ini, hampir semua sendi kehidupan manusia di-drive oleh digital dan oleh kemajuan teknologi yang eksponensial. Sehingga, yang tadinya masyarakat tidak menyaksikan dan memperhatikan apa yang terjadi maupun potensi alam yang dimiliki oleh wilayah/tempat luar, saat ini masyarakat bisa lihat dengan jelas, dan hampir tanpa batas. Jadi keinginan untuk pergi melancong ke suatu tempat untuk bersenang-senang dan berwisata itu lebih besar saat ini. Keinginan tersebut bisa mereka wujudkan dan rencanakan dengan baik, karena fasilitas dan jasa-jasa yang tersedia saat ini mendukung untuk masyarakat melakukan hal itu.

Apalagi saat ini, gadget dengan fasilitas kamera, yang bisa merekam segala kegiatan dan aktivitas, dengan koneksi internet yang bisa terhubung dengan dunia luar, bisa dimiliki dengan mudah dan murah oleh hampir seluruh masyarakat. Sehingga, kegiatan selfie dan wefie (narsisme) di lokasi wisata maupun aktivitas berkumpul dan makan-makan di tempat-tempat yang unik dan nyaman (cozy) bisa mereka abadikan, kemudian dishare melalui media sosial. Nah, hal inilah yang kemudian merangsang orang lain untuk ikut mengunjungi lokasi wisata maupun tempat-tempat makan yang mereka tonton/saksikan di media sosial . Artinya, aspek ‘experience’ lah saat ini yang mendasari terjadinya leisure economy. Gabungan antara narsisme dan experience  merupakan ‘satu paket’ yang sangat pas, yang mendorong terjadinya ledakan (booming) dari leisure economy saat ini.

Indonesia, memang perlu segera berbenah dalam menyongsong leisure economy ini. meski dikaruniai alam yang sangat indah dan lengkap, namun faktor-faktor pendukungnya juga perlu segera dibenahi. Seperti Raja Ampat, yang memiliki kondisi alam yang sangat bagus, sangat potensial sebagai destinasi wisata dunia, namun supporting systemnya belum mendukung, seperti tempat pertunjukan dan pusat menjual kerajinan (handycraft), serta tempat memamerkan kreativitas lokal masih belum bagus. Ini tugas besar bagi kita semua. Terutama dalam mengenalkan dan meningkatkan kunjungan wisata di 10 destinasi wisata yang telah ditetapkan menjadi andalan wisata di Indonesia.

Dalam menyikapi ledakan leisure economy, secara sinergis pemerintah melalui Kementerian Pariwisata, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Luar Negeri, termasuk Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) berupaya untuk menangkap potensinya.

Bekraf, sejak 2016 lalu telah meluncurkan program Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON), yang akan dilaksanakan di lima daerah. Yaitu Sawahlunto, Sumatera Barat dengan kain tenun, Lampung (tapis), Brebes (batik), Rembang (batik), dan Ngada, Flores dengan tenunnya. 

IKKON merupakan program yang menempatkan sekelompok pelaku ekonomi kreatif berlatar belakang profesi berbagai sub sektor desain pada suatu wilayah tertentu selama 3 bulan, untuk berinteraksi, bereksplorasi dan berkolaborasi bersama dengan potensi kreatif lokal. Setelah proses kolaborasi selesai, peserta mensosialisasikan hasil-hasil dari Program IKKON melalui pameran di lokasi masing-masing yang difasilitasi oleh Pemda, Kementerian/Lembaga dan instansi-instansi lain, baik pemerintah maupun swasta, untuk melakukan tindak lanjut terhadap hasil-hasil dari Program IKKON tersebut.

Kolaborasi ini diharapkan membantu menciptakan habitat kreatif yang kondusif di lokasi program IKKON untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas serta memberikan wadah bagi para desainer/pelaku kreatif lokal untuk menggali inspirasi baru dalam berkarya dari kekayaan budaya lokal. Kegiatan IKKON ini akan mempercepat proses pengembangan kapasitas SDM Kreatif di seluruh Indonesia dan dengan sendirinya mempercepat peningkatan kualitas produk lokal kreatif.

Tentu, kehadiran leisure economy ini menjadi tantangan baru yang harus dijawab secara positif bagi semua, terutama bagi para pelaku industri leisure untuk meningkatkan kualitasnya. Dengan potensi yang sangat besar, kita berharap leisure economy ini mampu memberikan kesempatan dan peluang baru bagi industri pariwisata dan ekonomi kreatif kita. (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan