Laju Revolusi Industri 4.0, PDB Terdisrupsi?
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 25 January 2019 18:30
Penulis
Perkembangan teknologi di era revolusi industri 4.0, diketahui memunculkan ancaman disrupsi di segala bidang, terutama bidang-bidang pekerjaan yang selama ini digarap secara teknologi manual (3.0)—yang oleh kemajuan teknologi tersebut menjadi tidak lagi efektif dan efisien untuk dipergunakan. Bidang-bidang pekerjaan itu di masa depan, contohnya teller bank, diperkirakan bakal tergantikan atau terdisrupsi oleh penggunaan teknologi digital atau android, hal mana nasabah tidak perlu lagi bersusah payah antri untuk menemui teller bank.

Begitupun bidang pekerjaan lain yang akan segera terdisrupsi oleh penggunaan robotisasi dan teknologi mekanik berbasiskan teknologi digital.

Laju perkembangan teknologi tersebut, oleh beberapa pihak disinyalir lambat laun akan segera mempengaruhi penggunaan indikator kinerja perekonomian yang selama ini masih menggunakan indikator PDB (Produk Domestik Bruto).

PDB, yang secara tradisional digunakan untuk mengukur kinerja pereknomian suatu Negara dengan menghitung nilai moneter atau nilai pasar dari semua produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu Negara atau hasil agregat dari harga dikali kuantitas, sehingga dapat ditemukan angka PDB pada periode tertentu (Thariq, Rahmanda, dalam Katadata,20/1//2019).

Namun, dengan semakin merambahnya kemajuan teknologi digital, banyak bermunculan produk-produk yang menggunakan teknologi yang dapat diperoleh atau diunduh secara gratis. Produk-produk tersebut misalnya e-book, film-film youtube atau jaringan film digital, informasi-informasi melalui laman-laman Wikipedia dan lainnya, yang diperoleh secara gratis oleh konsumen.

Produk-produk “gratisan” tersebut ke depan diperkirakan akan semakin besar volumenya, dan merambah ke seluruh dunia yang borderless berkat kemajuan teknologi digital. Uniknya, produk-produk tersebut disinyalir tidak terdeteksi dalam item-item kumulasi pengumpulan angka PDB yang masih mengandalkan perhitungan nominal PDB tradisional.

Menjadi pertanyaan, apakah benar ke depan perhitungan PDB akan juga “terdisrupsi” oleh banyaknya produk yang dapat diperoleh secara gratis melalui unduhan berbasiskan teknologi digital? Pertanyaan berikutnya, apakah hal tersebut juga berlaku di negara-negara berkembang atau dunia ke 3 yang masih mengandalkan natural resource dalam pencapaian kinerja perekonomiannya? Jika benar, apakah memang dibutuhkan rumusan baru dari perhitungan PDB?

Bagi negara-negara berkembang ataupun negara belahan selatan yang selama ini masih pendapatan nasional nya masih berbasiskan ekspor natural resources, tentu harus memperhitungkan dampak kemajuan teknologi tersebut.

Industri-industri yang eksis di dunia berkembang juga diperkirakan masih akan membutuhkan waktu untuk bisa mengadopsi sistem dan mekanisme yang diterapkan pada negara maju yang telah lama mengandalkan “brain resources’ dalam perkembangan pertumbuhan ekonomi. Menjadi persoalan tersediri bagi negara berkembang yang alih-alih mengadopsi kemajuan teknologi digital dalam mengikuti langgam industri negara maju, tetapi justru masih berkutat pada persoalan perlambatan pertumbuhan industri atau mengalami deindustrialisasi. Hal tersebut bisa jadi merupakan handycap tersendiri yang menghambat pertumbuhan teknologi 4.0. di negara bersangkutan.

Tentu amat disayangkan apabila hal tersebut ternyata masih dialami oleh Indonesia. Namun, apa saja sebetulnya yang harus dikejar dengan segera agar adopsi kemajuan teknologi digital tersebut bisa terlaksana dengan smooth pada dunia industri nasional?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Pertama, perkembangan teknologi digital tidak bisa dibendung oleh siapapun termasuk pada tataran indikator-indikator ekonomi yang sifatnya konvensional seperti perhitungan PDB.

Tugas kita adalah bagaimana merumuskan kembali metode perhitungan PDB. Kalau kita masih menggunakan rumusan atau metode lama, maka akan terjadi gap. Akan terjadi penurunan angka PDB, karena penghitungannya sudah tidak lagi bisa menjangkau kenyataan yang ada. Aktivitas besar ekonomi memang ada, tetapi angka nya kecil. Itulah yang disebut terjadi gap. Kenapa terjadi gap, karena rumusan metode penghitungannya tidak lagi relevan.

Jadi sekarang kita harus menemukan metode baru atau konstanta yang men-convert kondisi yang saat ini terjadi dengan kondisi yang lama. Itu hal pertama.

Kedua, kita tidak bisa semata-mata bersandar pada aktivity base, tetapi lebih pada outcome base.

Outcome base penting, karena jika ekonomi diukur berdasarkan aktivitas maka aktivitas nya mungkin menghitung setiap ada aktivitas pasti akan menghasilkan hitungan uang. Misalnya jika men-download maka harus ada dananya, dan seterusnya. Hal seperti itu sudah tidak relevan lagi dengan situasi teknologi digital yang harus melihat pada oucome base. Jadi jika kita men-download sesuatu, maka harus dilihat hasilnya apa, begitu pula dengan dampaknya. Hal-hal itulah yang harus diukur.

jadi memang saat ini penting bagi kita untuk merevitalisai cara pandang terhadap PDB. Para ekonom mungkin sudah saat nya tidak lagi melihat dari cara pandang model Adam Smith misalnya, yang sudah ber abad-abad seperti itu.

Bicara negara dunia ke 3, maka cara pandang seperti itu adalah cara pandang waterfall. Teknologi yang maju pasti dinikmati oleh Negara dunia pertama, lalu jika teknologi itu sudah tidak lagi digunakan maka dioper ke negara dunia ke 2. Setelah itu turun lagi ke Negara dunia ke 3. Jadi ada semacam urutan untuk menikmati teknologi.

Jadi teknologi jaman dulu dinikmati secara urutan atau serial, antri. Tetapi sekarang tidak lagi bisa begitu. Teknologi sekarang dinikmati secara bersama baik oleh dunia pertama sampai dunia ke 3. Hal ini yang menarik.

Jadi tidak lagi menganggap bahwa dalam satu teknologi ada teknologi yang digunakan di dunia pertama Amerika Serikat misalnya, lalu dibuang ke China dan kemudian Afrika. Kesannya Afrika hanya untuk gelombang ke 3.

Sekarang, orang Afrika sudah bisa menikmati teknologi yang sama dengan orang Amerika. Itu didapat dari kemajuan teknologi digital yang sudah berubah. Semua saat ini disudut mana saja bisa menikmati teknologi digital secara bersama-sama.

Hanya tantangannya sekarang satu hal, yakni infrastruktur. Infrastruktur yang paling dibutuhkan adalah listrik. Listrik menjadi kata kunci, benda dengan energi yang lebih umum. Tetapi listrik paling penting dan dia bertindak sebagai driver.

Satu lagi, kreativitas. Kreativitas penting karena erat kaitannya dengan sumber daya manusia. Dengan banyaknya akses internet, lalu listrik masuk maka kemudian kreativitas akan muncul untuk bagaimana memanfaatkan sumber daya alam secara lebih adaptif dengan perkembangan teknologi.

Selama ini kita terkungkung jika melihat paradigma lama, misalnya dengan produk singkong, maka ketemunya singkong akan diolah begitu saja. Tetapi jika membuka youtube kemudian akan ditemukan informasi bahwa singkong bisa dijadikan apa saja. Bagi mereka yang membutuhkan, maka informasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai lahan bisnis baru.

Pekembangan teknologi digital ke depan memang akan merambah kemana-mana, is going to be.

Satu hal terakhir yang tidak kalah penting adalah kita melupakan adanya aktor generasi milenial. Hendaknya kita jangan selalu berpikir pada metode lama. Sekarang generasi milenial sebagai generasi baru memang berbeda dengan generasi yang telah lalu. Generasi milenial sebagai aktor baru perubahan akan menentukan sekali.

Saat ini generasi milenial di Afrika dengan generasi milenial di Asia punya gap yang kecil. Berbeda dengan masa lalu dimana gap orang Afrika dengan orang Asia cukup jauh.

Anak-anak muda Afrika sekarang sudah mulai banyak yang berpendidikan. Dibandingkan jaman penjajahan Eropa pada Afrika di masa lalu. Sehingga generasi milenial Afrika kini sudah makin bagus.

Jadi, cara pandang kita sekarang adalah pada tataran teknologi yang sama, dimanapun dia berada. Yang membedakan adalah tergantung pada kreativitas generasi milenialnya. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

Ihwal PDB pada akhirnya memang perlu adanya penyempurnaan dalam teknis penghitungannya. Sejauh ini PDB masih cukup representatif untuk bisa merepresentasikan output ekonomi yang dihasilkan untuk sebuah kinerja aktivitas ekonomi.

Memang benar tidak semuanya bisa terjawab di PDB, misalkan soal ekonomi digital. Saat ini presisinya memang masih rendah karena masih growing atau fase transisi. Dari semula serba analog kemudian sekarang semuanya serba digital. Bahkan banyak hal misalkan sebuah valuasi satu perusahaan sekarang tidak bergantung pada hal konvensional seperti berapa asetnya dan lain-lain, sekarang bahkan bisa dilihat cuma dari viewer-nya saja.

Hal-hal seperti di atas kemudian dipikirkan bagaimana cara mencatatnya. PDB sendiri sebetulnya mampu menangkap hal itu, karena PDB berada di ranah hasil akhir atau output terakhir dari perekonomian.

Katakanlah seorang youtuber, yang dihitung bukan cuma pada perkiraan akan menghasilkan berapa, tapi ujungnya tetap akan menghasilkan pendapatan. Tinggal lagi bagaimana uang dari hasil pendapatan youtuber itu dipergunakan untuk apa. Dan jika dibelanjakan, maka bukti-bukti transaksi itu akan juga bisa diketahui berapa hasil PDB pengeluaran. Jadi ada juga angkanya. Jika dibelikan mobil maka akan ada industri mobil yang mendapatkan hasil penjualan.

Tetapi memang sesuai perkembangan zaman, presisi PDB tetap harus dibenahi terus indikatornya. Dugaan saya sebagai peneliti memang tidak akan secara radikal muncul PDB yang content digitalnya tinggi dan aspek-aspek non digital jadi terabaikan. Sepertinya tidak seperti itu. Tetapi lebih pada aspek presisinya.

Jadi basket hitungannya misalkan dalam keranjang investasi atau keranjang konsumsi, itulah yang harus terus diperbaharui seiring perkembangan zaman. Sebetulnya cara penghitungan PDB yang sekarang di antara Negara-negara di dunia tidak semuanya sama. Tergantung dari bagaimana Negara itu meperlakukan perekonomiannya.

Misalnya, Indonesia tidak mengakui industri yang haram seperti industri prostitusi seperti di negara lain sebagai bentuk aktivitas ekonomi. Sehingga kita tidak menghitung nilai dari aktivitas-aktivitas industri seperti itu. Walaupun dulu ada Dolly dan sebagainya, itu tidak dihitung sebagai unsur PDB, karena itu bisnis ilegal. Walaupun dilegalkan dalam konteks tempat, tetapi tetap tidak dihitung.

Sementar Negara Belanda memasukkan angka-angka itu, karena di sana bisnis itu dilegalkan. Jadi konsumsi dan pendapatan dari sektor itu dianggap angka dari sektor jasa.

Kalau di Amerika, perhitungan PDB nya lebih presisi. Karena tidak hanya melibatkan aspek pengeluaran, tapi juga sisi penerimaan dan sisi produksi. Sedang kita tidak menghitung angka dari sisi produksi karena rumit. Industri kitapun susah mengakui angka produksi, karena terkait pajak dan lain-lain. Sehingga yang dihitung hanya pengeluaran saja.

Sejauh ini di Negara berkembang memang rata-rata PDB pengeluaran. Tetapi ada metode yang lain yang bisa saling mengoreksi. Dari sisi metodenya saja kita belum lengkap. Memang harus dilengkapi sebisa mungkin seperti Negara maju menghitung PDB.

Jadi dari fenomena baru industri 4.0 itu harus ada hal yang sifatnya sangat teknis yang tentu harus dirumuskan. Misalkan aspek tidak berbayarnya produk digital. Memang disatu sisi terlihat viewernya banyak, begitu pula yang men download. Tapi kemudahan akses informasi itu juga membuat human capitalnya naik. Orang kemudian semakin pintar. Dari kepintaran itu kemudian memunculkan value. Hal Itu juga bisa jadi ukuran PDB.

Banyak orang yang sekarang kreatif dengan melihat youtube dan bisa memperbaiki HP, sepeda motor atau sepeda. PDB memang tidak menghitung pada area proses, tetapi hal itu dapat dihitung ketika orang yang menguasai pekerjaan menyervis HP, sepeda motor dan lainnya, dihitung sebagai jasa reparasi HP, sepeda motor dan lain-lain, dalam PDB.

Oleh karenanya dibalik rasa pesimis bahwa ada sekian juta pekerjaan yang akan terdisrupsi, tapi di sisi lain orang juga berkeyakinan bahwa terdapat potensi yang tinggi di dunia teknologi digital. Selama orang itu mau berusaha untuk meningkatkan skill pribadinya, baik melalui jalur formal ataupun jalur informal. Bahkan menjadi youtuber sendiri adalah hasil dari upaya otodidak.

Perkembangan teknologi digital memang tidak bisa dicegah, tetapi dalam proses transisi ini ada yang sudah sangat maju dan ada juga yang masih berhitung tentang kesesuaian investasi dan return nya. Termasuk juga di media, apakah mau total ke media online atau lainnya, karena keduanya masih berkonsekuensi pada cost.

Semua proses itu memang technically terjadi dalam proses alih teknologi, tetapi kemudian cara perhitungannya memang harus mengikuti perkembangan zaman. Kalau dulu zaman sebelum revolusi industri 4.0 ketika ada penemuan mesin, maka orang jadi produktif. Penemuan mesin uap atau pesawat terbang yang kemudian berlanjut pada hasil dari aktivitas ekonomi yang dihitung dalam bentuk PDB. Misalnya ternyata perdagangan semakin meningkat dan lainnya. Ujungnya, teknologi itu akan membantu mempermudah, dan dari efek mempermudah itu akan menimbulkan output, sekarang tinggal lagi secara presisi harus dipikirkan bagaimana cara menghitung output.

Buat kita mungkin dengan cara konvensional sekarang masih cukup relevan. Tetapi di Negara lain misalnya Negara-negara Skandinavia pasti mereka punya cara lain untuk bisa mengcapture agar PDB yang mereka hitung benar-benar presisi. Di Jepang, Hak kekayaan intelektual (HAKI) sudah sangat dipertimbangkan.

Kalau dibedah lagi, siapakah penikmat utama dari teknologi digital secara global. Maka jawabannya akan berkisar pada Negara Jerman, Jepang, dan negara maju lainnya. Karena kunci dari semuanya adalah Hak Paten. Dari situ terlihat, jika di Indonesia Hak paten belum bisa dimasukkan dalam perhitungan, karena belum seberapa. Tetapi di Negara lain hal itu sudah sangat mewarnai. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol