Krisis Ekonomi 10 Tahunan di Depan Mata?
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 13 August 2019 17:30
Penulis
Watyutink.com - Aksioma sejarah berulang terjadi di semua sisi kehidupan, tidak terkecuali ekonomi. Kejayaan dan kemakmuran yang pernah dialami satu negara pada masa lalu bisa terjadi lagi di masa sekarang atau yang akan datang. Demikian juga dengan krisis, suka tidak suka, bisa kembali datang menyapa. Sejarah seperti spiral, berputar kembali ke sisi yang sama dalam lingkungan yang berbeda.

Bahkan pengulangan sejarah itu seperti memiliki ritme sendiri, berpola, terjadi di waktu tertentu; Krisis ekonomi 10 tahunan. Orang  mungkin menyebutnya sebagai sebuah kebetulan atau bahkan sebagai sebuah kutukan, nasib sial, atau takdir buruk. Nyatanya ia terjadi pada 10 tahun sebelumnya, atau 10 tahun kemudian.

Segala upaya mencegahan dilakukan agar krisis ekonomi yang pernah terjadi tidak terulang lagi. Namun karena situasi eksternal berubah, teknologi bertambah maju, pemain berganti, dan kewaspadaan mengendur, krisis pun terjadi lagi. Mengobatinya dengan resep lama tidak ampuh lantaran beda penyebab.

Wapres RI Jusuf Kalla menyatakan krisis ekonomi 10 tahunan  bisa terjadi seperti pernah dialami Indonesia pada 1998 dan 2008. Sekitar 20 tahun lalu, Indonesia dan Asia diluluhlantakkan oleh gelombang krisis mata uang. Krisis terjadi lagi 10 tahun kemudian dengan episentrum di AS yang berakar pada subprime mortgage bodong.  Apakah setelah 10 tahun berlalu, ia akan hadir lagi? Apa tanda-tandanya jika krisis akan terjadi lagi?

Kini peradaban ekonomi dunia sudah berubah, berbeda jauh dengan dulu sehingga berpotensi menimbulkan krisis. Untuk itu wapres yang biasa disapa JK meminta Menko Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk siap siaga menghadapinya. Namun apakah cukup hanya dengan siap siaga?

Peradaban ekonomi yang berubah yang dimaksud JK adalah negara liberal seperti AS menjadi proteksionis. Inggris memilih Brexit dan meninggalkan era liberal. Begitu juga dengan China, negara sosialis yang awalnya proteksionis kini mengubah ekonominya menjadi liberal. Bagaimana Indonesia menyikapi perubahan tersebut?

Di samping  itu,  saat ini ekonomi global sedang mengalami gejolak dengan adanya perang dagang antara AS dan China. Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif baru sebesar 10 persen terhadap barang-barang impor China senilai 300 miliar dolar AS mulai 1 September 2019. Tarif tersebut dikenakan terhadap sejumlah barang konsumsi. Kebijakan ini berdampak kepada ekonomi Indonesia dan berpotensi menimbulkan krisis. Kebijakan pemerintah seperti apa untuk mengantisipasinya?

Indonesia beruntung memiliki pasar yang besar. Konsumen di Tanah Air cukup besar untuk menggerakkan perekonomian sehingga tidak begitu tergantung kepada ekonomi luar negeri. Namun apakah tidak perlu ada perbaikan? Apakah puas hanya menjadi juara tahan pukul? Bagaimana dengan kebijakan proaktif mendorong kegiatan ekonomi produktif?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Dilihat dari indikator ekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada tingkat yang tidak tinggi tetapi juga tidak rendah. Artinya, secara riil masih tumbuh positif, walaupun hanya di kisaran 2-2,5 persen, yang merupakan hasil pertumbuhan ekonomi dikurangi tingkat inflasi. Di lihat dari sisi konsumsi yang menjadi penopang PDB, tidak mengalami penurunan, walaupun tidak terlalu besar pertumbuhannya.

Dari sisi keseimbangan eksternal, nilai tukar rupiah tidak terlalu fluktuatif  dan tidak dipengaruhi oleh kondisi politik. Namun dari sisi eksternal yang lain menyangkut pertumbuhan ekonomi dunia, mulai terjadi penurunan seperti koreksi yang dilakukan Bank Dunia dan Lembaga Moneter Internasional (IMF) terhadap prediksi pertumbuhan ekonomi global yang dibuat sebelumnya. Faktor eksternal yang lain adalah perang dagang antara AS dan China yang intensitasnya meningkat.

Dengan terjadinya pelemahan pertumbuhan ekonomi dunia, apakah kinerja ekspor Indonesia akan terganggu? Apakah impor bahan baku dari luar negeri juga akan terganggu yang pada gilirannya akan mengganggu ekspor yang berbahan baku impor?

Selain itu, ketika Bank Sentral AS menurunkan suku bunga dan direspon oleh Bank Indonesia dengan menurunkan suku bunga juga maka ada harapan investasi akan meningkat walaupun butuh waktu, namun seberapa banyak keberadaan likuiditas perbankan. Jika likuiditas bank cukup banyak, maka tidak serta merta  mereka menurunkan suku bunga. Hal ini berarti mekanisme tranmisi moneter tidak akan efektif walaupun BI menurunkan suku bunga acuan.

Jika transmisi moneter berjalan cepat dan suku  bunga kredit turun mengikuti penurunan suku bunga acuan maka ada harapan investasi, terutama di sektor riil dapat meningkat. Pertumbuhan bisa didorong oleh investasi, selagi konsumsinya tumbuh tidak terlalu besar. Kekhawatirannya, jika pelemahan ekonomi dunia terus berjalan, ekspor akan menurun.  

Yang harus diperhatikan juga adalah neraca pembayaran. Apakah neraca transaksi berjalan, neraca perdagangan semakin membahayakan tidak? Jika mengacu pada krisis 1998, kebanyakan negara yang terkena krisis ekonomi adalah negara yang memiliki defisit transaksi berjalan lebih dari 3 persen PDB.

Kalau kenaikan defisit semakin meningkat karena ekspor terganggu, maka probabilita terjadinya krisis semakin besar.  (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Tensi perdagangan memang akan meningkat seiring dengan perang dagang antara China dan AS dan belum ada yang bisa memprediksi  kondisi ke depan akan seperti apa, apa yang akan dilakukan kedua negara.

Namun tidak tepat jika memprediksi akan terjadi krisis dalam waktu dekat. Krisis masuk melalui channel keuangan.  Hingga saat ini tidak ada kondisi untuk masuk ke krisis, tidak terlihat, kecuali China sudah mulai melakukan manuver seperti mendepresiasi mata uangnya dalam melawan AS.

Kebijakan depresiasi mata uang China pun dinilai pengamat sebagai konsekuensi dari perang dagang, bukan kesengajaan, karena produk mereka dikenakan tarif lebih besar di AS sehingga berpengaruh pada mata uang, dimana dolar AS cenderung lebih kuat dari yuan.

China belum melepas bond yang dibeli dari AS. Surat berharga yang ditanam di negeri Paman Sam masih belum ditarik oleh negeri Tirai Bambu tersebut, sehingga tidak ada indikasi ke arah krisis. Namun tensi perdagangan akan merugikan Indonesia karena tingginya frekuensi dagang dengan kedua negara tersebut.

Jika Indonesia tidak mencari pasar baru untuk ekspor, maka tensi perang dagang antara AS dan China yang meningkat akan memukul perekonomian. Imbasnya tidak hanya dirasakan oleh sektor perdagangan tetapi juga ke industri.

Apalagi perdagangan Indonesia tidak seterbuka  Singapura atau Malaysia. Kontribusi sektor perdagangan terhadap produk domestik bruto (PDB)  baru sebesar 30 persen. Masalahnya memang terlalu terkonsentrasi kepada China dan AS. Pada saat China dirugikan oleh AS dan ekonomiannya melambat maka permintaan negara tersebut menurun yang berdampak kepada ekonomi Indonesia. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir