Kolonisasi Startup Ala Jack Ma
berita
Ekonomika
04 September 2017 00:00
Jack Ma, pendiri Alibaba, mulai membangun koloni bisnis digital di Indonesia. Pesatnya pertumbuhan bisnis online di Indonesia menjadi daya tarik. Kolonisasi dilakukan Jack Ma dengan cara akuisisi bisnis startup (bisnis rintisan) lokal. Lazada dan Tokopedia telah diakusisi oleh bos Alibaba itu. Berapa startup lokal lagi yang akan diakusisi oleh Jack Ma?

Ruang usaha untuk anak negeri di dunia nyata kian semakin sempit. Ini karena tingginya ongkos sewa tempat dan minimnya akses terhadap modal. Peluang bisnis di dunia maya yang minim modal berdampak pada terbuka ruang usaha bagi anak negeri. Peralihan pola belanja masyarakat juga mendorong pada pesatnya pertumbuhan startup lokal. Ini memberikan harapan. Namun apakah masih ada harapan startup lokal tumbuh jika Jack Ma dan pebisnis digital lain yang berskala kakap terus merangsek masuk Indonesia?

Produk asal China yang masuk ke Indonesia biasanya dalam skala besar (grosiran). Ini bertujuan untuk menekan bea pengiriman dan juga disesuaikan dengan permintaan pasar lokal Indonesia. Akuisisi startup lokal akan semakin mempermudah China dalam menjual produknya dalam skala kecil (eceran). Jika nanti dikuasai Jack Ma, akankah pengusaha Indonesia mendapatkan porsi yang sama?

Dalam dunia maya, ada cara baru dalam bertransaksi. Di China transaksi mengunakan chip money (uang virtual) tengah populer. Di Indonesia ada juga sejumlah startup yang mengadopsi pola serupa. Namun apakah pemerintah sudah punya regulasi yang mengatur hal itu? Bagaimana dengan pengawasan transaksi mengunakan uang virtual? Bagaimana dengan pajaknya?

Apakah instansi terkait punya regulasi yang tepat untuk mengantisipasi kolonisasi bisnis digital oleh para pemain raksasa dunia? Kesigapan pemerintah dibutuhkan dalam menanggapi hal ini. Dengan kesigapan, walaupun 100 Jack Ma datang dengan segudang kapital, mereka tidak akan berhasil menciptakan koloni. Kalau masih bermental “pemadam kebakaran”, apakah kita sanggup membendung kolonisasi para "Jack Ma"?

Apa pendapat anda? Watyutink?

(ast)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Akuisisi ini akan membuat Usaha Kecil Menengah (UKM) kita akan sangat terpengaruh. UKM kita akan tersaingi secara negatif, karena online tidak perlu ada tempat, di manapun bisa.

Pemerintah sudah memproteksi minimarket dari investor asing. Akan tetapi untuk online rasanya masih bebas terbuka untuk investor. Baik supply, harga, maupun logistik bisa didominasi mereka yang punya modal besar.

Sekarang tinggal perilaku konsumen kita, serta daya beli masyarakat yang akan menentukan pemain asing menjadi lebih besar atau tidak. Perilaku orang Indonesia kan doyan belanja. Selama mereka punya uang, sangat sulit untuk menahan keinginan untuk belanja. Terkadang perilaku konsumen Indonesia itu membeli sesuatu karena "gengsi", bukan karena manfaat yang rasional.

Saat ini maupun ke depan, batasan negara-negara di dunia ini sudah tidak dilihat lagi. Akan tetapi yang akan dilihat adalah perusahaan mana yang dimiliki. Once you are in cyberspace, you are everywhere. Ini menggambarkan bahwa tempat tidak membatasi orang untuk menyebarluaskan informasi. Contohnya blog seseorang yang ada di Indonesia, bisa diakses dari seluruh dunia. Tanpa melihat lagi batasan negara.

Bayangkan menjual barang seperti menjual berita atau informasi. Tidak ada lagi batas negara. Kecuali negara tersebut membatasi akses informasinya, seperti yang telah dilakukan oleh pemerintah China. Jack Ma dengan Alibaba bisa menjadi besar karena pemerintah China melarang Google untuk masuk. Bayangkan kalau saja pemerintah China tidak melarang Google masuk, pasti sudah diserbu oleh perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat (AS).

Smartphone menjadi kunci berkembangnya bisnis online. Selain itu dukungan dari fasilitas pembayaran Go-Pay dan Ali-Pay, juga fasilitas logistik dan pengiriman berbasis online seperti Go-Jek, Uber, dan Grab ini semakin mendorong masyarakat semakin gemar melakukan belanja online.

Sistem Go-Pay dan Ali Pay berpotensi mengancam sistem perbankan kita. Sementara Go-Jek, Uber, dan Grab mengancam bisnis transportasi konvensional. Mereka yang menang adalah pemilik bisnis aplikasi, yang bisa menyatukan atau mengkonsolidasi semua bisnis konvensional itu. Perusahan yang berhasil belum tentu juga perusahaan teknologi. (ast)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pakar Teknologi Informasi

Saya baru pulang dari Australia. Saya tinggal di sana selama satu minggu. Di Australia terlihat dengan jelas bagaimana pemerintah Australia membantu startup lokal di Australia. Bahkan mereka sebetulnya bersedia untuk membantu startup Indonesia.

Saya dan teman-teman innovation leader tergabung dalam MIKTA (Mexico, Indonesia, Korea, Turki, dan Australia). MIKTA adalah wadah kolaborasi dalam berbagai hal, mulai dari diplomasi ekonomi hingga inovasi dari lima negara. Namun pola diplomasi dari MIKTA lebih membumi dan santai, tidak seperti ASEAN atau G20.

Menteri Luar Negeri Australia, Julia Bishop menjelaskan mengenai MIKTA dan visi beliau tentang inovasi. Visinya tersebut sangat terrefleksi dalam aktifitas rakyat Australia. Bishop menjelaskan pentingnya inovasi di masa yang akan datang, dan mendorong MIKTA menjadikan inovasi sebagai bahasan. Ia juga menunjukan contoh dukungan pemerintah Australia dalam mendorong masyarakatnya untuk berinovasi.

Kalau saya sih sederhana aja. Kalau kita gak bisa berbuat untuk bangsa sendiri, jangan salahkan kalau orang lain yang berbuat untuk Indonesia. Walaupun itu berarti dengan cara mengakusisi atau bisa dikatakan juga menjajah Indonesia.

Pemerintah dan masyarakat Indonesia harus bisa berbuat sesuatu untuk mendukung startup lokal. Pemerintah membuat regulasi yang melindungi dan mendukung startup lokal, dan masyarakatnya menggunakan jasa dari startup lokal tersebut. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar