Kinerja Perekonomian, Pantang Mundur Tiga Bulan Terakhir!
berita
Ekonomika
Sumber Ilustrasi: eksbis.sindonews.com 10 October 2019 19:30
Penulis
Watyutink.com - Banyak pihak menyadari bahwa, kondisi perekonomian global sedang tidak baik-baik saja. Apakah itu karena imbas dari trade war Amerika Serikat – China atau sebab lain, tapi yang jelas badan-badan ekonomi dunia seperti .World Bank dan IMF telah mengoreksi target pertumbuhan ekonomi dunia per 2019.

World Bank mengoreksi tingkat pertumbuhan ekonomi dunia dari 2,9 persen menjadi hanya 2,6 persen saja, sementara IMF mencatatkan prakiraan yang lebih rendah untuk pertumbuhan ekonomi dunia, dari 3,9 persen menjadi hanya 3,2 persen saja (Anthony Budiawan, 2019).

Realitasnya, berbagai belahan dunia memang merasakan menurunnya kinerja ekonomi berbagai kawasan. Dari Eropa sampai Asia Timur, Amerika Serikat sampai Amerika Selatan. Beberapa Negara Eropa dan G20 bahkan sudah mengalami pertumbuhan negatif pada triwulan II 2019 dibanding triwulan sebelumnya, seperti yang dialami oleh Jerman dan Inggris.

Menurunnya gairah ekonomi dunia juga berakibat pada slowdown nya perdagangan antar Negara. Termasuk anjloknya harga komoditas andalan Indonesia seperti minyak kelapa sawit (CPO) dan batubara. 

Bagi Indonesia, menurunnya pertumbuhan ekonomi dunia jelas harus disikapi dengan ekstra waspada, mengingat, tahun 2019 telah memasuki triwulan terakhir. Target-target kinerja ekonomi seperti penerimaan pajak dan pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan 5,2 persen, menjadi taruhan tersendiri karena terkait dengan kinerja perekonomian yang dicapai oleh kabinet kerja 2014-2019.

Berhasilkah Indonesia mempertahankan angka pertumbuhan dikisaran 5 persen ke atas, atau menaikkan target pertumbuhan ekonomi dan penerimaan pajak? Hal itu semua tentu harus juga melihat bagaimana kinerja ekspor dan kinerja produksi dari dunia industri yang selama ini banyak dikhawatirkan berbagai pihak.

Sayangnya, situasi ekonomi dunia yang mengalami perlambatan, sepertinya belum membawa dampak positif bagi perekonomian dalam negeri. Harga komoditas kelapa sawit dan batubara saat ini justru anjlok, dampak dari perlemahan perdagangan dunia. Penerimaan pajak pun diperkirakan akan shortfall sekitar Rp200 – Rp300 triliun sampai akhir tahun. Sementara, defisit neraca perdagangan, neraca pembayaran, dan defisit current account masih terus membayangi perekonomian nasional.

Apa sebetulnya sikap terbaik yang harus diambil oleh para perencana kebijakan ekonomi nasional, menghadapi situasi perekonomian dunia yang terancam resesi? Bagaimana Indonesia bisa bertahan dengan memanfaatkan pertumbuhan ekonomi yang hanya mengandalkan konsumsi? Karena kita semua tahu, bahwa Indonesia tengah menghadapi perlemahan ekspor akibat produksi yang tidak tumbuh, dan import bahan baku yang juga menurun? 

Lebih jauh, mengapa seolah situasinya menjadi seperti terjebak pada situasi yang tidak punya way out, akibat masalah investasi yang masih menghadapi situasi buruk di FDI, karena tidak kunjung tuntas membenahi masalah bifokrasi perizinan yang menghambat investor?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Pertama, harus dilihat bahwa hal ini semua adalah faktor global dalam membentuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebenarnya Indonesia relatif lebih kecil tingkat keterbukaan ekonomi Indonesianya. Jika dijumlah ekspor plus impor hanya sekitar 40 persenan terhadap PDB. 
Sementara Negara seperti Vietnam, ekspor plus impornya mencapai 200 persen dari PDB. Jadi lebih besar nilai ekspor plus impornya daripada PDB, sementara kita kecil sekali. Rasio ekspor Indonesia sekitar 20 persen terhadap PDB. Semetara Vietnam rasio ekspor terhadap PDB hampir 100 persen.  

Artinya, Indonesia saat ini lebih memanfaatkan kekuatan domestik, dimana konsumsi menjadi penopang utama. Dari unsur-unsur pembentuk pertumbuhan ekonomi seperti C+I+G+(X-I), maka kalau misalnya net ekspor jeblok, sedangkan kita masih bisa mendorong konsumsi rumah tangga tetap tumbuh menguat, itu artinya masih bisa tertolong. Hal itu menggambarkan bahwa fakor global yang mengalami perlambatan masih bisa diatasi dengan kemampuan domestik dalam negeri.

Permasalahannya, terdapat dampak antara yang secara tidak langsung pertama, struktur ekspor kita saat ini masih mengandalkan harga komoditas. Dimana jika permintaan global melambat atau turun, maka hal itu akan menyebabkan harga komoditas global menurun. Sementara Indonesia masih mengandalkan harga komoditas tersebut. 

Kedua, dari sisi pertumbuhan konsumsi domestik dalam negeri sebenarnya hal itu bisa berarti peluang tapi juga bisa berarti sebuah tantangan. Sebab, impor content kita masih cukup tinggi. Kalau misalnya kita genjot konsumsi yang semakin tinggi untuk mengatasi resesi global, maka hal itu akan otomatis menggenjot impor bahan baku dan barang modal yang semakin tinggi. Dan hal itu pasti akan berimbas kepada nilai tukar mata uang.

Jadi yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah bagaimana sebisa mungkin memanfaatkan konsumsi dengan menggunakan produk-produk yang sedikit kandungan impor. 

Sebagai contoh pada industri manufaktur, maka harus didorong seandainya dia mengimpor barang modal dan impor bahan baku yang membutuhkan devisa, maka barang-barang itu harus bisa diekspor lagi. Atau misalnya jika lebih banyak konsumsi domestik, maka bagaimana caranya Indonesia mampu membangun industri yang strukturnya kuat dari hulu ke hilir. 

Memang hal itu seperti lingkaran dan serba salah. Kalau kita mau mendorong konsumsi supaya tetap tinggi, maka risikonya impor barang modal dan bahan baku harus tetap tinggi. Karena strukturnya seperti itu. Jika terus tinggi maka ke depan rupiah akan bisa semakin merosot. Sementara ekspor kita masih belum bisa diandalkan karena masih tergantung pada harga komoditas global.

Lain hal, investasi kita sebetulnya besar, hanya saja pertumbuhannya agak melambat tetapi secara value investasi kita besar. Negara mana yang investasinya mencapai 30 persen dari PDB. Artinya kalau kita lihat konsumsi masyarakat 56 persen PDB sedangkan investasi sekitar 30 persen PDB. sisanya belanja pemerintah sekiar 8 persen.

Investasi memang besar, tapi masalahnya investasi yang besar itu belum bisa menghasilkan apa-apa atau belum bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal itu disebabkan oleh adanya sesuatu yang boros. Pemborosan itu tercermin dalam ICOR Indonesia yang masih tinggi (6,2) di antara Negara-negara ASEAN. 

Di situ terlihat adanya in-efisiensi. Katakanlah untuk memproduksi satu unit barang diperlukan lebih banyak modal, kalau di Indonesia. Akibat pemborosan itu, maka investasi yang besar tadi belum bisa berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi ataupun penyerapan tenaga kerja yang lebih tinggi lagi. 

Maka saat ini, salah satu yang perlu dibenahi adalah bagaimana menurunkan ICOR. Hal hal yang membuat inefisien seperti biaya transportasi dan logistik yang mahal misalnya, harus segera diatas agar investasi kita bisa lebih efisien.

Tetapi khawatirnya jika pemerintah terus mengundang investasi asing, maka itu akan berbuntut meningkatnya impor barang modal. PMA yang akan membuka pabrik di Indonesia akan membawa segala peralatannya (barang modal dan bahan baku) ke dalam negeri. Jika demikian halnya maka dikhawatirkan akan mengganggu neraca transaksi berjalan, sementara ekspor Indonesia masih belum kuat.   

Maka sekarang konsentrasinya daripada mengundang investasi, lebih baik benahi dulu ICOR Indonesia. Itu prioritas utama, supaya investasi yang ada bisa lebih efisien dan efektif dalam menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih besar. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai akhir 2019 diperkirakan hanya berkisar 5,05 persen. 

Saat ini yang dapat dikedepankan agar tetap menjaga pertumbuhan ekonomi ada di kisaran 5 persen adalah bagaimana sektor konsumsi rumah tangga dijaga agar dapat tumbuh di atas 5 persen karena konsumsi menjadi sektor yang merupakan kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi.

Terjadinya perlambatan ekonomi nasional sedikit banyak karena perlambatan ekonomi global yang mempengaruhi perekonomian nasional, sehingga Indonesia yang telah terlalu lama tergantung pada ekspor komoditas menjadi tidak siap ketika ekonomi dunia melambat dan menyebabkan harga minyak sawit dan batubara mengalami penurunan.

Lagipula faktor di dalam negeri ekspor menjadi tidak tumbuh karena produksi tidak sebagaimana diharapkan. Juga, impor bahan baku dan barang modal yang juga menurun. Padahal, impor bahan baku dan barang modal saat ini masih sebagai penggerak produksi utama sampai saat ini.

Turunnya impor bahan baku dan barang modal merupakan indikasi melambatnya pertumbuhan produksi sektor industri manufaktur. Jika produksi semakin menurun dikhawatirkan akan berimbas pada penyerapan tenaga kerja dan menurunnya daya beli konsumen, yang selanjutnya menurunkan pertumbuhan ekonomi. 

Oleh karena itu menjadi mendesak untuk dilakukan peninjauan kembali struktur industri nasional, diantaranya agar secara domestik Indonesia dapat memproduksi sendiri bahan baku dan barang modal yang digunakan untuk produksi. 

Strategi industrialisasi ke depan harus semakin mempertimbangkan keterkaitan antar industri sehingga dapat menghasilkan multiplier yang lebih besar. Struktur industri yang kuat akan memperkuat daya tahan ekonomi nasional terhadap goncangan global. Untuk mewujudkan industri yang kuat KEIN telah menyiapkan road map industrialisasi sampai dengan 2045. 

Suatu konsep yang bagus harus terimplementasi dengan baik pula. Untuk mendukung implementasi kebijakan yang efektif kata kuncinya adalah monitoring dan evaluasi yang lebih bekualitas, baik dari segi frekuensi waktu untuk segera mengetahui perkembangan kinerja maupun kualitas kinerjanya.

Lain hal, masalah investasi kembali pada masalah yang telah lama namun sayangnya belum cepat diperbaiki segala permasalahan yang selalu mengganggu iklim investasi. Baik PMDN maupun PMA yakni masalah perizinan dan birokrasi, upah buruh dan produktivitas buruh. 

Itulah mengapa ketika sekitar 33 industri China yang memidahkan operasional pabrik dari China ke luar China akhirnya lebih memilih Negara seperti Vietnam dan kamboja. Sebabnya adalah di Negara-negara tersebut, ada tiga aspek yang membuat investor China lebih tertarik memindahkan industrinya ke Vietnam dan juga Kamboja, yakni masalah Kemudahan Perizinan, Upah Buruh dan Produktivitas Pekerjanya.

Di Indonesia meski pekerja sudah bekerja dalam 3 shift dan 48 jam seminggu, namun soal produktivitas masih perlu ditingkatkan

Belum lagi setiap tahun masalah upah pekerja minta dinaikkan dan selalu menjadi bahan protes pekerja kepada industri. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir             Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!