Kenaikan Harga: Agar Janji tidak Hanya Tinggal Janji
berita
Ekonomika
Sumber Foto : kompasiana.com (gie/watyutink.com) 02 June 2018 15:00
Penulis
Para ibu rumah tangga agaknya bisa sedikit tenang. Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukito menjamin, sampai dengan lebaran nanti harga kebutuhan pokok tak akan naik. Jaminan Mendag disampaikannya usai sidak ke sejumlah pasar tradisional di Cirebon (30/05) dan Kupang (NTT) mengecek harga-harga kebutuhan pokok beras, gula, daging sapi dan ayam serta minyak goreng.

Didapati, harga daging ayam memang cenderung bergerak naik dari semula Rp33 ribu menjadi Rp36 ribu per kilogram, sementara harga kebutuhan pokok lain cenderung stabil. Kenaikan harga daging ayam memang sempat mencapai Rp60 ribu per kilogram di beberapa tempat beberapa waktu lalu. Namun Enggartiasto menilai hal itu wajar mengingat permintaan yang tinggi dan kelangkaan pasokan saat ramadhan ini. Oleh karenanya dalam rangka mengendalikan harga, saat ini Mendag mengizinkan perusahaan besar untuk ikut menyuplai daging ayam ke pasaran. Ketentuan sebelumnya yang melarang perusahaan besar memasok daging ayam ke pasar tradisional, dicabut.    

Tetapi, apa iya jaminan Mendag akan benar-benar membuat harga tidak naik menjelang lebaran ini? Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, lonjakan harga pasti terjadi pada saat Ramadhan dan menjelang Idul Fitri. Terlebih, bagi produk makanan dan minuman, juga produk lain yang mengandalkan bahan bakunya dari impor, di tengah fluktuasi kurs mata uang yang tidak menguntungkan saat ini.

Oleh karenanya mengingat gonjang-ganjing pelemahan rupiah saat ini, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) menyatakan akan menaikkan harga-harga produk setelah lebaran. Begitu pula produsen obat-obatan dan besi baja. Penguatan sedikit nilai rupiah saat ini dipandang masih belum cukup aman dari risiko kembali melemahnya kurs ke depan. Padahal, anggota GAPMMI sudah mensiasati pelemahan kurs rupiah dengan mengimpor stok bahan baku sejak beberapa bulan lalu. Tapi, rupanya pelemahan rupiah terus berlangsung sampai sekarang.

Jika para produsen makanan dan minuman,obat-obatan dan besi baja serta produk lainnya jadi menaikkan harga jual setelah lebaran, apakah janji Mendag untuk tidak naiknya harga-harga tidak bisa diteruskan sampai setelah lebaran? Artinya, jika langkah-langkah menstabilkan harga yang dilakukan kemendag sekarang mestinya bisa dilanjutkan untuk mengantisipasi lonjakan harga pasca keputusan menaikkan harga dari para produsen.

Bagi konsumen atau masyarakat, kenaikan harga sejatinya adalah ‘pukulan berikutnya’ setelah kenaikan harga bahan bakar dan listrik serta pajak-pajak. Tingkat konsumsi masyarakat yang sejak setahun lalu tidak kunjung meningkat di angka 4,95 persen, diperkirakan akan semakin sulit untuk bisa diperbaiki. Bagi pengusaha, kenaikan harga bahan baku impor--meski akan coba ditutupi oleh kenaikan harga jual yang direncanakan setelah lebaran--masih harus was-was dengan cashflow perusahaan mengingat target penerimaan pajak pemerintah pada 2018 yang dinaikkan menjadi Rp1.424 triliun atau naik 24 persen dari realisasi penerimaan pajak 2017. Itu artinya, akan ada ekspansi pajak yang lebih besar dan pengusaha akan kembali merasa “dikejar-kejar” petugas pajak.

Siapkah Kementerian Perdagangan mengantisipasi gejolak kenaikan harga-harga menjelang hari raya Idul Fitri dan setelah produsen mengumumkan kenaikan harga jual? Langkah-langkah apa yang sebaiknya dilakukan untuk menyiasatinya? Apa-apa langkah berikutnya bagi pemerintah agar daya beli masyarakat tidak kembali tergerus?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Inflasi Ramadhan merupakan frasa yang menggambarkan adanya fenomena berulang terjadinya inflasi di sekitar bulan Ramadhan. Artinya, di sekitar bulan Ramadhan selalu terjadi kenaikan harga-harga barang dan jasa secara umum di Indonesia dengan tingkat yang bervariasi setiap tahun. Fenomena ini umum terjadi di negara dengan jumlah penduduk Muslim yang besar, terlebih Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia dengan total pemeluk agama Islam lebih dari 200 juta orang.

Sebaliknya, apabila Kementerian Perdagangan memastikan bahwa harga-harga barang dan jasa di sekitar bulan Ramadhan tidak naik, justru hal tersebut akan merusak pasar. Pasar yang rusak akan dapat merugikan, baik bagi produsen maupun konsumen. Padahal, kebijakan yang perlu dikeluarkan oleh pemerintah beserta otoritas terkait lainnya adalah cukup memastikan ketersediaan pasokan melalui manajemen stok yang baik serta terus memantau perkembangan harga secara rutin dan berkala. Dengan demikian, harga-harga akan naik secara terkendali dan sesuai dengan target inflasi yang telah ditetapkan.

Namun kenyataannya, pemerintah tampak abai untuk urusan manajemen stok dalam menghadapi efek musiman seperti waktu Ramadhan dan masa lebaran. Terlebih, dengan semakin melemahnya rupiah sejak awal tahun membuat harga barang-barang impor semakin mahal dan cenderung meningkatkan harga barang dan jasa beberapa kebutuhan masyarakat selama Ramadhan dan lebaran. Akibatnya, harga semakin tidak terjangkau oleh masyarakat, konsumsi masyarakat tertahan, dan menekan angka pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan mencapai 5,4 persen pada tahun ini. Artinya, kebijakan pengendalian harga, khususnya dalam menghadapi Ramadhan, seharusnya sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari, termasuk mengantisipasi pelemahan rupiah yang kecenderungannya sudah ada sejak awal tahun 2018.

Saat ini nasi telah menjadi bubur. Ramadhan sedang kita jalani dan lebaran tinggal sebentar lagi. Pencabutan ketentuan yang mengizinkan perusahaan besar untuk ikut menyuplai daging ayam ke pasaran yang sebelumnya melarang perusahaan besar memasok daging ayam ke pasar tradisional harus dipantau agar tidak berlangsung seterusnya. Kebijakan jalan pintas seperti itu hanya berlaku untuk kondisi mendesak seperti sekarang ini. Ke depan, keadaan seperti ini harus diantisipasi sejak jauh hari sehingga selama Ramadhan, khususnya sekitar waktu lebaran, pemerintah tinggal memantau pergerakan harga dan tidak perlu mengambil kebijakan jalan pintas lagi.

Antisipasi yang dapat dilakukan, selain manajemen stok yang baik, adalah memberantas mafia perdagangan atau rente ekonomi yang menggerogoti rantai pasok. Selain itu, kebijakan sinergi antar daerah patut didorong sehingga dapat saling membantu sama lain. Misalnya, daerah dengan pasokan beras yang berlimpah dapat mengirimkan pasokannya ke daerah lainnya yang membutuhkan dan diperdagangkan dengan komoditas unggulan dari daerah lainnya tersebut. (pso)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
 Pengamat Kebijakan Publik/ Anggaran

Jaminan tidak sebatas jaminan yang hanya disampaikan, namun membutuhkan komitmen yang pasti, bisa berupa surat keputusan atau apapun kebijakan untuk memperkuat statemen yang disampaikan. Karena dalam hal ini tidak bisa bersifat parsial dalam memahami kenaikan beberapa bahan karena membutuhkan koordinasi dan konsolidasi dalam segala aspek, terutama dengan para produsen/corporate. Apalagi rupiah melemah saat ini dan kemungkinan akan bertahan atau bahkan bisa naik yang akan menyebabkan para produsen akan menaikkan harga barang.

Harga barang naik karena masih banyak barang mentah atau konsumsi dasar kita yang diimpor. Asumsi saya bahwa menjelang lebaran daya beli masyarakat akan stag/tidak akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan di tengah kebijakan kenaikan listrik dan pajak. Sekali lagi, jika memang Kemendag sudah berjanji dan menjamin tidak ada kenaikan, sebaiknya sesegera mungkin melakukan koordinasi dan konsolidasi degan kementerian terkait, dan membuat kebijakan secara tertulis sebagai bentuk jaminan yang ditetapkan oleh presiden agar daya beli masyarakat bertahap mengalami kenaikan. 

Untuk jangka panjang sebaiknya melakukan review kebijakan mengenai kenaikan TDL dan pajak. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan