Jokowi vs Prabowo: Ekonomi Umat VS Ekonomi Emak-emak
berita
Ekonomika
Sumber Foto : MUI.or.id (gie/watyutink.com) 13 August 2018 21:30
Penulis
Presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) menggandeng KH Ma'ruf Amin untuk maju bersama-sama sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dalam Pilpres 2019. Sementara itu, Prabowo Subianto menggaet Sandiaga Salahudin Uno untuk maju sebagai capres dan cawapres dalam ajang yang sama.

Dengan hadirnya pasangan cawapres yang baru ini memunculkan pertanyaan bagaimana nasib perekonomian bangsa pasca Pilpres 2019, akankah pembangunan ekonomi berubah haluan berdasarkan latar belakang cawapres?

Usai mendeklarasikan diri sebagai capres dan cawapres, masing-masing pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga melontarkan pernyataan yang bisa dinilai sebagai tujuan yang ingin dicapai dalam pembangunan ekonomi. Petahana Joko Widodo menekankan kepada pembangunan ekonomi umat. Pernyataan ini seperti menegaskan alasan mengapa dia menggandeng KH Ma’ruf Amin.

Nama KH Ma’ruf Amin memang identik dengan ekonomi umat walaupun sebenarnya yang bersangkutan lebih banyak bersentuhan dengan sektor keuangan dan perbankan syariah ketimbang sektor riil. Dia tercatat sebagai Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) di PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank Mega Syariah, PT BNI Syariah, dan PT Bank Muamalat Tbk.

Selain itu, dia juga menjabat posisi yang sama di beberapa asuransi syariah seperti BNI Life, disamping sebagai anggota ex-Officio Komite Pengembangan Jasa Keuangan Syariah dan Ketua Dewan Syariah Nasional.

Dewan Pengawas Syariah bertugas memberikan nasihat dan saran kepada direksi, serta mengawasi kegiatan lembaga keuangan dan bank syariah agar sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Jokowi selama ini dikenal dengan Nawa Cita-nya. Namun sejak pencapresan 10 Agustus lalu dia mulai bicara tentang ekonomi umat. Apakah Jokowi akan berganti haluan ke ekonomi umat dengan masuknya KH Ma’ruf Amin? Program-program dalam Nawa Cita diantaranya meningkatkan kualitas pendidikan, kesejahteraan masyarakat, mendorong land reform, meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, mewujudkan kemandirian ekonomi, dan menggerakkan sektor strategis.

Sementara itu, Prabowo menegaskan akan mengatasi kemiskinan dan menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama untuk para buruh yang mendukungnya pada peringatan Hari Buruh 1 Mei lalu.  Dia berjanji tidak akan melupakan perjuangan kaum buruh.  Dia juga berjanji akan membela dan mengurangi penderitaan rakyat, tidak ada yang menderita kelaparan.

Pasangannya Cawapres Sandiaga menegaskan akan fokus pada pertumbuhan ekonomi, pengendalian dan stabilitas harga agar terjangkau oleh emak-emak. Dia juga akan mencanangkan program OK OCE (One Kecamatan One Center Enterpreneurship/satu kecamatan satu pusat kewirausahaan) secara nasional yang difokuskan kepada anak-anak muda dan kaum hawa.

Apakah dengan pernyataan tersebut pasangan Prabowo – Sandiaga akan mengembangkan ekonomi kerakyatan, dengan memperhatikan kebutuhan emak-emak akan bahan pokok? Apakah pasangan tersebut akan memperbaiki kualitas pembangunan ekonomi yang selama ini masih timpang? Apakah stabilitas akan menjadi perhatian utama ketimbang pertumbuhan ekonomi?

Apa Pendapat  Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Kalau bicara program pembangunan ekonomi petahana Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto sudah bisa dilihat seperti apa karena yang sekarang hanya remake 2014. Jokowi akan carry over program 2014, melanjutkan pembangunan infrastruktur, diteruskan dengan pembangunan sumber daya manusia, sementara Prabowo lebih ke arah populis.

Tapi yang menarik sekarang, Jokowi bahkan mulai terbawa ke gelombang populis, ekonomi umat, ekonomi kerakyatan, itu jenis populisme, tidak jauh berbeda dengan yang diwacanakan oleh Prabowo.

Sebenarnya yang paling krusial ketika mereka para capres menurunkan program-programnya secara detil, baru kita bisa membaca. Tapi kalau secara umum kita tidak bisa membandingkan head to head, hingga akhirnya kalau kita bicara kinerja pemerintahan bukan hanya presiden dan wapres, para menterinya juga bagaimana. Menteri-menteri ini perannya juga sangat krusial.

Kalau hanya melihat program pembangunan antara Jokowi dan Prabowo kita sudah mengetahui. Sudah tahu apa yang akan mereka lakukan. Jokowi akan lebih ke sini, sementara Prabowo akan lebih ke sana. Sepertinya tidak akan banyak berubah sejak tahun 2014. Yang menarik adalah bagaimana wapres mewarnai, baik Jokowi maupun Prabowo.

KH Ma’ruf Amin kuat dari sisi fiqih, ekonomi keumatan, ekonomi syariah. Ini hal yang penting bagaimana kemudian ekonomi umat menjadi pilar-pilar dalam pembangunan ekonomi ke depan. Vocal point-nya adalah sisi pengalaman KH Ma’ruf Amin sebagai Ketua MUI dan sebagai pakar atau dewan syariah nasional. Di situ kita bisa melihat betapa dia sangat kaya akan teori fiqih dan masalah halal-haram.

Sebaliknya, Sandiaga Uno sangat kaya pengalaman praktis. Pengalamannya pada krisis 1998, bagaimana dia survive, membangun kerajaan bisnisnya dan menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia, merupakan salah satu faktor unggulan, yang mana dengan pengalaman itu dia bisa langsung mengimplementasikan dan menjalankan program. Kita masih butuh dorongan dari sisi pertumbuhan ekonomi, fundamental baik, kerja sama dengan dunia internasional. Dalam hal ini Sandi mempunyai keunggulan.

Namun selama ini figur wapres itu tidak terlalu dominan. Masih sebatas ban serep saja, seperti kita lihat pada masa kepemimpinan Jokowi, peran Jusuf Kalla (JK) terkesan tidak signifikan. Berbeda dengan peran JK pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Kalau melihat peran KH Ma’ruf Amin sepertinya tidak akan banyak berubah. Pengalaman beliau luar biasa banyak. Sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan. Mudah-mudahan nasibnya tidak seperti JK yang cuma menjadi ban serep.

Di pihak Prabowo belum banyak yang bisa dibaca, tapi setidaknya dengan membawa Sandiaga Uno yang juga tokoh penting di Gerindra, meski sudah mundur. Melihat posisi dan pengalaman dari sisi bisnis Sandiaga, ini akan seperti era SBY-JK yang bisa saling melengkapi. Prabowo menyusun konsep, walaupun konsepnya masih debatable, seperti keadilan dan kemakmuran, belum sangat spesifik, masih mengawang-awang, tetapi dengan hadirnya Sandiaga akan semakin komplit. Proses, konsep, filosofi  yang dimilik Prabowo akan lengkap dengan hadirnya Sandiaga. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF