Industri Tekstil Nasional, Hikayat Runtuhnya Industri Tertua
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 01 November 2019 15:00
Penulis
Watyutink.com - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia sempat memasuki era kejayaan pada saat pertumbuhan industri ini pada 1980-an. Pada 2007, perdagangan industri ini mencatatkan surplus hingga mencapai 7,8 miliar dolar AS. Namun pada 2001 industri tekstil hanya tumbuh 5,2 miliar dolar AS.

Kondisi tersebut berbalik pada periode 2008 hingga 2018 dan diperkirakan berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Pada 2008, surplus ini hanya mencatatkan 5,04 miliar dolar AS dan pada 2018 menurun drastis menjadi 3,2 miliar dolar AS. Diperkirakan, penyebab utama dari kemerosotan industri tekstil adalah gempuran tekstil impor yang berasal terutama dari China.

Serbuan impor tekstil China diperkirakan juga akibat adanya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 64/M-DAG/PER/8/2017 tentang Perubahan atas Permendag Nomor 85/M-DAG/PER/10/2015 tentang Ketentuan Impor Tekstil dan Produk Tekstil yang berdampak pada semakin derasnya laju impor produk TPT.

Revisi yang telah dilakukan dengan Permendag Nomor 77 saat ini masih menimbulkan ketakutan di kalangan pelaku industri akibat tidak transparannya kuota impor hingga belum terlihat adanya upaya untuk membatasi pengusaha dalam Pusat Logistik Berikat (PDPLB) yang memperjualbelikan barang langsung ke pasar domestik.

Apa yang sebaiknya harus diperbuat pemerintah untuk kembali meningkatkan kinerja industri tekstil dalam negeri, terutama meningkatkan utilitas kapasitas mesin yang sudah terpasang? Mengapa selalu masalah produk impor yang membuat industri dalam negeri mengalami kemerosotan kinerja? Mulai dari industri semen, besi baja, hingga tekstil? Belum lagi masalah impor produk pangan yang mematikan petani dan peternak?

Industri tekstil merupakan salah satu industri andalan Indonesia, ketika dulu bersama dengan industri ekstraktif mengalami masa jaya semasa orba. Sampai saat ini industri tekstil, kulit dan alas kaki sebetulnya masih merupakan salah satu sektor penyumbang devisa negara yang cukup signifikan, meski mengalami kemerosotan akibat kalah saing dengan maraknya produk tekstil impor.

Dalam catatan sejarah, Industri tekstil menjadi sektor yang tertua di Indonesia dan mempunyai struktur yang kuat dari hulu sampai hilir. Produk tekstil memberikan kontribusi nomor tiga dari seluruh komoditas ekspor Indonesia. Selain itu, industri teksitl merupakan sektor yang tergolong padat karya dan telah menyerap tenaga kerja sebanyak 4,65 juta orang (A.sigit Dwiwahyono,10/2019).

Oleh karena itu perlu kiranya pemerintah mencari jalan keluar dari permasalahan yang melanda industri nasional yang dulu merupakan industri yang mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Bagaimana agar kecenderungan kemudahan impor produk asing tidak menjadi penyebab dari runtuhnya industri nasional? Persoalan kualitas tidaklah menjadi sebab dari kalah saingnya produk tekstil impor karena terbukti bisnis pakaian jadi, alas kaki dan kulit nasional disenangi konsumen luar negeri.

Sepertinya diperlukan sekarang hanya pemihakan terhadap industri nasional agar tidak menjadi tikus yang mati di lumbung padi karena persoalan sumber daya alam Indonesia masih teramat banyak yang bisa dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (IKATSI)

Hal jangka pendek yang menjadi penyebab dari merosotnya industri tekstil nasional saat ini adalah dampak dari trade war Amerika Serikat (AS) – China. Perang dagang tersebut menyebabkan produk tekstil China tidak bisa menembus pasar AS dan akhirnya mereka mencari pasar lain dengan membanjiri pasar Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Tetapi secara struktural hampir semua industri nasional memang sudah lemah pada 10 hingga 20 tahun terakhir. Jadi sejak reformasi sepertinya industrialisasi tidak jalan lagi. Hal itu antara lain karena kita sibuk berpolitik dan dana besar tersedot ke sana. Akibatnya nilai ekspor kita terus merosot, dan secara alamiah produksi minyak bumi kita juga memang terus merosot.

Khusus untuk industri tekstil, memang sejak reformasi tidak ada lagi investasi baru.  Pemerintah juga agak lalai dalam memperhatikan peningkatan kualitas SDM kita. Perguruan Tinggi negeri juga tidak lagi membuka prodi baru untuk teknologi tekstil.

Upaya restrukturisasi industri tekstil juga ternyata gagal. Pernah beberapa kali dilakukan upaya restrukturisasi industri tekstil. Pada 1990an dilakukan restrukturisasi awal industri teksil yang gagal. Setelah itu dilakukan lagi pada tahun 2000-2015 tapi tidak tepat sasaran.

Pengusaha tekstil meminjam uang dengan skema restrukturisasi tetapi ternyata mereka tidak gunakan dana itu untuk membeli mesin-mesin tekstil berteknologi baru. Ditemukan kemudian, beberapa pengusaha malah menggunakan dana itu untuk membeli tanah guna membangun properti. Contohnya grup Alam Sutera, itu semula dari grup industri tekstil tapi malah membangun properti.

Pihak bank juga tidak mengawasi  persis penggunaan dana tersebut. Bagi bank mungkin yang penting cicilan lancar dengan agunan pabrik-pabrik industri tekstil. Setelah reformasi memang bisinis properti sedang tumbuh. Dampaknya industri tekstil tidak bisa berkembang sebagimana yang diharapkan. Sekarang kita malah tertinggal jauh dari negara-negara tetangga yang dulu masih belum apa-apa dalam industri tektil.

Sebelum reformasi 1998, ekspor tekstil Indonesia sempat menyentuh 7,2 miliar dolar AS. Bangladesh, ketika itu eskpor tekstilnya masih sekitar 200-300 juta dolar AS. Tetapi sekarang Bangladesh sudah jauh menyalip dan kita tertinggal.

Pada dua tiga tahun terakhir memang ada pertumbuhan ekspor tekstil tanah air, tapi itu masih terlalu sedikit dibanding kinerja ekspor tekstil kita dulu. Inilah kondisi yang dialami industrialisasi kita sekarang karena tidak pernah mengantisipasi terjadinya perlambatan industri paska reformasi.

Langkah-langkah yang harus dilakukan pemerintah saat ini adalah menyetop impor tekstil segera. Itu hal jangka pendek yang harus kita lakukan dan semua memang harus dilakukan bertahap.

Kita kebetulan tidak bisa begitu saja menghentikan impor tekstil karena rupanya terdapat ketidakseimbangan industri tekstil kita. Kita memiliki industri garmen yang sangat maju, tetapi industri midstream seperti benang dan kain mengalami stuck atau tidak maju-maju.

Garmen kita lebih senang membeli bahan baku dari luar sehingga kapasitas kita hanya 4,6 juta meter pada bidang pertentunan. Industri tekstil hulu juga tidak berkembang.

Jadi strateginya harus dihentikan impor tekstil dari luar secara bertahap, kemudian membangun industri tekstil skala menengah. Kapasitas industri harus ditingkatkan 80 persennya. Itu jangka pendeknya.

Untuk jangka panjang harus diperhatikan stabilitas industri nasional. Berikan pinjaman khusus untuk mengambangkan kapasitas idle industri tekstil nasional, agar industri bisa kembali berjalan dengan mengupdate teknologi mesin-mesin tekstil dengan mesin yang paling maju, dan konsumsi listriknya rendah. Pengolahan limbah juga harus dibenahi untuk mengcover isu isu lingkungan. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti Indef

Industri tekstil memang mengalami masa keemasan pada era 80-an. Pentingnya membahas masalah industri tektil karena dilihat dari sejarahnya merupakan salah satu industri tertua di dunia.

Indsutri tekstil ditemukan di Mesir sebelum 5000 SM. Pada tahun 1500 M awal pabrik tekstil berdiri. Pada 1769 ditemukan mesin pemintal oleh Richard Arkward.

Terdapat tiga transformasi industri tekstil dunia. Pertama, industri tekstil di Amerika Utara dan Eropa Barat, industri tekstil sudah mengalami kemajuan dengan model busana yang menjadi tren. Pada tahun 1950 dan 1960-an industri tekstil Jepang mendominasi.

Transformasi kedua, produk tekstil dunia lebih banyak diproduksi oleh industri teksti Hongkong, Taiwan dan Korea pada tahun 1970- 1980-an.

Tranformasi ketiga terjadi setelah era Asian Big Three yakni Hongkong, Taiwan, korea bergeser ke negara-negara berkembang seperti China, Indonesia, Thailand, Filipina, Srilanka. Pada 1970 industri tekstil China belum tumbuh pesat seperti sekarang.

Industri tekstil Indonesia meraih keemasan pada 1980-an disebabkan oleh kebijakan substitusi impor sehingga produk-produk tekstil yang bisa menjadi industri substitusi impor akan diberikan insentif oleh pemerintah. Misalnya penjatahan kain mori dan benang.

Pada pertengahn 1970-an ketika para pengusaha tekstil terjun pada pembuatan serat sintetik, mereka juga sudah gerilya untuk melakukan ekpor. Dari tahun ke tahun, ternyata nilai tambah dari produk tekstil meningkat.

Pada 1970 – 1979 rata-rata nilai tambah meningkat 16.70 persen. Pada tahun 1980-1989 nilai tambah juga meningkat menjadi 13, 65 persen. Pada 1990 -1999 meningkat 17.94 persen, dan seterusnya.

Grafik pertumbuhan nilai tambah tekstil mulai menurun tahun 2000 – 2016. Pada 2000 - 2009 nilai tambah menurun dari 17,9 menjadi 12,7 persen. Pada 2009 -2016 turun menjadi 10,65 persen saja.

Industri tekstil sempat meraih kejayaan pada era orde baru karena regulasi yang ada sangat mendukung industri tekstil. Adanya proteksi tarif bea masuk dan impor tekstil hanya bisa dilakukan oleh produsen yang berlisensi. Biaya tambahan untuk impor, dikombinasinasikan dengan alokasi kuota ekspor.  Artinya, diberlakukan sedikit barrier untuk produk impor.

Data BPS menunjukkan industri tekstil Indonesia pada 1987 hanya berjumlah 88 perusahaan. Pada 2001 kemudian meningkat menjadi 1901 perusahaan.

Setelah reformasi ternyata Industri tekstil kemudian merosot, tutup dan bahkan melakukan PHK buruhnya, bahkan ada pabrik yang tidak memPHK karyawan karena berusaha bertahan agar pabrik tidak tutup.

Hal-hal yang menyebabkan merosotnya indutri tekstil adalah pertama, Tidak adanya investasi mesin-mesin tekstil mutakhir oleh industri tekstil. Dengan masih menggunakan mesin-meisn lama, maka tingkat produktivitasnya juga berkurang jauh.

Kedua, Sebagai penyebab yang paling berpengaruh adalah adanya serbuan impor tekstil ke Indonesia.

Ketiga, Harga produk tekstil Indonesia tidak kompetitif atau lebih mahal dibanding produk tekstil impor. Konsumen tekstil Indonesia sebenarnya masih prospektif tetapi karena produk tekstil dalam negeri lebih mahal maka menjadi tidak komptetitif.

Keempat, impor lebih besar daripada ekspor sehingga produk perdagangan tekstil terus mengalami penurunan.

Industri pemintalan dalam negeri juga mengurangi konsumsi bahan baku. Sehingga produktivitas menurun.

Sebab lainnya adalah pertumbuhan impor kain yang tidak diimbangi dengan ekspor garmen. Sehingga merusak industri kain, benang dan serat.

Sebab yang terakhir, ada beberapa regulasi yang dianggap menghambat pertumbuhan industri tekstil. Seperti adanya banjir impor tekstil, arus logistik di pelabuhan dan regulasi tentang limbah.

Intinya pemulihan performa industri tekstil Indonesia harus dilakukan karena pertama industri tekstil Indonesia pernah jaya, artinya bukan sesuatu yg mustahil untuk dicapai. Kedua pasarnya masih ada. Jangan sampai pasar di Indonesia  pun direbut oleh asing

Kebijakan yang diperlukan harus komprehensif dari multiaspek. Tidak hanya pembenahan dari SDM, support teknologi, standar Limbah yang make sense, tetapi juga kebijakan terkait ekspor impor, kebijakan mengerem impor untuk produk tekstil yang sudah bisa diproduksi dalam negeri, dan kebijakan untuk mendorong ekspor produk tekstil Indonesia. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Di zaman Orde Baru ada jargon yang terkenal sebagai tujuan pembangunan yaitu mencukupi tiga kebutuhan dasar rakyat Indonesia: Pangan, Sandang dan Papan. Pemerintah terus swasembada terhadap tiga hal tersebut hingga era reformasi sekarang. Beberapa minggu terakhir sejak Oktober 2019, para pembantu presiden Joko Widodo disibukkan dengan urusan impor tekstil yang semakin membesar nilainya dan membuat banyak industri tekstil dalam negeri kelimpungan terancam gulung tikar. 

Industri tekstil memang menjadi tulang punggung pemerintah untuk swasembada pangan. Namun ternyata industri ini menyimpan sejumlah permasalahan yang menahun dan tersibak jelas saat barang impor menyerbu deras. Sri Mulyani mencoba menindaklanjuti arahan presiden menangkal pengaruh impor tekstil terhadap industri tekstil dalam negeri dengan sejumlah instrumen kebijakan fiskal yang di antaranya kebijakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) dan Bea Masuk Tindakan Pengaman (BMTP). 

Menjadi pertanyaan besarnya adalah bagaimana kebijakan fiskal tersebut yaitu BMAD dan BMTD efektif merevitalisasi industri tekstil yang memang sudah memiliki masalah menahun sebelum penyerbuan barang impor dari China, Hong Kong, Korea Selatan dan Taiwan. 

Setiap produk manufaktur termasuk produk tekstil, tidak lepas dari ancaman produk impor. Untuk bertahan dan menang dari serbuan produk impor maka sudah disadari benar tidak semata dapat berlindung pada instrumen kebijakan fiskal semacam BMAD dan BMTP. Sifat perlindungan kebijakan fiskal tersebut memiliki jangka waktu.

Dalam kasus industri tekstil maka waktu yang diestimasi Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan untuk kebijakan BMAD dan BMTP antara 3 hingga 5 tahun. Oleh karena itu menjadi penting bagaimana rencana aksi para pemangku kepentingan industri tekstil Indonesia untuk membenahi masalah lemahnya daya saing usaha antara lain seperti usia tua mesin-mesin produksi sehingga tidak efisien lagi, pencemaran lingkungan karena limbah industri tekstil, serta teknologi produksi tekstil yang relatif usang (obsolete) dan rendah produktivitasnya.

Kemenperin pernah memiliki program restrukturisasi mesin/peralatan industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) di periode 2007-2011 yang menelan biaya sekitar Rp1,10 triliun. Hendaknya sekarang para pemangku kepentingan industri tekstil perlu mengevaluasi dan mengambil pelajaran hal-hal apa saja yang menjadi kekurangan dari program tersebut agar kejadian serbuan produk impor tekstil tidak menimbulkan kegaduhan lagi di masa datang.

Kemenperin tidak perlu malu dan segan untuk membuka hambatan yang dihadapi program revitalisasi industri tekstil yang pernah dilaksanakan. Kerjasama dan koordinasi antar kementerian dengan melibatkan dunia usaha serta para pemangku kepentingan lainnya pada kesempatan ini harus lebih baik lagi agar tidak mengulang kesalahan yang lalu.

Sekali lagi kebijakan fiskal untuk mengatasi serbuan impor tekstil bersifat temporer maka untuk memberikan obat manjur terhadap sakitnya industri tekstil Indonesia, mau tidak mau harus membenahi jantung permasalahan dengan duduk bersama dan terbuka menyusun rencana aksi lintas sektor yang bisa saja dipayungi regulasi seperti keputusan presiden.

Semoga swasembada pangan, sandang dan papan dapat diwujudkan menjelang satu abad Indonesia merdeka di 2045. Dan jika memang serius mencapainya maka sekarang harus mulai dikerjakan. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF