Industri Ritel dan Geliat Transformasi Bisnis Era 4.0
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 21 February 2019 19:00
Penulis
Bisnis ritel di Indonesia sampai Januari 2019 lalu masih menghadapi turbulensi. Setelah digoyang oleh tumbangnya beberapa ritel besar seperti Matahari Department Store, Seven Eleven, Debenhams, Lotus, dan beberapa merk lain, pertumbuhan bisnis ritel sampai awal 2019 belum menunjukkan kemajuan berarti. Sampai akhir 2018 pertumbuhan ritel hanya kurang dari 10 persen. Padahal, pada saat normal, bisnis ritel seharusnya bisa tumbuh 3 - 4 kali pertumbuhan ekonomi (Aprindo, 2018).

Anjloknya penjualan bisnis ritel mulai dirasakan sejak periode 2016-2017. Sempat tumbuh pada kuartal I/2016 sebesar 11,3 persen, namun pada periode yang sama tahun berikutnya (2017) bisnis ritel anjlok 3,9 persen. Kondisi menurunnya bisnis ritel terus berlanjut sampai 2018 ditandai dengan berjatuhannya toko-toko ritel konvensional seperti tersebut di atas.

Akibatnya, selain hengkangnya beberapa merk dagang terkenal seperti sepatu “Clarks’, tren penurunan industri ritel juga berdampak pada banyaknya terjadi PHK para pekerja ritel. Sepanjang 2018 saja, tercatat 3,362 pekerja yang di PHK.

Akankah tren penurunan bisnis ritel akan berlanjut pada 2019 ini? Risiko menurunnya tren bisnis akibat perhelatan politik Pemilihan Presiden 2019, disadari akan membawa pengaruh pada melambatnya bisnis secara umum. Hal tersebut sebagai dampak pilihan sikap wait and see investor dan pelaku bisnis lainnya. Namun bagaimanapun, jika tren penurunan industri ritel masih saja terjadi, angka pekerja yang terkena PHK bisa jadi akan terus bertambah dan potensial menimbulkan masalah sosial tersendiri.    

Asbabun nuzul” dari terjadinya penurunan industri ritel, ditengarai sebagai respon masyarakat akibat adanya kebijakan kenaikan beberapa item “administered price” seperti kenaikan biaya-biaya pajak kendaraan bermotor/STNK, listrik, BBM yang mengalami kenaikan sampai beberapa kali pada periode tersebut (2016-2017). Ditambah, kebijakan yang berubah-ubah di bidang perpajakan dan keuangan yang menyebabkan konsumen memilih bersikap menunggu.

Kenaikan tarif dan harga tersebut disebut-sebut menyebabkan terjadinya penurunan daya beli masyarakat (4,95 persen di bawah pertumbuhan ekonomi nasional) yang hingga kini masih belum pulih. Apalagi, situasi deindustrialisasi dinilai ikut andil dalam penurunan daya beli konsumen.

Selain pukulan dari kenaikan administered price dan deindustrialisasi, kecenderungan konsumen yang sekarang lebih menyukai belanja online lewat e-commerce turut pula menurunkan minat konsumen berbelanja langsung di mall atau department store. Belum lagi, pola hidup yang lebih menyukai “leisure style”, menikmati hidup dengan makan-minum di resto dan kegiatan-kegiatan rekreasi, ikut merubah pola belanja konsumen.

Menjadi pertanyaan, apakah perubahan pola belanja dan gaya hidup konsumen serta makin merebaknya e-commerce, akan menjadi sebuah transformasi ekonomi yang memaksa industri ritel konvensional ber evolusi mengikuti tren yang tengah berlangsung? Akankah mall dan department store akan berubah menjadi gudang-gudang produk e-commerce saja? Ke arah manakah para pekerja ritel yang terkena PHK akan menyesuaikan diri? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR

Masalah penurunan bisnis sektor ritel ini cukup kompeks. Menganalisanya harus dari pendapatan beberapa kelompok masyarakat. Kalau dilihat dari 40 persen lapisan terbawah pendapatan masyarakat, memang tampak terjadi penurunan daya beli. Data menunjukkan daya beli kelompok terbawah itu tertahan. Sementara, mereka juga berada di sektor pertanian hal mana nilai tukar petani sedang tumbuh stagnan.

Demikian juga dengan buruh pabrik. Pendapatan mereka secara take home pay—jadi bukan gajinya saja--berkurang karena lembur juga berkurang.

Tetapi kalau kita melihat kelompok masyarakat yang 40 persen di tengah, memang ada switching atau pergeseran, dari sebelumnya lebih gandrung pada produk-produk ritel seperti baju, sepatu dan lain-lain yang setidaknya pada periode 2011 sampai 2014 masih cukup bisa diikuti. Perkembangan harga komoditas juga tengah meningkat. Hal itu kemudian memperbaiki kesejahteraan masyarakat kelompok tengah ini (middle class). Juga, kelompok ini ingin menunjukkan eksistensi dirinya dengan belanja barang-barang ber merk, hal mana itu bisa didapatkan di ritel.

Tetapi setelah 2014 ke atas, terjadi perubahan gaya hidup dari semula gandrung berbelanja ritel menjadi lebih suka bergaya hidup “leisure”. Jadi lebih suka traveling, ke restoran dan lain-lain. Itulah kontribusi dari dua segmen kelompok masyarakat ini.

Sebenarnya kalau kita lihat data BPS kemarin angka penjualan restoran memang meningkat, karena adanya switching ke leisure juga semakin mudahnya mereka mendapatkan makanan lewat aplikasi online, sehingga hal itu juga meningkatkan transaksi di restoran.

Meskipun data produk makanan dan minuman ritel ternyata turun, tetapi transaksi restoran angka nya naik. Hal itu juga didorong oleh pertumbuhan sektor transportasi dan komunikasi yang tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 6,14 persen pada 2018.

Di sisi lain kalau kita bicara e-commerce, tumbuhnya memang cepat tetapi kontribusi nya terhadap pertumbuhan ekonomi masih kecil, kurang dari 2 persen. Jadi memang ada pergeseran gaya hidup dan ada juga pengaruh dari kelompok masyarakat yang daya belinya berkurang.

Pada akhirnya nanti memang ada evolusi bisnis. Hanya nampaknya tidak akan terjadi dalam waktu dekat misalnya semua bisnis ritel akan tutup. Karena, kalau kita lihat di e-commerce sendiri porsinya masih cukup kecil tetapi lambat laut memang akan terjadi perpindahan.

Tren dunia juga mengalami hal seperti itu, tidak hanya di Singapura yang mana terjadi penurun tren ritel besar, tetapi di Amerika dan Eropa juga seperti itu. Bahkan justru di Amerika Amazon jadi membuka toko sendiri. Di Indonesia juga mungkin ke depan akan seperti itu dengan konsep yang lebih modern.

Perubahan sementara ini mungkin hanya pada aspek manajemen saja, menjadi akan lebih modern. Di China juga sudah ada Alibaba store yang ketika membayar kita tidak usah dengan uang cash. Kasir nya juga tidak ada. Kita tinggal membawa barang-barang yang kita inginkan dan kita membayar dengan aplikasi Alipay. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Humas dan Kerjasama Universitas Widya Mataram di Yogyakarta, Ketua Ikatan Dosen Republik Indonesia (IDRI) Wilayah DIY

Perkembangan ilmu dan teknologi diyakini berdampak terhadap segala bentuk kehidupan, termasuk di dalamnya perubahan industri yang saat ini dikenal dengan istilah Revolusi Industri 4.0. 

Dalam era revolusi industri ini terjadi perubahan di banyak hal termasuk industri ritel. Banyaknya bermunculan toko-toko online diyakini sedikit banyak akan menganggu pergerakan pertumbuhan toko offline termasuk Mall. Hal ini disebabkan adanya perubahan dalam gaya hidup dan selera, yang berdampak terhadap pola konsumsi terutama di kalangan milenial.

Namun penurunan pertumbuhan toko offline (Mall dan Departement Store) tidak hanya disebabkan adanya pertumbuhan toko online (e-commerce), tapi juga disebabkan oleh adanya penurunan daya beli masyarakat, terutama untuk kalangan bawah, serta adanya perubahan pola belanja pada golongan menengah yang mempunyai kecenderungan menahan untuk tidak melakukan transaksi. Selain itu penurunan ini juga disebabkan karena dari sisi hulu (produsen barang) yang cenderung melakukan penundaan dalam aktivitas produksi sebagai akibat pelemahan daya beli masyarakat.

Pada dasarnya masyarakat Indonesia mempunyai karakter sosial yang tinggi, yang salah satu kebutuhannya adalah senantiasa selalu berhubungan atau berinteraksi antara satu dengan lainnya. Oleh karena itu Mall dan Depatement Store tidak akan serta-merta mati karena adanya toko online tersebut. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat Indonesia yang ingin mendapatkan produk dalam pasar nyata (toko fisik) sambil berinteraksi. 

Pasar adalah salah satu tempat terjadinya interaksi sosial masyarakat. Oleh karenanya hal tersebut masih menjadi peluang bagi toko fisik melakukan inovasi dalam lanyanannya, sehingga kebutuhan masyarakat akan terpenuhi. Konsep perubahan layanan inilah yang perlu dilakukan agar Mall dan Departement Store tidak mati.

Mall dan Departement Store dapat melakukan inovasi dengan menggabungkan konsep layanan offline maupun online. Selain itu Mall dan Departement Store dapat melakukan strategi pemasaran terpadu (integrated marketing strategic). Strategi pemasaran terpadu merupakan strategi untuk memberikan layanan secara excellent dan menyeluruh yang dapat “menggaet” semua segmen pasar yang ada. Konsep pemasaran terpadu ini berfokus dalam memberikan kepuasan pelanggan baik itu pelanggan internal (kayawan) dan pelanggan eksternal (konsumen) sehingga pelanggan akan menjadi pelanggan yang loyal.

Bagaimanapun juga, belanja secara langsung (ofline) dapat memberikan pengalaman tersendiri bagi para konsumen yang dapat menciptakan kepuasan secara emosional. Oleh karena itu Mall dan Departement Store idealnya dapat menyediakan pengalaman berbelanja yang lebih inovatif yang dapat memberikan penyediaan ruang berinteraksi. Hal itu dapat menciptakan pengalaman berbelanja yang lebih menarik serta memiliki value tersendiri di mata konsumen. Dengan demikian, tidak akan muncul adanya ketakutan terhadap matinya Mall dan Departement Store. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Sebetulnya pada 3 bulan terakhir tren bisnis sektor ritel agak membaik. Kalau berita ada tiga ribuan pekerja ritel yang terkena PHK memang betul terjadi pada tahun lalu. Masalahnya, sekarang ini kita tidak punya data valid tentang bisnis online. Apakah memang ada peralihan tren belanja masyarakat ke arah belanja online. Tetapi kalau dari sisi emiten kami lihat ritel Ramayana diketahui ada perbaikan. Lalu kalau kita liat “Ace Hardware”, ritel bagi masyarakat kelompok pendapatan menengah ke atas, itu juga meningkat. Ace Hardware memang tidak pernah turun tren nya. Tetapi Ramayana sempat turun.

Ihwal kemungkinan terjadinya evolusi atau transformasi sektor ritel yang mengikuti tren e-commerce, hal itu sepertinya hanya dari aspek diversifikasi bisnis ritel saja yang dijadikan peluang sebagai tambahan income. Perkembangan yang sempat diikuti sekarang, seperti contoh sebuah situs e-commerce produk busana anak muda yang awalnya hanya dijual online di Instagram, tetapi karena follower-nya sudah banyak maka mereka melakukan diversifikasi produk dengan membuka toko sendiri. Itu efektif sebagai tambahan bagi penjualan mereka karena brand mereka sudah dikenal.

Jadi perkembangan diversifikasi produk akan selalu terjadi bagi setiap pelaku usaha ritel. Dengan catatan, harganya harus sama dengan ketika dijual di online. Kalau ternyata harga produk mereka ketika membuka toko menjadi lebih mahal, maka konsumen akan kembali berbelanja online saja.

Bisa saja karena sekarang ada tren perubahan behaviour masyarakat, maka boleh jadi ada sektor ritel yang mengalami penurunan penjualan. Hanya karena data kami untuk bisnis online belum ada, maka tidak diketahui apakah penurunan penjualan itu karena beralihnya behaviour masyarakat ke arah e-commerce.

Kemungkinan adanya kerjasama antara sektor ritel konvensional dengan e-commerce, peluangnya terbuka sekali. Ritel konvensional akan mencoba mencari jalan untuk mempertahankan tingkat penjualannya. Tidak penting media nya lewat mana, apakah akan menggunakan kemudahan teknologi e-commerce, yang penting produknya terjual. Sama seperti bisnis perbankan, dalam  upaya mengembangkan produk perbankan, adanya situs online seperti gopay dan fintech lainnya, maka mau tidak mau perbankan harus merangkul menjadi bagian dari aktivitas perbankan.  Misalnya untuk Peer to Peer jika fintech membutuhkan funding maka bisa didapatkan melalui perbankan. 

Saya kira ritel konvesional juga harus seperti itu. misalnya produk-produk di Bukalapak bisa jadi dipasok oleh suplier ritel konvensional tertentu.

Memang, saat ini transformasi bisnis ritel akan ke arah mana belum begitu nampak. Tetapi dari kecenderungan perubahan pola perilaku konsumen yang menjadi lebih suka hal-hal praktis, maka kecenderungan belanja lewat e-commerce akan terus menguat. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ada masa hingga tahun 1990-an, toko-toko di pasar menjadi tempat ibu-ibu berbelanja memenuhi kebutuhannya, baik barang sehari-hari maupun barang sekunder dan tersier. Kemudian zaman berganti dengan dibangunnya mal, plaza atau pusat perbelanjaan yang demikian megah, nyaman, menarik dengan rupa-rupa atraksi memikat semua orang, tidak hanya ibu-ibu. Semua anggota keluarga senang pergi ke mal, plaza atau pusat perbelanjaan, utamanya di akhir pekan tidak sekedar belanja namun rekreasi. Bisnis ritel meledak luar biasa pada kurun waktu 1990-2010, hingga satu saat, yaitu kira-kira lima tahun lalu seiring semakin luasnya jangkauan internet, hadir apa yang disebut dengan e-commerce dengan pelaku-pelaku baru di panggung bisnis (new kids on the block). Mendadak bisnis ritel tergagap dan mulai merasakan adanya hentakan menyusut volume bisnisnya. Mulai banyak penjualan terjadi di marketplace bukan lagi di toko-toko yang ada di mal, plaza atau pusat perbelanjaan. Nilai transaksi bisnis e-commerce di Indonesia semakin besar diestimasi Rp75 triliun (2016); Rp85 triliun (2017), dan Rp100 triliun (2018), namun kecenderungan sebaliknya terjadi pada nilai transaksi bisnis ritel konvensional di mal, plaza dan pusat perbelanjaan mengalami penurunan.

Sebagaimana terjadi di Amerika Serikat dan Eropa yang telah terjadi penutupan banyak brick and mortar stores, maka gelombang tersebut hanya tinggal menunggu waktu akan tiba di Indonesia. Tidak dapat dibantah lagi bahwa sudah terjadi perubahan pola belanja di masyarakat Indonesia bahkan dunia yang semakin mengandalkan e-commerce. Generasi milenial akan menjadi kunci pendorong perubahan pola belanja tersebut. Pada tahun 2018, generasi milenial kelompok usia 15-34 tahun berbasis data BPS diestimasikan sebanyak 84 juta orang. Mereka sudah terbiasa berbelanja on-line untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Nampaknya mal atau plaza tidak lagi menjadi tempat utama berbelanja tapi bergeser menjadi tempat bertemu dan hang out bagi generasi milenial.

Jika cerdik menyikapi karakteristik generasi milenial yang memiliki pola belanja ritel berbeda dari generasi orang tuanya, maka pelaku bisnis ritel akan mampu meraih keuntungan bisnis dari perubahan jaman ini. Salah satu yang perlu dikembangkan adalah profesi pengamat perilaku konsumen. Profesi ini wajib ada pada setiap perusahaan bisnis ritel guna menangkap selera, tren, preferensi, pengalaman dan keinginan para konsumen generasi milenial terhadap berbagai produk ritel di pasar. Penggunaan teknologi informasi termasuk berbagai platform medsos serta observasi lapang di titik-titik kumpul komunitas dapat merekam dinamika tingkah laku generasi milenial di berbagai kota kemudian dianalisis dan disintesa untuk memperoleh benang merah hal-hal apa yang perlu ditawarkan oleh industri ritel kepada mereka. Strategi konvensional bisnis ritel dengan membangun toko menarik, display memikat, even heboh, atau promo-promo sensasional tidak lagi bisa dilakukan tanpa memadukan dengan strategi membaca dan memahami perilaku konsumen generasi milenial.

Komunikasi interaktif dengan konsumen menjadi kunci industri ritel di zaman Now agar dapat terus bertumbuh karena dapat memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh pasar saat ini dan mendatang, bukan pasar kemarin atau dahulu. Komunikasi interaktif harus dilakukan sejajar dalam arti biarlah antar generasi milenial yang bicara. Para pemimpin perusahaan ritel yang umumnya datang dari generasi pra-milenial sebaiknya memberi kepercayaan dan peran lebih besar bagi generasi milenial untuk memegang tanggungjawab strategis dan penting dalam bisnis ritel dengan tetap diberi supervisi sewajarnya.

Industri ritel tidak akan pernah mati karena akan dibutuhkan oleh masyarakat sepanjang waktu, namun tiap masa memiliki caranya masing-masing. Sekarang adalah masa generasi milenial dan industri ritel konvensional perlu memahami serta memberi kesempatan mereka menjalankan bisnis sesuai karakter mereka.(pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Sejumlah pedagang di kota Banda Aceh akhir-akhir ini sering mengeluhkan keadaan ekonomi di Aceh yang kian hari terasa kian sepi. Sejumlah pengusaha mengeluhkan menurunnya omset penjualan barang di toko-toko mereka. Kondisi menurunnya omset bukan saja dialami oleh para pedagang kelas kakap, tetapi juga pedagang-pedagang kaki lima. Menurunnya omset penjualan tersebut  konon, disebut-sebut karena kian rendahnya daya beli masyarakat yang membuat para pedagang merasa bingung mau menjual apa. Kondisi ini, tidak saja dialami oleh pedangang-pedagang kecil dan menengah, namun juga dirasakan oleh bisnis ritel besar yang usaha dagangnya di mall atau Pasar Swalayan.

Apa yang kita saksikan adalah kondisi supermarket atau mall yang lengang dari pembeli. Tempat-tempat ini baru ramai pada saat  awal bulan, karena keluarga-keluarga yang berstatus PNS berbelanja bulanan. Lalu setelah itu, pasar dan mall kembali sepi. Kalau pun mall atau supermarket kembali ramai hanya pada hari-hari libur atau akhir pekan. Ini pun bukan semua datang untuk berbelanja, tetapi sekaligus untuk berakhir pekan sambil cuci mata. Kalau pun mall dan supermarket pada akhir pekan dipenuhi pengunjung, namun aktivitas berbelanja kecil. Ini menjadi salah satu indikator bahwa kondisi ekonomi sedang memburuk.

Menurunnya omset penjualan di Aceh, khususnya Banda Aceh penyebabnya bisa disebabkan oleh menurunya daya beli,  bahkan seperti  disebut Rustam Effendi, pengamat ekonomi di Aceh menyebutkan bahwa menurunnya daya beli masyarakat karena pengaruh proyek APBA 2019. Roda ekonomi di Aceh, sangat ditentukan oleh pencairan belanja pembangunan, baik belanja langsung maupun tidak langsung (Tribunnews.com).

Menurunnya omset penjualan di tingkat pedagang dan dunia ritel tentu tidak hanya karena satu faktor, seperti melemahnya daya beli, akan tetapi ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Seiring dengan perubahan zaman, di mana kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat, paradigma sistem perdagangan ikut berubah menjadi sangat digital. Berubah dari offline yang menggunakan tempat atau pusat belanja menjadi online, tanpa membutuhkan ruang seperti mall, supermarket atau toko maupun kios. Konsumen kini cukup menggunakan rumah dan dipasarkan dengan cara online. Sepinya pasar juga disebabkan berubahnya pola atau selera konsumen yang semakin dimanjakan oleh sistem online, yang membuat konsumen tidak harus datang berbelanja ke toko atau pusat perbelanjaan. Belanja cukup dengan mengirimkan sejumlah daftar pesanan, lalu konsumen yang umumnya generasi milenial yang tidak suka dengan hal-hal sulit dan melelahkan, bisa menggunakan jasa Gojek atau grab dan sebagainya.

Jadi kita tidak perlu heran, apabila suatu saat mall atau department store di mana saja, akan menjadi gudang e-commerce. Bukan hanya di kota-kota besar, namun juga di kota-kota kecil di daerah. Hal ini bukan hanya mengancam mall, department store atau yang sejenisnya, tetapi berdampak sangat besar terhadap tenaga kerja yang selama ini bekerja di sektor ini. Oleh sebab itu, tidak ada pilihan bagi pengusaha atau pebisnis ritel serta para pencari kerja yang merupakan generasi milinial dan generasi Z. Semua harus berbenah. Bila tidak, semua akan tergilas oleh kemajuan zaman. Maka, bila kita amati kehidupan kaum milenial khususnya di Aceh saat ini, banyak yang mulai terjun ke dunia online. Mereka memilih jenis usaha yang berbasis online. Namun demikian, tidak sedikit pula yang mulai tergilas oleh dunia digital, dimana mereka tidak menjadi subjek, tetapi menjadi objek dan korban digital. Jad, berbenahlah. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan             Investor Tak Hanya Andalkan Peringkat Daya Siang