Industri Nasional, Upaya Mengubah Cita-Cita Menjadi Kenyataan
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 02 April 2019 18:30
Penulis
Watyutink.com - Menteri Perindustrian Airlangga, sumringah bukan main. Data Purchasing Managers Indeks (PMI) yang dirilis oleh Nikkei menyebutkan bahwa manufaktur Indonesia pada Maret 2019 telah berada di level 51,2.

Saking girangnya, Airlangga berani memproyeksi pertumbuhan Industri manfaktur Indonesia pada 2019 akan dapat menyentuh angka 5,4 persen. Tegak berdiri di atas angka pertumbuhan ekonomi.

Padahal, selama ini hampir semua ekonom dan pemerhati kinerja industri manufaktur galau lantaran angka pertumbuhan industri anjlok di bawah pertumbuhan ekonomi (4,95). Tapi dengan PMI nya Nikkei yang membuat Menperin optimis, agaknya perlu ditelusur kembali, benarkah telah ada sinyal-sinyal positif yang menggembirakan?

Meski dinilai hanya indeks jangka pendek enam bulanan, Indeks PMI Nikkei dianggap memberikan gambaran kinerja industri pengolahan satu negara. Data diambil dari survei indikator ihwal jumlah produksi, permintaan baru, labours, inventori dan waktu pengiriman. (Rakyatmerdeka,2/4/2019).

Survei respon bulanan tersebut dikirimkan kepada sekitar 300 industri dari delapan kategori logam dasar, kimia dan plastik, listrik dan optik, mamin, teknik mesin, tekstil busana, kayu kertas dan transportasi.

Nah hasilnya, pada tiga bulan terakhir 2019 rupanya PMI manufaktur Indonesia membaik. Januari 2019 di level 49,9, Februari 50,1 dan Maret 51,2. PMI yang dicapai pada Maret ternyata lebih tinggi dari PMI Thailand, Singapura dan Malaysia.

Cukupkah hasil survei tersebut untuk menyatakan bahwa fondasi perekonomian telah membaik? Apakah hasil survei jangka pendek bisa memastikan satu hasil positif untuk periode 2019? Memadaikah indikator-indikator yang diajukan?

Jika memang bagus, tentu harus disyukuri. Namun, track record industri nasional pada beberapa tahun terakhir memang cukup mengkhawatirkan. Pertumbuhan industri yang di bawah pertumbuhan ekonomi, menandakan ada yang belum tuntas tergarap untuk mengakhiri deindustrialisasi.

Secara fundamental ekonomi, disebutkan masih butuh waktu menengah panjang untuk kembali mencapai angka di atas 20 persen PDB. Sepuluh tahun lalu bahkan kontribusi industri mencapai 33-34 persen PDB.

Padahal, Presiden Jokowi pada 2015 pernah mengintrodusir ihwal strategi perubahan untuk memperbaiki Indonesia. Termasuk di dalamnya transformasi fundamental ekonomi melalui tiga aspek, Pertama, mengubah ekonomi berbasis konsumsi menjadi ekonomi berbasis produksi.

Kedua, kebijakan subsidi BBM yang dialihkan untuk pembangunan infrastruktur dan juga subsidi yang lebih tepat sasaran untuk pengentasan kemiskinan. Ketiga, mendorong pembangunan yang lebih merata di luar Pulau Jawa, dengan pembenahan infrastruktur.

Namun, dengan indikator lesunya industri selama ini, membuat hal-hal yang disampaikan Jokowi menjadi lebih perlu dielaborasi.

Dari hasil PMI Nikkei di atas, hal-hal apa saja kiranya yang patut dipekuat dalam menumbuhkan kembali produksi pada industri manufaktur dalam negeri? Prasyarat dan syarat yang mendukungnya (misalnya iklim usaha, birokrasi-perizinan), apakah telah cukup dilakukan pembenahan, agar idialita pertumbuhan 5,4 persen industri dapat tercapai?  

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR

Purchasing Mangers Indeks (PMI) memang salah satu ukuran, hanya saja rasanya kita lebih percaya pada pertumbuhan sektor manufaktur dan juga kontribusi sektor manufaktur tehadap GDP. Juga, ketika kita melihat pada Februasi 2019 kemarin justru impor non migas Indonesia terutama dari mesin-mesin, besi baja dan lain-lain malah turun.

Dari situ, sepertinya belum cukup terlihat tanda-tanda perbaikan ekonomi yang cukup signifikan. PMI hanya menangkap fenomena di jangka pendek. Sementara dalam jangka panjang secara fundamental belum banyak berubah.

Secara fundamental kita bisa melihat dari kontribusi sektor manufaktur terhadap GDP. Yang terjadi sekarang malah turun terus ke angka 19 persen. Padahal, pada 2014 lalu ketika Airlangga menjadi Menteri angkanya sampai 20 persen GDP. Jadi kami rasa Kementerian Peridustrian masih belum berhasil.

Mungkin optimisme pak Airlangga lebih terpengaruh pada tahun politik. Yang jelas selama ini pertumbuhan sektor manufaktur masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi. Jadi, untuk menuju ke pertumbuhan industri manufaktur 5,4 persen, agaknya hanya target politiknya sebagai ketua umum Golkar saja. (pso)

 

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Indeks PMI bisa dikatakan hanya ukuran untuk beberapa bulan saja. Hanya untuk satu triwulan, dan prospek triwulan berikutnya ke depan. Artinya jangka pendek, kurang dari satu tahun. Data seperti itu, Bank Indonesia juga menerbitkan tiap bulan dengan beberapa komponen yang diukur.

Data PMI biasanya mencerminkan adanya angka penjualan yang meningkat, lalu adanya peningkatan permintaan, hal hal itu yang biasanya jadi bahan pertimbangan bagi produsen atau pengusaha. Sehingga keputusan-keputusan ekspansi produk atau peningkatan produksi bisa jadi pertimbangannya dari indikator PMI tersebut.

Potensi industri manufaktur sangat besar. Target 5,4 persen pertumbuhan manufaktur sebenarnya masih bisa ditingkatkan tetapi ada banyak syarat yang harus dipenuhi.

Hanya kalau dilihat dari pertumbuhan industri manufaktur pada 2018, memang tidak sampai 5 persen. Sebenarnya bisa didorong dengan upaya-upaya jangka pendek. Salah satunya adalah pertama, bagaimana sektor manufaktur bisa menjaga pangsa pasar di dalam negeri.

Pada era keterbukaan ini, banyak produk-produk impor yang harganya relatif lebih murah, sehingga menjadi tantangan bagi industri lokal agar bisa menjaga pangsa pasarnya di dalam negeri. Ada ilustrasi menarik, ada satu industri yang babak belur di pasar dalam negeri, tapi bagus di pasaran ekspor.

Jadi sekali lagi, kalau ingin pertumbuhan industri manufaktur tinggi, maka harus bisa menjaga pangsa pasar dalam negeri karena sebenarnya market potensial kita sangat besar.

Kedua, harus juga bisa menjaga pangsa pasar ekspor. Pangsa pasar yang sudah dikuasai jangan sampai direbut pesaing dari negara lain. Lalu, bagaimana agar bisa melakukan penetrasi pasar.

Pada beberapa skema perdagangan bilateral, misalnya dengan adanya FTA, itu berarti kita semakin mudah untuk melakukan perluasan pasar. Semakin memiliki potensi untuk mengembangkan ekspor. Seharusnya dengan FTA tidak ada lagi hambatan ekspor, hambatan tarif dan lain-lain di negara tujuan.

Yang diekspor tentu saja produk-produk industri manufaktur. Sehingga industri manufaktur bisa terangkat dan pertumbuhannya bisa lebih tinggi.

Angka produksi industri bisa dilihat dari berapa angka yang ditargetkan. Sepanjang 2018, bisa dilihat dari sektor-sektor yang menghasilkan barang (tradeable), justru tumbuh di bawah pertumbuhan ekonomi. Salah satu yang paling terlihat adalah industri sektor manufaktur, pertanian. Dari angka produksinya memang meningkat, tapi masih relatif kecil.

Kalau dibandingkan dengan sektor-sektor jasa masih tumbuh lebih besar. Artinya, jasa-jasa yang tumbuh mungkin berasal dari industri yang “mensupport” industri yang berasal dari negara lain. Seperti sektor perdangangan online atau e-commerce. Barang-barang yang diperjual belikan itu kebanyakan dari impor.

Kalau itu yang terjadi berarti sektor produksi kita tidak bisa terangkat. Tapi yang terangkat adalah e-commerce. Selintas, dari fenomena itu sepertinya ada anomali. Seharusnya, e-commerce terangkat karena adanya pertumbuhan yang tinggi dari sektor industri manufaktur lokal.

Dari hal itu yang harus diperhatikan adalah, ketika masuk ke era digitalisasi ekonomi, jangan sampai digitalisasi yang tumbuh justru bertentangan dengan industrialisasi di dalam negeri. Digitalisasi jangan membunuh industrialisasi.

Seharusnya digitalisasi bisa mengangkat industrialisasi. Menteri Perindustrian sebenarnya ingin antara industrialisasi dan digitalisasi 4.0 bisa bersatu dan saling melengkapi. Sehingga tercipta industrialisasi yang lebih optimal.

Tetapi hal itu perlu dukungan sektor-sektor yang lain karena industri tidak bisa tumbuh sendirian. Dia harus didukung oleh sektor transportasi, perdagangan, energi dan sektor tenaga kerja. Itu semua domainnya berada di luar Kemenperin. Jadi dibutuhkan sinergi agar bisa menghasilkan industri manufaktur yang lebih besar lagi pertumbuhannya. Hal itu harus jadi agenda prioritas nasional.(pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar