Idul Adha dan Potensi Ekonomi Kerakyatan
berita
Ekonomika
Sumber Foto : radarsemarang.com (gie/watyutink.com) 25 August 2018 15:30
Penulis
Seolah tak terimbas oleh lesunya daya beli di sektor konsumsi akhir-akhir ini, penjualan hewan ternak:  sapi, kambing, domba dan kerbau untuk kebutuhan qurban tetap ramai menjelang hari raya Idul Adha.

Kementerian Pertanian menyebut, jumlah hewan ternak yang disiapkan pada tahun 2017 lalu naik 10 persen, yakni  sebanyak 1.432.940 ekor, terdiri dari 440.323 ekor sapi, 9.851 ekor kerbau, 755.288 ekor kambing. Sementara, di Idul Adha 2016, Kementan mencatat, penyembelihan hewan kurban sebanyak 1.019,777 ekor.

Secara ekonomi, penyembelihan hewan setiap hari raya Idul Adha sangat berpotensi terhadap perputaran ekonomi di Tanah Air. Katakan saja ada 30 persen dari 260 juta penduduk Indonesia berpenghasilan rata-rata Rp5 juta per bulan atau 60 juta per tahun, itu berarti kita mempunyai  sekitar 87 juta orang yang mampu  secara ekonomi –berdasarkan batas penghasilan kategori miskin yang ditetapkan BPS.

Dari 87 juta tersebut kita asumsikan seluruhnya umat muslim, yang tentu merayakan hari Raya Idul Adha.  Jika 50 persennya saja dari 87 juta orang yang mampu, dan melakukan qurban, maka sudah sekitar 43,5 juta orang yang melakukan pemotongan hewan qurban, baik itu sapi, kambing, domba maupun kerbau. Seandainya, kita asumsikan seluruhnya memotong hewan qurban kambing, dengan asumsi harga kambing kurban kisaran Rp3 juta per ekor, itu berarti uang yang beredar  untuk pembelian hewan ini mencapai Rp130 an triliun.

Siapakah yang beruntung dengan datangnya hari raya kurban ini? Tidak hanya  warga miskin yang bisa menikmati daging saat hari raya Idul Adha, tetapi juga para peternak sapi, kambing, domba, maupun kerbau dan para juragan (broker) binatang-binatang ternak tersebut pun ikut meraup keuntungan saat datangnya hari raya Idul Adha ini.
    
Jika kita anggap margin keuntungan bagi para peternak kambing adalah sekitar 30 persen, itu berarti sejumlah Rp39 triliun akan dikantongi oleh para peternak yang kebanyakan berasal dari desa. Angka perhitungan ini adalah angka minimum, karena tidak jarang satu peternak bisa memelihara lebih dari satu ekor kambing, domba, sapi, dan kerbau.  

Bukankah setiap momentum tahunan Idul Adha tiba, bisa menjadi kesempatan untuk menggerakkan ekonomi rakyat? Apalagi kebutuhan konsumsi daging, juga hasrat orang-orang yang ingin berkurban diperkirakan terus meningkat setiap tahunnya, maka bisa dipastikan peluang untuk memperbesar ekonomi kerakyatan dari berternak hewan qurban semakin besar?

Memang tak ada angka-angka pasti tentang kebutuhan hewan setiap tahun, terutama menjelang hari raya Idul Adha. Namun, secara nasional, produksi daging dan kebutuhan konsumsi daging, termasuk ternak untuk kurban, masih timpang. Indonesia masih mengimpor sapi sebanyak 450.000 ekor setiap tahun. DKI Jakarta saja, setiap tahun membutuhkan  hewan kurban tidak kurang 4.500 sapi, 100 kerbau, 30-an ribu kambing dan hampir sekitar 2.000 ekor domba.

Bukankah pemerintah seharusnya mempertimbangkan untuk lebih menggerakkan lagi potensi peternakan –khususnya untuk kebutuhan qurban seperti saat ini, yang terbukti mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan, dibandingkan dengan menarik investasi dari luar negeri untuk gencar membangun infrastruktur yang belum tentu bisa dinikmati rakyat di desa-desa?

Dengan menggerakkan ekonomi kerakyatan, bukan hanya UMKM, juga sektor pertanian dan peternakan, maka kita akan bisa keluar dari jeratan kemiskinan yang masih membebani bangsa ini?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.

Bagi umat muslim ibadah qurban, yang mengiringi rukun islam berhaji ke tanah suci, sejatinya mengandung makna teramat penting. Yakni sebagai upaya untuk lebih mendekatkan diri secara vertikal  kepada Allah SWT. seraya dalam satu tarikan nafas secara horisontal mendekatkan diri pula  kepada sesama manusia

Atau dalam ungkapan  spiritual-futuristik nan menggerakkan dari  filosof revolusioner muslim Ali Syariati ketika menyinggung tentang Idul Hajj atau Idul Qurban: “...Kini engkau akan berperan sebagai Ibrahim, ia membawa anaknya Ismail untuk dikorbankan. Siapa atau apa yang menjadi “Ismailmu”? Jabatan, kehormatan, atau profesimukah? Uang, rumah, ladang pertanian, mobil, cinta, keluarga, pengetahuan, kelas sosial, seni, pakaian, ataukah nama? ...Yang harus kau korbankan adalah segala sesuatu yang melemahkan imanmu, yang menahanmu untuk melakukan “perjalanan”, yang membuatmu enggan untuk memikul tanggung jawab, yang menyebabkanmu bersikap egoistis, yang membuatmu tidak dapat mendengarkan pesan dan mengakui kebenaran dari Tuhan, yang membuatmu “melarikan diri” dari kebenaran, yang menyebabkanmu berkilah demi kesenangan, yang membuatmu buta dan tuli."

Posisi ibadah qurban sepenting dan sestrategis itu, sebagai salah satu sarana penunaian tujuan fungsi kemanusiaan kita yang sejati, selaku hambaNya, sekaligus sebagai makhluk sosial. Maka menjadi sangat relevan ketika kita mengaitkan perayaan idul qurban itu dengan ekonomi kerakyatan. Sehingga perlu elaborasi mendalam, sampai diperoleh konsepsi kebijakan nasional sekaligus praksis ekonomi kerakyatan atau ekonomi keumatan yang berkeadilan secara nyata.

Lalu seperti apa seharusnya kita membaca tren kenaikan penyediaan dan permintaan hewan qurban setiap tahunnya di tengah fenomena lesunya daya beli masyarakat di sektor konsumsi akibat lesunya perekonomian nasional? 

Itukah pertanda dari berlangsungnya apa yang disebut Ali Syariati dalam. bukunya "Haji" sebagai "Mempersembahkan domba sebagai pengganti Ismail adalah "pengorbanan” tetapi pengorbanan domba demi pengorbanan semata hanyalah “penjagalan”. Apalagi kalau hanya demi pujian semata."

Bagi banyak umat  muslim negeri kita yang tidak mampu dan menerima pembagian  hewan qurban,  mungkin mereka bisa sehari-dua hari mendapat "perbaikan gizi" menikmati daging. Pun begitu, para pedagang hewan qurban, ‘jagal’ hewan qurban, juru seset kulit hewan qurban, pengepul kulit, dan lainnya mendapat kelimpahan pendapatan di hari, raya qurban. Tapi tidak setiap hari bisa seperti itu, bukan?

Boleh jadi para peternak hewan qurban skala rumahan ada yang beroleh keuntungan lumayan di hari raya qurban.  Namun kebanyakan dari  mereka adalah peternak-peternak  kecil yang memiliki satu-dua ekor hewan qurban untuk dijual.

Lagi pula, masih besarnya angka impor untuk kebutuhan hewan qurban dan untuk pasokan daging kebutuhan sehari-hari masyarakat Indonesia, maka keuntungan pun justru banyak dinikmati negara pemasok hewan qurban dan segelintir pengusaha importir dalam negeri.

Sehingga upaya super serius dari pemerintah yang bergandengan tangan dengan umat muslim dari kalangan ekonomi menengah-bawah untuk mendorong pembangunan sentra-sentra peternakan rakyat skala besar yang dikelola oleh rakyat di pelbagai daerah dalam bentuk koperasi maupun badan usaha milik desa, yang mampu mensejahterakan rakyat secara berkeadilan tidak hanya di saat momentum hari raya qurban, merupakan tuntutan wajib yang harus dirintis dan dikonkritkan mulai saat ini juga.

Hal itu justru sebagai bagian terpenting dalam rangka menjadikan prosesi keagamaan tahunan Idul Qurban beserta segenap potensi yang tampak di dalamnya sebagai titik tolak untuk memastikan peningkatan mesin ekonomi kerakyatan yang sejati di sektor peternakan yang mampu lebih menyejahterakan umat muslim Indonesia sebagai bagian terbesar rakyat Indonesia secara lebih permanen.

Prinsipnya itu. Tinggal disusun konsep beserta kebijakan-kebijakannya. Bisakah itu dijalankan? Tentu saja bisa! Tapi maukah itu diupayakan keberpihakan dan pelaksanaannya oleh pemerintah? Di situlah yang kerap jadi masalah sebenarnya pada setiap gagasan ekonomi kerakyatan, dimana keberpihakan kerap didapat segelintir pengusaha besar yang bersimbiosis dengan kekuasaan! (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Akademisi dan Praktisi Ekonomi Syariah

Hari raya Idul Adha memang memiliki suatu dorongan ekonomi yang relatif besar karena terjadi peningkatan permintaan akan hewan-hewan kurban. Bukan hanya itu, tetapi juga sama-sama kita pahami bahwa harga hewan-hewan kurban tersebut saat momen hari raya Idul juga ikut melonjak. Maksudnya, saat hari raya Idul Adha, harga hewan kurban bukan lagi diperhitungkan sesuai harga daging, yang hitungannya per kilogram (kg), tetapi harga hewan kurban. Karena harganya bisa 2-3 kali lipat jika hitungan harganya per kg.

Saat berkurban, orang tidak lagi menghitung karkas (daging yang belum dipisahkan dari tulang), tetapi yang menjadi bahan pertimbangan utamanya adalah kelayakan (baik usia maupun kondisi fisik hewan) hewan untuk dijadikan hewan kurban.

Sehingga, tentu hal itu akan mendorong gerak ekonomi dari beberapa sektor: pertama, dari perdagangan hewan kurban itu sendiri. Kedua, mengenai transportasi, sebagai sarana pengangkutan hewan kurban, juga mengalami peningkatan permintaan. Ketiga, para tukang potong (sembelih) dan lainnya yang mengorganisir peristiwa kurban itu sendiri. Jadi, dari sisi itu memang terjadi lonjakan ekonomi. Namun, dalam ilmu ekonomi, lonjakan tersebut disebut sebagai spike. Lonjakan yang bersifat sporadic, accindetal, dan hanya sesaat. 

Lonjakan ekonomi yang terjadi di hari raya Idul Adha ini agak berbeda jika dibandingkan dengan hari raya Idul Fitri. Karena, saat momen Idul Fitri, selain terjadi kenaikan permintaan akan barang-barang konsumsi, pada saat yang sama juga terjadi peningkatan suplai uang dengan adanya tunjangan hari raya (THR).

Dampak lonjakan ekonomi saat Idul Fitri lebih panjang dibandingkan Idul Adha, bisa sebulan bahkan dua bulan. Karena ada uang yang berlebih di tangan (dipegang) oleh masyarakat. Jika masyarakat spend uangnya saat momen Idul Fitri, maka uang tersebut bisa terdistribusi kemana-mana, bisa ke makanan, pakaian, maupun transportasi. Selain itu, dalam momen hari raya Idul Fitri, ada distribusi uang dari pusat (kota) ke daerah (kampung halaman), karena orang pada mudik.

Nah, dampak di Idul Fitri tersebut tidak terjadi di hari raya Idul Adha. Meski terjadi lonjakan permintaan terhadap hewan kurban, tetapi tidak dibarengi peningkatan jumlah uang yang beredar, karena tidak ada THR. Bahkan dalam momen Idul Adha, satu hal lagi yang harus kita perhitungkan, bahwa ada lebih dari 220 ribu orang yang menjalankan Ibadah haji di tanah suci, Mekah. Yang itu artinya, ada pemberian devisa bagi negara.

Sehingga pada saat yang sama, ada tekanan terhadap dolar AS pada level tertentu. Karena terjadi peningkatan permintaan akan dolar AS, oleh orang yang mau pergi haji. Secara over all, dampak Idul Adha kalau kita bandingkan dengan Idul Fitri, maka jauh lebih besar Idul Fitri. Karena tidak aliran dana keluar dalam bentuk valuta asing (valas) untuk orang pergi haji, dan tidak ada peningkatan karena THR.

Namun, yang menarik dalam momen hari raya Idul Adha saat ini adalah, meskipun kondisi ekonomi di Indonesia kurang begitu baik saat ini, seperti penurunan daya beli dan lain sebagainya, terlepas dari data-data makro –data historis, ternyata permintaan akan hewan kurban tetap tinggi. Bahkan, di beberapa tempat dan wilayah, terjadi peningkatan yang signifikan hewan kurban yang di sembelih. Hal ini menunjukkan semangat religious masyarakat cukup tinggi saat ini.  

 Di samping itu, saat ini sepertinya sudah mencapai titik keseimbangan. Maksudnya, dulu pemotongan hewan kurban selalu dipotong di Jakarta. Nah, setelah ada gerakan untuk memberikan hewan kurban ke daerah-daerah terpencil, yang didorong oleh lembaga-lembaga amil zakat dan lembaga-lembaga filantropi lainnya, ternyata terjadi penurunan hewan kurban yang dipotong di Jakarta. karena masyarakat yang berkurban begitu semangatnya membantu saudara-saudaranya di daerah-daerah terpencil, dengan mengirimkan hewan kurbannya ke sana. Tetapi saat ini, jika kita lihat, ternyata kondisi tersebut sudah seimbang. Dalam artian bahwa hewan kurban yang dikirim ke daerah tetap ada dan berlangsung, tetapi yang di Jakarta juga sudah tidak lagi berkurang. Bahkan, sama-sama terjadi peningkatan. (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang