Ekonomi: Tahun Lalu Tahan Banting, Tahun Ini?
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 08 January 2019 11:00
Penulis
Ekonomi Indonesia tahan banting. Kesimpulan ini disampaikan Menko Perekonomian Darmin Nasution setelah melihat capaian kinerja ekonomi tahun lalu yang cukup baik di tengah gejolak perekonomian global. Kondisi tersebut yang membuat pemerintah optimistis perekonomian tahun ini akan lebih baik dari 2018.

Disebutkan bahwa Indonesia dapat melewati tahun yang penuh gejolak dan ketidakpastian di tingkat global dengan baik sehingga menjadi kebanggaan tersendiri.  Hal ini menujukkan bahwa ekonomi Indonesia tahan banting menghadapi turbulensi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun lalu juga dinilai berkualitas, karena angka pengangguran terus menurun setiap tahun dan menjadi bagian penting dari pertumbuhan ekonomi. Selain itu, inflasi sudah tidak mengkhawatirkan lagi dan tetap terjaga di level yang rendah di bawah 3,5 persen.

Indikator lain adalah kinerja pasar modal sepanjang tahun lalu yang cukup baik dengan banyaknya perusahaan melepas sahamnya kepada publik, meningkatnya nilai transaksi harian, dan bertambahnya jumlah investor.

Kinerja ekonomi 2018 dijadikan modal oleh pemerintah untuk lebih optimistis menjalankan roda perekonomian pada tahun ini  yang diperkirakan bukan tahun yang mudah tetapi harus dihadapi, apalagi tekanan yang terjadi pada tahun lalu akan mulai mengendur, salah satunya adalah kebijakan Bank Sentral AS yang tidak akan agresif  lagi menaikkan suku bunga, direncanakan hanya 2 kali tahun ini.

Tekanan dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China juga diperkirakan tidak akan seberat tahun lalu karena menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Kedua negara sepakat melakukan genjatan senjata untuk sementara waktu.

Apalagi Indonesia dinilai lebih tahan menghadapi perang dagang dibandingkan Singapura dan Thailand. Kedua negara tetangga di Asean itu menggantungkan ekonominya kepada sektor perdagangan, sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia disokong oleh konsumsi.

Dana Moneter Internasional (IMF) juga mengakui ketahanan ekonomi Indonesia dibandingkan dengan tetangganya di regional Asean. Indonesia dinilai memiliki ketahanan ekonomi yang baik dan dapat menjadi contoh bagi negara-negara lainnya,seperti dalam pelaksanaan pertumbuhan ekonomi inklusif.

Ditambah lagi dengan perbaikan rating Sovereign Credit Rating (SCR) oleh lembaga pemeringkat Moody's Investor Service pada tahun lalu dari Baa3 dengan prospek positif menjadi Baa2 dengan outlook stabil, menambah bukti bahwa ekonomi Indonesia memiliki daya tahan di tengah  ketidakpastian dan gejolak ekonomi global. Kenaikan peringkat tersebut akan meningkatkan daya tarik investasi Indonesia di kancah internasional.

Rating tersebut adalah level tertinggi yang pernah dicapai oleh Indonesia dari Moody's.  Indonesia diakui oleh empat lembaga rating internasional berada pada satu tingkat lebih tinggi dari level investment grade sebelumnya.

Cukupkah predikat sebagai si tahan banting bagi Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asean?  Apakah hal ini sebagai bentuk kepasrahan karena ketidakmampuan mempengaruhi dinamika global? Apakah Indonesia tidak dapat mengubah nasib sebagai bangsa yang maju?

Bagaimana dengan masalah struktural yang masih menjadi pekerjaan besar bangsa ini? Apakah masalah struktural sulit dihindari bagi Indonesia?  Apakah kondisi ‘tahan banting’ sebagai sesuatu yang baik dalam ekonomi? Bukankah dalam olahraga yang terbaik adalah strategi menyerang bukan bertahan atau tahan pukul?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)

Nature ekonomi Indonesia memang tidak terkooptasi dan terintegrasi dengan perekonomian global sehingga tahan banting terhadap gejolak dan ketidakpastian perekonomian global. Komposisi  global atau eksternal dalam perekonomian Indonesia tidak sampai 20 persen, sementara sisanya sekitar 70 persen murni disokong oleh domestik.

Dengan komposisi tersebut dan didukung oleh fundamental yang kuat maka jika terjadi badai, gejolak dalam perekonomian global, tidak akan berpengaruh kepada kondisi ekonomi nasional. Tetapi buktinya Indonesia terpental, terinfiltrasi oleh ketidakpastian ekonomi global. Artinya, ada yang salah dengan desain kebijakan yang diambil pemerintah.

Jadi yang tahan banting itu rakyat karena mereka sangat adaptif dalam kondisi apapun. Dalam kondisi seperti apapun daya tahan hidup rakyat tinggi sekali. Jika ukuran yang dipakai dalam menyatakan bahwa ekonomi Indonesia tahan banting merujuk kepada tingkat iflasi, penganggura, dan pertumbuhan maka akan mudah dipatahkan.

Tingkat inflasi di Indonesia di tengah pertumbuhan ekonomi global yang terbatas memang menunjukkan angka yang rendah. Ini dialami oleh hampir semua negara. Tetapi Indonesia mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 3,2 persen dibandingkan dengan negara lain di Asean yang mencatatkan inflasi sekitar 1-2 persen.

Menyangkut angka pengangguran, secara statistik dapat dibuktikan bahwa data pengangguran hanya terjadi peralihan (shifting) dari sektor formal ke sektor informal. Dengan demikian secara definisi pengangguran terselubung atau setengah mengganggur, yakni mereka yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu, juga meningkat.

Angka-angka yang disampaikan oleh pemerintah menyangkut inflasi, pengangguran dalam kaitan dengan daya tahan ekonomi Indonesia harus diperbandingkan lagi dengan negara lain secara sama (apple to apple).

Jika melihat pertumbuhan sektor-sektor produktif Indonesia justru hampir semua mencatatkan angka di bawah kenaikan ekonomi nasional. Sektor industri, misalnya, hanya tumbuh 4,5 persen. Termasuk yang rendah adalah sektor pertanian dan bangunan. Yang tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya sektor jasa. Kondisi tersebut harus dievaluasi.

Tahan bantingnya ekonomi Indonesia semata-mata karena nature postur ekonominya dan daya bertahan hidup rakyatnya, bukan karena desain kebijakan yang membuat ekonomi menjadi mempunyai daya tahan kuat.

Kebijakan ekonomi yang diharapkan menjadi senjata dalam menghadapi gejolak dan ketidakpastian ekonomi global adalak kebijakan pemerintah yang antisipatif, dapat mereduksi dampak dari eksternal. Tetapi kebijakan yang dikeluarkan justru malah destruktif,

Semua rezim dari jaman Presiden Soeharto hingga Presiden Joko Widodo, terutama setelah reformasi yang didengungkan adalah reformasi struktural.  Pada masa Orde Baru, ekonomi memang tumbuh tetapi tidak berkembang (growth without development) karena dinilai tidak ada reformasi struktural. Namun reformasi struktural ini tidak kunjung terjadi hingga kepemimpinan Presiden Joko Widodo saat ini. Ekspor unggulan tetap terpaku pada komoditas dan sektor-sektor ekstraktif saja. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Ruang Steril Sopir Bus AKAP Belum Diatur             Susi Cuma Orang Kecil             Wajar Ada Ketidakpuasan Terkait Kinerja KKP             Hidupkan Lagi Direktorat Keselamatan Jalan             Masalah Klasik Pidana Penjara             Pelesiran Setya Novanto, Biasa Itu!             Kinerja Menkumham Benahi Lapas Tidak Memuaskan             Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar