Dolar AS Perkasa, Rupiah Sempoyongan
berita
Ekonomika

Sumber Foto: Bisnis-Liputan6.com (gie/Watyutink.com)

03 March 2018 16:00
Penulis
Rupiah terus melemah. Per 1 Maret kemarin, rupiah menyentuh angka Rp13.800 per dolar AS, setelah sehari tercatat Rp13.798 per dolar AS. Padahal dua hari sebelumnya rupiah masih bertengger di angka Rp13.712 per dolar AS.

Menguat tajamnya mata uang dolar AS diperkirakan akibat naiknya Fed Fund Rate (suku bunga bank sentral AS) dan pidato Gubernur Bank Sentral Amerika Jerome Powell yang merasa yakin terhadap membaiknya perekonomian AS. Inflasi yang masih akan terus naik pun dituding juga menjadi penyebab, di samping rencana kenaikan suku bunga ‘The Fed’ yang ditengarai terjadi empat kali tahun ini.

Otoritas Bank Indonesia (BI) sebelumnya percaya diri bahwa melemahnya rupiah adalah pengaruh ekonomi global yang juga melanda beberapa negara Asia. Tetapi belakangan BI pun heran rupiah bisa terlalu lemah hingga jatuh di angka Rp13.800 per dolar AS. Padahal, katanya, fundamental ekonomi Indonesia masih positif seperti pertumbuhan ekonomi dan cadangan devisa, serta beberapa indikator lain. Kesimpulannya, terjadinya pelemahan yang terlalu dalam itu tidak sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Ada apakah gerangan? Apakah telah terjadi arus keluar modal (cash outlow) sebagai dampak Fed Fund Rate seperti yang dikhawatirkan banyak pihak akhir tahun lalu? Apalagi, sekitar 40 persen utang RI berupa SUN kebanyakan dimiliki oleh investor asing. Hal yang bisa berakibat terjadinya cash out flow akibat investor menarik dananya dari pasar keuangan negara-negara berkembang termasuk Indonesia seperti pada pertengahan 2017 lalu. Investor diperkirakan kembali meramaikan investasinya ke pasar keuangan AS. Benarkah demikian?

Menguatnya mata uang dolar AS secara tajam bisa berakibat pada naiknya harga-bahan makanan yang bahan bakunya masih diimpor. Contohnya jagung, beras, gandum, gula pasir, daging sapi, daging ayam, dan garam. Belum lagi kebutuhan bahan baku dan bahan penolong bagi industri dalam negeri, serta kebutuhan BBM impor. Semuanya diprediksi akan berujung pada naiknya harga-harga secara umum untuk menutupi biaya pengadaan yang membengkak.  

Padahal, prakiraan membaiknya perekonomian dunia pada 2018 membuat banyak kalangan optimistis perekonomian Indonesia akan ikut membaik. Terdapat beberapa indikator peningkatan pertumbuhan ekspor dan perbaikan neraca pembayaran pada akhir 2017. Begitu pula cadangan devisa yang mencapai 131,98 miliar dolar AS.   

Namun, anjloknya rupiah terhadap dolar AS saat ini memang cukup mengkhawatirkan. Tak heran jika otoritas BI pun hanya bisa berharap keadaan akan segera pulih. Atau, jika keadaan makin memburuk, memaksa BI melakukan intervensi masif agar pelemahan rupiah tidak terus berlanjut menjadi krisis ekonomi (siklus 10 tahunan).  

Apa yang sebaiknya harus segera dilakukan? Mengapa fundamental ekonomi RI seakan tidak berdaya menghadapi penguatan mata uang dolar AS yang di luar perkiraan? Apakah memang pelemahan rupiah yang terlalu jauh terjadi karena kepemilikan 40 persen SUN RI oleh asing? Bagaimana jika pelemahan rupiah terus terjadi? Bagaimana menjelaskan fenomena ini?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(pso)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Rupiah hingga akhir Maret 2018 diperkirakan akan berada di kisaran Rp13.800 - Rp13.900 per dolar AS. Nilai tukar rupiah diprediksi akan terus melemah hingga Maret mendatang. Titik terendah pelemahan rupiah bahkan bisa mencapai Rp14.000 per dolar AS di tahun ini. Pelemahan rupiah ini salah satunya karena gubernur Bank Sentral AS atau The Fed yang baru Jerome Powell dalam keterangannya di senat AS memang mengisyaratkan suku bunga akan naik dalam waktu dekat. Pasar sebelumnya menebak Maret akan ada kenaikan pertama. Bahkan bisa sampai 4 kali kenaikannya tahun ini.

Powell mengkonfirmasi bahwa Fed solid lakukan pengetatan moneter dan normalisasi neracanya tahun ini. Kebijakan Fed ini juga memicu bank sentral negara maju seperti ECB dan BOJ melakukan pengetatan moneter. Efek snowball yang dikhawatirkan pelaku pasar bisa menyebabkan dana asing keluar dari negara berkembang tak terkecuali Indonesia.

Efek dari kenaikan Fed rate diyakini langsung membuat imbal hasil (yield) Treasury atau surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun loncat ke 2,9 persen tertinggi dalam 4 tahun terakhir. Otomatis yield spread dengan SBN Indonesia makin sempit. Investor akhirnya mencatat penjualan bersih dan memburu surat utang AS. Aliran modal asing keluar dari pasar modal Indonesia saat ini mencapai Rp8,6 triliun (ytd) sejak awal 2018.

Jika rupiah dibiarkan terus melemah maka daya saing produk Indonesia baik domestik maupun ekspor jadi menurun. Beberapa sektor industri bergantung oleh impor bahan baku dan barang modal. Di industri farmasi bahan baku impornya mencapai 80 persen lebih. Kalau dolarnya mahal, biaya produksi pasti naik ujungnya harga barang jadi lebih mahal. Sementara konsumsi domestik nya masih stagnan, maka akan mempengaruhi cuan pengusaha. 

Resiko berikutnya beban pembayaran cicilan dan bunga utang luar negeri pemerintah maupun korporasi makin besar. Resiko gagal bayar apalagi utang swasta yang belum dilindung nilai (hedging) akan naik. Disini pemerintah mesti waspada karena tahun 2018-2019 ada Rp810 triliun utang jatuh tempo yang mesti dibayar. Angkanya bisa terus membengkak dan merugikan kemampuan fiskal.

Resiko ketiga, Indonesia sebagai negara net importir minyak mentah sangat sensitif terhadap pergerakan dolar. Jika dolar menguat terhadap rupiah, harga BBM akan tertekan baik yang subsidi maupun non subsidi. Efeknya penyesuaian harga BBM berbagai jebis diprediksi akan terus dilakukan.

Sekarang yang harus dilakukan BI adalah menjaga rupiah di level psikologis Rp13.800. BI bisa gunakan cadangan devisa yang nilainya Rp132 miliar dolar AS untuk stabilisasi rupiah di pasar jika rupiah berada diatas Rp13.800. Tapi konsekuensinya cadangan devisa akan terkuras. Kondisi ini pernah terjadi November 2016 lalu saat tekanan Fed rate naik, cadangan devisa terpaksa turun 4 miliar dolar AS agar rupiah tetap terjaga. Jadi kalau Fed rate naik 4 kali di 2018, maka hitungan kasarnya 4 miliar dolar dikali 4 menjadi 16 miliar dolar AS, cadangan devisa terancam berkurang.

Tugas menjaga stabilitas nilai tukar bukan hanya dibebankan ke BI, tapi Pemerintah juga perlu memperkuat fundamental perekonomian. Selain itu cadangan devisa perlu dipertebal melalui peningkatan ekspor non migas dan devisa pariwisata. Semakin kokoh cadangan devisa rupiah semakin terkendali. Maklum cadangan devisa Indonesia hanya 14 persen dari PDB, lebih rendah dari Thailand 58 persen dan Filipina 28 persen. (pso)

 

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Akademisi dan Praktisi Ekonomi Syariah

Melemahnya rupiah dan selanjutnya diperkirakan melemahnya mata uang beberapa negara lain disebabkan tit for tat game antara Amerika Serikat (AS) dan China. Kebijakan Fed bukan merupakan aksi yang menyebabkan pelemahan itu, tapi lebih merupakan reaksi atas perkembangan ekonomi China.

Pertumbuhan ekonomi China dan korporasi China menyebabkan perusahaan-perusahaan rating dunia merubah bobot risiko dalam penghitungan index komposit. Korporasi China mendapat bobot yang lebih besar daripada sebelumnya. Selanjutnya manajer investasi akan merubah portofolio investasi mereka menyesuaikan dengan perubahan bobot komposisi portofolio dunia.

Manajer investasi akan mengalihkan sebagian portofolio nya dari negara-negara seperti Indonesia yang sebelumnya menarik untuk investasi, dan memindahkan ke korporasi China.

Reaksi Fed atas perkembangan ini dengan menaikkan suku bunga Fed. Hal ini akan menambah tekanan terhadap mata uang Rupiah dan negara-negara lain. Portofolio bukan saja dialihkan ke China tapi juga ke AS. Selain faktor global tit for tat game antara dua negara terbesar dunia itu, Indonesia juga memiliki faktor domestik.

Pilkada dan Pilpres merupakan faktor tambahan yang dapat menyebabkan Rupiah lebih cepat terkena dampaknya dibandingkan mata uang negara lain.

Fluktuasi pergerakan Rupiah, baik bergerak naik dan bergerak turun, memberikan peluang untuk mendapatkan laba dalam perdagangan mata uang. Dengan volume transaksi yang cukup besar, keuntungan pun besar. Keuntungan ini dapat menjadi sumber dana yang legal. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Praktisi Keuangan Migas

Logika peredaran uang adalah mengikuti ke mana tempat yang memberikan return dan keamanan yang tinggi. Oleh karenanya begitu pidato Jerome Powel di depan kongres pekan lalu mengabarkan bahwa perekonomian AS mengalami perbaikan, maka seketika itu pula harapan akan meningkatnya suku bunga bank sentral Amerika secara progresif tertanam di benak pemilik dana. 

Sehingga dimulailah gelombang repatriasi dolar AS ke negara asalnya khususnya atas dana yang selama ini di parkir di negara-negara berkembang. Akibatnya beberapa negara yang sangat tergantung terhadap dolar AS dalam perdagangannya mengalami pukulan yang cukup kuat, salah satunya rupiah. Kali ini Rupiah mengalami penurunan yang cukup tajam meskipun indikator perekonomian makro kita saat ini cukup bagus.

Jadi bisa difahami bahwa pelemahan rupiah kali ini sangat dimungkinkan dikarenakan oleh repatriasi dana dari investor asing yang saat ini mendominasi pasar uang dan dan pasar modal kita. Menurut catatan, porsi asing pada Surat Berharga Negara (SBN) pada Januari 2018 lalu berada pada angka 40,8 persen sementara di pasar modal angkanya berada sedikit di atas 50 persen.  

Bilamana pelemahan rupiah ini terus terjadi maka sangat dikhawatirkan akan menggerus target pertumbuhan ekonomi kita karena harga barang seperti pangan pokok dan BBM di dalam negeri akan mengalami kenaikan. Kondisi ini jelas makin merugikan karena pada beberapa tahun ini perekonomian kita diwarnai oleh melemahnya daya beli masyarakat. Sementara efek upside dari pelemahan Rupiah ini pada sisi peningkatan ekspor tidak akan terasa secara instan.

Mengingat kondisi tersebut maka keputusan BI untuk melakukan intervensi dirasa cukup tepat karena dengan fundamental ekonomi yang bagus semestinya setelah proses repatriasi dolar AS selesai maka Rupiah akan menemukan keseimbangan baru. Semoga…. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Ekonomi Center for Information and Development Studies (CIDES)

Rencana bank sentral AS menaikkan suku bunga menyebabkan aliran modal keluar dari pasar modal dan obligasi menekan nilai rupiah.

Rupiah mengalami pelemahan signifikan belakangan ini mendekati Rp13.800 per dolar AS, sekalipun kondisi ekonomi makro dalam keadaan baik, inflasi rendah, neraca perdagangan dan pembayaran surplus, pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Nilai rupiah berkorelasi kuat dengan aliran modal masuk dan keluar. Ketika terjadi aliran modal keluar, maka rupiah melemah.

Sekalipun demikian BI kemungkinan tidak meningkatkan suku bunga kebijakan sampai the Fed menaikkan suku bunga. Apalagi BI sekalipun sebagai lembaga independen memperhatikan kehendak pemerintah untuk terus berupaya menurunkan suku bunga perbankan. BI lebih menjaga volatilitas (naik dan turun dalam tingkatan yang rendah) dari nilai rupiah daripada mempertahankan nilai rupiah pada tingkatan tertentu.

BI melakukan intervensi untuk menjaga volatitas supaya tidak terlalu tinggi bukan untuk mempertahankan nilai rupiah pada tingkatan tertentu.

Dengan rencana 'The Fed' akan menaikkan suku bunga kebijakan tiga kali bahkan bisa sampai empat kali maka aliran modal keluar dari pasar modal dan obligasi akan signifikan sehingga tekanan terhadap nilai rupiah akan semakin besar.

Maka sebaiknya mempersiapkan untuk menaikkan suku bunga dan melakukan intervensi di pasar uang untuk menjaga stabilitas rupiah. Penurunan suku bunga perbankan tidak bisa dipaksakan apalagi dengan kemungkinan suku bunga meningkat di luar negeri, terutama AS.

Apa yang harus kita fokuskan adalah mendorong investasi dan perkembangan ekonomi riil. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)

Rupiah sempat melorot tajam awal Maret 2018, mendekati Rp14.000 per dolar AS pada transaksi harian. Banyak pihak berdalih anjloknya rupiah ini disebabkan pidato Jerome Powell, Gubernur Bank Sentral AS yang baru, di hadapan Senat AS pada awal Maret yang lalu. Powell mengatakan ekonomi AS menunjukkan perbaikan sehingga kenaikan suku bunga AS menjadi sangat mungkin. Mereka juga berdalih, pelemahan rupiah tidak hanya sendirian saja, tetapi juga dialami oleh seluruh mata uang lainnya, khususnya mata uang Asia.

Menurut saya, dalih di atas hanya menjadi alasan yang jauh dari kebenaran, dan menyesatkan.

Faktanya, selama dua bulan pertama 2018, ternyata hanya rupiah yang turun terhadap dolar AS. Sedangkan kurs mata uang Asia lainnya seperti Baht Thailand, Dolar Singapore, atau Ringgit Malaysia, semuanya menguat. Jadi, memang ada masalah dengan perekonomian kita yang membuat kurs rupiah merosot.

Faktor apa saja yang menyebabkan kurs rupiah anjlok sejak pertengahan Januari 2018?

Pertama, neraca perdagangan barang kita mengalami defisit dua bulan berturut-turut pada Desember 2017 dan Januari 2018, masing-masing 220,1 juta dolar AS dan 676,9 juta dolar AS. Membengkaknya defisit neraca perdagangan barang pada Januari 2018 ini dipicu oleh meningkatnya defisit migas dan anjloknya surplus nonmigas. Defisit migas melonjak akibat harga minyak mentah dunia naik. Pada awal Januari 2017, defisit migas sebesar 556,5 juta dolar AS. Ketika itu harga rata-rata minyak mentah (Brent) sekitar 54,89 dolar AS per barel. Harga rata-rata minyak mentah kemudian naik menjadi 64,21 dolar AS (Desember 2017) dan 68,99 dolar AS per barel (Januari 2018). Kenaikan harga minyak mentah dunia ini menyebabkan defisit migas menjadi 1,05 miliar dolar AS pada Desember 2017 dan 859,5 juta dolar AS pada Januari 2018.

Kedua, karena Indonesia sudah menjadi negara net importer minyak mentah, maka tidak terhindarkan sektor migas akan mengalami defisit terus. Semakin mahal harga minyak mentah dunia maka defisit migas semakin membengkak. Oleh karena itu, defisit migas ini diharapkan dapat ditutupi oleh neraca perdagangan nonmigas. Kalau tidak, kurs rupiah pasti akan mengalami tekanan.

Yang terjadi justru sebaliknya. Neraca perdagangan nonmigas bulan Desember 2017 dan Januari 2018 anjlok sehingga surplusnya tidak cukup menutupi defisit migas. Yang mengkhawatirkan, surplus nonmigas Januari 2018 hanya 182,6 juta dolar AS saja, salah satu surplus nonmigas bulanan terendah.

Anjloknya surplus nonmigas ini dikarenakan ekspor nonmigas turun, dan impor nonmigas naik. Ekspor nonmigas turun akibat harga komoditas relatif rendah dibandingkan dengan harga setahun lalu (Januari 2017), khususnya harga karet dan kelapa sawit turun cukup tajam: masing-masing turun sekitar 32 persen dan 16 persen (y.o.y). Untung saja harga batubara masih kinclong sehingga penurunan ekspor tidak terlalu tajam.

Kalau tren ini berlanjut terus, di satu sisi harga minyak mentah naik, dan di lain sisi harga komoditas seperti karet, kelapa sawit dan batubara turun, atau relatif rendah, maka neraca perdagangan barang akan defisit, dan kurs rupiah akan mengalami tekanan.

Ketiga, selama ini defisit necara perdagangan (barang dan jasa) ditutupi oleh surplus transaksi modal dan finansial, khususnya aliran uang ke pasar uang dan pasar modal. Pada tahun 2015, transaksi modal dan finansial mengalami defisit sebesar 1,1 miliar dolar AS. Tetapi, tahun 2016 dan 2017 membukukan surplus yang cukup signifikan yaitu masing-masing 12,1 miliar dolar AS dan 11,6 miliar dolar AS. Surplus ini tidak lepas dari aliran hot money ke pasar modal serta program Tax Amnesty (TA) periode 1 Juli 2016 hingga 31 Maret 2017, sehingga membuat kurs rupiah dapat bertahan di sekitar Rp13.000 – Rp13.300 per dolar AS.

Memasuki 2018, terjadi aliran keluar dari pasar modal. Selama 2 bulan pertama 2018, terjadi penjualan bersih asing di pasar modal hingga mencapai hampir Rp11 triliun, atau lebih dari 800 juta dolar AS. Oleh karena itu, kurs rupiah juga tertekan dari Rp13.290 per dolar AS pada 15 Januari 2018 merosot menjadi Rp13.700 per dolar AS pada akhir Februari 2018.

Kesimpulannya, melemahnya rupiah menunjukkan ada masalah mendasar dengan ekonomi kita yang tergantung dari harga minyak mentah dunia, harga komoditas karet, minyak sawit dan batu bara, dan aliran hot money ke pasar modal. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar              SBY Harus Bisa Menenangkan              Lebih Baik Kongres 2020             Ketegasan SBY, Redakan Tensi Faksionalisasi             Langkah PKS di Oposisi Perlu Diapresiasi             Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei