Defisit Perdagangan Kado Tak Sedap HUT Kemerdekaan
berita
Ekonomika
Sumber Foto : chirstory.com (gie/watyutink.com) 20 August 2018 18:30
Penulis
Jelang perayaan ke-73 Kemerdekaan RI dan Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo di Gedung MPR/DPR/DPD RI pada 16 Agustus 2018, Indonesia mendapatkan kado tak sedap berupa defisit perdagangan. Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia Juli 2018 mencapai 16,24 miliar dolar AS, sementara impor mencapai 18,27 miliar dolar AS, tekor sekitar 2 miliar dolar AS.

Meski  ekspor meningkat cukup tinggi yakni  25,19 persen dibanding ekspor Juni 2018 atau 19,33 persen jika dibandingkan dengan Juli 2017, namun rekor tersebut kalah dibandingkan dengan impor yang kenaikannya mencapai 71,54 persen dibanding Juni 2018, atau 29,28 persen jika dibandingkan dengan  Juli 2017.

Berdasarkan catatan BPS, ekspor memang makin meningkat terutama setelah Lebaran dan libur panjang. Harapannya dalam 5 bulan ke depan akan ada peningkatan ekspor. Namun di sisi lain pertumbuhan impor lebih besar dibandingkan ekspor sehingga membuat neraca perdagangan defisit.

Semua golongan impor naik melebihi 50 persen. Impor barang konsumsi meningkat 70,5 persen yang berasal dari impor beras dan apel dari China. Demikian juga dengan bahan baku yang naik 59,28 persen  yang disumbang oleh masuknya kacang kedelai, bahan organik, dan kapas.

Yang juga mengalami peningkatan adalah impor  barang modal sebesar 71,95 persen yang berasal dari pembelian engine generator dan portable receiver dari China. Hanya saja dengan masuknya barang modal, ke depan diharapkan investasi meningkat.

Dengan masuknya data statistik perdagangan Juli maka secara kumulatif ekspor Indonesia selama semester I 2018 menjadi 104,24 miliar dolar AS naik 11,35 persen, sementara impor mencapai 107,32 miliar dolar AS, sehingga sepanjang paruh pertama tahun 2018, Indonesia mengalami defisit 3,08 miliar dolar AS. Jika dihitung dalam rupiah dengan menggunakan kurs Rp14.500 per dolar AS, maka Indonesia tekor Rp44,66 triliun.

Defisit neraca perdagangan masih terus menghantui ekonomi Indonesia dan belum dapat lepas dari keadaan tersebut secara permanen. Defisit memberikan sentimen negatif kepada rupiah sehingga mata uang Garuda itu loyo.

Apa yang menjadi penyebab utama terjadinya defisit? Apakah sudah diidentifikasi sebelumnya atau hanya gejala musiman? Mengapa pemerintah seperti tidak dapat mendeteksi sebelum defisit itu terjadi? Apakah karena ada kepentingan lain sehingga defisit tersebut  tidak bisa dihindari?

Rakyat Indonesia berharap defisit neraca perdagangan ini bisa diatasi. Pemerintah pun sudah mengeluarkan jurus-jurus untuk mengatasi defisit tersebut namun masih saja terjadi. Strategi apa yang cocok untuk mengatasi defisit perdagangan? Prioritas atau kebijakan apa yang perlu ditempuh pemerintah agar masalah defisit bisa segara di atas? Adakah distorsi kebijakan sehingga defisit ini sulit dihapuskan?

Apa Pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia

Indonesia menuju negara yang makin produktif dan mensejahterakan masyarakat. Kesejahteraan dicapai dengan membuka lapangan kerja, Tetapi bukan sekadar mengeluarkan bujet pemerintah kemudian membuat proyek dan menggaji orang yang bekerja di dalamnya, tetapi yang natural menurut market adalah peningkatan investasi.

Mendorong investasi adalah hal yang paling penting dalam mengurangi pengangguran,disamping reformasi fiskal dan mendorong pembangunan infrastruktur. Infrastruktur akan meningkatkan konektivitas dan produktivitas. Tanpa infrastruktur tidak ada konektivitas, apalagi Indonesia adalah negara yang rumit secara geografis.

Indonesia juga harus mengembangkan sektor prioritas yakni manufaktur dan pariwisata. Sektor ini yang akan didorong secara besar-besaran ke depan. Manufaktur menciptakan lapangan kerja, menciptakan efek berganda, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang cepat, sementara pariwisata memiliki multiplier effect yang bagus, mudah menciptakan lapangan kerja karena akan membutuhkan transportasi, ekomodasi, restoran, tour guide, hingga souvenir.

Untuk itu Indonesia harus masuk dalam arus globalisasi, tidak boleh tertutup. Untuk menang dalam era globalisasi bukan dengan menutup diri. Menutup diri dalam globalisasi justru akan membuat Indonesia kalah. Korea Utara, Venezuela, dan Kuba, misalnya, menjadi negara yang terisolasi.

Cara menyikapi globalisasi adalah dengan bergaul secara aktif dalam komunitas yang mendorong perdagangan terbuka (open trade) baik ekspor maupun impor seperti di Asean, APEC. Jadi jangan pernah berharap bisa meningkatkan ekspor kalau Indonesia terlalu protektif terhadap impor.

Contohnya, permintaan minyak kelapa sawit Turki cukup tinggi. Sayangnya, Indonesia dan Turki hingga saat ini belum mempunyai perjanjian perdagangan bilateral. Akibatnya, CPO Indonesia yang masuk Turki terkena tarif bea masuk yang tinggi.  Sementara Malaysia yang sudah mempunyai perjanjian bilateral dengan Turki dikenai tarif yang rendah sehingga CPO Indonesia kalah dari Malaysia.

Pada akhirnya ekspor CPO Indonesia ke Turki makin lama makin kecil, sementara Malaysia makin lama makin membesar. Kementerian Perdagangan cenderung hanya ingin menang. Walaupun saya bukan trade negotiator, berdasarkan logika dan teori ekonomi perdagangan, dalam negosiasi tidak ada yang absolute win. Yang baik itu win win. Ini merupakan contoh betapa sikap protektif justru akan merugikan. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

Indonesia harus selektif dalam melakukan impor, termasuk barang yang dibutuhkan dalam pembangunan infrstruktur untuk menekan defisit.  Pembangunan infrastruktur menjadi diperlambat. Apakah pelambatan ini akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi? Tidak diperlambatpun ekonomi sudah melambat. Apalagi ada kesengajaan dalam menjaga nilai tukar.

Dengan mengurangi impor terutama untuk infrastruktur tentu akan memberi dampak. Pastinya vendor-vendor dalam negeri yang terkait dengan pembangunan infrastruktur akan juga mengalami kesulitan. Ada tantangan untuk menjaga cashflow. Ini yang secara langsung dirasakan.

Dampak tidak langsung pun ada. Kalau infrastruktur tak terbangun, perencanaan yang sudah dibuat  tidak segera dapat diimplementasikan impact-nya ke daya beli. Misalkan, jalan tol ditunda pembangunannya maka otomatis proyek ikutannya akan tertunda, seperti pendirian kawasan industri, kawasan komersial, dan perumahan.

Defisit transaksi berjalan ini sebetulnya berawal dari konsep yang kurang tepat dalam menerapkan pembangunan infrastruktur. Bahwa Indonesia membutuhkan infrastruktur, ya. Infrastruktur harus dipercepat, ya. Persoalannya adalah bagaimana cara mempercepatnya. Nah, kelihatannya pemerintah tidak berpikir bagaimana, cara mempercepatnya itu secara matang.

Berbeda dengan Presiden AS Donald Trump. Sebelum dia mewujudkan ide gilanya seperti membangun tembok Meksiko dan proyek-proyek infrastruktur lain, dia menyakinkan bahwa baja, semen, alumunium, dan bahan material lain yang akan digunakan berasal dari  AS sendiri. Dia bendung dulu dengan perang dagang. Produk seperti alumunium dikenakan bea masuk sehingga ada optimisme dari pengusaha di dalam negeri AS. Indonesia tidak memulainya dengan mempersiapkan semua itu.

Indonesia memulai pembangunan infrastruktur dengan mengundang investor luar negeri sebanyak-banyaknya. Pokoknya diundang sebanyak-banyaknya. Roadshow kemana-mana. Harapannya mereka masuk, kemudian tiba-tiba infrastruktur jadi banyak. Selain juga dari utang.

Mereka masuk tidak hanya membawa duit. Mereka membawa gerbong segala macam untuk pembangunan infrastruktur itu, dari mulai pabrik semen dari luar dibawa ke sini, tenaga kerja. Semuanya butuh valas, butuh dolar. Itu yang salah. Dari dulu sebetulnya sudah ada warning.

Tanpa pembangunan infrastruktur saja current account Indonesia selalu defisit. Sepanjang sejarah NKRI kita selalu defisit. Apalagi ditambah dengan model pembangunan infrastruktur yang sebagian besar mengandalkan dana asing, mengandalkan investor asing.

Selama 1-2 tahun lalu belum kelihatan. Yang terlihat di infografis sekian puluh proyek terbangun. Begitu memasuki tahun ke-3 kelihatan, saat Amerika pulih, Indonesia keok. Kelihatan sekali setelah 3 tahun berjalan ternyata  defisit membengkak.

Infrastruktur diakui semakin banyak. Tapi karena terlalu tergantung pada investor asing, produk sampai rantai distribusi, pekerja sampai tukang masak, didatangkan dari luar negeri, sehingga impact pembangunan infrastruktur lebih banyak dinikmati oleh asing dan membuat boros penggunaan devisa. Begitu masuk ke Indonesia mereka digaji dengan dolar, membeli alat-alat dengan dolar. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pajak lebih Besar untuk Investasi Tidak Produktif             Semua Program Pengentasan Kesenjangan Harus dikaji Ulang             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi