Daya Saing RI di Mata Lembaga Pemeringkat
berita
Ekonomika
12 June 2019 16:00
Penulis
Watytutink.com - Pemerintah boleh bangga dengan hasil pemeringkatan yang dilakukan oleh International Institute for Management Development (IMD) yang mengganjar dengan kenaikan daya saing Indonesia dengan  lonjakan 11 peringkat pada tahun ini dari posisi 43 ke 32 dari 63 negara.

Walaupun belum dapat menggeser posisi Singapura, Hong Kong, dan AS yang berada di peringkat tiga teratas, lonjakan 11 peringkat yang ditetapkan IMD merupakan prestasi yang patut diajungi jempol. Lembaga itu menyebutkan kenaikan peringkat Indonesia tersebut merupakan yang tertinggi di kawasan Asia.

Singapura berhasil menggeser posisi AS di peringkat pertama, naik dua peringkat dari posisi sebelumnya di peringkat ke-3 yang sekarang ditempati AS, sementara Hong Kong tetap berada di posisi ke-2 seperti tahun sebelumnya.

Perlu diketahui IMD adalah sekolah bisnis yang berpusat di Swiss. Sekolah tersebut menerbitkan riset peringkat daya saing dunia sejak 1989. Pemeringkatan menghitung data statistik, antara lain pengangguran, produk domestik bruto, dan pengeluaran pemerintah untuk kesehatan dan pendidikan. Selain itu, mengolah data dari survei opini para eksekutif, antara lain soal kohesi sosial, globalisasi, dan korupsi.

Dalam 1 tahun terakhir terjadi ketidakpastian tinggi di pasar global karena politik internasional dan hubungan perdagangan. Menurut IMD, dalam situasi tersebut dibutuhkan lembaga negara yang mampu bekerja secara berkualitas agar tetap memberi stabilitas bagi pebisnis. Dengan cara itu investasi tetap masuk.

Lain IMD, lain pula Forum Ekonomi Dunia (WEF). Lembaga ini justru menempatkan Indonesia di posisi ke-45 dari 140 negara dalam Indeks Daya Saing Global pada tahun lalu. Tahun sebelumnya Indonesia berada di peringkat ke-47 dari 135 negara.

Apakah pemeringkatan yang dilakukan oleh IMD telah menggambarkan daya saing yang sebenarnya dari Indonesia? Jika kenaikan tersebut cukup fantastis, mengapa Indonesia masih mengalami defisit neraca perdagangan? Apakah peringkat daya saing tersebut tidak terkait dengan kinerja ekspor? Lalu apa artinya peringkat tersebut bagi perbaikan ekspor Indonesia?

Jika varibel yang digunakan adalah data statistik, antara lain pengangguran, produk domestik bruto, dan pengeluaran pemerintah untuk kesehatan dan pendidikan bisa jadi peringkat daya saing Indonesia meningkat tajam karena dalam 1 tahun terakhir anggaran di bidang tersebut meningkat cukup signifikan. Atau adakah perbaikan lain yang sudah dilakukan Indonesia yang mendorong peningkatan peringkat tersebut? jika ada, apa saja?

WEF belum berbaik hati terhadap Indonesia dengan menempatkannya pada peringkat ke-45. Apakah lembaga tersebut masih melihat hal-hal yang masih perlu diperbaiki? Bidang apa saja yang masih perlu mendapatkan sentuhan kebijakan pemerintah? Kebijakan apa lagi yang perlu ditempuh pemerintah agar kenaikan peringkat tersebut berjalan secara konsisten?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Guru Besar Universitas Diponegoro

Publikasi mengenai indeks kompetisi global terbit hampir setiap bulan atau setiap kwartal. Pada setiap publikasi, peringkat Indonesia naik secara konsisten. Konsistensi ini berkaitan dengan aspek fundamental  khususnya regulasi.

Selama ini yang masih menjadi faktor pemberat daya saing adalah regulasi dan kepercayaan kepada pemerintah. Faktor-faktor tersebut, kecuali korupsi yang masih sulit diberantas, dilihat dari sisi birokrasi sudah semakin baik. Tren perbaikan ini ada, bisa dilihat di beberapa provinsi, kabupaten, dan kota.

Walaupun proses untuk mendapatkan pemimpin yang bersih tidak cukup mudah dan lama tetapi ada arah yang semakin menguat beberapa pemimpin daerah cukup bisa dipercaya. Ini meningkatkan kepercayaan pasar.

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur di Indonesia bagian timur memberikan harapan jangka panjang.  Presiden Joko Widodo harus melanjutkan pembangunannya karena memberikan harapan. Ada perspektif politik ekonomi dan politik kebangsaan sebagai sebuah negara kesatuan di dalamnya sehingga sangat perlu hal ini dilakukan.

Secara rasional investor membaca pembangunan yang dilakukan mengarah kepada kemajuan walaupun jika dilihat dari indikator utang nilainya menjadi lebih besar karena diperlukan dalam pembangunan, tetapi pada saat bersamaan kita mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk membayarnya. Utang memang menjadi besar tetapi selama solvable tidak menjadi masalah.

Saya yakin peringkat Indonesia akan naik lagi dari posisi saat ini yang sudah melompat 11 peringkat. Presiden Joko Widodo telah membuat statement bahwa dirinya tidak mempunyai beban politik. Hal ini merupakan sinyal, karena partai  pendukungnya cukup banyak. Walaupun Jokowi berasal dari PDIP tetapi dia tidak terbebani terlalu berat untuk membalas budi kepada partainya.

Jokowi akan membalas budi kepada banyak partai. Dia memilih bagaimana Indonesia agar menjadi lebih baik sehingga indikasi untuk menjalin kerja sama dengan partai oposisi pun semakin kuat. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Perbedaan pemeringkatan oleh sejumlah lembaga karena indikator yang digunakan tidak sama antarlembaga. Masing-masing institusi mempunyai pertimbangan sendiri-sendiri tentang daya saing. Mungkin ada yang lebih lengkap dan yang lain lebih sedikit indikatornya. Ada juga yang memberikan bobot lebih tinggi di satu indikator tetapi lebih ringan untuk indikator yang lain. Metodologi yang digunakan berbeda-beda.

Selama ini yang lebih dikenal dalam pemeringkatan daya saing global adalah World Economic Forum (WEF), sementara IMD baru belakangan ini saja. Indikator yang digunakan oleh IMD tidak sebanyak WEF. Namun semua hasil pemeringkatan ini menjadi bahan masukan bagi investor.

Investor dalam melakukan investasi mencari leading indicator yang tidak terpaku pada indeks daya saing saja, tetapi juga easy of doing business (EODB), rating investasi S&P, Moody’s, dan sejumlah indikator lain. Namun semua itu hanya assessment awal bagi investor untuk melihat secara makro peluang berinvestasi. Secara riil mereka akan melakukan investigasi lebih lanjut, mendatangi negara yang akan menjadi tujuan penanaman modal, apakah kondusif atau tidak untuk melakukan investasi.

Pertimbangan investor sebelum berinvestasi cukup kompleks, mulai dari masalah kemudahan perizinan, insentif fiskal dan non-fiskal, kemudahan pembebasan lahan, ketersediaan tenaga kerja siap pakai, besar kecil ukuran pasar, kemudahan memperoleh bahan baku, ketersediaan infrastruktur, dan lain-lain.

Investor akan selalu mencari mana yang paling mudah dan menguntungkan bagi mereka untuk berinvestasi. Ada yang tidak terlalu mudah untuk dimasuki dalam berinvestasi seperti Indonesia, tetapi menguntungkan karena pasarnya yang besar.  Indonesia tidak mudah dalam hal perizinan dan insentif seperti yang ditawarkan negara lain, tetapi tetap diminati investor karena pasarnya yang besar.

Peringkat daya saing Indonesia dalam tiga tahun belakangan terus meningkat  seperti di WEF, walaupun tingkat kenaikannya kadang besar kadang kecil. Namun peringkat di EODB sempat turun setelah sebelumnya naik cukup tinggi dari urutan 100-an ke 72 pada 2017, tetapi pada 2018 turun ke peringkat 73. Oleh karena itu satu lembaga pemeringkat saja tidak cukup untuk menjadi bahan pertimbangan investor  dalam memutuskan berinvestasi.

Lembaga pemeringkat lebih mengambil  indikator makro, sementara investor tidak hanya melihat makro, tetapi juga mikro dan spesifik sesuai dengan kebutuhan mereka, ditambah lagi info mengenai karakteristik daerah yang berbeda.

Bisa jadi berdasarkan pemeringkatan lembaga pemeringkat menarik bagi investor karena ada peningkatan ranking,  sehingga berminat untuk berinvestasi pada tahap awal tetapi belum tentu jadi direalisasikan.  Indonesia mempunyai gap yang cukup besar antara komitmen investasi dan realisasi.  (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan