Daya Beli yang Kini Tak Berdaya
berita
Ekonomika
02 September 2017 00:00
Penulis
Data makro ekonomi dalam RAPBN 2018 cukup bagus, namun jangan abaikan indikator di sektor mikro. Pertumbuhan ekonomi tercatat  5,01 persen sesuai target. Peringkat laik investasi pun dianugerahkan oleh Standard and Poors. Sayang indikator baik itu terusik berita penutupan beberapa gerai Hypermart, ritel kondang Matahari Group. Sekecil apapun, gejala tak lazim itu tentu layak disimak.

Meski penutupan disebut hanya atas gerai yang tak menguntungkan, itu niscaya mengindikasikan ada penurunan penjualan. Pertanyaannya, penurunan penjualan itu dalam arti sekadar susut omset, atau daya beli yang menurun? Jika itu ternyata penurunan daya beli, jelas ini bukan hanya masalah mikro ekonomi, tapi telah menjelma jadi masalah makro ekonomi.

Aprindo, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, awal Juli 2017 mengaku bisnis ritel anjlok sejak awal 2017. Awal semester I/2017 sempat tumbuh 4,4 persen, namun Mei  susut  jadi 3,6 persen. Juga bisnis makanan dan minuman. Selama Idul Fitri hanya tumbuh 10 persen. Padahal Lebaran tahun lalu 50 persen. 

Anomali lain, penjualan properti di Bali biasanya laris diminati mayoritas konsumen asal  Jakarta. Kini sepi pembeli. Adakah kaitan kelesuan pasar properti ini dengan kian efektifnya gerakan pemberantasan korupsi?  Kian terbatasnya ruang gerak koruptor juga tercermin pada kian sempitnya celah pencucian uang?

Benarkah ada penurunan daya beli? Aneh. Kesepian pusat perbelanjaan elektronik di Glodok, ternyata diimbangi oleh peningkatan angka penjualan bisnis online. Pola belanja ditengarai bergeser ke online-shop.  Ada anekdot, orang ke mal hanya cuci mata sambil makan minum, tapi belanja via gawai ke online-shop.

Selama beberapa periode pemerintahan, para menteri ekonomi kerap menyuguhi khalayak angka fundamental ekonomi Indonesia yang disebut “kuat”.  Juga para pakar seolah berlomba memberi info serupa.  Tapi, yang dirasakan rakyat di pasar, acap jauh berbeda. “Beli saja sama pakar di koran, Pak,” ujar pedagang dengan sinis.

Mengapa timbul anomali perekonomian yang aneh tapi nyata? Mengapa sektor riil/industri terasa kian tak ramah? Angka layoff  (PHK) meninggi, padahal peluang kerja baru nyaris nihil. Gerangan apa yang terjadi?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(pso)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Mantan Ketua Pusat Ekonomi dan Bisnis Islami, FEB UI

Menurut saya yang terjadi selama ini sebenarnya bukan penurunan daya beli, tapi pergeseran gaya konsumsi atau pola konsumsi, dan pergeseran gaya produksi. Memang betul dari data penjualan di ritel besar menurun drastis.

Tetapi harus diingat, peritel lain seperti Alfamart, Indomaret, dan usaha sejenis--yang umumnya berada di tengah permukiman penduduk, malah naik drastis. Juga produk-produk dari Mitra Adi Perkasa (MAP) Group, semisal Starbucks, Mark & Spencers, Planet Sports, itu juga naik drastis selama semester I/2017. Pada semester I/2016 lalu penjualan grup usaha itu mencapai Rp6,6 triliun. Pada periode yang sama sekarang Rp7,7 triliun, itu naik sekitar 17 persen.  

Alfamart pada semester I/2016 membukukan penjualan Rp26,8 triliun, pada periode yang sama tahun ini berhasil menjual Rp30,5 triliun, atau kenaikan hampir 14 persen. Alfamidi pada semester I/2016 berhasil menjual Rp4 triliun, dan pada semester I/2017 menjual Rp4,8 triliun, atau naik 20 persen. Juga Indomaret.

Dari sektor hiburan seperti cinema, penjualan mencapai Rp275 miliar di tengah periode tahun lalu, sekarang menjadi Rp381 miliar. Itu kenaikan yang mengherankan.

Memang toko-toko Glodok sepi pengunjung, tetapi di pihak lain naik drastis. Ace Hardware mendapat Rp2,3 triliun pada tengah semester tahun lalu, menjadi  Rp2,7 triliun di tahun ini.

Bisnis hotel pun demikian. Agung Podomoro Group/Pullman dari tahun lalu Rp307 miliar, sekarang Rp324 miliar. Di bisnis seluler, Okeshop tutup, tapi Eraphone naik dari Rp10,3 triliun menjadi Rp11 triliun tengah tahun ini.

Jadi kalau disebut data makro naik, itu betul, tetapi mikro jika dikatakan ada penurunan daya beli itu tidak sepenuhnya tepat. Karena ada data-data di lapangan yang saya sebut diatas.

Orang sekarang lebih senang belanja di minimarket yang ada disekitar rumahnya. Ini mungkin yang menyebabkan peritel besar seperti Giant atau Hypermart mengamami penurunan omset penjualan.

Jika dikatakan pergeseran gaya konsumsi itu terjadi di kalangan menengah atas Indonesia, itu memang kenyataan, akibat munculnya kelas menengah baru ini. Dan itu adalah konsekuensi logis dari model pembangunan yang kita anut sekarang. Jika ada pertumbuhan ekonomi makin tinggi, maka akan ada kesenjangan yang semakin besar. Tetapi dengan makin tingginya tingkat pendapatan, nanti kepincangan akan turun kembali. Jadi seperti teorinya Simon Kuznets, perkembangannya seperti itu. Dalam ekonomi disebut market system dan dalam terminologi politik disebut capitalist system.

Jadi syukur-syukur jika ada program pemerintah yang memikirkan kaum lemah, sehingga tingkat kepincangan dapat ditekan.

Juga ada antispasi terhadap layoff di sektor ritel besar. Itu butuh antisipasi juga. Akibat pergeseran gaya produksi dari mass product ke online.  Demikian pula di sektor riil, meski pengaruhnya masih belum seberapa, tapi pengaruh perkembangan teknologi dan teknologi informasi mau tidak mau akan memunculkan masalah serupa. Capital intensive akan makin banyak dilakukan daripada labour intensive.

Semua di dunia ini akan terpengaruh pergeseran pola konsumsi dan pola produksi ini. Juga perbankan. Pemerintah perlu menyiapkan adjustment untuk menyikapi perkembangan seperti ini. (pso)

 

 

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)

Sinopsis yang dilempar oleh watyutink.com sangat menarik dan sangat cerdas, mencerminkan tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap permasalahan terkini dalam bidang ekonomi dan sosial, yaitu anomali perekonomian Indonesia.

Data pertumbuhan ekonomi makro yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) terlihat cukup baik dengan tingkat pertumbuhan 5,01 persen di semester I 2017, tetapi realitanya banyak toko ritel yang tutup, terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), yang kemudian diidentikkan dengan daya beli masyarakat melemah. Mengapa ini bisa terjadi?

Ditinjau dari data ekonomi lainnya yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk melihat aktivitas ekonomi (leading indicator), sepertinya ekonomi kita di semester I 2017 ini memang kurang menggembirakan.

Pertama, pertumbuhan konsumsi listrik nasional, di mana selama semester I 2017 hanya naik 2,4 persen saja (yoy), artinya dibandingkan periode yang sama tahun lalu (dalam hal ini semester I 2016). Konsumsi listrik biasanya mempunyai korelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi: pertumbuhan konsumsi listrik bahkan biasanya lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi. Sekarang malah lebih rendah. Ini juga sebuah anomali. Pertumbuhan listrik yang cukup rendah ini dapat mengindikasikan aktivitas ekonomi tidak terlalu tinggi?

Kedua, berdasarkan data BKPM (Badan Koordinator Penanaman Modal), realisasi Investasi di semester I 2017 hanya tumbuh 12,9 persen (yoy), terendah dalam lima tahun terakhir ini. Pertumbuhan Investasi domestik, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), di kuartal II 2017 (Rp61 triliun) bahkan turun 11,3 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya (Kuartal I 2017) yang tercatat sebesar Rp68,8 triliun. Hal ini pasti memberi dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, yang akhirnya akan mengurangi daya beli masyarakat.

Ketiga, pertumbuhan kredit perbankan di semester I 2017 menunjukkan aktivitas ekonomi masih kurang bergairah. Pertumbuhan kredit semester I tahun ini hanya 7,6 persen saja (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan tahun lalu (semester I/2016) yang sempat mencapai 8,5 persen. Dari kredit perbankan tersebut, Kredit Investasi hanya tumbuh 6,1 persen (yoy), sedangkan tahun lalu masih mencapai 12 persen (yoy). Jadi sangat jelas terlihat pelambatan pertumbuhan Kredit Investasi pada semester ini. Pertumbuhan Kredit Investasi yang kurang menggembirakan ini sejalan dengan data BKPM yang menunjukkan pertumbuhan realisasi investasi khususnya dalam negeri yang masih rendah.

Dari data indikator ekonomi tersebut di atas, dapat dijadikan indikasi dan dipahami bahwa aktivitas ekonomi selama enam bulan pertama 2017 ini memang masih sangat lemah. Bisa saja aktivitas ekonomi yang masih lemah ini mendukung fakta pasar ritel lagi sepi pengunjung, yang secara awam dikatakan daya beli masyarakat melemah. Artinya, berdasarkan data mikro di atas dapat dikatakan tidak ada anomali di perekonomian kita di semester I/2017 ini.

Tetapi, mengapa data ekonomi makro menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik di semester I 2017 ini? Inilah anomali tersebut. Semua masih teka-teki, tetapi fakta di lapangan dan keluhan para pelaku usaha (daya beli melemah) tidak bisa diabaikan: gerai tutup, toko tutup, terjadi PHK. Itu semua harus menjadi perhatian pemerintah, meskipun data ekonomi makro menunjukkan angka yang bagus: turun ke lapangan, inspeksi, jangan di belakang meja saja. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan